Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

Teguran keras dari Tn. Baskoro dan pembelaan tegas dari Ny. Sinta Alister memukul telak harga diri Julian dan Hanni di hadapan para kerabat senior yang berkumpul di ballroom Hotel InterContinental Dago Pakar. Suasana di sudut ruangan megah itu mendadak hening membeku.

Julian menelan ludah dengan susah payah, wajahnya pucat pasi melihat tatapan dingin pimpinan tertinggi Keluarga Alister. Sementara itu, Hanni  mengepalkan jarinya kencang di balik gaun burgundy-nya. Seumur hidupnya, tidak pernah ada satupun petinggi keluarga atau pengusaha mana pun yang menegurnya sekeras ini di muka umum.

Namun, Hanni bukanlah wanita yang mudah menyerah. Di balik senyuman tipis yang ia paksakan, ambisinya justru terbakar semakin liar. Bagi Hanni, Kenan Alister yang begitu dijaga ketat oleh keluarga dan istrinya kini menjadi sebuah "piala" yang paling berharga untuk dimenangkan.

"Saya memohon maaf jika kehadiran saya menimbulkan kesalahpahaman, Om Baskoro, Tante Sinta," ujar Hanni dengan intonasi suara yang mendadak lembut, sangat teratur, dan penuh kendali diri. "Saya sangat menghormati posisi Kirana sebagai bagian dari keluarga Alister."

Hanni lalu berbalik menghadap Kenan dan Kirana, menatap Kirana dengan binar mata yang memancarkan pendar persaingan terselubung.

"Selamat malam sekali lagi untuk kalian berdua," sambung Hanni anggun. "Sampai bertemu di  kampus dan laboratorium ITB, Kenan."

Dengan langkah yang tetap tegak dan bermartabat, Hanni berbalik lalu berjalan menyusuri karpet merah ballroom menuju area keluar. Julian yang ditinggalkan hanya bisa membungkuk kaku ke arah Tn. Baskoro sebelum mengekor terburu-buru di belakang Hanni.

Kirana menghembuskan napas pelan, mengendurkan genggaman tangannya di lengan tegap Kenan. Ny. Sinta langsung merangkul pundak menantunya dengan penuh rasa kasih sayang.

"Kamu gak apa-apa kan, Kirana sayang?" tanya Ny. Sinta lembut, mengusap pipi Kirana. "Gak usah dipikirkan ucapan Julian tadi ya. Dia itu cuma iri sama Kenan dari dulu."

Kirana tersenyum hangat, menatap ibu mertuanya dengan tulus. "Aku gak apa-apa , Ma. Terima kasih banyak ya, Papa dan Mama udah membela aku di depan semua orang."

Tn. Baskoro tersenyum bangga, menepuk bahu Kenan dan merangkul Kirana. "Gak usah dipikirkan, Kirana. Besok Papa bakal telepon Pak Irfan buat ngobrol santai dan ngasih tahu betapa cantiknya kamu di acara malam ini. Ayahmu pasti bangga sekali."

Kenan menatap istrinya dengan pandangan mata yang begitu dalam dan hangat. Tangan tegapnya menyusup ke jemari Kirana, menggenggamnya erat seraya mencium singkat pelipis istrinya di hadapan kedua orang tuanya tanpa malu sedikitpun. Tn. Baskoro dan Ny. Sinta malah tersenyum melihat kemesraan mereka, itulah yang mereka inginkan, tak salah mereka menjodohkan keduanya ternyata cepat sekali saling jatuh cinta. 

….

Pukul 23.30 WIB, sedan hitam Kenan perlahan memasuki garasi rumah mereka di Dago Atas. Hawa dingin Kota Bandung kian menusuk tulang, menyisakan ketenangan malam yang syahdu di kawasan pegunungan tersebut.

Begitu pintu kamar utama di lantai dua tertutup, keheningan yang intim menyelimuti Kenan dan Kirana. Kenan melepaskan jas tuxedo-nya, melemparnya sembarang ke atas sofa kamar, lalu melangkah cepat mendekati Kirana yang sedang berdiri di depan cermin meja rias.

Dari belakang, Kenan melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang ramping Kirana, menarik tubuh indah istrinya hingga bersandar rapat pada dada bidangnya. Kenan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kirana, menyesap dalam-dalam aroma vanila yang selalu menjadi candu baginya.

"Sayang..." bisik Kenan dengan suara bariton serak yang begitu dalam.

Kirana memiringkan kepalanya sedikit, memberikan akses penuh bagi bibir Kenan yang mulai mendaratkan kecupan-kecupan hangat di sepanjang lehernya. 

Tangannya terangkat, mengusap lengan tegap suaminya.

"Iya, Sayang?" sahut Kirana halus.

"Maaf ya... gara-gara acara tadi, kamu jadi harus berhadapan sama Julian dan Hanni," gumam Kenan dengan rasa bersalah yang halus.

Kirana berbalik di dalam dekapan Kenan. Kedua tangan halusnya merangkul leher tegap suaminya, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Kenan yang selalu redup oleh kasih sayang padanya.

"Kenapa harus minta maaf,?" bisik Kirana manis. "Malam ini aku justru makin sadar betapa Papa dan Mama sangat menyayangi aku. Kata-kata Hanni atau Julian sama sekali gak mempan buat bikin aku cemas."

Kenan menatap bibir merona istrinya. Rasa kagum, bangga, dan gelora cinta yang membuncah membuat Kenan tidak sanggup menahan dirinya lagi. Ia menundukkan wajahnya, menyesap dan memagut bibir Kirana dalam ciuman yang sangat dalam, mesra, dan menuntut.

Kirana memejamkan matanya, membalas ciuman Kenan dengan sama bergairahnya. Tautan bibir mereka meleburkan seluruh sisa ketegangan malam itu menjadi aliran kehangatan yang membakar jiwa mereka.

Kenan merengkuh pinggang Kirana lebih tinggi, menyusupkan jarinya di antara rambut hitam tebal istrinya. Ketika tautan bibir mereka terlepas sejenak untuk meraup udara, Kenan menatap mata Kirana dengan pandangan yang sarat akan kepemilikan mutlak.

"Kamu cuma punya aku, Kirana..." bisik Kenan di depan bibir istrinya.

"Ya iya aku cuman punya kamu..." jawab Kirana pasrah.

Dengan gerakan yang sangat mantap dan protektif, Kenan mengangkat tubuh ramping Kirana ke dalam gendongannya, membawa istrinya menuju ranjang hangat mereka. Malam di Dago Atas berlanjut dalam penyatuan rasa, janji suci, dan gairah kehangatan suami istri yang kian membara.

Sementara itu, di sebuah ruangan santai kondominium mewah kawasan Ciumbuleuit, suasana terasa amat mencekam.

Hanni  berdiri di dekat jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan malam Kota Bandung. Di tangannya, segelas red wine ia genggam hingga jarinya memutih. Julian duduk di sofa kulit dengan wajah kusam setelah mendapat teguran keras dari ayahnya sendiri lewat telepon sejam yang lalu.

"Bokap gue ngamuk besar, Hanni," aduh Julian seraya menuangkan minuman. 

"Gara-gara aksi kita tadi, Om Baskoro langsung membatalkan kerjasama dengan anak perusahaan cabang kedua minggu depan."

Hanni memutar tubuhnya lambat. Wajah cantiknya tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan ketenangan dingin yang jauh lebih berbahaya.

"Teguran dari Om Baskoro tadi cuma gertakan kecil keluarga, Julian," ujar Hanni datar namun penuh ambisi. "Gue yang salah kira . Di mata keluarga Alister, Kirana adalah simbol amanah persahabatan antara ayahnya, Pak Irfan, dan Om Baskoro. Gue gak bisa menyerang Kirana di area keluarga tempat dia dilindungi."

Julian menaikkan sebelah alisnya. "Terus lo mau gimana?"

"Di mata kampus ITB dan Unpad, Kirana cuma mahasiswi baru Ilmu Komunikasi yang belum punya rekam jejak riset nyata," senyum Hanni merekah miring, pendar ambisi berbahaya memancar dari matanya. "Ayah gue adalah penyokong dana utama untuk hibah riset laboratorium tempat proyek Joint-Research Rantai Pasok ITB-Unpad berjalan. Gue bakal masuk sebagai pengawas lapangan dari pihak Maheswari Group. Gue bakal hadir di setiap celah kesibukan riset Kenan, menciptakan tekanan akademis, dan membuktikan kalau kapasitas gue jauh lebih berguna buat Kenan."

Julian tertawa pelan, kagum pada sifat pantang menyerah sang primadona. "Gue suka gaya lo, Hanni. Lo emang gak ada matinya."

"Kenan  terlalu berharga untuk dilepaskan cuma karena gertakan acara makan malam," pangkas Hanni mantap dan penuh percaya diri. 

….

Keesokan harinya, Senin pagi di Kampus ITB Ganesha.

Suasana laboratorium optimasi sistem tampak ramai oleh beberapa mahasiswa tingkat akhir dan dosen peneliti. Kenan duduk di depan deretan layar monitor besar, fokus mendesain alur pemodelan rantai pasok untuk proyek riset barunya.

Suara ketukan sepatu hak tinggi bergema di lantai keramik laboratorium. Hanni melangkah masuk mengenakan blazer krem berpotongan elegan, membawa map tebal berlogo resmi Maheswari Group dan Dekanat ITB.

Hanni melangkah lurus menuju meja kerja Kenan, berhenti tepat di samping kursi pria itu.

Kenan tidak mendongak sedikit pun. Jemari tegapnya tetap bergerak lincah mengetikkan kode simulasi di papan ketik.

"Selamat pagi, Koordinator Riset," sapa Hanni dengan suara anggun nan profesional.

Kenan akhirnya menghentikan ketikannya. Ia bersandar di kursi, menatap Hanni dengan ekspresi wajah yang sangat datar dan dingin.

"Selamat pagi, Kak Hanni. Ada keperluan administrasi apa?" tanya Kenan formal, tanpa emosi sedikit pun.

Hanni meletakkan map tebal tersebut di atas meja Kenan. "Ini berkas persetujuan hibah laboratorium dari Maheswari Group. Sebagai perwakilan penyokong dana dan pengawas evaluasi independen yang ditunjuk Dekanat, gue bakal rutin mengawasi perkembangan riset ini di lapangan setiap minggu."

Kenan menatap lembar dokumen tersebut sejenak, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Hanni.

"Pengawasan hibah adalah hak Maheswari Group sebagai donor," jawab Kenan tenang. "Tapi dalam struktur teknis riset, otoritas penuh pemodelan ada di tangan saya dan tim Fikom Unpad. Saya harap Kak Hanni bisa menjaga profesionalitas tanpa membawa tendensi pribadi."

Hanni menyunggingkan senyuman paling menawannya, melangkah satu tapak lebih dekat hingga aroma parfum mewahnya merebak di sekitar meja Kenan.

"Gue selalu profesional, Kenan," bisik Hanni dengan intonasi menggoda yang sangat halus. "Gue cuma mau memastikan proyek ini berhasil. Dan gue yakin, dalam proses riset panjang beberapa bulan ke depan... Lo bakal sadar siapa yang benar-benar bisa berdiri seimbang di samping kapasitas otak dan masa depan lo."

Kenan tidak berkedip sedikitpun. Pria itu menyandarkan tangannya di meja. Tak menyangka seniornya ini masih belum terima, padahal mereka belum lama kenal tapi sudah begitu obsesi sekali ingin menyingkirkan Kirana. Menurutnya Hanni ini sangat bodoh, seorang senior mengejar juniornya, kejadian yang langka.

"Kapasitas masa depan saya sudah utuh dan sempurna sejak saya mengucapkan janji pernikahan dengan Kirana," pangkas Kenan dengan suara bariton rendah yang sangat membekukan. "Silakan koordinasi dengan sekretaris laboratorium untuk jadwal pengawasan. Permisi, saya harus ke Jatinangor jemput istri saya."

Kenan berdiri, mengambil tasnya, lalu melangkah pergi membelah laboratorium tanpa memalingkan wajahnya lagi. Ia terlalu malas meladeni senior nya itu. 

Hanni menatap punggung tegap Kenan yang menjauh. Tangannya mengepal kencang pada tepi meja, namun senyuman miring kembali terukir di bibirnya.

"Pergi aja jemput istri kamu sekarang, Kenan," gumam Hanni pelan. "Tapi proyek ini bakal berlangsung berbulan-bulan. Dan gue punya seribu cara buat bikin Kirana sadar." Mungkin orang lain akan mengira dirinya tak tau malu karena berusaha mendekati suami orang apalagi sampai ingin memisahkan mereka. Tapi Hanni sama sekali tidak peduli, apapun yang ia inginkan harus dapat.

….

Pukul 16.00 WIB, suasana sore di Jatinangor terasa sangat sejuk. Kirana baru saja selesai melayani diskusi kelompok bersama Nabila di selasar Fikom Unpad ketika sedan hitam Kenan berhenti di depan lobi.

Kirana tersenyum manis, melangkah mendekati mobil dan langsung masuk ke kursi penumpang depan.

"Capek ya, Sayang?" sapa Kirana lembut, menyentuh lengan tegap suaminya begitu pintu ditutup.

Kenan memutar tubuhnya, menatap wajah cantik istrinya yang begitu teduh dan menenangkan. Seluruh rasa lelah dan ketegangan akibat pertemuannya dengan Hanni di laboratorium ITB tadi seketika sirna tanpa sisa.

Kenan meraih tengkuk Kirana, menarik istrinya lembut lalu mendaratkan ciuman hangat di kening Kirana cukup lama.

"Gak capek sama sekali kalau udah liat senyuman kamu, Sayang," jawab Kenan tulus seraya menggenggam erat tangan Kirana.

"Gimana persiapan riset gabungan kampus di ITB tadi, Sayang?" tanya Kirana seraya memasang sabuk pengaman.

Kenan melirik istrinya, memilih untuk selalu jujur seperti biasanya. "Lancar, Sayang. Tapi tadi Hanni datang ke laboratorium. Dia ditunjuk Maheswari Group sebagai pengawas evaluasi dana hibah riset kita."

Kirana terdiam sejenak. Ia menatap Kenan, melihat kejujuran dan ketegasan yang tak pernah goyah dari mata suaminya.

Bukannya panik atau cemas, Kirana justru tersenyum anggun seraya menggenggam balik tangan Kenan.

"Bagus dong kalau dia jadi pengawas," ujar Kirana tenang dan dewasa. "Artinya dia bakal liat sendiri gimana hebatnya kerja sama kita berdua. Aku gak takut sama taktik akademis dia, Sayang. Karena disamping kamu, aku bakal buktiin kalau aku bisa jadi rekan terbaik buat kamu."

“Yakin. Kamu gak cemburu” Goda Kenan seraya menarik turunkan alisnya.

Kirana terkekeh, “Buat apa aku cemburu, suami aku kan paling setia. Dan aku yakin kamu pasti bisa jaga hati dan perasaan aku” jawab Kirana tersenyum manis.

Kenan menatap istrinya dengan rasa kagum yang meluap-luap. Pria itu tersenyum lebar, menarik tangan Kirana dan mencium cincin pernikahan mereka dengan penuh rasa bangga.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!