demi mendukung karier suaminya Arga Prasetyo, Ariana rela menikah selama delapan tahun secara diam-diam. Ariana menemani Arga berjuang di perusahaan nya tapi balasan yang didapatnya adalah perselingkuhan, bahkan pelakor itu terang-terangan menantang nya.
setelah menyiapkan perceraian dan pergi dengan tenang ternyata Arga menolak untuk melepaskan nya. hingga seorang laki-laki lain datang membuka babak baru untuk nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Arga menurunkan Ariana dengan kasar disamping mobil nya, tatapannya tajam karena tak suka jika Ariana melawan padanya.
"Apa yang kamu lakukan disini ? Ke bar tanpa memberitahu ku ?". Geram Arga menatap wajah sang istri dengan tajam.
Ariana tidak menjawab sama sekali, wanita cantik itu ingin beranjak tapi langsung didorong keras oleh Arga hingga badan nya membentur mobil.
Ringisan terdengar pada bibir Ariana sebab bahunya sedikit sakit akibat benturan itu.
"JAWAB!!!!". bentak Arga mengusap rambutnya frustasi.
"KENAPA KAMU TIDAK BISA MENGERTI ARIANA!!!". Marah Arga, rahangnya mengeras dengan tatapan tajam mengarah ke istrinya.
"Aku kesini karena ingin membahas proyek, kamu datang kesini dan membuat keributan!!!! Kamu ingin membuat ku malu ? HAAAA!!!!". suara Arga melengking menembus telinga Ariana, tapi wanita itu tidak gentar sama sekali.
"aku datang ke sini bukan urusan mu, kamu malu aku membuat keributan ? Tapi kamu tidak malu membawa selingkuhan, mereka menghina ku Arga...MEREKA SEMUA MENGHINA KU. KALAU BUKAN AKU SENDIRI YANG MEMBELA DIRIKU, LALU SIAPA ? KAMU ?!!!!". mata Ariana melotot menunjuk Arga. "tidak...tidak sama sekali, kamu lebih mementingkan wanita pelakor itu dari pada aku istrimu...ISTRIMU ARGA!!!!". nafas Ariana ngos-ngosan karena terus berteriak.
Arga terdiam sebab baru kalian ini Ariana marah padanya. Selama delapan tahun menikahinya, tak sedikit pun wanita didepannya yang sudah menjadi istrinya mengeluarkan kata kasar.
hembusan nafas pelan keluar dari mulut pria itu, ego nya yang keras membuatnya tidak merasa bersalah sedikit pun bahkan tetap menyalahkan istrinya. "Ada apa dengan dirimu ? Kamu tau ? Tadi kamu terlihat bodoh karena membuat keributan dan marah disana. Dulu kamu tida seperti ini Ariana". Arga menekan suara nya agar tetap tenang.
"aku memang bodoh!!! Karena harus di nikahi oleh pria s*alan seperti mu...".
Plakkkk
Kepala Ariana menoleh ke samping, rasa sakit karena ditampar oleh suami sendiri menjalar ke seluruh tubuhnya.
Arga yang melihat itu merasa bersalah, tangannya gemetar karena tak berniat sedikit pun menampar Ariana, tapi karena Ariana yang terus saja melawan nya, jadilah Arga semakin murka.
Ariana terdiam dengan wajah datar, tamparan itu semakin membuatnya sadar jika memang Arga sudah tidak dapat dipertahan kan.
tangan arah gemetar memegang wajah Ariana, tapi dengan cepat wanita cantik itu menghindar, hal itu membuat Arga menghembuskan nafas kasar nya.
"Kalau kamu masih ingin lama-lama bersama ku, tolong buang rasa curiga dan cemburu mu itu, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni sifat kekanak-kanakan mu itu. Aku dan putri tidak pernah memiliki hubungan apapun, kami hanya sekedar rekan kerja karena dia ingin belajar bisnis pada ku sayang. tolong mengerti situasi ku saat ini...yah ?".
Mata Ariana memerah, terkekeh pelan sambil menganggukkan kecil kepalanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya saat ini
Kekanak-kanakan ?, tidak memiliki hubungan , rekan kerja. Sungguh Ariana ingin sekali tertawa keras.
"Sekarang kita pulang". Arga langsung berjalan ke seberang bagian kemudi.
Ariana memejamkan matanya kemudian membuka pintu mobil sang suami. 'sekarang mobil ini sangat kotor'. Batin Ariana melihat beberapa bungkus makanan berada di bagian pintu mobil.
*
*
Pagi hari yang cerah, Ariana tengah menikmati sarapan paginya, pipi wanita masih sedikit merah karena bekas tamparan semalam. Tak lama Arga turun dari lantai atas, senyum mengembang pada bibir nya menghampiri sang istri.
"Sayang...". Panggil Arga yang hanya mendapat lirikan dari Ariana.
Tubuh Arga menunduk dengan kepala sedikit di condong kan ke wajah Ariana.
"Akhir pekan ini aku akan mengajak mu ke pantai, kita akan berlibur haya berdua saja". Arga dengan semangat mengatakan itu pada Ariana, sebab merasa bersalah karena telah menyakiti istrinya tadi malam.
"Hmm". Ariana haya fokus pada makanan nya tanpa memperdulikan Arga yang berbicara.
"Aku mau...".
Ucapan Arga terpotong ketika ponsel nya bergetar, sebuah notifikasi masuk dalam ponsel nya.
Arga membacanya kemudian menghembuskan nafas kasar, matanya terpejam sebentar kemudian menatap Ariana.
"Anu...maaf sayang, sepertinya kita tidak jadi ke akhir pekan bersama. Ada pekerjaan mendadak yang mengharuskan aku terbang ke laut negeri, aku harus berangkat sekarang juga". Ariana tidak menanggapi ucapan suaminya, wanita itu hanya fokus pada sarapannya kemudian meminum susu.
Arga yang melihat itu merasa jika Ariana sedang ngambek padanya. Dengan cepat memeluk sang istri.
"Sayang...lain kali kita akan menghabiskan akhir pekan bersama". Tapi tak ada respon dari Ariana. Arga tak lagi membujuk Ariana dan langsung kembali ke lantai atas untuk membawa beberapa pakaian.
Tak lama, Arga kembali turun dengan koper kecil, kecupan kecil mendarat di kening Ariana, kemudian Arga pergi begitu saja.
Ariana hanya diam saja, meletakkan kembali sarapan yang dimakan nya tadi. Menarik tisu di meja makan dan mengelap bekas ciuman Arga disana. Rasanya begitu jijik jika harus bersentuhan dengan suaminya itu.
"Sudah lama kita tidak sarapan pagi bersama lagi, sudah lama kita tidak saling menemani di akhir pekan ini". Ariana tertawa pelan. "Kamu melarang ku meminta cerai, tapi tidak menganggap ku ada lagi. Apa begini yang namanya pernikahan".
Ariana beranjak dari meja makan naik ke lantai atas, setelahnya mulai membereskan skincare nya, tak lupa beberapa dokumen penting lainnya dan dimasukkan didalam koper nya.
Saat membereskan semua itu, sebuah panggilan telepon masuk, itu adalah ibu mertuanya.
"Halo Bu Martha". Ariana langsung duduk di kursi.
"Bu Martha ? Kamu belum benar-benar bercerai dengan anakku Ariana, sekarang kamu tidak mau memanggil ku ibu ?". Kesal Martha diseberang telepon.
"Bu Martha, apa selama delapan tahun aku menikah dengan Arga, Bu Martha pernah menganggap ku menantu ? Anda selalu saja meremehkan ku, jadi untuk apa sekarang saya harus memanggil ibu". Martha melototkan matanya tak percaya mendengar ucapan menantunya.
"Bukankah perjanjian perceraian sudah ditandatangani oleh Arga ? Itu juga adalah kesepakatan kita berdua kan, jadi tidak perlu ribut masalah panggilan kan ?". Ariana berucap dengan Santai, sedangkan Martha begitu dongkol karena Ariana sudah melawan padanya.
"Hah .... Kurang ajar sekali ucapan mu Ariana, entah apa yang putraku suka pada mu". Terdengar hembusan nafas keluar dari mulut Martha. "Datang kerumah ku sekarang, aku ingin membahas kembali tentang ganti rugi setelah kalian bercerai, buat dan tulis perjanjian nya, supaya kamu tidak akan mengganggu putra ku lagi". Lanjut martha dengan senyum miring.
Ariana tertawa pelan. "Anda tidak perlu berlebihan Bu Martha, saya juga tidak akan sudi mengganggu Arga lagi. bahkan berurusan dengannya pun aku tidak mau".
"Sombong sekali kamu Ariana, datang cepat kesini, kalau aku bilang perlu yah perlu. Cepatlah!!!". Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Martha sepihak karena begitu kesal pada Ariana yang selalu melawan nya.
Ariana terdiam menatap lurus kedepan. "Baiklah aku akan datang, agar semuanya cepat beres".
***
Sedangkan Martha tersenyum penuh kemenangan karena akan tahu jika Ariana pasti akan datang.
"Ariana...aku akan tunjukkan pada perempuan tidak tahu diri seperti mu, bagaimana itu pasangan serasi dan siapa yang paling cocok berjodoh dengan putra ku". Senyum bahagia Martha.
"Kamu hanya anak yatim piatu, tidak akan setara bersanding dengan putra ku dan tidak cocok berada di keluarga Prasetyo, cihhh!!!".
Bersambung...