Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 : Kembalikan putriku
Rumah itu tenggelam dalam keheningan.
Tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kaki, tidak ada napas lain selain miliknya sendiri. Sebuah kamar di bagian belakang rumah menjadi satu-satunya tempat yang masih menyala, lampu redup menggantung, memantulkan bayangan panjang di dinding.
Seorang wanita berdiri diam di tengah ruangan.
Tatapannya tertuju pada seutas tali yang tergantung di langit-langit. Simpulnya rapi. Di bawahnya, sebuah bangku kecil telah diposisikan tepat di tempatnya, seolah menunggu.
Wajah wanita itu kosong. Tidak ada air mata. Tidak ada keraguan. Harapan telah lama mengering, meninggalkan tubuh yang hanya bergerak karena kebiasaan, bukan keinginan.
Ia melangkah maju.
Satu kaki terangkat, lalu berhenti.
Tok… tok…
Ketukan pelan di pintu depan terdengar samar, hampir tenggelam oleh sunyi. Wanita itu tersentak, napasnya tertahan. Ia menoleh ke arah pintu, berdiri kaku beberapa detik sebelum menarik napas panjang.
“Sebentar…” suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Ia berbalik, melangkah keluar dari kamar itu, lalu menutup pintunya perlahan seolah mengurung tali dan bangku itu kembali ke dalam ruang gelap.
Ketukan tak terdengar lagi saat ia membuka pintu.
Tidak ada siapa pun.
Wanita itu mengerutkan alis, lalu menunduk. Di ambang pintu, sebuah kotak besar terletak rapi, seolah sengaja diletakkan di tengah.
“Siapa…?” gumamnya bingung.
Tak ada jawaban.
Ia menurunkan tubuhnya perlahan, berlutut di depan kotak itu. Sebelum membukanya, ia menoleh ke kiri dan kanan, melihat apakah ada jejak orang yang baru saja melewati tempat ini.
Namun sayangnya, tidak ada siapapun disana.
Tangannya gemetar saat penutup kotak diangkat. Isinya membuat napasnya tercekat.
Pakaian seorang gadis. Seragam sekolah. Sepasang sepatu. Sebuah ponsel dengan layar retak dan casing yang penyok. Kalung kecil. Gelang yang sudah kusam. Dan di paling atas, sebuah buku kenangan.
Wanita itu membeku.
Perlahan, ia mengambil album itu. Jantungnya berdegup kencang, seolah mencoba memperingatkannya. Tolong… jangan seperti yang kupikirkan.
Namun begitu halaman pertama terbuka, dunia di sekelilingnya runtuh.
- Foto-foto terpajang rapi.
- Seorang gadis kecil berdiri di samping ibunya.
- Seorang ibu menggendong bayi, sementara seorang pria memeluknya dari belakang.
- Seorang gadis duduk di tengah taman bunga, tersenyum lebar, matanya bersinar—
Matanya terbelalak. Ekspresi kosong wanita itu retak.
Ia menunduk, pandangannya beralih ke isi kotak yang lain. Satu per satu, ia mengenali semuanya.
“Itu… punyamu…” bisiknya.
Semuanya milik putrinya.
Wanita itu menggigit bibirnya, menggeleng pelan. Bahunya mulai bergetar. Setetes air mata jatuh ke halaman album, disusul yang lain. Tangis kecil pecah dari dadanya, lalu berubah menjadi isakan yang tak tertahan.
Ia memeluk buku kenangan itu erat-erat, seolah dengan begitu ia bisa menahan kenangan agar tidak pergi lagi.
“Bukan ini…” suaranya pecah. “Bukan ini yang aku mau…”
Tangisnya semakin keras.
“Aku tidak butuh semua ini...” katanya terisak. “Aku mau kamu… aku cuma mau kamu yang kembali…”
Ia menutup mata, memeluk album itu ke dada.
“Kembalikan dia…” lirihnya putus asa. “Tolong… kembalikan putriku…”
Tangisan itu menggema di rumah yang sunyi, suara kehilangan yang telah terlalu lama ditahan.
Di luar, di balik bayangan pepohonan, seseorang berdiri diam. Ia tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak menolehkan wajahnya. Hanya menyaksikan, membiarkan tangis itu memenuhi malam.
Beberapa detik berlalu. Sebelum sosok itu berbalik.
Langkahnya tenang saat menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan rumah itu dengan kebenaran yang akhirnya kembali meski terlambat, namun kembali tanpa pemiliknya.