Sebuah Legenda zaman dahulu tentang Planet Sfaunt, peradaban kuno tentang sihir dan kesatria yang mulai lambat-laun menghilang dari pelataran planet ini.
Zaman berkembang menjadi lebih modern, semua hal tentang masa lalu kini tinggal sejarah atau bahkan tahayul belaka.
Raa seorang anak SMA tanpa sengaja memasuki sebuah dunia asing bagi dirinya, tempat semua peradaban lahir.
Sebuah petualangan mencari maksud kehadiran dia ke masa lalu yang dimulai dengan mencari tanah nenek moyang dan mengalahkan Ancient Dragon, Antaboga.
Update Senin - Jumat ygy, jam nya tidak nentu yang penting ada update di hari itu. Sabtu Minggu libur soalnya saya juga manusia butuh isi bensin, tapi kalau gabut kemungkinan update muehehe ;)
Harapannya bisa up 3 bab dalam sehari, kalau mood bisa lebih, terima kasih jangan lupa like, komen, dan follow akun author yah;)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganghae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Janji
Beberapa jam kemudian, Gasald terbangun dari pingsannya.
Gasald sedikit linglung karena tiba-tiba berada di atas ranjang.
Tempat ini terasa tidak asing bagi dirinya, penuh obat-obatan dan alat penyembuhan. Tidak lain adalah kamar Hepthaliosis.
"Cih! Bisa-bisanya aku lengah." Gasald memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.
Seseorang membuka pintu kamar, terdengar decitannya mengganggu Gasald.
"Ternyata kau sudah bangun," ujarnya.
Pria itu menatap lemas ke sumber suara, "Rupanya kau yang telah menyelamatkanku, Pak Tua."
Ucapannya merujuk kepada Hepthaliosis Healda, Menteri Kesehatan sekaligus seorang Tabib.
"Bisa dibilang setengah benar dan setengah kurang tepat," ucapnya mengusap janggut.
"Bisakah sekali saja kau katakan dengan jelas, aku tidak mengerti!" kesal Gasald.
"Kau ini tempramen sekali, banyak-banyak sabar." Perkataannya terdengar menyebalkan di telinga Gasald.
"Ini kakek-kakek peot bikin kesal, baru bangun pingsan ini!" umpatnya dalam hati.
"Lalu, bagaimana dengan mereka berdua? Sepertinya mereka berdua belum sadarkan diri." Menoleh ke arah Teraka dan algojo.
"Bisa dibilang setengah benar dan setengah kurang tepat," katanya diucap lagi.
"Demi nama dewa!"
"Pletuk!"
Gasald meminum air obat disampingnya dengan cepat dan melempar gelas kosong ke kepala Hepthaliosis, hingga kepalanya benjol.
"BICARA YANG JELAS, PAK TUA!"
Mental Hepthaliosis jadi menciut.
"Maafin." Suaranya lemas terpatah-patah.
Gasald menghela napas.
"Soal orang yang menyelamatkan dan membawa kalian kesini adalah Pisces," ucapnya menahan rasa sakit dari benjolnya.
Ekspresi Gasald seketika sebal setelah tahu bahwa Pisces yang sering-sering ia ikrarkan sebagai rivalnya itu.
"Ngomong-ngomong, kalau Teraka dia memang belum sadarkan diri. Namun, si algojo ini dia sempat bangun dan sepertinya karena dia kaget melihat aku dia malah tidur lagi," lanjut Hepthaliosis.
Mendengar hal itu, Gasald melirik dengan mulut menganga dan wajah pucat.
"Ngoroknya keras, kenapa aku gak nyadar?! Jangan bilang daya tahan tubuhnya lebih bagus dariku," batinnya tergagap.
"Sekedar informasi aja, Teraka akan sadar sebentar lagi harusnya. Racun yang menyerang tubuh kalian sangat berbahaya, pertama kalinya aku melihat racun itu. Sebenarnya Pisces menghilangkan racun kalian, sedangkan aku hanya membantu sedikit penyembuhan." Hepthaliosis menatap mereka bertiga.
Bagi Gasald, itu hal yang biasa mengingat seberapa kuatnya Pisces.
Tubuhnya memang kebal terhadap racun, bahkan bisa dibilang dia seakan memiliki penetral alami.
Pagi dini hari ketika matahari belum muncul, secara mendadak para petinggi berkumpul di aula untuk menyampaikan laporan mereka.
Kondisi Gasald dan Teraka sudah mulai membaik.
Pertemuan itu dimulai dengan ucapan terima kasih kepada Pisces yang telah menyelamatkan mereka bertiga, walaupun wajah Gasald sedikit geram.
"Kalau begitu langsung saja, setelah terjadi keributan di ruang interogasi aku ingin mendengarkan lebih jelas tentang gerakan ini. Apa tujuan mereka?" tanya Dewi Aphrodite, semuanya penasaran.
Tentunya yang akan menjawab semua ini adalah Pisces, "Baik, Yang Mulia! Tujuan mereka melakukan hal ini hanyalah sebuah keisengan saja."
Semua orang di aula melongo.
"Pelaku kejahatan ini didalangi oleh seorang siluman kejam bernama Constantine. Tidak, lebih tepatnya dia adalah DemiGhost," lanjutnya.
"Tidak mungkin!" teriak Sistin.
Semua orang terkejut dengan informasi yang disampaikan, tak terkecuali Dewi Aphrodite.
"Jadi pelakunya manusia hina rupanya, cih!" Pasukan disana berbisik-bisik menggosipkan DemiGhost.
DemiGhost adalah ras yang dipandang hina oleh masyarakat dikarenakan mereka itu manusia yang menjalin hubungan darah atau dirasuki oleh siluman.
Untuk mengendalikan situasi, Dewi Aphrodite meminta diam kepada seluruh pasukan dan menyuruh Pisces melanjutkan laporannya.
"Alasan aku tidak menangkapnya karena aku tahu dia adalah DemiGhost licik, bahkan yang aku temui kemarin malam hanyalah tubuh boneka yang ia buat sebagai perangkap. Ia sengaja melarikan diri, agar saat dia dibawa ke istana dia bisa mengacau disini. Terbukti dengan para tawanan yang kita tangkap kemarin, mereka hanyalah tubuh orang-orang dari desa perbatasan yang sudah mati dan diberikan jiwa-jiwa siluman agar bisa menjadi bonekanya. Tidak hanya dirasuki satu atau dua siluman saja, tapi Constantine dirasuki ribuan siluman yang membuat dirinya bisa dikatakan raja dari para siluman."
Para pasukan tertegun mendengar hal tersebut, mereka tak mempercayai dengan hal yang telah mereka dengar.
Para petinggi semakin khawatir, begitu juga Dewi Aphrodite yang risau terhadap keselamatan rakyatnya.
Untuk mengambil langkah tegas, Dewi Aphrodite mengetatkan keamanan kota dan membagikan informasi ini terhadap daerah sekutunya, seperti Dresgreesa dan Euristhasiast.
***
Angin sepoi-sepoi berhembus halus diantara langit cerah kota Balbe. Pagi ini matahari yang hangat menyinari seisi penjuru wilayah ini.
Kondisi ini adalah waktu yang baik bagi para kesatria-kesatria kerajaan Ogela berlatih sebagai seorang pasukan.
Para pengguna elemental juga melatih sihir mereka yang menakjubkan untuk melakukan peningkatan kekuatan baik pasukan kerajaan ataupun para rakyat.
Walaupun diantara mereka lebih banyak yang memanfaatkan kekuatannya itu untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti mencuci, menjemur, memasak, membangun pondasi atau bangunan kokoh, dan lain sebagainya.
"Burning Blow!" ucap seorang wanita--Veoz--sedang berlatih elemen apinya.
Apinya bergemuruh membakar target yang ia tuju.
Sebagai seorang pemburu siluman, Veoz harus terus banyak berlatih untuk meningkatkan kemampuannya.
Siluman yang baru saja dijumpai di kota Dresgreesa hanyalah sebagian kecil dari monster-monster yang menyebar di seluruh penjuru negeri.
Veoz menghela napas, "Kekuatanku masih belum cukup untuk saat ini, aku harus terus berlatih." Suaranya terengah-engah.
"HUAAAAA!?" teriak seseorang, membuat Veoz terhenti dari latihannya dan berpaling ke arah sumber suara itu.
Seorang pria yang penuh semangatnya berlari kencang, menimbulkan jejak debu dari hentakan kakinya.
"YOSHH! AKHIRNYA AKU SAMPAI, SAATNYA LATIHAN PUSH UP!" Teriakan semangatnya membuat Veoz tertawa kecil.
"Aku tidak akan kalah darimu, Raa!" ucapnya seakan senang memiliki seorang teman seperjuangan.
"Baiklah!" Veoz mengambil napas dalam-dalam sambil menutup mata, terdengar pula suara Raa yang menghitung jumlah gerakan.
Matanya terbuka, "Burning Blow!"
Mulutnya menghempaskan semburan yang menimbulkan api yang lebih besar dari sebelumnya, menelan sebuah batu keras di depannya.
Saking panasnya, batu itu mengeluarkan uap panas dan masih ada sedikit warna merah terbakar.
"WOAHHH! KEREN SEKALI VEOZ!" teriak Raa terhenti dari latihannya, matanya berkaca-kaca.
"Huh, itu bukan hal yang sulit bagiku. Aku masih belum serius, dasar cebol!" ucapnya angkuh menyeringai.
"Hah? Siap yang kau panggil cebol?" Raa tak terima.
"Ya siapa lagi selain kau, dasar cebol!" ejeknya.
"Apa!? Dengar yah aku ini tidak cebol!" omel Raa, Veoz mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum. "T-tapi dia emang lebih tinggi dariku, sih!" gumamnya dalam hati.
"Ya-ya walaupun kau sedikit lebih tinggi dariku beberapa inci bukan berarti kau seenaknya memanggilku cebol yah!" Raa merajuk.
"Hahaha, tapi kau tetap lebih pendek dariku kan?" balasnya.
"Apa?!"
Veoz tertawa puas. Wanita itu pergi sambil melambaikan tangannya, "Sudahlah aku mau lanjut latihan, dah cebol!"
Muka Raa sebal, "Sialan! Baiklah, aku juga akan latihan dan lihatlah aku yang lebih kuat dari kau!"
Veoz menahan tawa kecilnya, "Kau itu lucu sekali, sama seperti dia."
Sedikit nostalgia terhadap ingatan masa lalunya yang muncul.
"Suatu saat nanti aku akan menjadi pemburu iblis yang terkuat dan tentunya bakalan terkenal dikalangan semua wanita. Hahaha!" Sebuah sumpah terucap dari seorang pria--kakaknya Veoz--yang berdiri dengan penuh gaya.
"Kau ini berisik sekali, kita ini sedang makan!" Muka Veoz masam sambil memegang mangkuk makanannya.
"Hahahaha, kau selalu saja semangat yah," ucap seorang pria yang merupakan ayah Veoz.
Tawa kakaknya Veoz itu semakin keras. "Tentu saja ayah dan ingatlah ini ..." menunjuk ke arah ayahnya, "aku pasti akan melampaui Ayah!"
"Ayah pasti akan menunggu hal itu," ucap ayah bangga.
"Tetapi aku pasti akan lebih terkenal daripada ayah dikalangan para wanita!" ucapnya angkuh.
Ayah menarik leher kakak Veoz dengan lengannya sambil menggesek kepalan tangan ke kepala lelaki itu, "Kalau yang itu beda lagi, kau tidak akan bisa lebih terkenal dariku."
"Atatatata, sakit! Lihat, Bu! Ayah orangnya genit." Ia mengadu pada ibu.
"Sudahlah, sudah ih, kalian berdua kerjaannya bertengkar mulu! Capek ibu mendengarnya, lebih baik lanjut aja dulu makannya." Ibunya Veoz menghentikan ocehan mereka.
Veoz menelan makanannya, "Dasar kakak ini, ribut mulu kerjaannya. Lagian kalau soal kekuatan, aku lebih kuat dari kakak, itu karena kakak terlalu ceroboh."
Kakaknya terkena mental dengan kata-kata Veoz yang terlalu menusuk dirinya.
"Bodoh dan juga tinggi kakak lebih pendek dariku, dasar cebol!" ejek Veoz tanpa dosa.
Dirinya semakin tertusuk-tusuk dengan ucapan Veoz.
Pria itu menyeringai, "Meski kau ini adalah adikku yang galak, aku tidak akan pernah kalah darimu!"
Semua orang tersenyum termasuk Veoz.
"Iya deh, hahaha."
Bayangan itu memudar, kembali ke kenyataan menyedihkan yang menunjukkan kebenaran bahwa kakaknya telah tiada.
"Kakak! Aku tau bukan aku yang mengalahkan Arachne, tapi setidaknya aku membantu membalaskan dendam kakak." Veoz menangis terharu, air matanya terus menetes diwajahnya.
Tapi satu sisi, ia pun terisak-isak akan kepergian tak terelakan dari kakaknya yang selalu melindungi Veoz.
"Aku berjanji kakak, aku akan menjadi semakin kuat dan terus kuat!"
Sinopsisnya agak bosenin, tapi pas baca bab pertama ternyata lumayan seru. Semangat thor, aku dukung karyamu 😁