Alur cerita: Maju-mundur cantik, ya...😊
Kanaya Khairunnisa terjebak dalam sebuah pernikahan yang tidak bisa ditolaknya dengan abang dari tunangannya sendiri, Kei Hasan. Kehidupan pernikahan mereka tidak berjalan baik karena Kei hanya menjadikan Naya sebagai alat untuk membalas sakit hatinya. Naya yang sedang melaksanakan studi di Perancis harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa sang suami ternyata telah menikah lagi dengan seorang model dan bintang iklan terkenal, Nadia Jefferson. Sang mertua yang sangat menyayangi Naya berusaha untuk menjauhkan Naya dari Kei. Setelah beberapa tahun ternyata takdir malah mempertemukan mereka dalam banyak situasi. Akankah pertemuan demi pertemuan mampu menghangatkan kembali hati Naya yang sempat membeku? Akankah Kei mengungkapkan cinta yang ternyata telah dimilikinya sejak lama? Mari ikuti alur ceritanya, teman-teman..😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Te_Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Menyingkap Topeng Sendiri
Naya melangkah masih dengan dada yang bergemuruh. Genggaman hangat Puan Sri dan Afifah di kedua sisinya sepertinya tidak mampu meredakan gemuruh itu.
Puan Sri akhirnya mengarahkan langkah mereka menuju pintu keluar gedung resepsi sebelah kiri. Tujuan mereka sekarang sebuah taman bunga yang berada tepat di samping gedung itu.
Sesampainya di taman, Afifah menghela Naya menuju sebuah gazebo di tengah taman, mendudukan Naya sebelum akhirnya ia pun duduk di samping sang adik ipar.
Puan Sri masih berdiri di depan keduanya. Matanya tak lepas dari Naya. Perlahan perempuan paruh baya yang melekat erat raut aristokrasi di wajahnya itu membungkuk, kemudian berjongkok di depan sang menantu.
"Maafkan Mama, sayang. Mama tahu, Nay tidak suka dengan cara Mama menghadapi perempuan itu, tapi Mama tahu pasti dia tidak sepolos yang Nay kira. Sekali lagi, maafkan Mama. Mama yang telah membawa Naya dalam situasi ini", ujarnya lirih sambil mengenggam dan mencium kedua tangan Naya yang berada di pangkuannya.
Naya terkesiap. Gadis itu segera menjatuhkan dirinya hingga sejajar dengan sang mertua. Menarik kedua tangannya dari genggaman Puan Sri dan gantian mengenggam tangan sang mertua. Mencium kedua tangan itu dan menaruhnya di pipi kanannya.
"No, Mama! Don't say that. Mama tidak salah apa-apa. So, please jangan lagi menyalahkan diri Mama. Nay terima penggalan scene tadi sebagai rangkaian scene demi scene dari drama kehidupan Nay. Walau Nay tidak pernah tahu akan seberapa banyak episodenya". Naya berucap tak kalah lirih dari sang mertua.
Puan Sri melihat genangan bening di sudut mata gadis itu. Reflek ibu jarinya menyentuh dan menghapus tetes demi tetes yang mulai bergerak turun.
Afifah yang selama beberapa saat masih terpaku di tempat duduknya, perlahan bangkit dan menarik sang Mama dan adik iparnya untuk berdiri. Merangkul keduanya erat.
"Kamu tidak sendiri Nay, ada Mama dan kak Ifah yang sentiasa akan membersamai kamu. Kami akan selalu hadir dalam setiap episode itu. Kamu hanya perlu yakin bahwa ini adalah happy ending drama."
Afifah tidak hanya sedang meyakinkan Naya, namun ia juga sedang menegakan keyakinan itu pada dirinya sendiri.
Kamu akan menyesal Kei karena telah menyakiti dua orang perempuan terkasih kak Ifah. Tak akan kak Ifah biarkan ini lebih lama lagi. Kamu tunggu saja!
......***......
"What?! Tapi Naya tidak apa-apa, kan? Okay, kamu tetap stay kat sana. Pastikan tidak terjadi sesuatu apapun dengan Naya!"
Kei mengakhiri panggilan tersebut dan memulai sebuah panggilan baru lainnya.
"Segera tinggalkan gedung resepsinya, dan pulang ke Jakarta. Andrian sudah booking tiket untuk keberangkatan pukul 4 petang ini. Waktumu hanya satu jam saja sebelum check-in".
"By, what do yo mean? Kamu di mana?"
"Aku tidak perlu menjawab itu karena kamu tahu pasti aku sedang di mana. Tinggalkan gedungnya! Now!"
Berkata begitu Kei langsung menutup panggilannya.
Sementara itu Nadia yang masih berada di acara resepsi Zahra menggenggam kuat benda persegi yang baru saja dipakainya untuk menerima panggilan dari Kei, sang suami.
Bibirnya mendesis menahan amarah yang memuncak. Di matanya Kei memang lelaki yang agak kaku dan tidak begitu hangat. Namun ia belum pernah mendengar nada bicara Kei yang seperti barusan. Dingin dan membekukan!
Kanaya Khairunnisa! Aku sudah cukup bersabar selama lebih lima tahun ini! Kau telah merampas posisi yang seharusnya aku tempati. Rasanya sudah terlalu lama aku mengalah, dan membiarkanmu menikmatinya. Mulai sekarang aku tidak akan diam lagi! So, nikmati detik-detik terakhirmu!
..._________***_________...
To be continued
Mohon berkenan untuk memberikan like, vote, comment dan gift ya, biar authornya tambah semangat untuk update tiap hari...😊😊😊 Love you all.
cover ny keren dan bagus thor....saya suka