Jasmin sanjaya ketinggalan pesawat ke jakarta, tapi Dean cowok blasteran mengubah kesialan Jasmine menjadi sebuah kisah romantis. Mereka bertemu di bandara, dan secara kebetulan duduk bersebelahan dalam pesawat susulan Jasmine. Dimulailah dengan bincang-bincang dan langsung mendekatkan keduanya. Setibanya di jakarta mereka terpisah. Namun, Jasmine telah jatuh hati pada Dean dan bertekad untuk mencarinya…Berhasilkah Jasmine menemukan cintanya? Biar g penasaran yuk kepoin ceritanya🙏😍🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alma Kadier Carally, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. CPP
“ Jadi, apa yang terjadi pada pacarmu?”
Dean kembali menyandarkan kepala ke kursi.
“ Apa yang terjadi? Kurasa hal yang bisa terjadi. Kami lulus. Aku pergi. Kami melanjutkan hidup. Apa yang terjadi pada Mr. Piza?”
“ Ia tidak cuma mengantar piza, tahu.”
“ Mengantar roti panggang juga?”
Jasmine meringis padanya. “ Ia memutuskan aku, sebenarnya.”
“ Apa yang terjadi?”
Jasmine mendesah, berusaha bicara dengan nada filosofis. “ Yang biasa terjadi, kurasa. Ia melihatku ngobrol dengan cowok lain di pertandingan basket dan cemburu, jadi ia memutuskan lewat sms.”
“ Ah,” ujar Dean. Cinta bersejarah paling tragis.”
“ Seperti itulah,” Jasmine menyetujui. Ia menoleh dan mendapati cowok itu menatapnya lekat-lekat.
“ Cowok idiot.”
“ Betul,” ujar Jasmine. “ ia memang sejak dulu agak idiot, jika kutinjau kembali.”
“ Tetap saja,” ujar Dean. Jasmine tersenyum penuh terima kasih padanya.
Tepat setelah mereka putus, tiba-tiba Caroline menelepon—menunjukkan penentuan waktu yang luar biasa—untuk mendesak Jasmine membawa kencan ke acara pernikahan.
“ Tidak semua orang punya patner,” jelas Caroline saat itu, “ Tetapi kurasa mungkin menyenangkan bagimu jika mengajak teman ke sana.”
“ Tidak apa-apa,” ujar Jasmine. “ Aku tidak keberatan sendirian.”
“ Tidak, sungguh,” Caroline bersikeras, benar-benar tidak merasakan nada bicara Jasmine. “ Sama sekali tidak merepotkan. Lagi pula,” tambahnya, suaranya dirensahkan menjadi bisikan penuh persekongkolan, “ kudengar kau punya pacar.”
Kenyataannya, mereka sudah putus baru tiga hari sebelumnya, dan drama pemutusan itu masih mengekor Jasmine melalui lorong-lorong sekolah seperti monster tak kasat mata. Hal itu bukan sesuatu yang suka ia bicarakan, apalagi dengan calon ibu tiri yang bahkan belum pernah ia temui.
“ Kau salah dengar,” tukas Jasmine saat itu. “ Aku tidak apa-apa terbang sendirian.”
Sebenarnya, bahkan seandainya mereka masih berkencan, pernikahan ayahnya adalah tempat terakhir yang ingin dihadiri Jasmine bersama seseorang. Keharusan menghabiskan malam itu dalam balutan gaun pengiring pengantin menyebalkan sambil menyaksikan sekelompok orang dewasa melakukan tarian, sudah cukup berat untuk ditanggung sendiri; bersama orang lain hanya akan membuatnya lebih buruk. Peluang untuk membuat pasangannya kasihan pada dirinya sangat besar: Ayah dan Caroline berciuman di tengah dentingan gelas-gelas, saling menjejalkan kue ke muka masing-masing, mengucapkan kata-kata manis secara berlebihan.
Saat Caroline mengirimkan undangan itu berbulan-bulan lalu, Jasmine berpikir tidak ada seorang pun di dunia ini yang cukup dibencinya untuk diajaknya melalui semua ini. Tetapi sekarang, saat memandang Dean, ia bertanya-tanya apakah ia keliru. Ia bertanya-tanya benarkah tidak ada orang di dunia ini yang disukainya, yang membuatnya merasa begitu nyaman sehingga ia bersedia mengizinkan mereka menyaksikan tonggak bersejarah ganjil ini, acara yang ia takuti ini. Yang mengejutkan, ia sekilas membayangkan Dean memakai tuksedo, berdiri di ambang pintu ruang jamuan makan, dan sekonyol-konyolnya bayangan itu—pernikahan ini bahkan bukan acara resmi—memikirkannya membuat perut Jasmine menggelepar. Ia menelan susah payah, mengerjap untuk mengusir bayangan tersebut.
Di sebelahnya, Dean melirik wanita tua yang masih mendengkur dengan tarikan napas tak teratur, mulutnya berkedut sesekali.
“ Aku benar-benar harus ke kamar kecil,” kata cowok itu dan Jasmine mengangguk.
“ Aku juga. Kurasa kita bisa menyusup melewatinya.”
Dean melepas sabuk pengaman dan setengah berdiri dengan gerakan agak mendadak, membentur kursi di depannya dan membuat wanita yang duduk di sana melempar pandangan jengkel padanya.
Bersambung