Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Jebakan di Jalan Sepi
Permintaan itu datang mendadak dari Cinta pagi itu — mengantarnya ke rumah sakit kecil di pinggiran kota untuk menjenguk mantan pengasuhnya yang sudah tua dan sakit, jauh dari rute biasa yang selalu dilalui mobil keluarga Wijayakusuma. Raka setuju tanpa curiga, tidak menyadari bahwa perubahan rute kecil semacam itu, bagi seseorang yang mengawasi mereka dengan cermat, adalah kesempatan yang selama ini ditunggu.
Perjalanan pulang melewati jalan sepi berbatasan hutan kota, jauh dari kamera lalu lintas dan keramaian yang biasa melindungi mereka di jalan utama.
"Sesuatu terasa aneh," gumam Raka, matanya menyipit memperhatikan spion tengah, merasakan perubahan tekanan yang sudah sangat ia kenal.
"Apa maksudmu?" tanya Cinta dari kursi belakang, suaranya mulai tegang mendengar nada suami dan mata-matanya sendiri.
"Pegangan erat," jawab Raka singkat, tepat sebelum sebuah truk kecil menghalangi jalan di depan mereka, terlalu tiba-tiba untuk kebetulan, sementara dua motor muncul dari arah berlawanan, mengepit mobil dari belakang.
Kali ini, bukan perampokan amatir seperti di lampu merah dulu. Empat pria bersenjata turun dari kendaraan mereka dengan gerakan terlatih, mengepung mobil dari segala arah — serangan yang jelas dirancang untuk tidak menyisakan jalan keluar.
"Cinta, ke lantai mobil, sekarang," perintah Raka tegas, membanting pintu terbuka sebelum peluru pertama menghantam kaca depan.
Ia bergerak keluar dengan kecepatan yang tak pernah lagi ia tunjukkan di depan siapa pun sejak tiga tahun bersembunyi — melumpuhkan pria pertama dengan satu pukulan ke tenggorokan sebelum senjatanya sempat terangkat penuh, merebut pistol itu di udara sebelum jatuh ke aspal.
Pria kedua menembak membabi buta, meleset karena Raka sudah bergerak ke sisi buta kendaraan mereka, menggunakan tubuh truk sebagai perlindungan sesaat sebelum melumpuhkan pria itu dengan tendangan yang mematahkan pergelangan tangannya.
Dua pria terakhir mencoba mendekat dari arah berbeda, lebih hati-hati kali ini setelah menyaksikan rekan mereka jatuh dalam hitungan detik. Raka merasakan luka gores di lengan kirinya dari pisau lipat salah satu penyerang, tapi rasa sakit itu tak sebanding dengan fokus dingin yang mengambil alih dirinya sepenuhnya — insting Naga Hitam yang selama ini terkubur, bangkit penuh untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Dalam waktu kurang dari satu menit, keempat penyerang tergeletak tak berdaya di aspal jalan sepi itu — tiga pingsan, satu masih sadar tapi tak mampu bergerak, tangan kanannya terkunci dalam posisi yang menyakitkan di bawah lutut Raka.
"Siapa yang mengirimmu?" Raka bertanya dingin, suaranya jauh berbeda dari nada sopir yang biasa didengar siapa pun di rumah Wijayakusuma.
Pria itu meringis kesakitan, mencoba bertahan sejenak sebelum akhirnya menyerah pada rasa sakit yang semakin ia rasakan. "Kami cuma disewa. Instruksinya lewat perantara, seperti biasa — targetnya sopir keluarga Wijayakusuma, dibuat terlihat seperti perampokan gagal yang berujung maut."
"Kalian tahu siapa yang sebenarnya kalian hadapi?"
"Kami hanya diberi tahu—" pria itu menelan ludah, "—bahwa targetnya lebih berbahaya dari yang terlihat, dan kami harus bergerak cepat sebelum dia sempat 'menunjukkan siapa dirinya sebenarnya'. Sekarang aku mengerti kenapa bayarannya jauh lebih besar dari perampokan biasa."
Raka mencerna kata-kata itu — Setiawan tidak lagi hanya mencurigai, ia sudah cukup yakin untuk memerintahkan eksekusi langsung, meski masih menyamarkannya sebagai kejahatan jalanan biasa.
"Berapa lama sampai perantara itu tahu misi ini gagal?"
"Kami harus lapor dalam satu jam, atau mereka akan menganggap misi berhasil dan bergerak ke fase berikutnya," pria itu mengakui, ketakutan mulai mengalahkan kesetiaannya pada bayaran yang dijanjikan.
"Fase berikutnya apa?"
"Aku tidak tahu detailnya. Aku hanya orang lapangan, bukan perencana." Pria itu menatap Raka dengan mata memohon. "Tolong, aku punya keluarga—"
Raka menatapnya lama, mengingat kembali pemuda pesuruh murahan di bengkel beberapa minggu lalu — orang-orang kecil yang terjebak dalam permainan yang jauh lebih besar dari yang mereka pahami.
"Pergi," katanya akhirnya, melepaskan cengkeramannya. "Dan jangan pernah ambil kontrak semacam ini lagi. Lain kali, orang yang kau hadapi mungkin tidak akan semurah hati."
Pria itu berlari terpincang menjauh, meninggalkan tiga rekannya yang masih pingsan di aspal, tanpa menoleh lagi.
Cinta keluar perlahan dari mobil, wajahnya pucat menyaksikan sisa kekacauan yang baru terjadi, tapi matanya menatap suaminya dengan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa takut — kekaguman yang bercampur ketakutan akan apa yang baru saja ia lihat sepenuhnya untuk pertama kalinya.
"Mereka benar-benar mencoba membunuhmu," bisiknya, suaranya bergetar.
"Ya," jawab Raka pendek, memeriksa lukanya sendiri sekilas sebelum menatap istrinya dengan tatapan yang lebih tenang dari yang seharusnya wajar setelah insiden semacam ini. "Dan itu artinya, Setiawan tidak lagi punya keraguan soal siapa aku. Waktu untuk bergerak diam-diam sudah benar-benar berakhir sekarang."
Ia menekan earpiece-nya, suaranya berubah tegas penuh keputusan. "Bara, Wulan. Mereka baru mengirim tim eksekusi ke jalan sepi, menyamarkannya sebagai perampokan. Setiawan sudah yakin penuh siapa aku. Kita harus mempercepat semuanya.