Satu hal yang Larasati yakini saat melihat wajah Dirga adalah bahwa perasaan laki-laki itu masih utuh untuknya. Namun saat Dirga—mantan suami Larasati, menatapnya dengan tatapan kosong yang begitu asing, ia menyadari bahwa laki-laki itu tak akan pernah kembali... Meski begitu, Larasati tetap mendatanginya dan berkata lirih, "Dirga, aku adalah perempuan yang dulunya paling kamu cintai. Maaf, dan terimakasih, karena sudah mengijinkanku untuk pernah bisa merasakan dicintai dengan hebat oleh laki-laki sepertimu ...."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jen Universe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia-manusia Terluka
Larasati terlalu kacau untuk memahami apa yang sedang terjadi. Ia tidak tahu bagaimana keadaan rumah tangga mereka selanjutnya. Larasati dan Dirga sudah berada di rumah mereka sejak dua jam lalu, tapi yang laki-laki itu lakukan hanya duduk dan menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Sementara Larasati, ia mencoba untuk mencari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya dari Dirga yang tiba-tiba melupakan dirinya.
Larasati terlihat memindahkan furniture kesana-kemari, hingga tampilan rumahnya tampak berbeda. Ia bahkan menurunkan selurih piring yang berada di dalam rak, lalu mencucinya meski piring-piring itu bersih. Mengganti karpet, menyapu dan mengepel seluruh rumah, hingga mengelap semua perabotan yang tadi pagi sudah ia bersihkan. Seolah belum selesai, ia kemudian bergegas ke ruangan untuk cuci baju dan mencuci seluruh handuk yang mereka pakai.
Setelah memasukkan detergen dan pewangi ke dalam mesin cuci, Larasati terduduk pada lantai ruangan itu. Ia kembali menangis. Dadanya begitu sesak hingga ia tidak bisa mengatakan apapun. Larasati menenggelamkan kepalanya pada kedua tangannya untuk menangis begitu keras. Ia tidak peduli meski Dirga akan mendengarnya. Justru ia berharap Dirga akan sadar setelah mendengar tangisan pilunya. Ia menekan dadanya kuat, seakan ingin menghilangkan segala sakit yang berada di dalam sana.
"Ras ...." panggil Dirga lirih, hingga Larasati mengangkat wajahnya dan berdiri seketika.
"Barusan kamu ... panggil aku, Ga?" Larasati menghapus air mata yang membanjiri pipinya. "Coba panggil aku sekali lagi."
"Kamu kenapa? Kenapa nangis di sini? Itu juga kenapa semua furniture kita pindah tempat?"
"Dirga, kamu inget aku?"
"Orang gila mana yang lupa sama istri sendiri sih, Ras?" tanya Dirga sambil terkekeh.
Larasati tidak mengatakan apapun lagi. Ia berhambur memeluk Dirga begitu kencang, hingga Dirga tampak kebingungan.
"Kenapa, sih? Kenapa tiba-tiba begini, Ras?"
"Aku takut kamu beneran lupa sama aku."
"Kamu habis mimpi buruk, ya? Mimpi apa?"
Larasati menggeleng lemah. Kini ia hanya memandang wajah Dirga yang juga sedang menatapnya. Tatapan itu, tidak lagi asing seperti saat mereka berada di rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, bunyi dari mesin cuci berhasil memecah keterdiaman mereka.
"Ga, tadi kamu lupa sama aku. Aku nggak tahu kenapa, tapi kamu tiba-tiba aja nggak inget sama aku."
"Aku? Nggak inget sama kamu?" Dirga tampak mengerutkan keningnya, lalu kembali memeluk Larasati. "Maaf, mungkin aku beneran udah gila sampai lupa sama istri sendiri."
Dalam pelukan Dirga, Larasati menggeleng. Ia tidak akan pernah menganggap Dirga gila. "Jangan ngomong gitu. Aku takut."
"Nggak akan ada yang berubah, Ras." Larasati bisa merasakan bahwa kini Dirga sedang menghela nafasnya. "Aku nggak akan lupa sama kamu."
"Jangan sakit, Ga ...."
"Nanti kalau tiba-tiba aku nggak inget kamu kayak tadi, atau kalau kamu dengar aku tanya 'kamu siapa?', kamu bisa peluk aku seerat ini, Ras. Aku yakin aku bakal ingat kamu dengan pelukan ini."
"Aku nggak mau kamu lupa sama aku, Ga."
"Sama," sahut Dirga sambil terkekeh, "aku juga nggak mau lupa sama kamu."
Kini Dirga melonggarkan pelukannya, lalu merapikan rambut Larasati yang sedikit berantakan.
"Jangan sedih, Ras. Kamu harus inget kalau ada manusia lain yang lagi berjuang untuk tumbuh di perut kamu."
"Ga ...."
"Aku nggak peduli meski ternyata anak itu bukan anak kandungku. Selama kamu yang melahirkan, aku tetap ayahnya. Dia anak aku sampai kapanpun."
...****************...
Jauh di tempat lain, Teressa tampak sedang sibuk dengan bahan-bahan masakan di dapurnya. Ia bahkan mondar-mandir sambil sesekali menatap pada layar ponselnya yang sedang menampilkan resep masakan. Jujur saja, selama menikah dengan Jovanka, Teressa tidak pernah memasak untuk laki-laki itu. Ia hanya terlalu sibuk dengan urusan rumah sakit.
Namun, hari ini ia memutuskan untuk mulai belajar memasak. Ia juga ingin menjadi istri yang sesungguhnya untuk Jovanka. Meski kini hubungan mereka terlanjur jauh, tapi tidak akan terlambat untuk sekedar memperbaikinya, kan?
Waktu bahkan baru menunjukkan pukul 4 sore. Hal yang cukup langka untuk melihat Teressa sudah berada di rumah dan berkutat di dapur seperti sekarang. Ia tahu, saat ini Jovanka sedang berada di rumah karena Larasati pasti sedang sibuk mengurus Dirga dan Miko.
Teressa baru saja selesai meletakkan semua masakannya di atas meja makan, ketika Jovanka keluar dari kamarnya. Laki-laki itu fokus pada ponsel yang ia genggam, hingga tidak menyadari bahwa Teressa sedang tersenyum di samping meja makan.
"Jo, liat deh. Aku masak buat kamu." Jovanka menoleh dan memperhatikan meja makan, aesaat setelah Teressa selesai berbicara.
"Ngapain repot-repot sih, Re? Biasanya juga beli."
"Aku cuma pengen makan bareng kamu. Liat kamu nikmatin masakanku, terus ngobrol berdua di meja makan."
Tanpa mengatakan apapun lagi, Jovanka melangkah mendekat pada Teressa dan duduk pada salah satu kursi di sana. Berbeda dengan Jovanka yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, Teressa justru sedang tersenyum senang, karena pada akhirnya Jovanka akan menikmati masakannya untuk pertama kali.
"Aku nggak tau ini sesuai selera kamu atau nggak," ujar Teressa yang mulai mengambil makanan untuk mengisi piring Jovanka, "kalau ternyata rasanya nggak enak, nggak usah dimakan. Biar aku belajar lagi besok."
"Makasih, karena kamu mau belajar masak buat aku. Tapi kamu nggak perlu berusaha sekeras ini, Re. Kamu udah tau sejauh mana hubunganku sama Laras. Nggak perlu bersikap baik cuma untuk memperbaiki sesuatu yang udah terlanjur rusak."
"Nggak, Jo. Semuanya masih bisa diperbaiki. Aku bahkan nggak keberatan kalau nanti anak itu harus ikut kamu dan tinggal sama kita. Aku bakal belajar buat jadi ibu dan sayang sama dia kayak anak aku sendiri."
"Yang punya hak atas anak itu cuma Laras, Re. Kamu nggak bisa seenaknya bilang begitu."
"Tapi aku serius, Jo ...." suara Teressa terdengar lemah, "aku nggak peduli meski harus ngerawat anak kamu yang dikandung orang lain. Selama kamu masih di sini sama aku, aku nggak keberatan."
"Teressa, aku udah nggak bisa lagi." Jovanka menepuk dadanya berulang kali. "Di dalam sini rasanya udah kebas, Re. Aku nggak bisa lagi berusaha untuk ngerti kamu dan nurutin semua kemauan kamu. Sudah cukup kamu siksa aku 5 tahun ini."
"Aku bakal mempertimbangkan buat gugat cerai kamu, Re. Meski akhirnya Laras milih buat bertahan sama Dirga, aku bakal tetap ceraikan kamu."
Pada akhirnya, masakan yang sudah Teressa masak sepenuh hati, menjadi dingin tanpa sempat Jovanka sentuh. Pada akhirnya, Teressa harus menerima bahwa hubungan mereka juga terlanjur dingin, bahkan mungkin benar-benar tidak lagi bisa diselamatkan.
.
.
.
.
tau ah