Indonesia
NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Makluk mistik

"Siapa saja yang bisa menggunakan Aether?" tanya Seraphina seraya menggoreskan kalimat tersebut di papan tulis.

"Bukankah sudah sangat jelas, Profesor? Tentu saja para Aetherist atau keturunannya," ujar Stella dengan gaya bicara khas bangsawan itu.

"Jawabanmu tidak salah. Namun, apakah ada makhluk selain manusia yang memiliki kemampuan menggunakan Aether?" Seraphina melempar pertanyaan lanjutan.

Teira melipat kedua tangannya di depan dada lalu bersuara tanpa ragu. "Berdasarkan literatur kuno, makhluk-makhluk seperti Elf, Mermaid, Vampir, Werewolf, Penyihir, hingga Spirit Alam telah menguasai sihir Aether jauh sebelum peradaban manusia berkembang."

Seraphina menyunggingkan senyum puas melihat keluasan wawasan pemuda bersurai ungu itu. "Tepat sekali, Teira! Terima kasih atas penjelasan yang sangat mendalam."

Ia melanjutkan pengarahannya, "Seperti yang dipaparkan Teira, makhluk-makhluk mistik tersebut telah sanggup mengalirkan Aether di dalam tubuh mereka, bahkan jauh sebelum karunia elemen diturunkan kepada para Aetherist generasi pertama."

Airyn menopang dagunya, sorot mata emasnya menatap penuh rasa ingin tahu. "Kalau begitu... apakah Profesor sendiri merupakan keturunan Aetherist, atau justru keturunan dari makhluk mistik tersebut?"

Seraphina terkekeh pelan mendengar pertanyaan menohok yang meluncur begitu polos dari bibir Airyn. "Haha, pertanyaan yang sangat langsung pada intinya ya, Airyn."

Wanita bersurai hitam itu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. "Sebelum aku menjawabnya, apakah kalian semua di sini percaya pada keberadaan makhluk-makhluk yang disebutkan Teira tadi?"

"Itu cuma cerita takhayul dalam dongeng sebelum tidur. Tidak ada satu pun bukti fisik keberadaan mereka," pangkas Andrew dingin.

"Tapi, paman pernah menceritakan padaku kalau dulu nenek pernah berinteraksi dengan makhluk mistik. Jadi aku percaya mereka itu nyata," sahut Airyn teringat kisah-kisah lama yang pernah dibagikan Kaelen.

Para Aetherist lainnya memilih membisu. Bagi mereka, keberadaan ras-ras non-human tersebut hanya pernah terukir dalam lembaran naskah sejarah kuno, terutama saat mengulas asal-usul sihir dan permulaan terbentuknya benua Astergald.

"Seharusnya kalian memercayainya..." Seraphina menjeda sejenak, menyunggingkan senyum misterius. "...sebab salah satu keturunan mereka sedang berdiri tepat di hadapan kalian saat ini."

Seketika seluruh pasokan udara di ruangan terasa menyedot habis. Seluruh murid memaku tatapan mereka pada Seraphina dengan raut syok.

"Tidak mungkin... Anda memiliki darah keturunan non-human, Profesor?!" William bersuara, masih terperangah tak percaya.

Seraphina tidak menunjukkan gestur membantah sedikit pun. "Benar. Aku membawa garis keturunan mereka, meskipun bukan garis keturunan murni, namun esensi Aether itu tetap mengalir aktif di dalam tubuhku."

Snow mengamati perawakan Seraphina lekat-lekat dengan iris mata peraknya yang tajam. "Jangan bilang Anda adalah keturunan dari ras Penyihir?"

"Mana mungkin! Bukankah sosok penyihir itu identik dengan wajah keriput, bertubuh bungkuk, dan berwajah buruk rupa?" celetuk Airyn polos tanpa beban.

PFFFT! Hahaha

Gelak tawa seketika pecah memenuhi ruangan rahasia tersebut, tak terkecuali Seraphina yang ikut tertawa renyah.

"Bocah biru bodoh! Dasar anak kampung tidak tahu sejarah!" semprot Stella menggerutu tajam.

Teira di belakang Airyn ikut berbisik sinis, "Hei... kau itu benar-benar polos atau memang bodoh, sih?"

Airyn yang menyadari kekonyolan ucapannya seketika tertunduk dalam-dalam. Wajahnya memerah padam seperti tomat matang akibat menahan rasa malu yang membakar dada. Rasanya ingin menghilang dan tenggelam ke dasar laut saat ini juga! batin Airyn meratapi nasib.

"Sudah, Sudah..." pangkas Seraphina meredakan tawa. "Dalam buku-buku cerita dongeng memang penyihir sering digambarkan secara keliru seperti itu. Jadi sangat wajar jika Airyn membayangkannya demikian."

William condong ke arah gadis itu untuk menjelaskan, "Penyihir dalam literatur sejarah sebenarnya digambarkan sebagai sosok yang sangat memikat, memiliki regenerasi sel yang amat lambat, bahkan beberapa di antaranya sanggup menghentikan penuaan fisik mereka secara total."

Airyn mengangguk-angguk paham, kepalanya perlahan mendongak kembali dari meja. "Ah... jadi apakah benar Profesor adalah keturunan Penyihir?"

"Bisa dikatakan demikian," sahut Seraphina mengkonfirmasi. "Meskipun porsinya hanya seperempat dari silsilah keluargaku."

"Lalu, kekuatan Aether jenis apa yang Profesor kuasai?" tanya Stella yang ikut penasaran dengan kapasitas sihir wanita seperempat penyihir itu.

"Seperti yang kusebutkan sebelumnya, manifestasi Aether tidak pernah terbatas pada sihir elemen semata. Telepati yang kuaplikasikan tadi hanyalah salah satu cabangnya. Kalian bahkan sanggup memanfaatkannya untuk telekinesis, melayang di udara, hingga membuka portal teleportasi antar-wilayah seperti Aether-Gate yang membawa kalian kemari," terang Seraphina panjang lebar.

Sorot mata para Aetherist muda berbinar bersemangat. Pembahasan ini membukakan wawasan baru bahwa daya Aether di dalam tubuh mereka jauh lebih fleksibel dari sekadar pengendalian elemen.

"Bagaimana metode untuk mengaktifkan dan menguasai bentuk manipulasi khusus tersebut, Profesor?" tanya Snow, iris peraknya berkilat tajam penasaran untuk dapat segera mempelajarinya.

Seraphina tersenyum bangga melihat antusiasme murid-muridnya. "Akan ada pengujian khusus yang wajib kalian jalani untuk mendeteksi bakat manipulasi Aether unik di dalam diri kalian. Namun perlu diingat, catatan sejarah menunjukkan tidak semua Aetherist sanggup menguasai manipulasi sekunder ini; beberapa di antaranya gagal dan hanya mampu mengendalikan elemen dasar mereka."

"Kapan pengujian itu dilaksanakan?!" desak Stella tak sabaran.

"Tes pengujian akan diselenggarakan tepat setelah Turnamen Persahabatan usai. Untuk saat ini, fokuskan seluruh energi kalian untuk menggembleng fisik menghadapi duel minggu depan," tegas Seraphina.

Stella mendengus kecewa, begitu pula Andrew, Snow, dan Teira yang tampak sudah tidak sabar ingin menjajal kapasitas sihir baru mereka.

"Baiklah, sebelum tes resmi digelar, ada baiknya kalian memahami seluruh variasi manipulasi Aether yang tercatat dalam arsip," pangkas Seraphina seraya menekan tombol panel di mimbarnya.

Sebuah layar proyeksi berukuran kecil memancar di atas meja masing-masing murid, menampilkan halaman-halaman naskah kuno. Airyn menyimak dengan sangat tekun setiap baris teks yang dipaparkan oleh Profesor Seraphina hingga sesi kelas sore tersebut berakhir.

Tiga puluh menit pasca kelas Seraphina usai, Airyn sudah selesai membersihkan diri. Seusai kelas tadi, ia, Flora, dan William sempat singgah ke perpustakaan untuk meminjam buku sejarah Perang Pertama yang ditugaskan oleh Profesor Ignatius, sebelum kembali ke asrama.

Kini Flora sedang duduk di depan meja rias, menantikan bantuan Airyn untuk mengeringkan rambutnya.

"Mungkin saja kemampuanmu menarik kelembapan air dari rambut ini merupakan salah satu bentuk manipulasi Aether khusus, Airyn," ujar Flora tulus saat merasakan helai rambutnya perlahan mengering.

Airyn tersenyum tipis. "Kurasa bukan, Flora. Ini murni pergerakan Aether air biasa," sahut Airyn saat rambut sahabatnya kering sempurna.

Keduanya berganti mengenakan pakaian santai. Mengingat jam makan malam sudah hampir tiba, mereka menuruni tangga menuju kantin utama. Fin yang baru menyelesaikan kelasnya bergegas bergabung menduduki bangku kosong di samping William.

"Kelasmu sudah selesai Fin?" tanya Airyn ramah.

"Sudah! Dan aku baru saja mendengar kabar heboh bahwa Turnamen Duel akan segera digelar antar-Aetherist!" ujar Fin antusias, mengkonfirmasi rumor yang sudah menyebar di seluruh penjuru akademi sejak sore.

"Benar, pertandingannya digelar satu minggu dari sekarang," timpal William seraya melahap potongan kentangnya.

"Wah, aku pasti akan menonton di barisan paling depan! Ini akan sangat seru!" seru Fin bersemangat.

Sementara Fin berbinar gembira, Airyn dan Flora justru bertukar pandang dengan senyuman getir. Mengingat lawan yang harus dihadapi Airyn adalah Emery—si gadis berotot yang gila bertarung—Airyn hanya sanggup berdoa dalam hati agar tubuhnya tidak remuk dihantam di atas arena duel nanti.

1
Sheila
omo
Sheila
mampus
Sheila
Gedek banget
Sheila
Oh, my...
Sheila
lucu banget lagii
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!