Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Sosok yang Tak Diundang

Sejak Aira demam tinggi, ada perubahan cukup drastis dalam dinamika hubungan Devan dan Aira.

Devan berubah menjadi sosok yang kelewat protektif. Pria itu secara sepihak menetapkan aturan baru: Aira tidak boleh lagi mengendarai mobil sendiri atau naik taksi online saat berangkat maupun pulang kerja.

Tiap pagi, Devan selalu siap berdiri di samping mobilnya, menunggu Aira turun. Begitu pula saat sore hari, mobil Devan hampir pasti sudah terparkir di area parkir kantor Aira bahkan sebelum jam pulang kantor.

Tentu saja, perubahan sikap Devan ini tidak langsung disambut oleh Aira. Hari-hari mereka tetap dihiasi adu mulut. Aira dengan kalimat-kalimat sarkasnya, dan Devan yang membalasnya dengan tingkah sok kegantengan yang menyebalkan.

Namun, ada satu hal aneh yang perlahan menguap tanpa disadari. Pembahasan soal 'cerai' yang sempat begitu panas seolah meluntur begitu saja. Tidak ada lagi yang mengangkat topik itu, seolah-olah kedua pihak diam-diam sepakat untuk menguburnya di dasar ingatan mereka.

Weekend pun tiba.

Sabtu pagi yang cerah menyapa Jakarta. Devan, dengan gayanya yang selalu memaksakan kehendak tapi sulit ditolak, menyeret Aira keluar dari penthouse. Untuk pergi ke sebuah taman hiburan di pinggiran kota.

Sepanjang perjalanan di dalam mobil, suasana sama sekali tidak pernah sepi.

"Devan, seriusan lu ngajak gue ke sini?" cetus Aira, memutar matanya malas sambil menunjuk papan nama taman hiburan yang terpampang besar di depan mereka. "Gue ini udah dewasa ya! Ngapain coba main ke tempat anak-anak begini? Mending gue tidur di kamar!"

Devan yang sedang memutar kemudi mobil menyunggingkan senyuman tengil. "Duh, Nyonya Aira... mukanya gak usah dilipat gitu dong. Lu tuh butuh penyegaran biar otak lu gak kaku gara-gara kebanyakan mikir kerjaan. Lagian, ngaku aja deh, lu seneng kan jalan sama cowok ganteng kayak gue?"

Aira melotot tajam, menyikut lengan Devan dengan kasar. "Ih! Pede banget lu ya! Muka pas-pasan gitu bangga banget!"

"Pas-pasan dari mananya coba?" ledek Devan terkekeh geli, menepuk-nepuk pelan puncak kepala Aira sebelum cewek itu sempat menghindar. "Semua cewek di jalanan aja pada ngelirik gue pas gue keluar mobil, lu doang yang pura-pura buta."

"Terserah lu deh! Capek gue ngomong sama orang yang tingkat ke-PD-annya udah nembus atmosfer!" sembur Aira sambil melemparkan pandangannya ke luar jendela, meski pipinya menyembulkan rona tipis gara-gara usapan tangan Devan tadi.

Begitu melangkah masuk ke area taman hiburan, pertahanan gengsi Aira perlahan-lahan runtuh.

Suara musik riang, aroma popcorn, dan pemandangan wahana-wahana ekstrem yang menjulang tinggi membangkitkan jiwa kekanak-kanakan di dalam diri Aira. Dari yang tadinya memasang muka cemberut, Aira malah jadi sosok yang paling antusias.

"Devan! Ayo naik itu!" seru Aira, menunjuk ke arah roller coaster raksasa yang relnya berputar 360 derajat di udara.

Devan sempat mengernyitkan alisnya, berpura-pura ngeri. "Yakin lu? Entar lu jerit-jerit nangis minta turun lagi."

"Dih! Paling lu yang pingsan!" tantang Aira sambil menarik paksa lengan kemeja santai Devan.

Sepanjang siang, mereka benar-benar menghabiskan waktu dengan menjajal hampir seluruh wahana ekstrem. Dari roller coaster yang membuat jantung serasa mau copot, kora-kora yang diayun tinggi sampai Aira berteriak kencang di samping Devan sambil mencengkeram erat kemeja pria itu, sampai rumah hantu yang berakhir dengan Devan yang tertawa terbahak-bahak gara-gara Aira sengaja menjadikan tubuh tingginya sebagai perisai dari kejaran hantu jadian-jadian.

Saling ledek, tertawa lepas, dan adu mulut kecil menyelimuti tiap langkah mereka.

Sore harinya, sekitar jam lima lewat sedikit, langit taman hiburan mulai berubah warna menjadi jingga keemasan.

Kaki mereka akhirnya menyerah setelah lelah berjalan seharian. Devan menuntun Aira menuju sebuah taman terbuka di tengah area wahana, mencari tempat untuk beristirahat.

"Duduk di sini dulu, Ra," ujar Devan, menepuk bangku kayu panjang di bawah pohon rindang. "Gue cari minuman dingin sama ganjelan perut dulu di sebelah sana. Lu tunggu di sini, jangan kemana-mana."

Aira menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku kayu, menghembuskan napas panjang. "Iya, iya, bawain strawberry squash ya! Awas kalau salah beliin!"

"Siap, Nyonya," pangkas Devan terkekeh, lalu melangkah pergi menuju deretan stan makanan yang berjarak sekitar lima puluh meter dari tempat Aira duduk.

Aira meluruskan kedua kakinya yang terasa agak pegal. Ia merogoh kantong tasnya, mengeluarkan HP, lalu mulai scroll media sosial untuk mengusir rasa bosan. Namun, baru beberapa menit jarinya menari di atas layar, perhatian Aira teralih.

Secara refleks, pandangan mata Aira terlempar ke arah stan makanan di mana Devan sedang berdiri antre.

Di tengah kerumunan pengunjung yang lalu-lalang, sosok Devan bener-bener terlihat sangat menonjol. Pria itu cuma mengenakan kaus polos, celana jeans, dan rambutnya agak berantakan diterpa angin sore. Tapi visual wajahnya yang kelewat tegas, postur tubuhnya yang tinggi tegap, dan aura karismatiknya yang alami bagaikan magnet kuat.

Aira memperhatikan bagaimana beberapa kelompok cewek muda yang sedang berdiri di dekat antrean berulang kali melirik ke arah Devan. Mereka saling berbisik, menyikut lengan teman-teman mereka sambil tersenyum, dengan terang-terangan mengagumi ketampanan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

Dada Aira terasa agak aneh. Ada letupan tak nyaman yang berdenyut pelan di ulu hatinya.

Cemburu?

Aira dengan cepat menggelengkan kepalanya, menepis jauh-jauh pikiran konyol itu.

Gak usah gila deh, Aira! Ngapain juga gue cemburu gara-gara cowok tengil kayak dia dilirik orang?! Mending mereka ambil aja sana! batin Aira membela gengsinya.

Namun, baru saja Aira mau membuang pandangannya kembali ke layar HP... matanya kembali menyipit tajam.

Langkah kaki Devan yang baru saja selesai membayar pesanan makanan terhenti di tengah jalan. Seorang wanita berpenampilan sangat anggun, mengenakan pakaian bermerek dengan rambut panjang terurai halus, berdiri di depan Devan sambil tersenyum lebar.

Wanita itu... Siapa?

Cewek baru lagi, banyak kali temen ceweknya.

Aira terpaku di tempatnya. Senyuman tipis yang sempat terukir di wajah Aira, berganti dengan raut dingin.

Dari jarak lima puluh meter, Aira bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana cewek itu melambaikan tangannya ramah pada Devan.

Wanita itu tampak mengobrol dengan sangat akrab, bahkan sesekali terkekeh pelan sambil menyentuh lengan Devan secara refleks. Dan Devan... pria itu berdiri di sana, menanggapi obrolan cewek itu dengan raut santai, tidak menunjukkan tanda-tanda risih atau bermaksud buru-buru pergi.

Pantas aja tadi pagi sok ganteng banget, batin Aira bitter. Ternyata emang seneng banget dilirik banyak cewek, apalagi kalau yang nyapa cewek sekelas dia.

Mata Aira terasa agak panas. Rasa panas yang mengusik dadanya kali ini jauh lebih kuat dibanding saat melihat cewek-cewek asing melirik Devan tadi. Ada rasa kecewa yang menusuk pelan, merusak seluruh suasana hatinya.

Aira menghembuskan napas pendek. Ia tidak sudi menonton pemandangan menyebalkan itu lebih lama lagi.

Aira sengaja memalingkan wajahnya, membuang pandangannya dari arah stan makanan. Ia memilih memfokuskan matanya pada sekelompok anak-anak kecil yang sedang berlarian riang mengejar gelembung sabun di dekat air mancur taman.

Aira mengetukkan jarinya di atas paha dengan gelisah, mencoba menulikan indranya dan mematikan perasaannya sebelum Devan kembali membawa pesanan makanan itu ke meja mereka.

1
Fazira
lucu mereka 🤭
Fazira
🤣🤣
Fazira
semangat upnya kak😍😍
Fazira
😍
Fazira
Nadia istrinya marah loo
Skyline Scribe
cemburu niee🤭
Fazira
sepertinya love language nya mereka ini bertengkar yaa
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍
Reni Anjarwani
kapan damainya bertengkar terus
Ael
semangat kak👍👍
Fazira
Devan yang jujur kamu
Skyline Scribe: cowok gengsi tinggi dia kak😄
total 1 replies
Fazira
jangan tengkar/Sob//Sob/
Fazira
lanjut 💪
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!