Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Choose To Love You
Acara pernikahan mereka akhirnya selesai. Kini keduanya sudah berganti pakaian, dan Ara sedang menyuapi Bara yang duduk di atas ranjang kamar rawatnya.
"Sayang, aku pengin pergi ke pantai."
"Hah? Sekarang?"
"Aku udah bilang sama Kak Icha. Kak Icha juga udah minta izin sama dokter. Intinya, hari ini aku diizinin bebas ngelakuin apa pun. Itung-itung buat ngerayain hari pernikahan kita, sayang. Mau, ya? Ada sesuatu yang pengin aku lakuin juga di sana."
"Terus kita ke sana naik apa?"
"Pakai mobil gue aja, Ra. Nanti gue, Bang Biru, sama Kak Marissa juga ikut nemenin kalian."
Yuvin tiba-tiba masuk ke kamar Bara sambil menenteng sebuah tas besar.
"Lo beli apaan, Vin?"
"Oh, ini titipan Bara. Bara, emang lo belum bilang ke Ara?"
"Oh, iya, lupa."
Bara tersenyum, lalu menatap Ara.
"Jadi, aku pengin bikin semacam time capsule, sayang. Aku pengin kita berdua nulis sebuah permohonan di atas kertas. Terus kertasnya kita masukin ke dalam botol, lalu dikubur di tanah dekat pantai."
"Emangnya nggak bisa dikubur di sekitar sini aja, hmm? Kenapa harus di pantai?"
"Sekali-kali aku pengin ngelakuin sesuatu yang romantis, sayang. Nggak akan seru kalau nguburnya di sini. Emangnya kenapa? Kamu nggak mau?"
"Nggak, kok. Aku mau. Ya udah, selesai makan nanti kita ganti baju, terus berangkat."
Ara akhirnya selesai membantu Bara berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke pantai. Tak lupa, ia memakaikan jaket dan masker kepada Bara karena kondisi tubuhnya belakangan ini semakin mudah drop.
Di depan mobil, Biru dan Marissa sudah menunggu kedatangan mereka. Keduanya kemudian membantu Bara masuk ke dalam mobil sebelum akhirnya mereka berangkat menuju pantai.
...---...
"Anginnya kencang juga di sini. Kalau gue masuk angin, gimana?"
"Ya tinggal kerokan, lah, Bang. Biar anginnya keluar."
"Nanti kalau gue masuk angin, tolong kerokin gue, ya, Vin."
"Males! Minta kerokin sama cewek lo, lah. Oh, iya... jomblo. Sorry."
Biru langsung mengejar Yuvin yang mulai berlari di sepanjang pantai.
"Balik lo!"
Marissa hanya bisa tertawa melihat tingkah keduanya. Sementara itu, Ara dan Bara berjalan-jalan di sekitar pantai sambil menikmati angin yang berembus cukup kencang. Yohan dan Sora tidak ikut karena sedang ada urusan penting yang harus mereka selesaikan.
"Kamu nggak kedinginan, sayang?"
"Nggak. Aku malah ngerasa nyaman di sini. Anginnya segar, dan pemandangan lautnya juga indah. Sebenernya aku juga udah lama banget nggak pergi ke pantai."
Bara menghela napas pelan sebelum kembali menatap laut.
"Terus, kita mau bikin time capsule-nya kapan?"
"Botol, bolpoin, sama kertasnya udah kamu bawa, kan?"
Ara mengangguk.
Ia mengunci kursi roda Bara agar tidak bergerak, kemudian mengambil tas yang diletakkan di bagian belakang kursi roda tersebut. Ara mengeluarkan dua lembar kertas dan bolpoin, lalu menyerahkan salah satunya kepada Bara.
"Jangan lihat isi suratku. Intinya, tulisan kita bersifat rahasia."
"Iya, Bara. Aku tahu."
Ara kemudian berjongkok membelakangi Bara. Ia memandang hamparan pasir di hadapannya sembari mulai memikirkan apa yang hendak ditulis. Beberapa detik kemudian, tangannya mulai bergerak.
Let's meet in the future, Bara Samudera. I love you forever. Tolong persatukan kami kembali di masa depan. Tolong pertemukan kami kembali. Tolong kabulkan doaku. (Ara Moana)
Ara tersenyum setelah selesai menulis. Ia menggulung kertas tersebut dengan hati-hati, kemudian menunggu Bara menyelesaikan tulisannya. Tak lama kemudian, Bara melipat kertas miliknya.
"Udah?"
"Udah."
Bara mengulurkan tangannya.
"Ayo, masukin sama-sama."
Ara mengangguk.
"Hitung sama-sama sampai tiga, ya, Ara."
"Satu..."
"Dua..."
"Tiga!"
Mereka tertawa bersama ketika memasukkan kedua gulungan kertas itu ke dalam botol. Ara kemudian menutup botol tersebut rapat-rapat sebelum mulai mencari tempat untuk menguburnya.
"Mau dikubur di sebelah mana?"
"Maju tiga langkah ke depan aja. Biar dekat sama bibir pantai."
Ara mengangguk. Ia mulai menghitung langkahnya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ara berhenti, kemudian berjongkok dan mulai mengais pasir dengan tangannya. Setelah mendapatkan lubang yang cukup dalam, ia memasukkan botol tersebut ke dalamnya dan kembali menutupnya dengan pasir. Setelah selesai, Ara berdiri dan menepuk-nepuk kedua tangannya yang dipenuhi pasir.
"Udah."
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret pantai dari berbagai sudut. Bara memperhatikannya sambil tersenyum.
"Ngapain difoto segala?"
"Biar aku nggak lupa tempatnya. Kira-kira kapan kita harus buka time capsule kita ini, Bara?"
"Tiga tahun lagi aja, gimana?"
"Hah? Tiga tahun?"
Bara hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan yakin. Ara mengernyitkan kening. Ia benar-benar tidak memahami maksud Bara.
Kenapa tiga tahun? Kenapa Bara terdengar begitu yakin seolah-olah mereka memang akan bertemu kembali pada waktu itu?
"Oh, shit!"
Suara Bara membuat Ara langsung menoleh. Darah segar mulai mengalir dari hidung Bara.
"Bara!"
Ara panik. Ia segera mengambil tisu dari dalam tas dan menempelkannya pada hidung Bara.
"Ayo, kita balik ke mobil!"
Dengan tergesa-gesa, Ara membawa Bara kembali menuju mobil. Kepanikan langsung terlihat di wajah Biru, Marissa, dan Yuvin yang sejak tadi bersantai di sekitar pantai.
"Kita kembali ke rumah sakit sekarang!"
Marissa dan Biru segera membantu mengangkat Bara masuk ke dalam mobil. Yuvin pun langsung bersiap mengemudi.
"Kalian heboh banget."
Bara hanya terkekeh sambil terus menyumbat hidungnya dengan tisu. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Ara.
"Gimana nggak heboh kalau kamu tiba-tiba mimisan kayak gini! Kamu nyebelin banget!"
"Maaf, sayang. Mimisannya juga selalu datang tanpa permisi. Lagian aku baik-baik aja."
Ara mengusap rambutnya dengan lembut. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa Bara tidak sedang baik-baik saja.
...---...
Sesampainya di rumah sakit, Marissa segera membawa Bara ke kamar rawat dan memanggil dokter karena kondisi Bara kembali drop.
Sepanjang perjalanan tadi, Bara memang terlihat seperti sedang tertidur. Namun, setelah mobil berhenti di rumah sakit, Ara sempat berusaha membangunkannya.
"Bara? Sayang, kita udah sampai."
Tidak ada jawaban.
"Bara?"
Ara mengguncang bahunya perlahan. Tubuh Bara tetap tidak bergerak. Ia sudah tidak sadarkan diri.
Kini mereka hanya bisa menunggu dengan cemas di depan kamar rawat Bara sembari menanti dokter yang masih melakukan pemeriksaan di dalam.
Tak ada satu pun dari mereka yang berani berkata banyak. Mereka hanya bisa berharap. Berharap Bara kembali membuka matanya. Berharap lelaki itu masih diberi sedikit waktu.
aramoana_:
Apapun yang terjadi, kamu tetaplah cinta pertama dan terakhirku, Bara @barasamudera 😭❤️
Comments:
sorazura_:
Nangis nih, aku 😭
yohan.dewa:
Gue nyesek banget, sumpah! 😭
yuvindipt:
Semangat terus, Ra! Kalau lo semangat dan kuat, gue yakin Bara juga pasti kuat!
biru_namaku:
Siapa yang naruh bubuk samyang di sini 😭
marissabrn:
Ara harus semangat. Kakak yakin Bara juga kuat!
...---...
"Sayang..."
Suara Bara terdengar pelan. Ara yang sedang duduk di samping ranjang langsung menoleh.
"Ya?"
"Kamu bisa nyanyiin satu lagu lagi buat aku nggak? Biar aku bisa tidur."
Sifat manja Bara kembali muncul setelah ia tersadar dari pingsannya. Dokter mengatakan kondisi Bara sudah terlalu mudah drop. Ia tidak boleh terlalu lama berada di luar rumah sakit karena tubuhnya semakin sulit beradaptasi dengan aktivitas.
"Mulai, ya, manjanya."
"Aku nggak bisa tidur, sayang."
Bara menepuk sisi ranjang yang kosong.
"Ayo, kamu temenin aku tidur di sini aja."
Ara tertawa kecil.
"Kamu tuh, ya..."
Meski begitu, Ara tetap naik ke atas ranjang dan memilih berbaring di samping Bara.
"Aku harus nyanyi lagu apa?"
"Terserah. Berhubung suara kamu bagus, lagu apa pun pasti bakal aku dengerin."
Bara merangkul Ara, lalu memejamkan matanya.
Ara terdiam sejenak. Kemudian, sayup-sayup terdengar suara merdu yang mulai memenuhi kamar rawat tersebut.
Ara menyanyikan lagu yang ingin didengarkan Bara, membiarkan setiap baitnya menjadi ungkapan cinta yang mungkin tak akan pernah cukup untuk menjelaskan perasaannya.
Bara mendengarkan dalam diam. Semakin lama, napasnya semakin teratur. Suaranya Ara membuat pikirannya terasa jauh lebih tenang.
I choose to love you too, Ara.
Bara tersenyum kecil.
Ara terus bernyanyi hingga lagu itu selesai. Tangannya kemudian bergerak mengusap rambut Bara dengan lembut. Beberapa menit kemudian, Bara akhirnya tertidur lelap dalam pelukannya.
Ara memandangi wajah Bara yang terlihat tenang. Ia tersenyum, meskipun matanya mulai terasa panas.
Tanpa Ara ketahui, beberapa saat sebelum benar-benar tertidur, Bara telah menyimpan satu harapan terakhir di dalam hatinya.
Let's meet in the future, Ara Moana. I love you forever. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Lalu, kita akan membuka time capsule kita bersama-sama. Jadi, tunggu aku, ya, sayang. (Bara Samudera)