Indonesia
NovelToon NovelToon
Koma

Koma

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Dosen / One Night Stand / Single Mom / Hamil di luar nikah / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: tenguyakuza

Fay kembali dari study S3 nya di Swiss mencoba mencari kabar kekasihnya yang mendadak hilang kontak selama dia berada si negeri orang. Tanpa sengaja ia justru bertemu dengan Karin, kekasihnya itu, di sebuah Rumah Sakit ketika Karin mengalami kecelakaan dan harus mengalami koma. Fay justru mendapat pukulan dari Ayah Karin pada pertemuan pertama mereka tanpa tahu sebabnya. Fay mencoba menelusuri penyebab Karin menghilang tanpa kabar.
Flashback ke beberapa tahun sebelumnya. Karin ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya namun hatinya sudah terlanjur terpaut pada dosen idolanya, Fay. Diam-diam mereka menjalin cinta hingga suatu hari bara asmara membuat mereka terlena. Fay mendapat tugas untuk study S3. Mereka berdua terpaksa menjalani hubungan jarak jauh yang membuat komunikasi mereka perlahan berantakan.
Tiba-tiba saja Karin menghilang tanpa jejak. Hingga dipertemukan kembali dalam keadaan Koma.
Akankah Fay menemukan jawaban misteri cintanya dan kembali bersama Karin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tenguyakuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Romantis

"Ngapain kamu jongkok-jongkok disitu?" 

"Eh, kakak." perlahan Karin berdiri

"Kakak tanya ngapain kamu disitu? Sama siapa di sini?Hah?"

"Em,, itu tadi aku nyari anting-antingku jatuh.."

"Anting-antingmu jatuh? Itu ditelinga masih nggantung apa?"

"Ooo,, iya.. Hehe."

"sama siapa di sini?"

"Hmh, apaan sih kak interogasi segala. Aku di sini sama temen, cuma temen-temen aku udah pada pulang tinggal aku sendiri juga mau pulang. Awas ah aku mau pulang." Karin menggerutu dan mendesak tubuh Ghalin yang menghalanginya.

Langkahnya kesal keluar dari restaurant, diikuti oleh sang kakak. Ghalin mencekal lengan Karin saat sampai di parkiran. Mereka berdua saling berhadapan dengan wajah kesal.

"Hey, kenapa marah? Kakak cuma tanya kamu ngapain sama siapa?"

"Kak, please stop kasih aku mata-mata deh. Aku nggak suka ada penguntit. Aku udah dewasa yah, nggak perlu lagi tuh mata-mata suruhan kakak buntutin semua langkahku. Buat apa sih?"

"Kamu lupa kejadian di Bandung kemarin. Kakak cuma nggak mau anak buah Kuncoro itu gangguin kamu lagi apalagi sampai membahayakan kamu."

"Siapa Kuncoro?"

"Kuncoro ternyata Rival ayah, kemarin ayah sempat cerita rivalnya tak terima kalau ayah menang tender dan dia sempat mengancam akan mengganggu keluarga kita. Apalagi ayah kan akan mencalonkan diri sebagai wali kota tahun ini, ah kamu nggak akan ngerti persaingan politik dan bisnis."

"Itulah politik dan bisnis, banyak persaingan jahat yang akhirnya merugikan kita."

"Sssst,, kamu nggak tahu soal itu semua. Semua sudah ayah tangani, tugasku cuma memastikan kamu selalu aman. Titik!"

"Tapi aku nggak mau. Kakak tarik itu orang atau aku nggak mau..."

"Atau apa? Nggak mau apa?"

Karin berpikir untuk melanjutkan ancamannya tapi pikirannya tak ada ide untuk barter dengan keinginan hatinya.

"Pokoknya aku nggak mau dibuntutin kaaak. Pleasee!!!"

"Oke kalo kamu nggak mau dimata-matai dia akan kakak jadikan bodyguard aja sekalian biar terang-terangan jagain kamunya."

"High, ngeselin!!!" mata Karin mulai berkaca 

"Jangan nangis dong! Atau mau aku panggilkan Bastian buat jaga kamu di sini?" Ghalin memeluk tubuh adiknya yang mulai merengek

"Apaan lagi sih bawa-bawa Bastian. Nggak mau ah."

"Ya udah terima aja orang suruhan itu ngawasin kamu. Kakak janji akan bicara sama dia untuk nggak terlalu mencurigakan."

"Bukan masalah itu, masalahnya kalau aku mau pergi-pergi begini kan pasti diawasin juga sama dia."

"Ya memang kenapa? Kamu juga cuma pergi sama temen-temen kan? Justru kebetulan dia bisa jagain kalian dari jauh kalau ada orang yang gak baik. Ataauuuuu........ jangan-jangan kamu diam-diam punya cowok di sini?" Ghalin menyipitkan matanya menaruh curiga dan menggerakkan kepalanya melihat ke kanan lalu ke kiri mencari tahu siapa sebenarnya yang bersama adiknya ini.

"Enggak, udah ah. Terserah kakak aku mau pulang!!" Karin berjalan menjauh dari kakaknya

"He.. hey.. pulang sama siapa?" Ghalin berteriak

"Taksi."

Sekejap saja adiknya itu menghilang di balik kendaraan  yang ada di halaman restaurant. Ghalin masuk ke dalam restaurant menemui kaki tangannya untuk melanjutkan mengawasi Karin.

Setelah berjalan ke arah mobil besar, Karin segera menunduk agar tak terlihat lagi oleh kakaknya. Ia mengintip dari sela-sela kendaraan melihat Kakaknya masuk ke dalam lagi. Saat itulah ia segera berlari ke arah mobil Fay yang sudah lama menunggu.

Fay segera membukakan pintu mobil saat Karin mengetuk kaca jendela mobilnya. Buru-buru Karin masuk, duduk di joknya lalu menunduk.

"Cepet keluar pak, cepet ayok jalan." pinta Karin gelisah

Tanpa banyak bertanya dulu Fay segera melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir. Karin mengangkat lagi kepalanya, dan bisa duduk dengan leluasa.

Nafasnya tersengal, karin membetulkan rambutnya yang berantakan lalu tersenyum lega.

"Sebenarnya ada apa sih Rin? Ada masalah?" Fay masih juga bingung

"Maaf ya pak kita jadi gagal makan malamnya."

"Iya nggak apa-apa. Tapi coba jelaskan sama saya."

"Em, kita cari tempat buat duduk dulu yuk pak sambil ganti makan kita yang gagal tadi."

Merasa orang suruhan kakaknya kehilangan jejak mereka, Karin berani mengajak Fay untuk berhenti di tempat makan lain di pinggir jalan. Fay memarkir mobilnya di tempat yang tidak mudah terlihat atas perintah Karin. Sebagai antisipasi kalau orang suruhan itu masih mengenali mobil Fay. Lalu mereka masuk ke sebuah warung tenda nasi goreng.

Karin mulai menjelaskan semua alasan dibalik apa yang terjadi malam ini. Tentang kejaidan di Bandung , tentang ajudan Kakaknya dan tentang siapa dia sebenarnya. Fay sangat menikmati cerita Karin, ia menatap dengan seksama wajah gadis di hadapannya yang sangat antusias bercerita. Wajah cantik Karin semakin terpancar di matanya membuat bunga-bunga cinta itu semakin tumbuh subur.

"Jadi kamu cucu  dari Hutomo grup yang terkenal itu?" Fay sedikit membesarkan matanya

"Iya pak."

"Kok nggak keliatan yah? Kalo di media-media kan keturunan Hutomo grup itu terkenal dan sering muncul di media. Tapi kamu justru nggak pernah mau menampakkan yang sebenarnya."

"Iya soalnya saya cuma pengen hidup tenang tanpa disorot media atau yang lain. Terus saya nggak mau juga orang-orang mau berteman sama saya karena latar belakang saya."

"Salut, kamu makin keren di mata saya." Fay semakin terkagum dengan gadis di depannya.

"Keren apanya ah."

"Oh saya ingat. Pantas waktu dulu pertama ketemu kakak kamu di cafe itu, saya tuh kayak agak familiar sama dia. Sering liat di mana tapi lupa. Ternyata Ghalin Hutomo yang lagi terkenal karena dapet penghargaan pengusaha muda milenial."

"Hahaha. Tapi pak tolong rahasiakan yah. Saya mau hidup biasa aja."

"Oke... tapi nggak gratis."

"Yah kok bapak gitu."

"Hahaha becanda."

"Maaf ya Pak gara-gara saya kita jadi susah malam ini yah Pak?"

"Nggak papa, kan udah diganti makan di sini."

Mereka melanjutkan cerita sembari menikmati makan malam yang hampir gagal. Mata Fay tak pernah lepas dari setiap gerakan Karin yang menggebu. Di antara deru mobil dan bisingnya suara manusia yang saling bercerita lainnya, mereka meampu menukar makan malam manis itu dengan makan malam penuh drama malam ini.

Fay pun hanya mampu menurunkan Karin 100meter dari kostnya karena Karin meminta untuk tidak terlalu dekat dengan kostnya malam ini, takut orang suruhan kakaknya kan melihat siapa yang bersamanya. 

Mereka saling melambaikan tangan. Fay belum menjalankan kembali mobilnya. Ia menatap karin yang berjalan menuju kostnya. Hingga terlihat badan mungil mahasiswanya itu belok masuk kedalam sebuah rumah yang ia tuju. 

Fay mengulas sebuah senyum, matanya menengok ke belakang jok mobilnya. Sebuah buket bunga mawar merah tergeletak di atas jok belakang tempat dia duduk dengan kemudinya. Bunga mawar yang sempat ia niatkan untuk gadis yang bersamanya malam ini. Tapi ternyata, gagal sudah.

Ada langkah lunglai yang terlihat memasuki dalam rumah. Melempar bucket bunga di atas tempat tidur diikuti tubuhnya yang juga ia jatuhkan. Menghadap langit-langit sambi mendengus kasar, rupanya belum membuat kekecewaannya malam ini hilang.

Ternyata malam ini ada sebuah misi yang ingin dilancarkan oleh Fay. Ingin sekali dia menyatakan isi hatinya. Perasaan yang sudah dia tahan selama ini. Perasaan tak bisa tidur, perasaan selalu ingin melihat senyumnya dan perasaan kacau tiap ali mereka tak bertemu walau satu hari. namun misi itu gagal sebelum dilaksanakan. Agaknya memang belum waktunya untuk diungkapkan, padahal cinta di hati sudah begitu menggelora.

****

1
Zahra Putri Mandala
mampir kakak,semangat kak
tenguyakuza: terima kasih, selamat membaca sampai akhir yah.. jangan lupa di follow kak...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!