Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Perlakuan manis
"Mas, aku ada kelas." suara pelan Arunika, yang masih berada dalam pelukan suaminya.
Abimana terkekeh kecil melihat tingkah Arunika yang menggemaskan saat tersipu malu, berbeda dari biasanya jika tidak pendiam pasti bersikap dingin. Tapi kali ini ia menunjukan sisi lain di hadapannya.
Perlahan ia merenggangkan pelukannya, menatap kedua netra cantik milik istrinya, yang bertengger kacamata di hidung kecilnya.
"Bukankah, sekarang waktunya istirahat kenapa terburu-buru sekali, bagaimana kalau kita makan siang di ruanganku saja." usulnya, berharap bisa menahan Arunika untuk tetap berada di ruangannya.
"Memang tidak apa-apa, Mas?" ia balik bertanya, merasa tidak enak jika ada yang melihat, karena ini pertama kalinya mereka sedekat ini dan itupun berada di ruang kerja Abimana.
"Tentu saja tidak apa-apa, Sayang... Kalau gitu aku pesan makan untuk kita, kamu mau makan apa?" ia terlihat antusias, lalu menatap kedua netra istrinya dengan intens.
Tatapan itu membuat Arunika Seketika gugup, dengan posisi yang masih sama. Ia berada dekat dengan suaminya meski pelukan mereka sudah terlepas.
"Cantik."
pujian itu lolos dari bibir Abimana membuat suasana menjadi lebih intim di antara mereka.
"Mas."
ia tersipu malu mendengar ucapan manis dari bibir suaminya.
"Dalem, Sayang."
Ia membawa istrinya untuk duduk di sofa yang berada di ruangannya.
Wajah Arunika semakin memerah, mendapatkan perlakuan lembut sang suami.
Sementara Abimana semakin terkekeh dengan tingkah Arunika. Ia mengambil duduk di samping gadis itu. "Pesan makanan apapun yang kamu mau." Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel miliknya lalu menyerahkannya pada Arunika.
Ia terperangah dengan perubahan drastis suaminya, menatapnya tidak percaya yang kini berada di sampingnya, sambil menerima ponsel itu.
"Mas, ini barang pribadi kamu."
Abimana menghadap istrinya, ia menggenggam kedua tangan gadis itu. "Bukankah kita akan memulai semuanya dari awal, maka dari itu tidak ada yang perlu disembunyikan lagi, tidak ada barang pribadi milikku, kamu berhak mengakses semua yang aku miliki karena kamu istriku." jelasnya dengan nada tulus.
Deg!
Kata-kata ini lah yang ia tunggu sejak pernikahan mereka. Yaitu saling menerima dan menghargai satu sama lain.
Kedua mata Arunika berkaca-kaca, ada rasa syukur yang tidak bisa ia sembunyikan. "Terima kasih, Mas."
Abimana tersenyum tipis. "Kenapa kamu yang mengucapkan terima kasih, seharusnya aku yang mengucapkan kalimat itu, terima kasih sudah memberiku satu kesempatan lagi."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di ruangan lain. Gavin sang dosen baru, tengah sibuk dengan pikirannya.
Beberapa menit setelah kepergian Arunika. Ada sesuatu yang akhirnya bisa mengusik pikirannya selain pekerjaan.
"Ada apa denganku? Kenapa aku terus teringat tatapannya?" gumamnya pelan, ia tersenyum kecil. Tanpa ia ketahui seseorang yang baru saja tengah ia pikirkan, sedang berada di ruangan sebelah bersama suaminya.
"Arunika Kirana... nama yang cantik." bisiknya, ia memegang kertas di tangannya, yang menampilkan biodata seluruh siswa. Namun, kedua matanya hanya tertuju: pada satu titik yaitu nama Arunika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di gudang belakang Claudia sedang bersama sahabatnya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan, Abimana bersama Arunika." suaranya penuh amarah.
"Sudahlah, Cla. Sebaiknya kamu lupakan pak Abi." Rini yang sedang duduk bersilang kaki menyahut dari arah belakang. Ia mencoba memberikan pengertian yang baik untuk Claudia.
"Tidak segampang itu Ri, aku yang sudah menjalin hubungan dengannya selama dua tahun ini." tolaknya dengan suara tegas, napas memburu.
"Tiba-tiba saja dia menikahi dengan Arunika, si gadis pendiam itu, ini benar-benar konyol." ia menolak fakta bahwa mantan kekasihnya telah menikah dengan wanita lain.
"Tapi, Cla. Bukankah kamu juga tau bahwa mereka di jodohkan." Rini menatap iba terhadap Claudia. "Jadi sebaiknya kamu terima saja, fakta itu. Jika kamu dan Pak Abi memang tidak berjodoh."
"Justru itu Ri, karena mereka hanya di jodohkan aku yakin Abimana tidak mencintainya. Dia hanya mencintaiku saja." Claudia dengan percaya diri, ia mendekat ke arah sahabatnya yang masih duduk di kursi yang ada di gudang itu.
"Ingat Cla, aku sudah mengingatkanmu, jangan pernah bertindak yang di luar batas."
Namun Claudia sudah berbeda, ia tidak akan mendengar siapapun. Cintanya pada Abimana sudah membutakan matanya.
"Aku tidak akan mundur." bisik Claudia pelan, lalu tersenyum smirk. Di otaknya sudah tersusun banyak rencana untuk memisahkan Abimana dan Arunika.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di tempat lain, tepatnya kini di ruangan Abimana sudah tersedia berbagai jenis makanan, yang tadi Arunika pesan.
"Sayang."
Ia semakin menepis jarak di antara dirinya dan istrinya.
"Iya, Mas, kenapa?"
"Aku mau disuapin." pintanya dengan wajah memohon sangat berbeda dari seorang Abimana Permana yang terkenal dingin dan datar.
Arunika lagi-lagi terperangah, ia terdiam beberapa menit mencoba mencerna apa yang suaminya inginkan.
"Kamu yakin, Mas?" ia bertanya dengan nada tidak percaya mencoba meyakinkan apa yang ia dengar tidak salah.
Abimana mengangguk kecil, dalam hati ia terkekeh melihat respon Arunika yang sedikit kikuk, mendengar permintaannya. "Apa salah jika suami meminta istrinya untuk menyuapi nya makan?" bisiknya rendah, tepat di samping Arunika.
"Ee-eh... tidak salah sih..." gugup Arunika, ia berusaha menormalkan detak jantungnya kembali, dengan perlahan mengambil makanan yang berada di atas meja, dan menyiapkannya.
Dengan telaten dan sedikit kaku. Arunika menyuapi suaminya, sesuap demi sesuap.
"Kenapa kamu tidak ikut makan juga?"
"Aku nanti saja, Mas, kebetulan masih kenyang." bohongnya, namun, tiba-tiba suara perutnya terdengar membuatnya sangat malu.
Abimana tersenyum tipis, lalu mengambil alih piring yang berada di tangan istrinya.
"Ayo, buka mulutnya Nika."
Arunika terdiam sesat, ia menatap Abimana yang mengangguk pelan. Perlahan mulutnya terbuka, menerima suapan dari suaminya.
Ia tersadar jika sendok mereka sama. "Mas, sendoknya tidak kamu ganti, itu milik kamu."
"Lalu apa masalahnya."
"Itu sama saja dengan berciuman." gumamnya pelan, namun masih bisa di dengar Abimana.
"Bukankah hal yang wajar jika suami istri itu berciuman." ia mengedipkan sebelah matanya. membuat semburat merah diwajah Arunika semakin memerah.