Bismillahirohmanirohim.
Trauma masa kecil tepat dihari ulang tahunnya yang hampir kehilangan bunda sambungnya dan kehilangan adik yang masih berada didalam perut sang bunda, membuat Nafisa tidak pernah ingin merayakan ulang tahunya juga tidak ingin pernah menghadiri acara ulang tahun lagi. sampai suatu hari atas paksaan temannya Nafisa menghadiri sebuah acara ulang tahun. Diacara itu traumanya kembali, dia ditolong oleh seorang anak pemilik pesantren yang sering dipanggil gus Zega atau gus Magrib.
Penasaran ceritanya yuk kepoin!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berangkat bersama
Bismillah.
Nafisa, Reni dan Lin mulai terbiasa menjalani hari-hari mereka di pesantren Al-hikmah. Nafisa dan Lin sudah mulai sibuk melakukan tugas mereka sebagai dokter magang yang menolong santri.
Keduanya melakukan pekerjaan mereka dengan sangat telaten dan selalu konsisten. Selama 1 minggu ini Nafisa dan Lin mengurus para santri putri dengan baik, angka santri yang sakit sudah satu minggu ini juga mulai menurun, tidak seperti sebelum-sebelumnya banyak santri yang sakit dan mengalami demam tinggi.
Sebisa mungkin Lin dan Nafisa menjalakan tugas mereka dengan prfesional dan baik. Niat keduanya juga baik, bukan hanya melakukan atas perintah dari dosen mereka. Mereka juga melakukan dengan ikhlas apalagi untuk menolong banyak orang.
Berbeda dengan Nafisa dan Lin, Reni memiliki banyak waktu sengang di pesantren Al-hikmah, sampai kemari dia hampir bertengkar dengan salah satu ustadaz di pesantren tersebut, karena Reni tidak suka ada yang menjelek-jelekan Nafisa. Tentu saja Reni akan langsung melabrak orang itu, Reni sebagai teman dekat Nafisa tahu betul seperti apa Nafisa itu orangnya.
"Jangan ditekuk terus mukanya," tegur Nafisa yang baru saja selasi melaksanakan sholat dzuhur di kamar.
Nafisa tidak bisa mengikuti shalat dzuhur di masjid, karena dia sempat menguruh salah satu santri putri yang mengeluh sakit perut.
"Bete tau Na, udah yuk otw kampus keburu telat. Jarak pesantren ke kampus rada jauh."
"Aku siap-siap dulu Ren." Ujar Nafisa beranjak dari duduknya, sambil melipat mukenya yang baru saja dia gunakan.
10 menit berlalu Nafisa sudah rapi dia sudah siap berangkat ke kampus, Nafisa mengenakan gamis tosca yang senada dengan kerudungnya.
"Yuk otw." Ajak Nafisa sambil mendekati Reni yang sudah menunggunya.
Hari ini Nafisa dan Reni memang ada jadwal kelas teknik asitektur, maka dari itu keduanya harus masuk agar tidak ketinggalan kelas. Apalagi yang mengisi kelas hari ini pak Zega.
"Mau pada kemana?" tanya Lin yang kebetulan membuka pintu secara bersama dengan Reni.
"Kita kuliah dulu ya Lin, ada kelas siang." Sahut Nafisa memberitahu yang mendapat persetujuan dari Reni.
"Oke, jangan pulang malem ya. Aku ngerasa kayak sendiri disini kalau nggak ada kalian berdua." Keluh Lin.
Lin yang memang susah berbaur dengan orang lain, tentu saja tidak bisa cepat dekat dengan para penghuni pesantren Al-hikmah.
"Siap tuan putri." Jawab Reni membuat Nafisa dan Lin terkekeh.
"Kita pergi dulu, Assalamualaikum." Salam Reni dan Nafisa bersama.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Lin sambil menatap kepergian Reni dan Nafisa.
Keduanya berjalan seiringan menuju gerbang pesantren, belum sampai mereka di depan gerbang untuk mencari taksi suara tlakson mobil membuat Nafisa dan Reni sama-sama sedikit menepi, ternyata mobil barusan milik Zega.
"Mbak Nafisa, mbak Reni sini bareng sekalian." Ajak Faiz yang kepalanya muncul dari jendela mobil.
Nafisa dan Reni saling tatap satu sama lain, lalu Reni lebih dulu kembali melihat kearah Faiz. "Boleh Iz," sahut Reni cepat.
"Ren apaan sih." Protes Nafisa karena Reni sudah mengiakan tawaran Faiz tanpa diskusi terlebih dahulu.
"Angep aja rezeki Na, mubazir kalau rezeki nggak diambil. Lumayankan bisa irit uang." Ucap Reni bijak.
"Tapi-"
Belum sempat Nafisa kembali angkat bicara, Reni sudah lebih dulu menarik tangnya hingga membuat Nafisa pasrah saja mengikuti Reni.
Disinilah sekarang Nafisa dan Reni, di dalam mobil pak Zega. Bersama Faiz dan pak Zega juga tentunya.
Bukan apa, Nafisa hanya tidak enak saja pada pak Zega. Dia sudah berkali-kali ditolong oleh gus sekaligus pak dosenya itu, tapi Nafisa belum mengucapkan terima kasih sampai sekarang.
"Ini nggak papa Iz, kita nebeng sama kalian?" cicit Nafisa merasa tidak enak. Apalagi melihat Zega tetap dengan tatapan dinginya.
"Santai aja kali mbak, jangan peduliin mas Zega. Emang gitu orangnya." Jawab Faiz enteng yang membuat Nafisa menatap tajam Faiz.
Kenapa pula harus bawa-bawa pak Zega. Begitu mungkin pikir Faiz. "Terima kasih tumpanganya Iz, pak Zega." Ucap Reni.
"Santai mbak, jangan lupa traktir Faiz bakso satu mangkok ya."
"Sama aja boong ini namanya Iz, niat bantu nggak sih." Gerut Reni mulai menunjukkan kekesalannya.
Sedangkan Nafisa lebih banyak diam, dia tak tahu mengapa merasa canggung sendiri saat berada didekat pak Zega semenjak 1 minggu ini. Benar, Nafisa merasa canggung saat dia tak sengaja melihat Zega tengah memperhatikannya waktu itu. Nafisa dan uma Inaya sedang mengenang masa lalu dan bercerita tentang Rara.
Saat itu Nafisa tahu kalau gus Magirb atau pak Zega sedang memperhatikan dirinya. Tapi dia pura-pura sibuk saja pada uma Inaya. Sampai suara Faiz terdengar ditelingnya menegur gus Magrib.
"Pelit banget mbak Reni." Sahut Faiz tidak mau kalah.
"Aduh Iz, bukan pelit tapi mbak Reni ini lagi irit uang."
"Bukan riti uang Ren, lebih tepatnya eman-eman mau mengeluarkan uang dari dompet." Timpal Nafisa yang sedari tadi mendengarkan perdebatan kecil Reni dan Faiz.
Sedangkan pak Zega tetap diam tanpa bicara sepatah katapun, dia tetap fokus mengemudi. Jika boleh jujur sebenarnya Zega ingin melirik sejenak pada Nafisa yang duduk dibelakang bersama Reni, gadis yang sudah mengusik pikirannya itu. Tapi Zega cepat menepis semua pikiran di kepalanya, dia tidak mau tertipu daya oleh syetan. Tak lupa selama perjalan Zega terus saja mengucapkan istighfar dalam benaknya.
"Nanti mbak Nafisa deh yang traktir."
"Aku sekalian Na." Sahut Reni cepat.
"Bener ya mbak, awas kalau bohong. Dosa loh kalau bohong."
"Iya Iz tahu."
"Mas Zega mau juga tidak." Tawar Faiz.
"Ya pak Zega sekalian untuk ucapan terima kasih saya karena pak Zega sudah sering menolong saya." Sambung Nafisa setelah ucapan Faiz barusan. Nafisa akhirnya memberanikan diri untuk mentraktir pak Zega.
Deg!
Mendengar perkataan Nafisa, Zega seakan telah melupakan sesuatu. Sampai dia teringat perhan menggendong Nafisa saat gadis itu pingsan dan Zega sudah berjanji pada Andika juga dirinya sendiri untuk membicarkan masalah ini pada uma dan abahnya. Sampai sekarang Zega belum mengatakan masalah ini dengan jujur pada kedua orang tuanya.
"Inalilahi." Gumun Zega pelan yang tidak dapat didengar oleh siapapun.
"Mau ajak pak Zega." Reni menyahuti ucapan Nafisa bukan pak Zega.
"Bener mas mau aja. Kalau nggak mau juga nggak papa kok, berarti jatah mas Zega buat Faiz." Ucap Faiz pede.
Zega tak menjawab dia memberhentikan mobilnya, karena sudah sampai di depan sekolah Faiz.
"Faiz duluan mbak Nafisa, mbak Reni. Assalamualaikum." Salam Faiz sambil turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam." Jawab ketiganya kompak.
"Pak Zega, biar saya dan Reni turun disini saja." Usul Nafisa merasa tak enak.
Tapi lagi-lagi Nafisa terlambat karena Zega sudah kembali melajukan mobilnya.
"Telat Na." Ucap Reni membuat Nafisa seakan meningat momen yang sama saat sedang bersama Zega.