Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bius Dewa? Benarkah?
Darah di dada Yueji bergejolak. Hawa panas membakar dari jantung, menjalar cepat ke leher hingga pelipisnya menegang. Pandangannya menggelap oleh amarah. Namun tepat ketika ia hendak meremukkan apa saja di dekatnya, matanya menangkap sosok Chandra.
Pemuda itu masih terbaring di atas meja kayu. Napasnya teratur, wajahnya terlalu tenang di tengah ancaman yang mengintai.
Jika Yueji melepaskan seluruh energinya di dalam ruangan sempit ini, atap mansion akan runtuh. Chandra, yang tak punya benteng energi spiritual sama sekali, bisa tertimbun reruntuhan sebelum sempat membuka mata.
Yueji menghentakkan tumitnya ke lantai, melempar tubuhnya menembus dinding samping. Kayu tebal dan fondasi batu hancur berantakan, terlempar menjadi puing dan debu. Udara luar yang dingin menyengat kulit wajahnya yang membara.
Nahas, begitu kedua telapak kakinya berpijak di rumput halaman, tanah di bawahnya meletupkan cahaya keemasan.
Garis-garis mantra merebak cepat dari delapan penjuru. Pola rumit itu bertautan, membentuk jaring cahaya yang membelenggu bahu dan punggung Yueji.
"Argh!"
Yueji berlutut sebelah kaki. Sengatan listrik ghaib merambat meremukkan tulang belakangnya, menindih pundaknya seolah ada beban ribuan ton yang dijatuhkan paksa.
"Sialan kalian!" geram Yueji, menatap lurus ke depan.
Dari balik kepulan debu, beberapa pasang langkah kaki mendekat. Romo melangkah keluar memegang tongkat kayu hitam bercabang tiga. Di sisi kiri dan kanannya, Dandi dan Dila berdiri tegak dengan sunggingan senyum memuaskan.
"Maafkan kekasaran kami, Nyonya Chandra," ucap Romo santai, meski nada mengejek di balik perkataannya tak tertutupi. "Kami tidak berniat buruk. Tapi Anda terlalu jauh mencampuri urusan manusia. Silakan mengalah demi kebaikan bersama."
"Kalian menabur racun di makanan suamiku, lalu berani bicara soal kebaikan?" Yueji merapatkan giginya, merintih menahan sakit. "Kalian memang picik!"
Jaring mantra di tanah makin mengetat, menusukkan jarum-jarum energi ghaib ke pori-pori kulitnya.
"Tunggu sampai aku lepas dari segel busuk ini. Akan kuhancurkan tempat kalian tanpa sisa."
Tawa nyaring pecah dari mulut Romo. Ia menghentakkan tongkat kayunya ke tanah, membuat garis emas di bawah kaki Yueji bersinar makin terang.
"Silakan coba, Nyonya! Formasi ini diciptakan khusus untuk meredam siluman kelas atas. Semakin keras Anda memberontak, semakin cepat daya hidup Anda terserap masuk ke inti segel!"
"Jangan harap!"
Aura merah darah meledak dari tubuh Yueji. Tekanan ghaib menyapu halaman mansion seketika. Angin memutar hebat, melempar dedaunan dan kerikil ke segala arah. Retakan halus mulai menjalar pada garis mantra di tanah.
Iris mata Yueji berubah menjadi merah menyala. Dua taring tajam menyembul dari balik bibirnya, meneteskan sedikit darah. Wajah cantiknya ditarik memanjang, membentuk siluet moncong rubah pemburu.
Dari balik pinggangnya, sembilan ekor raksasa berbulu putih salju mendadak mekar utuh. Tiap kibasannya membekukan rumput hijau di bawahnya, melapisi batu dan dinding mansion dengan es tipis.
Romo terdorong dua langkah ke belakang, menahan topinya agar tidak terbang. Matanya membelalak.
"Wujud Rubah Ekor Sembilan murni..." bisik Romo, tenggorokannya mendadak kering.
Namun bagi puluhan murid Sekte Alam Surgawi yang berjaga di halaman, aura itu adalah mimpi buruk. Tekanan jiwa siluman tingkat tinggi menghantam dada mereka tanpa ampun. Puluhan murid tumbang, sebagian menjerit memegang kepala, sementara sisanya langsung tergeletak pingsan berbusa.
Langit cerah di atas mansion mendadak tertutup awan hitam tebal. Siang bolong berganti gelap gulita bagai tengah malam, diiringi kilatan petir merah yang bersahut-sahutan di udara.
"Romo! Segelnya tidak kuat!" teriak Dila panik sambil menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak terseret angin. "Garis matriksnya mulai pecah!"
Wajah Romo pucat pasi. Ketenangan yang dipamerkannya menguap.
"Dandi! Kumpulkan semua murid senior tingkat lima ke atas!" perintah Romo keras. "Bantu aku menyalurkan energi internal ke segel ini! Cepat!"
"Seluruh murid senior, kumpul!" Dandi berteriak histeris. "Alirkan kekuatan kalian ke tanah sekarang!"
Belasan murid senior melompat maju membentuk lingkaran, menancapkan telapak tangan ke tanah hingga pembuluh darah leher mereka menegang. Tiang-tiang cahaya emas kembali membumbung, menahan kibasan sembilan ekor putih milik Yueji.
"Terlambat, Manusia Busuk!" gema suara Yueji terdengar ganda, bercampur antara geraman binatang dan bisikan ghaib.
Dinding luar mansion retak dan berjatuhan. Petir merah dari langit menyambar tiang-tiang cahaya emas. Udara terasa pekat dan menyengat, membuat paru-paru siapa pun yang menghirupnya terasa terbakar.
Di tengah situasi gila yang nyaris meratakan area mansion tersebut...
Pintu utama yang separuhnya hancur terbuka perlahan.
Seorang pemuda melangkah keluar santai dengan jubah tidur longgar yang kusut. Kedua tangannya terangkat tinggi merenggangkan otot punggung, sebelum menepuk mulutnya yang terbuka lebar.
"Aaaaaahmm... Hoam..."
Chandra menguap panjang hingga sudut matanya berair. Tangannya yang lain mengusap perut yang tampak sedikit membuncit.
"Aduh... kekenyangan banget aku..." gumamnya pelan.
Suara biasa itu secara ajaib menembus gemuruh petir dan deru angin di halaman.
Chandra mengucek matanya, melangkah dua tindak ke depan, lalu tertegun menatap langit yang hitam pekat.
"Eh? Kok mendadak gelap begini? Mau hujan deras ya?" Chandra menggaruk lehernya polos, menoleh memandang halaman yang sudah hancur berantakan. "Lho... kok ramai sekali? Pada ngapain di halaman malam-malam?"
Pandangannya berputar mencari sesuatu. "Istriku mana ya? Yueji?"
Seketika itu juga, pertempuran membeku total.
Jeritan murid terhenti, kilatan mantra di udara tertahan kaku, dan aura merah Yueji mendadak meredup. Sembilan ekor raksasa di belakangnya menggantung pasrah. Iris matanya perlahan surut, menatap suaminya yang berdiri di ambang pintu dengan wajah bantal.
Di sisi lain, Romo yang sedang membaca mantra puncak mendadak melotot lebar. Rahangnya jatuh, napasnya tersangkut di dada. Dandi dan Dila di sampingnya berdiri kaku bagai patung, menatap Chandra dengan raut tak percaya bercampur horor murni.
Cairan yang disajikan di meja makan tadi adalah Racun Bius Dewa—ramuan pembuat lelap tingkat tertinggi milik sekte. Dosis seujung kuku saja sanggup menumbangkan naga purba selama tiga hari tiga malam. Tak ada satu pun makhluk di alam fana yang sanggup menawarkannya secara alami, apalagi Chandra yang cuma manusia biasa tanpa basis kultivasi.
Namun di depan mata mereka, pemuda itu bukan hanya bangun dalam hitungan menit, tapi juga berdiri tegak, mengelus perutnya yang kekenyangan, dan menguap santai tanpa ada efek samping sedikit pun.
"Ba-Bagaimana mungkin...?" bisik Romo dengan suara tercekat parah, menatap Chandra seolah sedang melihat monster paling tak masuk akal di muka bumi.