Berawal dari kotak misterius yang mengikat Danu dan Klara dalam lingkaran sihir yang tergaris di tubuh mereka.
Ancaman bergerak dalam keheningan, menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan Danu seutuhnya.
Sementara Danu tidak tahu apa-apa soal lingkaran sihir itu.
Apakah ini adalah awal dari kutukan atau justru jalan terjal yang membawanya pada harapan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mengare, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pembuka yang tragis
Air hujan merambat pelan pada kerangka kayu yang menyangga genteng di langit-langit rumah.
Ia menetes perlahan, sedikit demi sedikit, di lantai. Selimut kusut di atas kasur, keringat membasahi pakaian, dan lendir merah muda keluar di antara kedua kakinya.
Fareza memegang tangan suaminya, rasa sakit itu datang dan pergi dengan ritme yang semakin meningkat.
Saat rasa sakit itu datang, Fareza akan memegang erat tangan Ares dan lebih menyandarkan wajahnya pada tubuh di sampingnya.
"Hemmp... sa-sakit!"
Fareza menarik tangan Ares dia menggigitnya. Ares sempat terkejut, tapi ia mengerti kenapa Fareza melakukannya.
"Sa-sayang, tolong panggil siapapun, aku sudah tak kuat ..." pinta Fareza setelah rasa sakit itu mereda.
Dada Fareza naik turun, tubuhnya seperti memberontak pada dirinya sendiri. keram terasa jelas di selangkangannya seakan sesuatu sedang memaksa keluar.
Namun, rasa sakit sebelumnya membuat keram perutnya tak berarti.
Fareza sadar, perang besar hampir datang. Perang berdarah antara dirinya dan takdir. Perang yang mempertaruhkan nyawanya dan anak yang ia lahirkan.
"Tolong ..." pintanya kembali, kali ini lebih memelas dengan suara yang agak serak.
Ares bingung harus berbuat apa. Apakah tak masalah jika istrinya sendirian di keadaan yang tidak menentu ini.
Semua pilihan terasa berat, ketidaktahuan akan dampaknya bagai dosa besar baginya. Apa dia harus mencari orang yang tak tahu kapan ia akan kembali? Apa lebih baik dia di sini sambil menemani istrinya?
Semua pertanyaan itu membelenggu kakinya, ia seperti berdiri di atas duri yang siap menyayatnya bila salah langkah. Bukan tubuhnya, tapi hati yang terikat dengan nasib sang istri.
"Sayang ... tak apa, aku bisa bertahan sendiri, aku tarik perkataan tadi."
Ares membungkuk, mencium tangan Fareza layaknya harta yang berharga yang akan hilang. Wajah yang dulu kaku terlihat penuh emosi.
"Sayang, tolong. Nasib kami bergantung padamu," hibur Fareza.
Ares melepas tangan Fareza dengan enggan, ia berdiri seperti tanpa jiwa — masih bergerak di antara keraguan dan ketakutan.
Satu langkah menentukan masa depan. Satu keterlambatan dan semuanya akan berakhir.
"Bersabarlah, aku akan segera kembali."
Fareza mengangguk. Senyuman lemas terukir di wajah.
Apa menurut kalian dia tidak cemas, tentu dia cemas. Dia takut setengah mati saat mendengar desir angin yang menggetarkan genteng. Air masuk melalui celah dinding kayu dan genteng yang bocor.
"Cepatlah kembali, Ares," gumam Fareza sambil menatap punggung suaminya yang menghilang begitu pintu ditutup.
#####
Udara dingin menusuk tulang datang bersama angin kencang, menerpa tubuh Ares.
Ares gemetar sesaat, bukan karena udara dingin, tapi karena pemandangan tak wajar di depannya.
"Yang benar saja, jangan becanda! Kenapa harus sekarang?!" umpat Ares saat melihat burung-burung terbang tak wajar dengan energi gelap yang pekat.
Ares menggertakkan gigi, tak ada kata mundur, ia hanya dapat memaksakan diri dengan lentera dan payung di masing-masing tangan.
Payung yang tak berarti di hadapan badai yang mengamuk.
#####
JDDRRRR!
Sementara itu, di dalam kedalaman hutan, Barakas berjalan santai melewati ilalang yang mengharuskannya melangkah tinggi dan melompat turun saat jurang kecil menghalangi jalannya.
Di tangannya, sebuah batu berwarna merah darah bersinar mistis dengan cahaya menyerupai partikel berkabut.
Nyala yang aneh dan tak biasa.
Barakas menatap batu itu sejenak. "Saatnya mimpi buruk muncul ke permukaan."
Mata di balik topeng tampak dingin dan dalam, bagai predator yang menuntut mangsa. Tak lama kemudian, ia raib di tengah hujan, tak menyisakan jejak kaki ataupun tanda keberadaan sebelumnya.
#####
Dua pria menerjang hujan dengan tujuan yang berbeda, namun maksud yang sama — menyelamatkan keluarga mereka.
Kedua berpacu dengan waktu. Lentera yang diangkat Dadang bergoyang di tengah hujan. Matanya mengernyit, air hujan menetas di sekitar matanya, menyusahkannya untuk melihat jalan.
"Cih, aku harus cepat," gumam Dadang kedinginan.
Tubuhnya tak sekuat seorang kesatria, ia juga bukan seorang ahli sihir, tapi tekatnya kuat dan bulat.
Meski angin membuatnya terhuyung dan nyaris jatuh, tapi ia tetap melangkah dengan harapan sebagai dasar kekuatannya.
Sedangkan di sisi lain, Ares mengetuk satu demi satu rumah, meminta tolong untuk persalinan istrinya.
DOR DOR DOR
"Tolong, istri saya akan melahirkan! Tolong!"
Hujan menyamarkan suara teriakannya, tapi beberapa kali pintu terbuka tanpa ada yang paham tentang persalinan.
Namun, mereka tak tinggal diam, seorang pemuda segera membawanya menuju rumah yang mungkin menjadi harapan Ares satu-satunya.
Di bawah tekanan hujan dan buruk gagak yang terbang di atasnya, serta keadaan yang genting itu.
Kekuatannya tak berarti, dia benar-benar tak ada bedanya dengan manusia biasa pada kondisi ini.
"Itu tuan, rumahnya!" tunjuk pemuda yang memandunya.
Setelah pintu berikutnya di buka, seorang nenek tua keluar, tapi keadaannya justru lebih memprihatinkan.
Bintik hitam muncul di beberapa kulitnya, ia bahkan gemetar hanya untuk berdiri menyapa tamu.
"Maaf, Nak. Saat ini saya sedang sakit, takutnya ... istri dan anakmu terkena dampaknya."
Ares mengelap wajahnya dengan frustasi, jantung berpacu kencang, bukan oleh semangat pertarungan, tapi rasa takut yang menusuk dari dalam.
"Apakah anda kenal seseorang yang bisa membantu kami," ucap pemuda yang membantunya.
Nenek tua itu berjalan keluar perlahan dan menunjuk jalan yang tak terlihat ujungnya — rintikan deras menyamarkan cahaya pemandangan di baliknya.
"Di ujung jalan ini, istri Tn. Senja, dia tahu banyak soal obat, aku rasa dia bisa membantu."
Ares menatap lekat ujung jalan bak melihat ujung harapannya.
"Antar aku ke sana," ucapnya berat penuh penekanan.
Ares berjalan cepat bersama sang pemuda di bawah langit malam yang gelap serta hujan yang mencekam.
Alam bergerak layaknya penjara tak kasat mata, membatasi setiap pandangan dan gerakan mereka.
Ia harus bergerak cepat karena di rumahnya, Fareza merintih, menggenggam kuat kain seprai.
Dalam rumah yang kosong, menyisakan suara teriakan langit yang mengutuk dan tangisan seorang ibu yang melawan takdir.
Fareza merasa sakit di bawah pinggangnya menjalar dan membuat perutnya seperti dipelintir.
"Eeeekh, heemm ... Huff huff."
Fareza tak hentinya menatap pintu yang tak kunjung terbuka.
Banyak anak2 yg memalingkan wajah ketika org tuanya reflek bermesraan kayak pelukan, dll.