Zea Aqilla, gadis tomboi yang sangat mencintai dunia kepanduan, dan pecinta Alam. Meski tomboi, Zea tipikal gadis yang perasa, tetapi dia bukan tipe gadis yang mudah jatuh cinta. Namun, siapa sangka, jika ternyata hatinya selalu merasakan getaran aneh ketika menatap wajah tampan seorang kakak pembina bernama Syamil. Dan merekapun harus berpisah karena suatu keadaan.
Saat Zea mulai benar-benar merasakan getaran cinta itu, justru Zea harus merasakan perpisahan dengan sang kakak pembina untuk kedua kalinya. Begitupun dengan Syamil yang baru menyadari, bahwa dirinya memang memiliki rasa yang sama dengan gadis itu, tetapi Syamil berusaha untuk menggapai mimpinya terlebih dahulu. Akankah mereka dipertemukan pada suatu saat nanti? Dan, apakah mereka tetap bertahan dengan perasaan mereka? Ikuti kisah cinta Zea dan Syamil di Survival Hati, karya Dede Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Siang
Sesampainya dirumah, Azzam menyuruh Zea untuk segera membersihkan diri. Seperti janjinya kepada Ayyub, Azzam langsung video call adiknya setelah Zea menyelesaikan urusannya.
🎥 Ayyub
"Halo assalamualaikum." salam Azzam saat video call sudah tersambung. Ternyata yang ada di depan layar, bukanlah si empunya ponsel, melainkan wanita paruh baya dengan kerut-kerut di wajahnya, yang tak lain adalah bundanya sendiri.
"Wa'alaikumussalam. Yaa Allah Bang, kamu ini lama sekali, bunda sudah menunggu sejak tadi subuh, bunda mau telpon, tapi ga boleh sama adekmu. Katanya nanti mengganggu kalian. Mana adekmu? Bunda mau lihat." beruntun bu Gina berbicara di layar ponsel.
"Ya bunda, maaf. Tadi kami sarapan dan bersih-bersih diri dulu, biar lebih seger." kata Azzam.
"Udah, cepetan, mana adekmu?" tanya bu Gina tak sabar.
"Iya, iya mah. Sabar." kata Azzam yang langsung menyerahkan ponselnya kepada Zea.
"Bunda..." kata Zea dengan tersenyum.
"Alhamdulillah, anakku, sayangku. gimana keadaanmu sayang, bunda khawatir banget pas abangmu bilang kamu terluka. Semaleman bunda ga bisa tidur, bunda kepikiran kamu terus, ternyata bener kan dugaan bunda, kamu kenapa-napa." kata bu Gina dengan perasaan sedih, dan cemas.
"Alhamdulillah bunda, Zea baik. Zea gapapa, cuma luka kecil, ini tadi di obatin dokter, udah langsung enakan." kata Zea dengan ceria seolah dia baik-baik saja.
"Dasar bandel ya kamu ini, dibilangin jangan bikin ulah, malah masih aja suka bikin ulah. Bikin khawatir aja kamu ini!" omel bunda Gina.
"Hehehe, ya kan semua anak itu ga sama bunda. Kalau bang Azzam itu pinter dan aktif, terus bang Ayyub itu pendiam, kalem, penurut dan pinter juga. Ya, jangan salahkan Zea yang harus beda sendiri bun. Karena kalau Zea ikutan kaya bang Azzam dan bang Ayyub, nanti kurang seru bun, cerita keluarga bunda, hehehe." kata Zea.
"Kamu ini, memang cerdas berargumen dek. Ya sudah, terserah kamu aja lah. Bunda jadi nyesel, kenapa dulu bunda ngijinin kamu ikut latihan ilmu bela diri." keluh bu Gina.
"Lhoh kenapa bun?" tanya Zea heran.
"Abisnya kamu itu ngeyel. Dibilangin jangan buat berantem, malah buat berantem, sampe tangannya terluka begitu." omel bu Gina.
"Hahaha, ya Allah bun. Justru kalau bunda ga ngijinin Zea latihan beladiri, nanti yang ada Zea cuma tinggal jasadnya aja bun." kata Zea bercanda.
"Hush, ngawur kamu nih, kalau ngomong jangan asal Ze. Hati-hati!" tegur bu Gina.
"Ya abis, bunda pake bilang nyesel segala sih." kata Zea.
Saat sedang asyik berbincang, tampak pak Bilal di layar ponsel Azzam sedang berjalan mengancingkan baju dinesnya.
"Ayah..." pekik Zea.
"Dek...kamu sudah baikan?" tanya pak Billa yang langsung duduk di dekat bu Gina.
"Alhamdulillah yah, Zea gapapa kok Yah. Biasalah, pahlawan kan emang begini." kata Zea sok kuat.
"Jangan sok kamu, inget, ilmu beladirimu itu tidak untuk sombong dan pamer. Itu untuk menjaga dirimu dari mara bahaya, ketika kamu berada dalam kondisi darurat." pesan pak Bilal.
"Siap ayah!" jawab Zea dengan hormat.
Pak Bilal tertawa melihat sikap putrinya. Zea pun bercerita tentang pak Heru, yang menanyakan pak Bilal, dan ternyata ayahnya memang mengenal sosok pak Heru, obrolanpun akhirnya berhenti ketika pak Bilal melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, dia harus segera berangkat ke sekolahan untuk mengajar. Zea melihat keromantisan ayah dan bundanya yang berpisah untuk bekerja. Lalu, ponsel Ayyub kembali ke tangan bu Gina.
"Bang ayyub mana bun?" tanya Zea.
"Mandi, katanya nanti dia mau ada rapat di kantor Kemenag, jadi ya agak siang dia berangkat nya." kata bu Gina.
"Oh..."
Zea dan bundanya pun langsung saling bercerita dengan santai nya.
"Mau sampe kapan ceritanya? Abang mau berangkat ke sekolah ini." kata Azzam yang ternyata sudah rapi dengan seragam mengajar nya.
"Lhoh, bang Azzam masuk?" tanya Zea.
"Iya lah. Masih banyak pekerjaan di sekolahan yang harus abang kerjakan." kata Azzam.
"Oh, ya udah. Bunda, maaf ya. Bang Azzam mau berangkat sekolah, Hapenya mau dibawa bang Azzam." kata Zea.
"Ya udah, yang penting kamu baik-baik aja." kata bu Gina.
Video Call pun selesai, Zea menyerahkan ponsel Azzam.
"Abang berangkat dulu ya." kata Azzam.
"Ya bang." jawab Zea.
Azzampun berangkat ke sekolahan, Zea beristirahat di rumah, sambil menonton televisi. Hingga tak terasa, diapun tertidur.
Tok tok tok
Suara Ketukan pintu berhasil membangunkan Zea dari tidurnya. Zea mengerjap, dan mengucek matanya.
"Assalamualaikum." salam suara dari luar.
"Ya, wa'alaikumussalam. Sebentar." kata Zea sambil berdiri lalu dia ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci mukanya. Lalu, dia bersihkan dengan handuk, barulah dia membuka pintu utama.
Ceklek
Pria itu langsung menoleh ke pintu, saat mendengar pintu dibuka.
"Kak Syamil?" tanya Zea dengan wajah terkejut.
"Iya. Apa kabar?" tanya Syamil tersenyum ramah.
"Alhamdulillah, baik kak."
"Lagi istirahat ya?" tanya Syamil.
"Ya, begitulah. Hehe, kok tau?"
"Soalnya tadi ngetuk pintu berkali-kali, ga ada sahutan, barulah ketukan terakhir, ada jawaban." kata Syamil.
"Ya ampun, jadi kak Syamil udah dari tadi?" tanya Zea kaget.
"Engga juga. Oh ya, pak Azzam ga ada ya? tanya Syamil.
"Maaf ya kak, Zea ketiduran. Ehm... silakan duduk dulu kak." kata Zea mempersilakan Syamil duduk di kursi tamu yang ada diteras.
"Oya, makasih." jawab Syamil sambil duduk, diikuti Zea yang duduk di sebelah kiri meja.
"Bang Azzam udah berangkat sekolah dari pagi tadi, ada banyak kerjaan katanya." jawab Zea.
"Ehm, kak Syamil ga capek? Kok jam segini udah sampe sini lagi?" tanya Zea.
"Ehm... engga. Ya, tadi udah istirahat sebentar." jawab Syamil.
"Oh..."
"Oya, saya ke sini tu di minta mama untuk anterin makan siang buat kamu Zea." kata Syamil meletakkan rantang berisi nasi dan sayur untuk Zea.
"Ya ampun, kenapa repot-repot sih kak?" tanya Zea sungkan.
"Engga repot kok. Saya malah seneng, bisa ketemu kamu lagi." kata Syamil sambil sekilas memandang Zea.
"Ha?" Zea terkejut dengan jawab Syamil. 'Apa maksudnya coba?' batin Zea.
"Eh, engga. Engga repot. Kata mama, kamu kan suka tuh sama sayur daun singkong, makannya itu mama masak banyak, buat dibagi sama kamu. Katanya biar kamu cepat sembuh." kata Syamil.
"Oh, gitu? Ya nanti salamin buat tante ya kak. bilang makasih gitu. Alhamdulillah... Zea ga jadi masak hehehe."
"Emang Zea bisa masak?" tanya Syamil.
"Hehehe, engga. Cuma ceplok telor doang." jawab Zea santai.
"Hahaha, ya gapapa. Yang penting bisa." kata Syamil.
"Ehm, ya udah Ze, saya pamit dulu, keburu dicariin mama." kata Syamil.
"Kak Syamil nyetir sendiri?" tanya Zea.
"Iya, nyetir mobil aja. Pake tangan kiri bisa." kata Syamil.
"Oh, gitu?"
"Ya sudah, saya pamit ya, nitip salam buat pak Azzam ya. assalamualaikum." kata Syamil.
"Ya kak. Wa'alaikumussalam."
Syamil hendak melangkah pergi, tetapi dia kembali berbalik badan Dan menoleh ke arah Zea.
"Ehm, Zea."
"Ya?"
Syamil melangkah kembali ke arah Zea, sedangkan hati Zea sedang melompat bagai di trampolin, melonjak-lonjak tak menentu.
"Kenapa kak Syamil kembali? Ada apa? Kenapa gerak geriknya aneh? Jangan-jangan kak Syamil...." duga Zea.
💕💕💕
Hayo, siapa yang penasaran? Kira-kira kenapa Syamil kembali ya?