IG : Umi Fia
Facebook : Umi Fia
Seorang pembantu yang menjadi rebutan pria beristri beranak tiga dan seorang pria lajang namun sangat badboy.
Putri berada di persimpangan saat ketiga anak dari pria tersebut begitu membutuhkannya hingga mengharuskannya mau menikah dengan pria tersebut. Lalu bagaimana dengan Bima?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Fia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Pembantu Idaman
"Ada atau tidak adanya restu dari mereka, kita akan tetap menikah. Mungkin nanti mereka bisa menerima, kalau pun tidak itu bukan salah kita."
Putri mengangguk mengerti dengan apa yang Bima katakan. Tapi ia juga tidak bisa tutup mata begitu saja. Secara keluarga Bima memiliki pengaruh yang sangat besar.
Rencana pernikahan Bima dan Putri sudah sampai ke telinga Marina dan juga Erlangga. Siapa lagi kalau bukan dari Sonia yang saat ini sudah bersiap akan kembali ke kota asalnya.
"Kamu tidak ingin berusaha lagi?" tanya Marina mengusap punggung Sonia. Perempuan itu juga ikut kecewa dengan keputusan Bima. Tapi mungkin itu akan lebih baik karena Erlangga pasti secepat akan melupakan Putri.
Sonia menggeleng lemah. Lalu Marina memeluknya sangat erat sebelum Sonia pergi dari rumah mereka.
Erlangga sendiri tidak ada mengeluarkan komentar apapun terkait Bima dan Putri walau sebenarnya ia sangat marah dengan kabar tersebut. Tapi ia bisa apa, tidak mungkin menghancurkan rumah tangga yang sedang diperbaikinya.
Marina menatap punggung Erlangga yang menghilang dibalik pintu kamar. Ia menarik napas lalu menuju dapur. Duduk di sana setelah membuat teh hangat yang bisa menenangkannya.
Cukup lama Marina berada di dapur sampai ia benar-benar merasa santai dan belajar mencoba berdamai dengan keadaan yang tidak memihak padanya. Ingin mengusir jauh Putri dari hidupnya karena mengancam keutuhan keluarganya namun adiknya sendiri justru ingin menikahinya.
.....
Briana sudah pasrah saat tidak ada satu orang pun yang dapat menghalangi kepergiannya ke London. Baik itu sang Papih, Om Bima atau pun Mbak Putri. Tidak ada satu pun orang yang peduli terhadap perasaannya saat ini. Seakan-akan mereka membuangnya jauh ke London sana seorang diri.
Penerbangannya hanya tinggal tiga puluh lagi. Ia berjalan gontai di belakang Marina. Pada saat akan memasuki pintu masuk, dari arah belakang ada seseorang yang menariknya kembali keluar. Sungguh kaget luar biasa saat ada orang yang tidak dikenalnya melakukan hal tersebut.
"Kamu siapa?" tanya Briana sambil menatap sang Mamih yang belum menyadari keberadaannya.
"Secepatnya kita pergi dari sini sebelum Nyonya Marina mengetahuinya" ujar pria itu.
"Tapi, kamu siapa?." Tanya Briana. Alih-alih mendapatkan jawaban, justru ia diseret untuk segera meninggalkan bandara. Memasuki mobil berwarna hitam yang dikemudikan langsung oleh orang itu.
Semua rasa menjadi satu, jantungnya kian berdebar kencang. Kalau begini rasanya lebih baik ia pergi ke London daripada harus pergi bersama pria yang tidak dikenalnya. Karena sampai sudah sejauh ini perjalanan mereka, pria itu belum ada lagi bicara memperkenalkan siapa dirinya.
Di lain tempat, Mama Puspa mendatangi kantor Erlangga ketika tahu Putri tidak lagi tinggal bersama anak dan ketiga cucunya.
"Kemana perginya Putri? Di rumah Mama juga enggak ada. Dari kapan Putri keluar dari rumah kamu?." Mama Puspa langsung mengajukan bebarapa pertanyaan pada sang putra setibanya di ruangan Erlangga.
"Ada, Ma. Putri baik-baik aja." Jawab Erlangga santai.
"Pasti ini karena ulah istri kami itu." Tuduhan pun tertuju pada Marina.
Erlangga diam, memang semua itu karena perbuatan Marina yang ingin melindungi keluarganya. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Mau Marina itu apa coba?." Mama Puspa memijat pelipis mata.
Erlangga masih diam. Mama Puspa pun kembali buka suara.
"Dimana Mama bisa menemui Putri?."
Erlangga menyerahkan selembar kertas yang berisi alamat lengkap tempat tinggal Putri. Namun Mama Puspa mengabaikannya.
"Antar sama kamu!" perintahnya.
"Maaf, Ma. Aku sibuk." Dengan cepat Erlangga menolaknya.
Mama Puspa yang sudah bersiap akan pergi langsung berbalik dan menatap Erlangga. Tatapan penuh kelembutan Mama Puspa mampu menghipnotis Erlangga sehingga pria itu bersedia mengantarkannya.
Mama Puspa dan Erlangga datang ke restoran itu sebagai customer. Karena bertepatan dengan jam makan siang. Namun Erlangga juga sudah mengabari Bima, meminta waktu Putri untuk menemui mereka.
Putri datang menemui Mama Puspa dan Erlangga di salah satu tempat VIP yang ada di restoran. Sekaligus membawa pesanan ibu dan anak itu.
Kini mereka duduk bertiga dan Mama Puspa yang buka suara lebih dulu. Sedangkan Erlangga untuk pertama kalinya lagi ia bisa menatap wajah Putri yang semakin cantik. Perempuan itu pasti sedang bahagia karena Bima.
"Aku senang kamu bekerja di sini, karena ini selalu menjadi mimpi kamu."
"Iya, Nyonya. Terima kasih sudah selalu mendukung saya."
"Tapi aku sangat kecewa karena kamu menolak bekerja di kantor Erlangga."
"Maaf, Nyonya."
"Oh iya, aku minta kamu pulang ke rumah Erlangga."
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa, saya harus fokus pada magang saya yang hanya beberapa hari saja."
"Aku mengerti, kamu pulang ke rumah Erlangga ya tinggal di sana daripada tinggal di luar yang belum tentu aman. Kamu di sana bukan untuk bekerja lagi."
Putri segera menggeleng. "Maaf, Nyonya Puspa. Saya tidak bisa."
"Tapi, Kenapa?."
"Sudah lah, Ma. Jangan memaksa lagi, lagi pula Putri punya hidup sendiri. Sebentar lagi ia dan Bima akan menikah jadi ada yang bertanggung jawab." Sela Erlangga bernada sedikit emosi.
Mama Puspa menatap Putri begitu intens. "Apa itu betul, Put?."
Putri tak punya pilihan lain selain menjawab dengan mengangguk mengiyakan. Erlangga menangkap binar mata Putri yang mencerminkan kebahagiaan. Dan tentu saja itu cukup menyakitinya.
Mama Puspa mengangguk tanpa berkomentar. Hening di ruangan itu untuk bebarapa waktu hingga mereka bisa makan dengan tenang sampai selesai.
Erlangga yang berpamitan lebih dulu keluar, menunggu sang Mama di mobil saja. Di depan ia berpapasan dengan Bima.
"Aku senang kamu kembali lagi pada kak Marina."
"Iya." Sahut Erlangga dengan cepat dan singkat.
"Anak-anak bagaimana?."
"Baik, mereka baik."
"Bagus lah, kak Marina lebih perhatian lagi pada anak-anak."
Erlangga hanya mengangguk lalu setelahnya ia segera melanjutkan langkahnya lagi.
Sementara itu Putri dan Mama Puspa masih lanjut bicara.
"Kamu sudah yakin dengan Bima?."
"Iya, Nyonya."
"Lalu bagaimana dengan keluarga Bima?. Apa mereka setuju dengan hubungan kalian?."
Putri terdiam sejenak sebelum ia menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Walau agak ragu, namun Mama Puspa tetap diam tanpa mengomentarinya lagi.
"Sejujurnya aku kurang setuju kamu dengan Bima. Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada Bima. Mapan secara finansial dan dewasa bisa mengemong kamu."
Putri terdiam mendengarkan ucapan Nyonyanya.
"Tadinya...tadinya aku senang saat Erlangga memutuskan berpisah dari Marina. Erlangga bisa melanjutkan hidupnya bersama kamu. Pasti kalian akan saling melengkapi. Anak-anak juga dekat dengan kamu."
Deg
Putri menundukkan kepala, menyembunyikan wajah dan keterkejutannya. Bagaimana bisa Nyonyanya berpikiran seperti itu.
"Jodoh kita tidak ada yang tahu, Put. Kalau kamu dan Erlangga berjodoh bagaimana, Put?."
Deg
Bersambung