Indonesia
NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Cintamanis / CEO / Tamat
Popularitas:5.9M
Nilai: 5
Nama Author: el nurmala

Seorang anak yang mana kehadirannya tidak dikehendaki oleh ayahnya sendiri hanya karena ia terlahir sebagai anak perempuan.

Meydina namanya. Seorang anak yang semasa kecilnya tidak dianggap keberadaannya, kini telah tumbuh menjadi gadis cantik yang sederhana.
Pekerjaannya mempertemukan Meydina dengan seorang pria tampan dan gagah bernama Maliek Putra Bramasta yang merupakan atasannya.

Bagaimana kelanjutan hubungan mereka bila ternyata Meydina dan Maliek ada ikatan saudara?

Bagaimana pula kehidupan Meydina setelah ia disia-siakan?

Apakah hubungan ayah dan putrinya itu akan membaik seiring berjalanya waktu?

--------------

Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat, dan kejadian yang serupa, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keputusan Maliek

Happy reading....

Maliek memarkirkan mobilnya di depan rumah Meydina. Maliek yang berniat menggenggam tangan Meydina, harus kecewa karena tangannya di tepis wanita yang kini menjadi pacarnya itu. Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.

"Ibu, Mey pulang!" seru Meydina.

"Mey, kalo masuk rumah itu ngucap salam. Kebiasaan teriak-teriak," ujar sang ibu.

"Eh, Tante. Maaf lupa." Mey bersemu karena malu.

"Ibu kenapa? Kok matanya bengkak gitu, habis nangis ya?" tanya Meydina.

"Biasalah, Mey. Ibumu dan tante kan udah lama banget nggak ketemu, jadi yaa bisa di bilang tangis kebahagiaan," ucap Resty sambil melirik kearah Anita.

Anita yang diliriknya memperlihatkan senyum kelegaan.

"Kalian dari mana aja tadi?" tanya Resty.

"Ada deeh," jawab Maliek.

"Mencurigakan!" ujar Resty sambil mendelik, karena melihat Meydina dan Maliek tersenyum seolah menyiratkan sesuatu.

Tidak lama kemudian, Maliek dan mamanya pamit pulang. Resty berjanji akan datang lagi untuk membawa serta Anita berkunjung ke rumahnya.

***

Malam hari....

"Bu, bolehkan kalau Mey tetap bekerja di perusahaan pak Maliek!" pinta Meydina.

Ibunya hanya menatapnya, lalu mengangguk pelan.

"Terima kasih, Bu?" ucap Meydina dengan senyum bahagianya.

***

Pagi ini, Maliek masih berada di kediaman orang tuanya. Biasanya bila hari kerja, Maliek akan berada di apartemennya, dan pulang ke rumah orang tuanya saat akhir pekan.

Semalam ia dan Bram papanya mendengarkan cerita tentang keluarga Meydina dari sang mama. Ada perasaan miris dihatinya akan perjalanan hidup wanita yang di cintainya itu. Ia bertekad akan mencari tahu semua hal tentang sosok ayah kandung Meydina.

📱"Hallo, Rik. Cari tahu tentang Salman Al-Azmi, secepatnya!" titahnya pada Riky sang asisten.

"Salman, suatu saat kau akan menyesali karena telah menyia-nyiakan putrimu sendiri," batin Maliek menggeram.

***

"Pah, mama ingin Meydina melanjutkan pendidikannya. Kasihan dia kan masih muda, masa depannya masih panjang," ucap Resty.

Mereka sedang berada di ruang makan untuk sarapan.

"Papa setuju aja. Semakin tinggi pendidikannya, semakin bagus," jawab Bram.

Sejak mendengar kisah Anita, Bram merasa geram pada Salman yang merupakan sahabat lamanya itu.

"Pendidikan siapa, Paah?" tanya Maliek yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi.

"Meydina," mama Resty yang menjawab.

"Hmmm.... Akan lebih baik kalau dia bisa melakukan apa yang dia inginkan," sahut Maliek mengangguk-angguk pelan.

"Nah itu, maksud mama. Mama yakin Mey ingin seperti teman-temannya. Kulaih sambil menikmati masa mudanya." Resty tersenyum.

"Nanti siang mama mau ajak dia belanja," ucap Resty semangat.

"Jangan hari ini dong, Ma!" pinta Maliek, ia sudah berencana bersama Meydina berdua saja, tidak ingin mamanya sampai mengganggu.

"Emang kenapa? kangan bilang karena Meydina sekertaris kamu. Dia akan berhenti titik," ucap mama Resty dengan mimik wajah judes yang lucu.

"Kalau Meydina berhenti, terus siapa sekertaris Maliek. Dia kan bisa kuliah sambil kerja. Atau jadi asisten pribadi aja deeh biar ngurusin Maliek," sahut Maliek tak mau kalah dari mamanya.

"Enak aja. Kasihan nanti Meydina kecapean kalo kuliah sambil kerja. Kapan hangoutnya?" jawab Resty.

"Mama kamu benar, Liek. Kamu kan sudah punya Riky. Selama ini juga Riky bisa diandalkan." Bram membela istrinya.

Sedangkan Maliek hanya mendengus kesal. Ia tidak bisa membantah ucapan orang tuanya. Alasannya hanya satu, ia ingin selalu bisa bertemu Meydina.

"Papa akan minta Dani yang mengurusnya," ucap Bram.

Tak lama ia menelepon Dani asistennya untuk memberi perintah.

***

Di kantor, Meydina sedang berkutat dengan pekerjaannya. Hari sudah menjelang siang, namun Maliek belum juga muncul. Sesekali ia melirik kearah ruangan sang CEO.

"Apa dia langsung ketemu klien ya? tapi kok gue nggak di ajak," gumam Meydina kecewa.

Ia tahu hari ini Maliek akan menemui beberapa kliennya. Sebagai sekertaris, bukankah ia seharusnya mendampingi.

"Kak Alya, Pak Malieknya belum datang," ucap Meydina, saat melihat Alya akan memasuki ruangan Maliek tanpa bertanya dulu padanya.

"Gue udah tahu. Ini juga laporan yang di minta Maliek," ucapnya ketus dengan tangan yang mengangkat menunjukkan beberapa berkas pada Meydina.

"Kalo loe nggak becus kerja, mendingan berhenti. Dari pada nyusahin orang," hardiknya, lalu berlalu masuk ke ruangan Maliek.

"Pak Maliek meminta kak Alya mengerjakan tugasnya? tapi kenapa??" batin Meydina.

"Mey, tolong ke ruangan saya!" perintah seseorang membuyarkan lamunannya.

"Ba, baik, Pak!" sahut Mey, langsug mengekor pada orang yang tadi memintanya, yang tidak lain adalah Maliek, atasannya.

"Kamu nggak ada kerjaan selain melamun?" ucap Maliek datar.

"Maaf, Pak!" jawab Meydina tertunduk.

Ada perasaan kecewa dihati Meydina atas sikap Maliek kali ini.

"Ini berkas laporannya, Pak!" ucap Alya yang memang sengaja menunggu kedatangan Maliek.

Mata Alya mendelik pada Meydina. Sedangkan Meydina hanya tertunduk.

"Ini laporan yang anda minta tadi pagi, Tuan," ucap Riky yang baru masuk ke dalam ruangan Maliek.

"Hmmm,," jawab Maliek dengan pandangan yang menatap pada lembaran kertas yang diberikan Riky.

Maliek memasukkan berkas laporan dari Riky kedalam laci. Ia pun duduk di kursi kebesarannya. Sejenak ia menatap Meydina lekat.

"Meydina Brata Adisurya, mulai hari ini kamu saya berhentikan!" ucap Maliek Tegas.

Meydina tersentak mendengarnya. Pernyataan Maliek seketika membuat tubuhnya lemas.

"Tapi, Pak. Kenapa?" ucapnya dengan suara bergetar menahan tangisan.

"Itu sudah keputusan saya," ucap Maliek datar.

"Riky, Alya, keluar dari ruangan saya!" pintanya lagi.

Riky mengangguk, lalu berlalu. Begitu juga dengan Alya. Namun bedanya, Alya berlalu sambil mendelik kearah Meydina dengan raut wajah puasnya.

Setelah pintu tertutup, Maliek menghampiri Meydina. Tangannya yang akan merengkuh tubuh gadis itu ditepis Meydina.

Meydina mundur selangkah untuk menjauhkan dirinya dari Maliek.

"Harus ada alasan dari setiap keputusan. Saya ingin tahu apa alasan anda memecat saya," ucap Meydina formal dengan mata berkaca-kaca.

Maliek hanya tersenyum, lalu melangkah untuk merengkuh Meydina.

"Sini, Sayang!" Malik memeluk Meydina yang terdiam.

"Maaf, ya?" ucapnya lirih.

Meydina merasa bingung dengan situasi yang dihadapinya. Ia menyesali permohonannya pada sang ibu untuk tetap bekerja bersama Maliek.

Mungkin akan ada bedanya, ia yang mengundurkan diri dengan ia yang di pecat oleh atasannya kini.

Maliek menangkup sambil menatap wajah cantik dihadapannya. Kedua ibu jarinya mengusap lembut air mata Meydina yang menetes.

"Mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawabku!" ucapnya tegas.

"Maksudnya?" Meydina bertanya lirih.

"Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan juga ibumu."

"Tidak bisa, Kak."

"Eits. Lupa ya, kita lagi berdua," goda Maliek.

Meydina yang tersadar pun tersipu.

"Nggak bisa gitu dong, Sayang!" ucap Meydina malu.

Mendengar Meydina memanggilnya 'sayang' membuat hati seorang Maliek melayang.

"Kenapa nggak bisa? hmm?" tanya Maliek dengan senyuman menggoda.

"Aku nggak bisa dan nggak biasa nerima pemberian orang lain apalagi dengan cuma-cuma," jawab Meydina.

"Dari dulu ibu melarang Mey berhutang budi pada siapapun," tambahnya lagi.

Maliek mangangguk mengerti.

"Tapi aku bukan orang lain. Aku pacar kamu," ucap Maliek dengan telunjuk menekankan gemas pada hidung Meydina.

"Apaan sih? nggak harus gitu juga kali," gerutu Mey dengan senyuman yang terkulum.

"Kamu cukup menjadi pacar yang baik untuk seorang Maliek Putra Bramasta, ok."

"Maliek!!" pekik seorang wanita dari ambang pintu.

1
Na Lyna
Mey keras kepala bngtt
Sopi Yani
sangat luar biasa
Jenni Susi
baca ulang😄
Endang Sulistia
bagus ceritanya
Endang Sulistia
Alvin sama kayak ayahnya Evan...celup duluan sblm nikah
Endang Sulistia
anita udah rindu bnget Ama mas fahrinya ..
Endang Sulistia
Fahri suami dan ayah yg baik....
Endang Sulistia
baguslah dah bertindak si Salman...daripada diem diem aja..
Endang Sulistia
dasar pelit....
Endang Sulistia
kenapa si Anton g dimusnahkan Ama si Salman..kan jadi parasit sekarang...
Endang Sulistia
Salman dah tau ada ular di rumahnya masih aja g di usir...
Endang Sulistia
kenapa gak si usir si Lucy nya Salman bego....
Endang Sulistia
🤣🤣🤣👍👍👍
Endang Sulistia
kepedean...
Endang Sulistia
pak Bram sama namanya dengan nma ayahnya malik Thor...
Sri Ariyanti
good story
momtikita
Luar biasa banget ceritanya
Mugi
gabut nih,,baca ulang lg ahh
Airin Moo
aku suka cerita setiap babnya😍
baru nemu novel kayak gini biasanya setiap bab alur dan penulisannya seakan berada cerita in,,,semangat thor💪🏼💪🏼
kirim bungga sekobong❤️❤️
Vivo Smart
tapi nggak kamu sayangi sejak kecil padahal dia nggak salah apa-apa, padahal dia buah cinta mu dgn istrimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!