Di setiap pertemuan dua lawan jenis selalu menghadirkan rasa. Tak bisa dipungkiri dan seolah menjadi fakta di lapangan.
Radit dan Kania tumbuh bersama di lingkungan dua keluarga Cemara. Tak pernah berpisah, walaupun sedikit.
Suatu saat Radit dipindahkan keluar kota untuk jenjang karir, sedangkan di kantor lama Rangga datang sebagai partner kerja baru Kania. Dua lelaki yang memiliki sifat berbeda.
Di kantor baru pun Radit bertemu wanita cantik yang berada di divisi berbeda. Terlibat banyak interaksi.
Tak disangka Radit dan Rangga melamar Kania di waktu bersamaan. Hal di luar pikiran gadis berhijab yang memiliki senyum semanis gulali tersebut.
Lantas, siapakah yang akan dipilih Kania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Rangga
"Terima kasih bantuannya," kata Kania saat turun dari mobil Rangga.
Hujan reda. Untung saja. Namun, Kania tidak sempat berbelanja kebutuhan seperti keinginan sang Bunda.
"Sama-sama," jawab Rangga.
Dalam balutan gamis berwarna hijau, Kania tampak lebih anggun dari biasanya.
"Kalau gitu, aku pamit. Assalamualaikum," pamit Rangga.
Kania mengangguk pelan. "Ya. Hati-hati di jalan. Wa'alaikum salam."
Rangga segera pergi dengan mobil tersebut ditemani tatapan Kania yang masih memandangi sampai kendaraan tersebut menghilang dari pandangan.
Kania berbalik badan. Masuk gerbang dan bergerak ke pintu utama. "Assalamualaikum." Kedua kakinya melangkah ke dalam. Mendapati sosok Bunda yang berdiri dan memeluk Kania.
"Wa'alaikum salam." Pelukan sang Bunda erat sekali. "Alhamdulillah, kamu udah pulang, Sayang. Bunda cemas banget."
Pelukan itu hangat. Kania membalas pelukan.
"Kamu itu takut hujan sama angin. Bunda, cemas dari tadi. Biasanya nggak terlalu karena kamu pulang sama Radit. Ada yang jagain," sambung Bu Lala. Wajahnya tidak berbohong tengah gelisah.
Bagi Kania itu sebuah tanda bukti cinta seorang Ibu pada anaknya. Harta yang tak ternilai bahkan tidak akan ada duanya.
"Bunda, lupa, ya, kalau penjagaan Allah itu lebih dahsyat dari manusia," imbuh Kania.
Bu Lala melepaskan pelukan. "Astagfirullah, maaf, Nak. Bunda saking cemasnya."
Kania tak masalah. Itu hal wajar. "Terima kasih, ya, Bun, selalu bikin aku ngerasa tumbuh baik karena penuh cinta."
Bu Lala kembali memeluk sang Anak. "Cinta Ibu itu sepanjang masa. Mau kamu besar atau tua, kamu tetap anak kecil yang butuh cinta."
Kania memahami artinya syukur itu tidak harus tentang materi karena dengan memiliki keluarga bahagia pun itu perlu disyukuri.
Bu Lala mulai menyadari. Melepaskan pelukan dan menatap anaknya.
"Kenapa, Bun?" tanya Kania heran.
"Kamu beli pakaian baru, Nak? Itu artinya kamu kehujanan," tanya Bu Lala.
"Ah, ini, ya." Kania mengamati pakaiannya. "Ini dikasih teman sekantor, Bun."
Bu Lala diam. "Siapa, Nak?"
Kania bergeming. Ragu.
"Perempuan?" Bu Lala penasaran.
Belum sempat Kania menjawab, suara Adit menggelegar dari arah dapur. "Bunda, ini tempenya dibalik atau nggak?"
Bu Lala tersentak. "Astagfirullah, Bunda sampai lupa." Menepuk kening. "Kamu sebaiknya mandi air hangat biar nggak demam. Bunda, ke dapur dulu lanjutin masak."
Bu Lala bergegas menemui Adit yang diminta menjaga kompor. "Dibalik, Nak!" suaranya ikut bergema.
Kania berdiri di tempat. Melihat lagi ke gamis hijau yang memiliki cerita tersendiri. "Gamisnya memang cantik." Pilihan warna yang ditentukan Rangga tidak salah. Kain yang dipakai gamis ini pun nyaman dan tidak menerawang. Kualitasnya jelas sudah tak diragukan lagi.
"Dia punya banyak skil, tapi sama sekali nggak sombong. Kalau orang lain, mungkin nggak bakal mau kerja merangkak dari bawah dulu," gumam Kania.
Beberapa detik memikirkan Rangga, perempuan manis itu bergegas ke lantai atas untuk pergi ke kamar. Membersihkan diri sambil menunggu waktu salat Magrib datang.
Ketika sedang menikmati aliran air dari shower. Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Radit diterima.
From Radit
Assalamualaikum. Na, aku minggu ini aku bisa pulang. Kita makan bareng sama keluarga, ya.
Pesan itu dibaca Kania setelah keluar dari kamar mandi. Tidak biasanya. Ia bahkan bergeming cukup lama. "Biasanya dia jarang ngajak makan keluarga barengan. Ada apa?"
Alih-alih terus memikirkan hal yang belum ia ketahui penyebabnya. Kania memilih menikmati waktu sekarang. Membalas pesan Radit secepat mungkin.
To Radit.
Wa'alaikum salam. Benaran? Wah, senang banget bisa jahilin kamu lagi.
Pesan balasan terkirim secepat kilat. Rasanya masih belum percaya jika saat ini ada jarak yang memisahkan antara Kania dan Rangga.
"Astagfirullah, aku nggak boleh mikirin dia terus. Ingat kata Ayah, kalau lelaki sejati itu pasti langsung datang ke rumah kalau serius." Kania tengkurep di ranjang dengan menyembunyikan wajah.
Rasa ini terus tumbuh tanpa sepengetahuan Kania. Padahal benihnya tidak terlalu banyak. Akan tetapi, berkat kesabaran Kania merawat. Pohon cinta itu kian lama kian tinggi dan sulit ditebang.
"Aku nggak bisa bohongi perasaan, tapi nggak baik juga berharap. Apalagi mencintai manusia lebih dari Allah. Astagfirullah," imbuh Kania terasa berada di titik paling pasrah dalam hidup.
***
Rangga sampai di rumah dan memarkirkan mobil di garasi. Setelah melewati banyak proses pengecekan. Akhirnya mobil kesayangan itu bisa kembali pulang dijemput sopir rumah.
Lelaki tersebut keluar mobil dan masuk rumah sambil berkata, "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Bukan orang tua yang menyambutnya. Akan tetapi, seorang asisten rumah tangga yang sudah berumur. "Den Rangga sudah pulang?" tanyanya dengan senyuman paling manis.
Rangga masuk. Tersenyum lebar layaknya seorang anak pada ibu kandungnya sendiri. "Alhamdulillah, sudah, Mbok."
Mbok Ijah namanya. Wanita yang masih tampak cantik di mata Rangga, sekali pun usianya sudah tidak muda lagi.
"Mbok khawatir banget, Den. Takutnya Den Rangga kenapa-napa di jalan. Hujannya lebat banget." Kecemasan itu terlihat nyata di wajah Mbok Ijah. "Mbok udah siapin makan malam. Den Rangga mandi sama salat dulu aja, ya."
Bagi Rangga wanita inilah sang Ibu. Sebab, kasih sayangnya melebihi dengan orang tua kandung. "Makasih, ya, Mbok. Kalau gitu aku ke atas dulu."
Seulas senyum diberikan pada Rangga. "Ya sudah, Mbok juga mau bersihkan dapur dulu, Den."
Rangga mengangguk cepat. Bergerak melewati Mbok Ijah dan masuk ke ruang tamu dan menemukan sosok Ayah yang dihormati banyak orang di kantor.
"Kamu baru pulang?" tanya Pak Gani.
Rangga berhenti. Tanpa menoleh sedikit pun langsung menjawab. "Ya."
Pak Gani menatap Rangga. "Kamu sebaiknya bekerja dengan baik kalau mau mewarisi perusahaan."
Rangga menghela napas lelah. "Tidak perlu, Yah. Aku sudah puas dengan jabatanku sekarang."
"Benarkah?" Pak Dani berdiri. Bergerak dua langkah ke depan. Berdiri di samping kanan anaknya. "Jangan seperti itu. Bersikap manis cuma membuat suasana terlihat mengerikan."
Tangan kanan Rangga mengepal di bawah. Mengasuh amarah agar tidak keluar tanpa izin.
"Kamu sama seperti ibumu. Bersikap manis, tapi nyatanya menghancurkan," lanjut Pak Gani. Menyunggingkan senyuman kecil.
"Tapi, kalau tidak mirip. Tentu bukan anaknya," sindir Pak Gani.
Rasa lelah mendera. Tak dipungkiri berada di keramaian memang menguras tenaga dan mental. Ia perlu menyesuaikan diri dengan suasana baru sebaik mungkin. Tidak perlu seberapa susahnya Rangga, nyatanya semesta hanya akan terus berputar sesuai arah dan roda.
"Aku capek, Yah. Sebaiknya kita teruskan nanti percakapan ini. Anak Ayah yang kurang bermanfaat ini pamit istirahat," imbuh Rangga memberi penekanan pada kalimatnya.
Pak Gani membiarkan Rangga pergi kali ini. Wajah putranya kelelahan. Ia pun tidak sesadis itu sebagai Ayah. "Kamu tetap anak kurang bermanfaat di keluarga ini. Tidak ada mirip sama sekali dengan dia."
Kesannya jadi maksain 🤔🤔🙏🏻🙏🏻
Kayaknya kurang nyambung juga sama judulnya
#dualelaki
Radit endingnya gimana?
Setelah 10 tahun masih betah sendiri juga? 🤔🤔
Btw.. thx kakaa.. tetap semangattt ✊🏻☺
berkurang deh amunisi tiap hari nya 🤭
#dualelaki
Minta cerai biar suami bisa Punya anak..atau bayi tabung..
terkadang dalam hidup adakalanya tdk sesuai dg keinginan,
keren banget ini pasutri Rangga dan Kania,,meskipun bikin sedih endingnya dan berharap mereka bisa dapat keturunan 1 saja mungkin,,tp bagi mereka life must go on,
dan ini real, ada di teman aq, jg seperti ini, akhirnya dia membuka TPQ dan rumah tahfidz anak2 sebagai hiburan mereka baarokallahu lahum
boleh minta extra part/ bonchap kakaaaakkk
#Dualelaki
#dualelaki
ayo Kania bismillah pasrahkan semua pada Allah, yakinkan hati bahwa smua atas kehendakNya, agar jika ada sesuatu yg tdk sesuai dg harapan, bisa lebih bersabar dan ikhlas dalam menghadapinya, dan tetap bersyukur, in syaaAllah akan lebih ringan untuk dijalani.
#Dualelaki
#dualelaki
baru juga setahun Rangga..so nikmatilah proses pacaran setelah halal saja dulu..
punya anak meskipun menyenangkan tp tdk mudah loh...
so sambil menunggu lebih baik belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk anak2mu kelak. dan aku yakin kesalahan pak Ghani tdk akan terulang olehmu..
semangat ngadon Rangga, nyicil bikin 👃 atau 👂 dulu mungkin wkwkwkwkwk
#Dualelaki