Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penakluk

Sang Penakluk

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Chicklit / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: sri mayanti

Sarah yang berusaha kembali melanjutkan perjalanan hidupnya setelah mendekam di balik jeruji besi karena kasus pembunuhan bayinya sendiri.

Ia yang semula dikenal sebagai gadis cerdas dan ceria, kini sifatnya berubah menjadi tertutup, lebih banyak berdiam diri. Hatinya beku, tak berpenghuni. Trauma masa lalunya terus menghantui, hingga terkadang ia harus menelan beberapa butir pil tidur hanya untuk berusaha agar matanya dapat terlelap.

Apakah dia mampu melewati semuanya? Akankah ada manusia yang mampu menghangatkan kembali hatinya?

Cerita ini adalah lanjutan dari kisah Air Mata Sarah

Dengan tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan pesan untuk semuanya, bahwa jangan pernah menyakiti hati wanita.

Wanita bisa berubah menjadi sosok yang mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri mayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbongkar

Sarah baru saja selesai melaksanakan ibadah empat raka'atnya, wanita bermata bulat itu tidak lekas membuka mukena yang tengah dikenakannya, ia berdiri di depan sebuah cermin, kedua netranya menatap lekat bayangan wajahnya sendiri.

"Cantiknya anak Ibu," puji Marni yang terlihat sudah berdiri di ambang pintu kamar anaknya.

"Ibu!"

Sarah segera membuka mukenanya, lalu melipat dan meletakkannya di tempat semula.

"Sejak kapan ibu ada di situ?" tanya Sarah.

Marni hanya tersenyum, wanita paruh baya itu menghampiri anaknya yang kini sudah duduk di tepi ranjang.

"Ada Nak Irfan di ruang tamu," ungkap Marni seraya mendaratkan bokongnya di samping Sarah.

"Ada apa dia datang ke sini?" Sarah bertanya lagi.

Marni mengangkat bahunya lalu berkata, "entahlah, dia sepertinya menyukai seseorang di rumah ini," jawabnya seraya tersenyum.

"Siapa? Ibu?" seloroh Sarah, keningnya terlihat mengerut.

"Sembarangan kalo ngomong," ketus Marni sambil mencubit pipi anaknya.

"Temui saja dulu, kasian dia jauh-jauh datang ke sini," Marni beranjak dari tempat duduknya, wanita berjilbab itu mengusap-usap kepala Sarah sebelum ia melangkahkan kakinya ke luar kamar.

Sarah menghembuskan napas kasar, ia pun berdiri lalu berjalan mengekori langkah ibunya.

"Hai, Sarah! Apa kabar?" sapa Irfan saat wanita bermata bulat itu sudah berada di hadapannya.

Sarah hanya tersenyum hambar, kemudian mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu berhadapan dengan detektif itu.

"Ada apa?" tanya Sarah datar.

"Sar, aku nggak bisa basa basi, jujur dari sejak aku melihat kamu waktu di Rumah Sakit, aku ... aku ..." Irfan tiba-tiba saja gugup, padahal sebelumnya ia sudah bertekad untuk menyatakan perasaannya pada Sarah hari ini.

"Kamu kenapa?" Sarah kembali bertanya.

"Aku ... aku jatuh cinta sama kamu."

Akhirnya ucapan itu terlontar dari mulut Irfan.

Sarah terdiam sejenak, dalam benaknya ia memuji keberanian yang dimiliki oleh Irfan, baru kali ini ada laki-laki yang berani mengutarakan perasaannya secara langsung setelah Devan, dulu.

"Aku menghargai niat baikmu, tapi maaf untuk saat ini aku masih ingin sendiri dulu," Sarah menolaknya dengan halus.

Brukkk ...

Rasanya ada yang hancur di dalam hati Irfan, bukan baru kali ini dia menerima penolakan, tapi baru kali ini dia merasakan patah hati yang benar-benar luar biasa rasanya.

Si playboy ini sudah sejak lama menaruh harapan pada Sarah, bahkan ia sudah mulai belajar tentang Islam pada Devan demi memperjuangkan perasaannya, namun ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan, Sarah masih belum bisa membuka kembali hatinya untuk siapapun, termasuk dirinya.

"Kenapa kamu menolaknya, sayang?" tanya Marni yang diam-diam mendengarkan percakapan anaknya dengan Irfan tadi.

"Aku masih ingin sendiri dulu, Bu. Lagipula Irfan kan masih muda, masih banyak gadis di luaran sana yang jauh lebih baik dariku," ucap Sarah.

***

Devan sudah kembali ke rumah bersama istri dan kedua anaknya, namun sejak kejadian di Rumah Sakit itu hubungannya dengan Mila menjadi hambar, Devan sangat kecewa dengan perilaku Mila.

Pengacara itu kini tengah memeriksa hasil rekaman CCTV yang ada di rumahnya, hal itu biasa dia lakukan saat sedang tidak ada pekerjaan yang menyibukkan dirinya.

Terlihat kening pengacara tampan itu mengerut, kedua matanya menyipit, sepertinya ia tengah meneliti suatu kejadian di dalam rekaman alat pemantau itu.

Gegas pria yang mengenakan kaos putih polos itu keluar dari ruangan, ia memanggil Minah, pelayannya yang sedang berada di dapur.

"Mbok, sini ikut saya!" ajak Devan, pengacara itu berjalan lebih dulu, Minah lekas mengekor juragannya di belakang.

"Mbok jawab jujur, apa Mbok tau sesuatu yang saya tidak tau tentang Mila?" tanya Devan dengan tatapan mata tajam melihat Minah yang langsung menunduk, wanita tua itu sepertinya ketakutan.

"Jangan takut, Mila sedang keluar bersama anak-anak dan Mirna. Mbok ceritakan saja apa yang Mbok ketahui tentang istri saya," bujuk Devan kembali meyakinkan Minah.

"Itu juragan, anu, itu," Minah berkata tak jelas dan terbata-bata, keberaniannya masih belum seutuhnya terkumpul.

"Mbok, tolong ceritakan semuanya, jangan takut, jika Mila mengancam, itu akan menjadi urusan saya," Devan terus mendesak pelayannya agar lekas berbicara.

Minah terdiam, sepertinya dia sedang mengumpulkan keberaniannya, wanita tua itu akhirnya menceritakan semua yang dia ketahui tentang Mila pada majikannya.

Mendengar seluruh ungkapan dari Minah, wajah Devan berubah, awalnya dia tidak percaya dengan keterangan yang diutarakan pelayannya itu, namun setelah ia kembali memutar video rekaman CCTV rumahnya lalu disambungkan dengan keterangan dari Minah, ternyata semua yang diungkapkan oleh Minah itu masuk akal.

"Jadi selama ini tujuannya adalah harta, aku benar-benar tak menyangka, kepolosan dan keluguannya itu ternyata cuma topeng," geram Devan, tangannya mengepal keras.

"Ndoro Tuan, tolong jangan bilang kalo Ndoro Tuan tau semuanya dari si Mbok, nanti Nyonya marah, si Mbok takut," ucap Minah, dia masih terlihat risau.

"Mbok tenang aja, saya akan membereskan semuanya dengan tangan saya sendiri," tegas Devan.

"Mereka pulang, Mbok bisa ke dapur lagi sekarang, jangan takut, biasa aja, yah!"

Minah mengangguk lalu keluar dari ruangan itu meninggalkan juragannya yang kembali memandangi layar laptop di hadapannya.

"Ternyata kamu disini, Mas!" Mila datang menghampiri Devan.

"Ada apa?" tanya Devan, pria yang sudah beranak dua itu harus menahan amarahnya, ia kini lebih berhati-hati dengan Mila yang ternyata tidak sebaik yang ia kira.

"Ada Irfan, nungguin di ruang tamu," ujar wanita berjilbab itu.

Devan segera keluar ruangan untuk menemui detektif andalannya.

"Pak, maaf saya ganggu, yah?"

"Nggak, saya lagi nggak ada kesibukan juga, kok. Kamu kenapa? Mukanya ditekuk gitu?"

"Saya ditolak sama Sarah, Pak," keluh Irfan.

"Hahaha ... Ups, maaf, maaf," ucap Devan sambil menutup mulutnya berusaha menahan tawa.

"Ish! Bapak ini, bukannya ngasih support malah ngetawain, saya lagi patah hati loh, Pak," protes Irfan.

"Iya, maaf, maaf. Tapi dulu juga saya merasakan itu, dua kali malah," ungkap Devan.

"Wah, masa iya Pak? Bapak juga dulu nembak Sarah?" Irfan kaget mendengar pengakuan dari Devan.

Pengacara itu menganggukan kepalanya, sejenak ia menyeruput secangkir kopi yang tersedia di atas meja.

Tiba-tiba Mila datang menghampiri dua sahabat itu dengan wajah memerah.

"Oh, jadi kalian lagi bahas wanita pembawa sial itu! Mas, kamu udah janji nggak akan deket-deket lagi sama wanita itu!" hardik Mila.

Devan berdiri dari tempat duduknya, emosinya meluap seketika, sebenarnya sudah sejak tadi pengacara itu menahan amarahnya.

"Kamu ini kenapa, sih? Setiap kali saya bahas Sarah, pasti kamu marah-marah nggak jelas, ada apa sebenarnya sama kamu?" Devan naik pitam.

"Diam kamu, Mas! Kamu ini memang nggak pernah cinta sama aku, kamu itu memang cintanya sama Sarah dari dulu, iya, kan?" Mila bersuara tak kalah lantang.

"Kalo begitu saya permisi dulu, Pak!" pamit Irfan.

Detektif itu merasa tak nyaman berada di antara mereka yang sedang beradu mulut.

"Pergi sana! Nggak usah bahas wanita itu disini!" usir Mila. Detektif itupun segera pergi dari rumah Devan.

"Kamu sudah keterlaluan, Mila!" bentak Devan.

"Sudah cukup sandiwaramu, aku sudah tau semuanya, kebaikan kamu selama ini hanya topeng! Kamu membenci Sarah karena kamu takut kehilangan harta kekayaan yang kamu incar selama ini dariku, iya, kan!"

"Kamu tau orang tua aku adalah pemilik saham di perusahaan yang dijalankan Om Yoga, kamu takut kalo Sarah dan keluarganya menjadi benalu di keluargaku hingga kamu nggak kebagian harta kekayaan dari keluargaku, begitu, kan!"

"Kamu itu picik sekali, Mila!"

"Kamu, kamu ini bicara apa, sih, Mas!"

Suara Mila bergetar, perempuan berjilbab itu kaget mendengar pernyataan yang diucapkan suaminya.

"Sudahlah nggak usah lagi kamu berkilah, aku sudah tau semuanya, dan aku juga punya buktinya bahwa kamu itu ingin menguasai seluruh kekayaan keluargaku," geram Devan.

"Ini pasti ulah si Minah," batin Mila.

1
Sri Mayanti
manusia dilahirkan
ELVIRA thoenger01
Sarah nikah dgn Irvan atau Devan?
Sri Mayanti: Devan Kakak
total 1 replies
Madu Yang Luar Biasa
Up lgi yha.. bagus critanya... semoga kedepan nya gk ngebosenin😅 lope lope dah pokok nya😍
Sri Mayanti: terimakasih Kakak 🙏
semoga selalu bisa menjadi penghibur hati para pembaca 😊
total 1 replies
anggita
wis 👍like kabeh.
Sri Mayanti: terimakasih atas kunjungannya 🙏
total 1 replies
anggita
like👍 dan bunga🌷 buat author. smoga novelnya sukses, lancar jaya. 👌👏.
Sri Mayanti: Aamiin ya Robb 🤲
terimakasih Kakak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!