Indonesia
NovelToon NovelToon
Foresta

Foresta

Status: tamat
Genre:Perperangan / Teen / Action / Epik Petualangan / Fantasi / Iblis / Barat / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Chira Amaive

Novel ini menceritakan tentang makhluk aneh dan menakutkan bernama Foresta. Sesuai namanya, Foresta merupakan makhluk aneh yang tinggal di hutan. Bentuknya bermacam-macam dan mirip dengan hewan biasa. Bedanya, mereka tak kasat mata atau tak terlihat oleh manusia biasa. Hanya orang-orang spesial atau dengan keistimewaan tertentu yang dapat melihat Foresta. Mereka adalah orang-orang terpilih yang berpotensi menjadi seorang pemburu Foresta. Namun itu adalah misi rahasia. Artinya, orang-orang pada umumnya tidak mengetahui bahwa adanya Foresta dan adanya para pemburu Foresta. Orang-orang umum tidak menyadari bahwa pemburu Foresta hidup di sekitar mereka dan seperti menjalani hidup normal. Padahal, ketika malam tiba. Mereka akan keluar tanpa jejak dan menuju tempat misi, yaitu memburu Foresta.

Ada pun bagi orang-orang yang tidak menyadari bahwa dirinya berpotensi menjadi seorang pemburu Foresta, ada bagian pusat markas pemburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chira Amaive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sarapan

Pagi harinya aku, Lea dan Dea bangun kesiangan. Bee si tukang tidur itu justru kami dapati sedang bersih-bersih di kamarku. Selama datang ke sini, baru pertama kali aku melihatnya seperti itu. Apakah karena ada Lea dan Dea di sini?

Obat tidur dari Bee ternyata memang ampuh sekali. Bee memberi tahu kami bahwa mama beberapa kali menggedor pintu kamarku. Namun kami tak ada yang mendengar. Untungnya Bee yang membukakan pintu dan mengatakan bahwa ia sendiri yang akan membangunkan kami.

Bee memang datang ke rumahku dengan cara diam-diam kemarin. Namun, semalam saat makan malam mama tidak mempertanyakan karena ia mengira Bee datang bersamaan dengan Lea dan Dea.

"Selamat pagi Lea, Dea dan Kea," sapa Bee dengan wajah datarnya.

Sepertinya ia hanya akan menampakkan ekspresi ramah ketika bersama orang tuaku saja.

"Selamat pagi, Bella," balas Dea sambil mengucek mata.

"Selamat pagi, juga. Rajin sekali pagi-pagi udah menyapu. Harusnya biarkan saja Kea yang mengerjakannya sendiri. Kita sebagai tamu cukup tidur dan menonton," tambah Lea.

Dia kira aku babu, apa?

Setelah menyapu, Bee berjalan ke dekat pintu kamar mandi. Kali ini ia mengambil pel. Sekaligus pewangi lantai yang berada di rak kecil di sebelahnya.

Hei! Itu bukan Bee yang aku kenal. Lihai sekali dia memainkan peran agar dipuji oleh dua sahabatku. Padahal, bisa saja aku membongkar kelakuannya selama datang ke rumahku. Hanya tidur, makan, tidur, makan. Begitu seterusnya.

Tiba-tiba Dea melompat dari tempat tidur dan berjalan cepat ke arah Bee.

"Sudah, Bella. Biarkan aku saja yang mengepel. Aku tidak enak melihatmu begitu rajin sedangkan si tuan rumah hanya menonton sambil menguap lebar di sana," sindir Dea kepadaku.

Mendengar itu, aku langsung menyusul ke tempat mereka berada dengan perasaan jengkel bercampur kantuk.

"Iya, sini! Bawel banget. Sana kalian duduk aja di kasur. Jangan ada yang turun sampai aku selesai mengepel dan lantainya kering!" tegasku setelah merebut pel dari tangan Bee.

Dea mengangkat bahu dan cekikikan. Sedangkan Bee masih diam di tempat.

Aku menatap heran padanya.

Kemudian, ia mendekatkan wajahnya pada

telingaku seraya berbisik, "Kalau kau melakukan hal seperti ini pada Vin, ia akan menjadi orang yang sangat berbahaya."

Setelah membisikkan itu, Bee langsung berjalan menyusul Dea.

Terserah saja. Dengan apa yang aku alami karena berniat membantunya pada saat itu, aku sudah tidak ingin lalu mencoba membantu.

"Sini, Bella. Kita ngemil bareng sebelum sarapan," seru Lea dari arah tempat tidur.

Baru mendengar kata ngemil saja, ia langsung melesat cepat ke arah panggilan. Lihatlah, walaupun ia sedang cari muka. Tetap saja tidak akan sanggup menahan diri sebagai Bee yang lemah terhadap makanan.

Ini adalah tanggal merah. Itu juga yang membuat Lea dan Dea berpikir untuk menginap di rumahku.

Tak lama setelah itu, aku merasa seperti ada orang yang datang. Saat aku menoleh, benar saja. Ada Jia di sana yang sedang berdiri di depan pintu kamarku yang tidak tertutup. Bee yang membukanya ketika menyapu tadi.

"Aku kira kalian tidak jadi menginap dan pulang tadi malam," ujar Jia.

"Hai, Jia! Selamat pagi. Wah, udah keramas aja nih pagi-pagi. Lihatlah kakakmu, masih ngepel dengan rambut kusutnya yang seperti habis diacak-acak hewan," sapa Lea kepada Jia.

Memang, iya. Rambutku memang habis diacak-acak oleh hewan. Dasar.

"Iya nih, Jia. Semalam kami tiba-tiba ngantuk banget. Padahal baru jam 09:00. Itu pokoknya udah nggak tertahankan lagi. Jadinya, yaudah kami tidur aja. Lihat, cemilan buat begadang nonton film aja masih utuh. Sini, ikut ngemil bareng kami," timpal Dea.

Jia menggeleng, “Sarapan udah hampir siap. Mama memintaku untuk memanggil kalian.”

Seperti biasa, jika ada tamu mama pasti akan memajukan jadwal makan.

***

"Bagaimana tadi malam? Seru nggak filmnya?" mama bertanya.

Karena jumlah tamu kali ini berjumlah tiga orang dan meja terlalu kecil untuk total tujuh orang, jadinya mama menggelar karpet untuk sarapan secara lesehan. Sama halnya dengan makan tadi malam.

"Mereka tidur, Ma. Nyenyak sekali seperti habis minum obat tidur," timpal Jia.

Aku yang sedang minum langsung menyemburkan isi air dalam mulutku. Membuat nasiku langsung basah.

"Ih, Kak Kea jorok banget! Apaan sih kayak gitu. Bikin nggak selera makan aja!" Jia menggertak dengan ekspresi sebal.

"Hati-hati, Nak. Minumnya pelan-pelan saja," ujar papa.

Sedangkan Lea yang berada di sebelahku langsung menghindari. Takut terkena.

Aku buru-buru mengelap bagian karpet yang terkena semburan air. Lantas membawa piringku dengan nasi yang basah itu.

"Kea, nasinya jangan dibuang di wastafel, ya. Piringnya langsung dicuci," pinta mama.

Beberapa saat, aku telah kembali ke posisi tadi dengan piring dan nasi baru yang masih bagus. Kemudian menyendok lauk. Mereka menatapku. Mungkin karena aku terlihat terburu-buru.

"Ada apa denganmu? Seperti orang kena gerd," tanya mama kepadaku.

"Nggak apa-apa, Ma. Aku cuma lagi kelaperan."

"Oh, iya. Sampai mana tadi? Kalian benar-benar tidur cepat semalam?"

Kali ini mama melemparkan pertanyaan kepada tiga tamuku.

"Iya, tante. Karena ngantuk makanya nggak jadi nonton deh," jawab Lea.

Dea mengangguk. Sedangkan Bee fokus ke makanannya. Hei, mana keramahannya?

Sarapan itu berjalan dengan perbincangan ringan. Tidak lagi membahas tentang kami yang tertidur seperti orang yang meminum obat tidur. Ya, lebih tepatnya hanya Dea dan Lea yang meminumnya. Malam tadi, Bee turun ke dapur saat aku membuatkan coklat hangat untuk kami berempat. Ia meminta agar dia saja yang mengantarkan minuman. Tentu saja dengan alasan agar ia bisa memasukkan obat tidur. Pada saat itu juga ia memberi tahu kepadaku tentang misi kami.

"Memangnya, sebelum ke sini kalian tidur siang dulu?" papa bertanya.

"Tidak, Om. Kami tidak punya waktu tidur siang jika sekolah tidak libur. Sepulang sekolah kemarin, kami hanya jalan-jalan sambil membeli makanan ringan dengan rencana untuk dimakan sambil menonton film pada malam harinya," jawab Lea.

Papa mengangguk, "Pantas saja. Kalian tanpa tidur siang dan jalan-jalan. Lalu sampai ke sini pada malam hari mungkin itu yang membuat kalian cepat mengantuk."

"Bisa jadi sih, Om" ujar Lea.

Dea hanya mengangguk, setuju.

Bee tak usah ditanyakan lagi. Tentu saja sedang fokus menyantap makanannya.

"Kalau Bella bagaimana?"

Kali ini papa bertanya pada Bee.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai Bella kepada keluarga dan dua sahabatku ini. Mungkin memang dengan nama itu ia dikenal di kehidupan masyarakat umum. Atau itu memang nama aslinya dan Bee adalah nama pemburunya. Mungkin Sean yang memberikan nama itu. Namun, aku tidak diberikan nama pemburu. Atau mungkin Bee sendiri yang menamakan dirinya. Ah, terserah saja. Terlalu banyak tanda tanya pada Bee. Sedangkan Hil tetap memperkenalkan dirinya sebagai Hil.

Sejenak, Bee melepaskan sendok makan.

"Aku terjaga semalaman," jawab Bee.

"Pasti karena Kak Kea ngorok. Kedengaran sampai luar," sahut Jia.

"Hei! Sembarangan!" tegasku tidak terima.

"Beneran, kok. Aku denger sendiri. Kak Kea 'kan tidur."

"Bisa diem, nggak! Seneng banget mempermalukan Kakak sendiri."

"Udah, kalian diem dulu! Papa lagi bertanya ke Bella. Bukan kalian!" tegas mama menengahi.

Papa hanya tertawa kecil.

"Entahlah. Hanya sedang melihat keindahan bintang-bintang di malam hari. Aku juga melihat Jia. Kepalanya terlihat dari jendela kamar Kea yang juga sedang memandangi bintang. Indah banget, bukan!?"

Mendengar jawaban Bee, kali ini wajah Jia bersemu panik. Ketahuan!

"Kamu begadang lagi, Jia?" ujar mama menembakkan pertanyaan pada Jia.

Kena kau! Itulah akibatnya menjadi adik yang tidak baik pada kakak sendiri!

"Tapi aku selalu bangun pagi, Ma." Jia berusaha membela diri.

Sejenak aku melirik Bee. Apakah Jia sering melihat ke luar jendela? Apakah Bee benar-benar tidak pernah ada yang melihatnya saat datang ke rumahku dengan cara terbang dan masuk lewat jendela?

1
𝐈𝐜𝐡𝐢𝐧𝐨𝐬𝐞
mampir kak
Susi Nuryani
kenapa endingnya begini😭
Chira Amaive: sudah betul lah😭😭😭
total 1 replies
Selviana
ceritanya menarik
Selviana
Aku sudah mampir nih kak.Jangan lupa mampir juga di karya aku yang berjudul (Terpaksa Menikah Dengan Kakak Ipar)
Isolde
Enak banget karya ini, aku nggak sabar nunggu kelanjutannya!
Shion Fujino
Janggal tapi menarik.
Chira Amaive: Wkwkwk makasi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!