Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis jahat
Katakanlah Aurora Grey adalah gadis dungu alias bodoh.
Bisa-bisanya sekarang dia terus terisak dengan menyedihkan. Perkataan Kay Morgan tadi nyatanya berhasil membuat dadanya terasa sesak. Sangat menyakitkan mendapati cowok itu bersikap sangat brengsek terhadapnya. Sekali lagi, Aurora Grey mengusap kedua matanya yang basah.
Tidak! Ini tidak benar, bagaimanapun menangisi cowok itu adalah hal percuma. Tidak seharusnya begini, tidak seharusnya dirinya merasa sesakit ini. "Brengsek!" Gadis itu kembali mengumpat tanpa sadar.
"Butuh tisu, neng?" sahut Supir taksi di depan, pria paruh baya itu merasa tidak tega dengan penumpangnya yang terus menangis.
Aurora Grey menggeleng kecil, sesaat menunduk menyembunyikan wajahnya—yang bisa diperkirakan sangat buruk rupa. "Ng-nggak usah Pak, terimakasih."
Diam-diam Aurora Grey menarik napasnya dalam-dalam untuk mengatasi hidungnya yang terasa tersumbat.
Sumpah! Ini dia drama banget, sampe nangis-nangis. Emang ya, cowok berinisial S itu bajingan!
Omong-omong, alasan kenapa Aurora Grey memilih naik taksi daripada menunggu tukang ojek langganannya, karena gadis itu ingin cepat-cepat sampai rumah. Nungguin tukang ojeknya yang sering ngaret jemput, udah keburu nangis di depan gerbang sekolah dia.
Nggak elit dong kalau dilihatin anak-anak yang lain.
Tak lama laju taksi terasa melambat, ternyata mereka sudah hampir sampai di depan gerbang rumahnya. "Pak! Berhenti sini aja ya, jangan masuk!" tutur Aurora Grey seraya mengeluarkan uang untuk membayar argo taksi.
"Terimakasih ya, Pak!"
Supir taksi itu mengangguk seraya tersenyum ke arah Aurora Grey. "Terimakasih juga, neng!" balas supir taksi itu, ketika Aurora Grey melangkahkan kakinya keluar.
Sesaat gadis itu berdiam diri di depan gerbang rumah. Nggak bisa dong dia masuk dengan keadaan mata super bengkak gitu. Bundanya bisa langsung ngadain sesi tanya jawab kayak fitur QnA Instagram.
Dengan sigap akhirnya Aurora Grey mengeluarkan botol minumnya, gadis itu sedikit menunduk untuk mencuci wajahnya. Duh! Untung aja sekitar lagi sepi maklum, tetangga dia keluar rumah kalau ada tukang bakso lewat.
"Masih bengkak lagi!" decak Aurora Grey seraya menatap pantulan wajahnya di layar ponsel.
"Kay Morgan brengsek!!!" umpat gadis itu seraya kembali membasuh matanya dengan air putih.
Ini nggak worth it. Memilih menyudahi, Aurora Grey memasukkan tupperware-nya ke dalam tas. Gadis menarik napas dalam-dalam sebelum menarik senyum lebar. Berusaha menutupi pancaran kesedihan dari kedua matanya.
Memasuki rumah, terlihat Laura sedang sibuk dengan pot bunga di meja makan. Bundanya itu pastilah belum sadar dengan kedatangan Aurora Grey. Berdehem sesaat, Aurora Grey memilih membuka suara. "Rora pulang!" serunya seraya berjalan cepat ke arah tangga.
Menoleh, Bundanya itu tersenyum lebar mendapati putrinya baru saja pulang dari sekolah. "Kamu mau makan apa? Biar Bunda pesen Go Food, lagi nggak males masak."
Oh! Asal kalian tau, Bundanya Rora itu lagi sibuk maraton drakornya oppa Hyun Bin, jadi nggak sempat masak tadi.
"Nanti aja, Rora bisa pesen sendiri." Gadis itu terus berusaha menutupi sisi wajahnya dengan rambut. Beruntung ibunya tidak curiga.
"Rora ke kamar dulu," lanjut Aurora Grey seraya berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, namun tiba-tiba suara bundanya menginterupsi.
"Tadi ada paket datang, kamu udah Bunda bilangin jangan belanja online terus, boros!" gertak bundanya.
"Iya, Bunda Roraaaa!" teriak Rora seadanya, tanpa menghentikan langkah. Begitu masuk ke dalam kamar, gadis itu langsung menutup pintu kamar.
Melangkahkan kaki ke meja belajar, Aurora Grey langsung mengambil cermin kecil dari lacinya. Ditinjaunya kedua matanya yang pastilah bengkak.
"Gue jelek banget kalau habis nangis," lirih Aurora Grey hampir ingin menangis lagi, menyadari jika dirinya nggak cantik-cantik amat kayak Sheila.
Nggak! Lo nggak boleh insecure, Rora!
Menghela napas berkali-kali, gadis itu berpikir untuk mencuci wajah saja. Namun sesaat atensinya teralihkan, sebuah kotak berukuran kecil terlihat asing dan menonjol di barisan bukunya.
Sesaat gadis itu mengernyit.
Perasaan dia kemarin pesen sweater—kenapa packing-nya kecil gini?
Tanpa berpikir macam-macam, Aurora Grey langsung membukanya paket itu. Gadis itu terdiam mendapati sebuah Tape Record di dalamnya. Paket
ini bukan miliknya, tapi tertera dengan jelas jika paket ini ditujukan untuknya. Bahkan namanya tertulis dengan spidol di salah satu pita kasetnya.
Perlahan tangan Aurora Grey terulur untuk mengambil salah satu kaset berwarna hitam, bukan hanya berisi satu kaset saja—kotak itu berisi lebih dari sepuluh benda persegi panjang yang tersusun rapi sesuai nomor urut. Di sana juga terdapat sebuah alat pemutar kaset berukuran kecil.
Seketika rasa penasaran menghampirinya. Ini nggak salah kirim? Masa dia dikirimi alat pemutar kaset begini?
Aurora Grey membolak-balikkan salah satu kaset secara acak, berharap menemukan nama sang pengirim. Namun tidak ada apa-apa. Rasa ingin tahunya semakin memuncak. Gadis itu menarik laci meja belajarnya untuk mengambil alat pendengar suara miliknya guna memutar salah satu kaset tersebut.
Dia jadi penasaran sekali sama si pengirim kaset berwarna hitam dengan garis-garis keemasan itu.
Klik!
Dia menekan tombol putar pada alat pemutar kaset itu.
Detik selanjutnya, sebuah suara menyapa dengan lembut masuk ke telinganya. Jantungnya berpacu cepat, rasa berdebar di dadanya terasa semakin nyata setelahnya. Suara itu. Sapaan lembut itu rasanya sudah sangat lama sekali Aurora Grey tidak mendengarnya. Tanpa sadar sesuatu dalam dirinya bergejolak, memancingnya untuk menahan napas sedalam-dalamnya.
"Hei! Itu aku... Boston. 21 April 2026, kamu apa kabar?"
"Jakarta masih sering hujan ya?" Cowok itu terkekeh pelan. Terdengar menenangkan. Kebahagiaan serta rasa lega yang besar seketika memenuhi dada Aurora Grey.
"Di sini masih turun salju, harusnya kamu lihat salju pertama bareng aku."
Ada jeda sesaat.
"Maaf Rora, kalau kedengaran terlalu manis. Aku cuma meniru percakapan di film, biar bisa romantis kayak yang kamu mau." Kedua mata gadis itu mulai memanas tanpa sadar.
Bibir Aurora Grey bergetar, menahan tangis. Tidak sanggup mendengar lebih banyak—Aurora Grey bahkan sempat menghentikan rekaman itu, untuk mengatur napas yang mulai terasa berat. Aneh mendapati dirinya merasa bahagia dan sesak secara bersamaan.
Seharusnya dirinya tertawa mendengar pengakuan itu dari pacarnya. Asal kalian tahu, Dia—Shayen Morgan adalah orang paling kaku yang pernah Aurora Grey kenal, selalu sulit dan sukar mengungkapkan sesuatu kepada orang lain tentang perasaannya. Seharusnya dirinya tidak merasa sesedih ini sekarang, kenapa harus menangis?
Apa karena ngerasa bersalah?
Mungkin karena Aurora Grey sadar sekarang, sadar jika dirinya salah sejak awal. Salah karena melangkah terlalu jauh bersama Kay Morgan. Salah karena merasakan sesuatu yang tidak seharusnya. Dan sekarang dirinya sudah diambang batas, nyaris jatuh dan tergelincir.
"Lo jahat banget, Rora!" Gadis itu menunduk, terisak dengan sangat menyedihkan.
"Bego! Bego!" umpatnya seraya memukul-mukul kepalanya sendiri.
Air mata Aurora Grey mengalir semakin deras tanpa bisa dicegah, membasahi pipi pucatnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan isak tangis yang nyatanya semakin menjadi-jadi.
Penyesalan dan rasa bersalah itu terasa semakin besar, membuatnya sulit bernafas.
Memberanikan diri, Aurora Grey kembali menekan tombol pemutar kaset di tangannya. Perlahan mendengarkan suara yang menarik semua perhatian dan akal sehatnya.
"Maaf ya, jarang ngabarin. Lagi banyak tugas,"
tanpa sadar Aurora Grey menggeleng kuat. Rasanya ingin berteriak jika itu bukan masalah baginya, berharap Shayen Morgan akan mendengarnya dari sana.
Percayalah—menjadi sosok jahat yang mengecewakan orang yang paling mempercayaimu, rasanya sangat menyakitkan. Sekarang Aurora Grey sadar satu hal: dirinya jelas sudah berubah menjadi sosok jahat itu bagi Shayen Morgan.
Terdengar helaan napas pendek dari sana, tanpa sadar membuat Aurora Grey ikut menghela napasnya. "Aku baik-baik aja di sini, jangan khawatir."
Ada jeda cukup panjang, sesaat Aurora Grey berpikir jika rekaman itu sudah berakhir. Namun dirinya salah.
"Ngomong-ngomong... aku kangen kamu, Rora. Harusnya kamu ada di sini. Dah!"
Ungkapan itu berhasil membuat pertahanan Aurora Grey runtuh; gadis itu kembali menangis dan terisak detik selanjutnya.
Menggumamkan beribu-ribu kata maaf dengan bibir pucat dan bergetar itu, berharap Shayen Morgan bisa mendengarnya. Tapi jelas itu hal yang mustahil, bukan?
Kalau Shayen Morgan tahu apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Kay Morgan, apakah... semuanya masih bisa baik-baik saja?
Sedangkan di sisi lain tepatnya di rumah sakit tempat kael di rawat..
Suasana hening menyelimuti salah satu bilik rumah sakit itu. Ruangan berdominasi putih gading, dengan aroma khas rumah sakit serta penyejuk ruangan yang tidak terlalu terasa alias sejuk-sejuk biasa.
Ya gimana nggak biasa saja, di sini saja ada yang sedang berbuat hal tak senonoh. Tahu siapa pelakunya?
Kael William, cowok itu sedang bermanja-manja dengan kekasihnya. "Aduh! Ngapain disuapin, kayak nggak punya tangan saja." Itu suara Devandra—terdengar menggerutu, padahal sebenarnya dia iri.
Sialan memang si Kael William, sudah tahu teman-temannya masih jomblo, bisa-bisanya dia minta Tessa—pacarnya—datang hanya supaya bisa dirawat. Mana si Tessa nurut-nurut saja, cih! Kayak pengasuh anak saja.
"Iri bilang saja! Kalian pada ngapain juga datang ke sini, nggak ada yang menyuruh juga."
Ya Tuhan, sumpah! Rasanya Devandra pengen sekali mencubit si Kael William.
"Bajingan juga," bisik Devandra pelan. Kalau saja tidak ingat Kael William sedang sakit, pasti sudah dia tantang bertarung di tempat juga.
Menyesal saja dia datang jauh-jauh. Bukan apa-apa, hanya saja mereka kira Kael William bakal pulang hari ini eh ternyata belum jadi. Soalnya Tante Farah,mamanya Kael William minta anak tersayangnya itu untuk tetap dulu di rumah sakit. Takut anaknya kenapa-napa kalau dirawat di rumah.
"Lo nggak sadar apa cuk, sebenarnya nyokap lo itu lagi ngusir lo dari rumah!" ejek Devandra yang langsung membuat Digo tertawa di tempatnya.
"Bener-bener!" Digo yang lupa sedang berada di rumah sakit, saat ini bertepuk tangan dengan keras.
"Pasti Tante Farah bosan liat muka lo," tambah Digo memanas-manasi.
Tiba-tiba saja Digo mendapatkan ilham. Cowok itu meletakkan telunjuknya di dagu dengan ekspresi wajah berpikir keras. "Apa ini saatnya, buat gue daftar jadi anak angkat Tante Farah?" Digo berbisik dengan dramatis.
Memang sih otak Digo itu perlu diperiksa. Bukan apa-apa, masalahnya sejak Kael William mengundang teman-temannya termasuk Digo ke rumah, dia sudah ngebet pengen jadi anak angkatnya Tante Farah. Ya gimana nggak pengen, mamanya Kael William itu masih cantik, awet muda, terus bentuk tubuhnya...
Ugh! Nggak usah ditanya.
Heran sama Kael William yang hobinya keluyuran; kalau Digo jadi gantinya, pasti cowok itu betah di rumah kalau punya mama kayak Tante Farah.
"Lo ngomong gitu lagi, gue pukul ya, Dan!" ancam Kael William penuh emosi, bahkan Tessa yang duduk di sebelah tempat tidurnya ikut tertawa cantik.
Kesel banget sama Digo yang masih pengen menggantikan posisinya jadi anak mamanya. Nggak bisa dibiarkan begitu saja!
"Sini pukul kalau bisa! Lo kencing aja harus pakai botol!" balas Digo tidak tahu diri.
Kael William melotot, begitu pun dengan Tessa yang duduk tak jauh dari cowok itu. "HEH!!! MULUT LO SEMBARANGAN!" teriak Kael William dengan wajah memerah menahan malu.
Ih sumpah! Si Digo minta dipukul kepalanya. Harga dirinya jatuh di depan Tessa. Mana orang itu sekarang ketawa-ketawa bareng Devandra.
Ya Allah... kok Kael William bisa punya teman aneh kayak gitu?
Sementara di tempatnya, Mahendra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ketiga temannya. Yang satu kayak orang lupa lagi sakit, yang dua kayak orang sehat tapi otaknya jelas bermasalah. Iya... sakit jiwa.
Apa lagi Tristan, Ya Tuhan... Mahendra nggak paham sama kelakuan orang itu, yang di mana-mana selalu main Free Fire. Sepertinya si Tristan ini dapat sinyal Wi-Fi gratis yang nggak dikunci dari Rumah Sakit.
Memilih beranjak, Mahendra memutuskan untuk keluar dari sana merokok. Daripada ikutan sakit juga di dalam. "Mau ke mana?" tanya Digo yang peka kalau Mahendra mau pergi.
"Sebentar," jawab Mahendra yang membuat Digo tersenyum sumringah.
"Ikut!" katanya lalu langsung mengikuti langkah Mahendra. Meninggalkan Devandra dan Kael William yang masih saling berdebat.
Keduanya berjalan melewati lorong rumah sakit yang cukup ramai sore itu. Saat hampir sampai di depan lift untuk turun, perhatian Digo tiba-tiba beralih ke tempat lain.
Cowok itu bahkan sempat berhenti berjalan untuk memastikan—apakah gadis yang sedang mendorong kursi roda salah satu pasien itu orang yang ia kenal.
Benar! Itu orang yang sama persis dengan yang ada di pikiran Digo.
Digo menepuk-nepuk punggung Mahendra yang sudah berjalan lebih dulu di depan. "Eh! Eh! Lo duluan aja, gue mau ke toilet sebentar." Mahendra mengangguk saja.
Seketika cowok itu membiarkan Mahendra pergi, lalu berlari ke arah lain mengejar langkah seseorang. Ya, seseorang. Seseorang dengan rambut panjang indah, dan wajah manis yang selalu berhasil membuat Digo selalu mengucap syukur setiap kali melihatnya.
Sheila Gabriella.
Entah apa yang sedang dilakukannya di rumah sakit saat ini.
Apa gadis itu sendiri yang sedang sakit?
Mempercepat langkahnya, Digo berusaha mengejar langkah Sheila yang terasa semakin dekat. "Sheila?" Gadis itu langsung menoleh ke belakang.
Digo menyeringai kecil—tebakannya benar. Memang benar, kalau soal cewek Digo nggak pernah salah, beda cerita kalau diajak bicara soal tajwid bacaan.
Digo paling cuma hafal sama hukum bacaan Idgham Mimi saja.
"Ngapain lo di sini?" Terlihat jelas rasa terkejut melintas di mata Sheila saat melihat sosok Digo ada di sana, namun dengan cepat ia menutupi ekspresinya itu.
"Jenguk Kael William, dia sedang dirawat di sini," jawab Digo sambil melirik ke arah sosok yang duduk di kursi roda itu.
Seorang wanita paruh baya dengan wajah pucat duduk di sana. Sepertinya wanita itu tidak terlalu menyadari kehadiran orang lain selain Sheila, terlihat dari tatapan matanya yang kosong seolah-olah kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
"Siapa itu, Sheila?" tanya Digo hati-hati. Membuat gadis itu langsung menggeleng lalu berdiri, menutupi sosok yang duduk di kursi roda itu.
"Nggak usah kepo sama urusan orang lain!" ujarnya lalu kembali berjalan masuk ke salah satu ruangan sambil mendorong kursi roda di depannya.
Saat Digo hendak mendekat, Sheila kembali menoleh. "Nggak usah ngikutin!" ketusnya, membuat Digo terpaksa berhenti melangkah.
Memang sudah paling benar kalau dia menyerah saja soal mendapatkan hati Sheila. Dari dulu dia kejar terus tapi nggak pernah dapat-dapat juga perasaannya. Yang ada malah gadis itu makin tidak suka sama Digo.
Menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, Digo menghela napas pelan dalam hati. "Udahlah! Menyerah aja, paling juga cuma bakal jadi adik kelas yang nggak dianggap."
Di sisi lain, Sheila langsung menutup pintu di belakangnya. Sesaat ia menoleh ke arah Suster Beyza yang menatapnya dengan pandangan bingung.
"Udah selesai jalan-jalannya?" tanya wanita itu lembut, berhasil membuat Sheila sedikit teralihkan perhatiannya dan tersenyum tipis.
"Iya sus, udah mau hujan." Gadis itu kemudian mendorong kursi roda di depannya untuk mendekat ke arah tempat tidur.
Membiarkan Suster Beyza mulai membantu dan menidurkan tubuh ringkih wanita itu yang masih tampak bingung dan tak sadar sepenuhnya. Perlahan langkah kecil Sheila ikut mendekat, menatap penuh perhatian sosok wanita cantik itu.
Beliau adalah Sarah Gabriella. Ibu sekaligus wanita tercantik bagi Sheila. Beliau didiagnosis mengalami penyumbatan pembuluh darah di otak. Ya... serangan iskemik sudah berlangsung selama dua tahun terakhir.
"Janji ya, nanti sore ada terapi sama Dokter Danial, cantik. Jangan sampai lupa," kata Suster Beyza setelah mengganti cairan infus untuk ibunya.
Sheila mengangguk pelan. "Siap, Sus. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, cantik. Ngomong-ngomong, kakaknya nggak datang lagi hari ini?" Pertanyaan itu membuat Sheila terdiam cukup lama, namun tak lama kemudian ia kembali tersenyum manis seperti biasa.
"Dia pasti datang kok, Sus. Pasti datang," jawab Sheila, hampir berbisik di bagian akhir kalimatnya.
"Kalau begitu, Suster keluar dulu ya." Sheila mengangguk sebagai jawaban. Setelah Suster Beyza pergi, jari-jemari lentik Sheila bergerak cepat mengambil ponsel dari dalam saku seragamnya.
Gadis itu harus menghubungi seseorang—Revan, kakak sialannya.
Menahan napas ketika panggilannya tak kunjung diterima, gadis itu mulai menghela napas berat. Selalu saja begini! Pikirannya mulai muak dengan tingkah saudaranya itu.
Mencengkeram kuat ponsel yang menempel di sisi wajahnya, kedua mata lembut itu tak melepaskan pandang dari sosok sang ibu. "Lihatkan... dia nggak bakal datang lagi."
"Lebih tepatnya, nggak pernah datang, Bu," bisik Sheila pelan. Suaranya bergetar saat netranya bertemu manik mata sang ibu yang selalu menatap kosong. Tak ada apa pun di sana, kecuali sorot kesakitan.
Menutup panggilan, Sheila memilih membuang wajah ke arah lain. Rasanya sesak tetap ada di tempat itu. Tapi tahu apa yang membuatnya makin marah?
Tak ada satu pun orang yang ada di sini bersamanya. Menemaninya dan meyakinkannya kalau tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sesulit itukah memiliki seseorang yang pantas disebut rumah?
Biar Sheila tahu satu hal: dia tak pernah meminta lebih dari sekadar kehadiran sosok Revan di sana. Setidaknya berada di antara mereka sebagai sosok putra yang baik untuk sang ibu, sekalipun Sheila tidak pernah meminta kakaknya itu untuk bersikap layaknya saudara baginya.
Berharap pun tidak. Cih! Tentu saja.
Memangnya apa yang bisa diharapkan dari sosok yang selalu membawa masalah, dengan sikap yang tidak tahu aturan?
Revan dan Sheila Gabriella—dua saudara yang tidak pernah tahu cara untuk berinteraksi layaknya saudara sejak kecil. Dua pribadi yang bertolak belakang, jalan pikir yang tidak pernah sejalan, serta cara berbicara yang berbeda. Begitulah keadaan keduanya, apalagi sejak kedua orang tuanya bercerai dan sang ayah pergi meninggalkan rumah.
Semua berubah menjadi semakin buruk.
Revan benar-benar menunjukkan sikap binatang—bahwa sifat buruk pada manusia itu memang ada. Cowok itu melampiaskan rasa kekecewaan kepada orang tuanya dengan bertingkah liar. Melanggar semua aturan sebanyak mungkin, nyaris merusak diri sendiri.
Berbeda dengan sang adik yang justru menekankan dirinya sendiri, untuk sebisa mungkin harus menjadi sosok sempurna untuk ibunya. Sekarang dirinya tidak memiliki ayah dan ibunya sakit, itu fakta yang harus diterima—tidak ada jaminan jika uang dari perceraian kedua orang tuanya terus mengalir dan mencukupi kebutuhannya.
Berharap kepada sosok Revan adalah hal terakhir yang tidak akan pernah Sheila lakukan. Asal kalian tahu, di mata Sheila, kakaknya itu bodoh dan tidak punya masa depan. Beruntung Sheila sangat pintar dan cakap, selalu berhasil mendapatkan apa pun yang ia inginkan lewat usahanya sendiri. Terbukti dari prestasinya: setiap tahun ia selalu menempati peringkat pertama di kelas paralelnya.
Tak ada satu pun yang bisa menggeser posisinya.
Namun sayang, karena terus memaksakan diri tampil kuat, tegar, dan sempurna—serta ambisius di sekolah—Sheila sering kali lupa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tahu kenapa? Baginya... semua itu sama saja; yang terpenting hanyalah hasil akhirnya.
****************
Di bandara…
Cowok itu akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Di tangannya ada koper berwarna hitam, dengan stiker kecil bertuliskan Universitas Boston menempel di sudutnya. Ia berjalan dengan langkah mantap menuju keluar. Sosoknya tinggi, tatapannya tajam dan dingin seolah tak tersentuh apa pun. Rahang tegas, hidung mancung, bibir tipis—penampilan itu saja sudah cukup membuat siapa pun yang melihatnya menoleh dua kali.
Tampan. Kata itulah yang langsung terlintas di benak siapa pun saat melihat sosok Shayen Morgan. Ia selalu dikenal sebagai sosok yang sempurna, baik fisik maupun pikiran. Tak ada satu pun yang bisa menolak pesonanya. Banyak yang mengira ia seorang selebriti hanya dari penampilannya saja.
Namun sayang, segala kekaguman dan perhatian itu sama sekali tak membuatnya terpengaruh. Tahu kenapa? Karena Shayen seolah tak pernah sadar bahwa orang-orang banyak membicarakannya. Seperti yang sudah diketahui semua orang, ia sosok yang kaku dan tak peka terhadap lingkungan sekitar. Tapi saat ini, sudut bibirnya perlahan terangkat—ia melihat keluarganya sudah menunggu di luar.
Melangkah lebar-lebar mendekati mereka, Shayen melihat Anastasya melambaikan tangan bersama Freddy Morgan. Ibunya bahkan terlihat hampir menangis melihat sosok yang sudah lama pergi meninggalkan tanah air itu. Tak lupa sosok Saga juga berada di sana, masih dengan seragam sekolahnya, cowok itu berdiri dengan sorot mata tajam ke arahnya.
Masih sama. Selalu begitu sejak hal itu terjadi.
Shayen mengerti itu. Lagi pula sikap Saga ini wajar dan bisa dimaklumi. Bagaimanapun Kay Morgan adalah adik kecil yang sialnya sangat dirindukannya sekarang.
"Shayen sayanggg!!!" Cowok itu menarik senyum tipis ketika mamanya langsung menghambur, memeluknya. Diikuti papanya yang juga menyambut kedatangannya dengan sorot mata berbinar. Lelaki itu ikut melebarkan tangan guna memeluk putra dan istrinya.
Putra kebanggaan keluarga Morgan telah kembali.
"Gimana perjalanan kamu?"
"Udah makan?"
"Udah," jawab Shayen lembut kepada mamanya.
Seseaat membiarkan kedua orang tuanya melepas rindu dengan memeluknya erat. Jika saja Shayen tidak lupa fakta bahwa dirinya meninggalkan rumah selama hampir 1 tahun, pasti ia akan menolak pelukan itu di tempat umum begini. Tapi tak bisa dipungkiri, cowok itu rindu suasana hangat dari keluarganya ini.
"Ayo pulang, kita mampir makan dulu nanti."
Suara Freddy Morgan menginterupsi, pria itu lantas mengambil alih koper milik putranya. Sementara Anastasya melepas pelukan pada putranya.
Di tempatnya Kay Morgan masih diam. Hanya memperhatikan keluarga kecil yang terlihat sempurna dari luar dengan bibir membisu. Kilatan amarah terpanjar dengan jelas ketika Shayen Morgan menatapnya sekarang. Cowok itu mendekat, membuat Kay Morgan langsung menarik langkah dan menyusul orang tuanya yang sudah dulu berjalan ke arah parkiran—di mana mobil mereka di tempatnya.
Menandakan jika dirinya enggan berbicara dengan sang kakak.
Semua tidak baik-baik saja. Itu adalah fakta. Dan mendapati semua orang bersikap jika tidak ada masalah berarti di dalam keluarga mereka, benar-benar membuat Kay Morgan tidak habis pikir dan marah. Cowok itu tidak pandai bersandiwara seperti Shayen Morgan. Yang selalu bertingkah seolah tidak sakit dan terluka karena hal itu, khususnya di depan mamanya Anastasya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Guys maaf yahh bab 29 kemarin salah update aku gk fokus🙏🏻...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...