Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.
Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.
Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Tiga Kijing
Tanah TPU desa tempat pemakaman keluarga Broto masih basah dan mengeluarkan aroma gembur yang khas. Di bawah naungan pohon kamboja tua yang menggugurkan bunganya satu per satu, tiga gundukan tanah berdiri sejajar dalam satu barisan lurus.
Kijing kayu sederhana baru saja dipasang di atas gundukan paling ujung—pualam putih kusam bertuliskan nama Mia Broto.
Di sebelahnya, nisan milik Pertiwi Broto telah ditumbuhi sedikit rumput liar, sementara di ujung paling kiri, nisan Bayu Broto mulai menghitam terpapar hujan dan panas.
Tiga gundukan. Tiga kijing. Tiga nyawa yang direnggut dalam rentang waktu yang teramat singkat.
Galang berdiri mematung di ujung barisan makam, merapatkan jaketnya yang lembap oleh embun pagi. Angin dingin meniup pucuk-pucuk daun kamboja, memercikkan sisa air hujan ke atas wajahnya yang pucat.
Matanya yang sembap menatap lekat-lekat barisan nisan itu. Di benaknya, garis-garis kematian saudara-saudaranya mendadak menyatu membentuk sebuah skema yang begitu presisi, terlalu teratur untuk sekadar dinamakan kesialan atau takdir murni.
"Mas Bayu ... Pertiwi ... Mia ...," bisik Galang, suaranya parau serasa tersangkut di tenggorokan.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengurai ingatan demi ingatan yang selama ini terpisah. Bayu tewas mengenaskan di dekat rel kereta api tepat saat warung Madiun membutuhkan guncangan penglaris pertama.
Pertiwi menghembuskan napas terakhir di atas tempat tidur dengan ruam hitam menyerupai akar di kulitnya saat ekspansi warung mulai dirancang. Dan kini, Mia ditenggelamkan secara tidak masuk akal di kolam renang yang dangkal tepat saat peletakan batu pertama cabang Ngawi dimulai.
Tidak ada tenggat waktu yang acak. Setiap kali ekspansi bisnis Warung Nasi Broto membutuhkan pasokan 'energi' baru, atau setiap kali cabang baru hendak didirikan, satu nyawa anak biologis akan dicabut sebagai tumbal fondasi.
Pola ini berjalan bagaikan mesin pembantai otomatis yang telah diprogram belasan tahun lalu oleh almarhum Pak Broto dan dieksekusi tanpa belas kasihan oleh Pak Sapta—atau Mbah Mangu, entitas pencabut nyawa yang kini bersemayam kaku di dalam rumah mereka.
Galang mengepalkan tangannya. Matanya melirik ke arah sisa lahan kosong di sebelah nisan Mia. Di sana, masih ada petak tanah kosong yang cukup untuk ... tiga makam lagi.
Ia langsung teringat pada kedua adiknya yang tersisa. Rian dan Gilang.
Darah Galang serasa mendidih membayangkan keduanya. Rian baru duduk di bangku kelas lima SD, sedangkan Gilang—si anak bontot yang masih kecil—bahkan belum sepenuhnya mengerti mengapa ketiga kakak kandungnya satu per satu hilang dan dimasukkan ke dalam tanah. Jika pola ini terus berlanjut tanpa ada yang menghentikan, sisa petak tanah kosong di sebelahnya tinggal menunggu waktu untuk digali.
"Mas Galang ...."
Sebuah suara mungil yang halus memecahkan keheningan pemakaman.
Galang menoleh cepat. Di balik batang pohon beringin dekat pintu gerbang pemakaman, Gilang—si bontot berusia enam tahun—berdiri sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.
Pakaian hitam yang dikenakannya tampak kebesaran, dan wajah kecilnya dipenuhi kepolosan yang menyayat hati. Di belakangnya, Rian berjalan lambat dengan tatapan kusam, membimbing tangan adik bungsunya itu.
"Kenapa Mbak Mia tidur di dalam tanah seperti Mas Bayu dan Mbak Pertiwi, Mas?" tanya Gilang polos seraya melangkah mendekat. Matanya yang bulat menatap gundukan tanah baru milik Mia. "Kenapa Mbak Mia tidak pulang ke rumah? Gilang kan mau main gambar lagi sama Mbak Maya, Mas ...."
Tenggorokan Galang serasa tercekat hebat. Air mata yang sejak tadi ditahannya merebak kembali. Ia berlutut di tanah yang basah, merangkul tubuh mungil Gilang dan memeluknya erat-erat, seolah-olah jika ia melepaskan pelukan itu sedetik saja, tangan-tangan ghaib dari bawah tanah akan langsung menarik adik bungsunya.
"Mbak Mia ... Mbak Mia sudah tenang di sini, Dek," bisik Galang dengan suara bergetar, mencium puncak kepala Gilang yang berbau minyak telon. "Mas janji ... Mas Galang tidak akan biarkan siapa pun menyakiti Gilang sama Mas Rian. Mas janji ...."
Rian berdiri mematung di samping Galang. Anak itu tidak meneteskan air mata, namun tangannya gemetaran hebat di dalam saku celana.
"Mas Galang ...," bisik Rian, suaranya serak dan penuh keputusasaan. "Rumah kita ... rasanya makin serem, Mas. Kemarin malam waktu Mas Galang belum pulang dari Ngawi, Rian dengar suara kuali di dapur berdering-dering sendiri. Waktu Rian intip dari jendela ... Rian lihat Ibu sedang berdiri di depan kuali itu sambil menyiramkan cairan berwarna merah ...."
Galang mendongak, menatap mata Rian.
"Ibu?"
Rian mengangguk kaku, matanya menyiratkan ketakutan luar biasa.
"Ibu juga tidak menangis waktu Mbak Mia dibawa ambulans, Mas. Ibu malah tersenyum. Itu aneh kan, Mas? Ibu cuma sibuk menghitung tumpukan uang di kasir bareng Pak Sapta. Kenapa Ibu berubah jadi seperti itu, Mas? Apa Ibu tidak sayang lagi sama kita?"
Rentetan pertanyaan Rian bagaikan sembilu yang menyayat dada Galang. Ibunya yang dulu begitu lembut, yang selalu memeluk anak-anaknya saat mereka sakit, kini telah berubah total menjadi cangkang kosong yang dikendalikan oleh keserakahan dan hembusan mantra pesugihan. Bu Retno telah merelakan anak-anak kandungnya dipanen demi tumpukan harta yang amis.
Galang melepaskan pelukannya dari Gilang, lalu memegang kedua bahu Rian dengan tatapan yang amat tajam dan penuh ketegasan.
"Dengarkan Mas, Rian," tegas Galang, mengabaikan rasa lelah dan ketakutan yang menindih jiwanya. "Kematian Mas Bayu, Mbak Pertiwi, dan Mbak Mia itu bukanlah kecelakaan bisa. Ada hal jahat yang sedang mengincar keluarga kita."
"Hal jahat? Maksud Mas? tanya Rian tidak paham.
"Pokoknyaaa ... pokoknya kita harus hati-hati. Sebab orang yang membawa kejahatan itu ke dalam rumah ... adalah Pak Sapta."
Rian membelalakkan mata. "Pak Sapta?"
"Iya," angguk Galang. "Mulai hari ini, kamu harus jaga Gilang dua puluh empat jam. Jangan pernah biarkan Gilang jalan sendirian di rumah, terutama di dekat dapur atau kolam renang. Jangan pernah makan atau minum apa pun yang diberikan oleh Pak Sapta atau Ibu kalau Mas Galang tidak ada di dekat kalian. Paham?!"
Rian mengangguk pelan dengan bibir gemetar.
"Pa-paham, Mas ...."
"Bagus, Rian!" puji Galang. Ia tersenyum tipis sambil mengelus pucuk kepala adiknya. Namun, gerakannya seketika terhenti setelah mendengar ucapan Rian berikutnya.
"Berarti Pak Sapta lah orang yang sudah mencelakai Mas Bayu, Mbak Pertiwi, dan Mbak Mia. Begitu, kan, Mas?"
Rian bertanya dengan sorot mata yang tegas dan amarah. Sebelum akhirnya perlahan melunak setelah Galang menenangkan.
"Sudah. Itu biar jadi urusan Mas Galang. Yang penting, kamu harus dengarkan perkataan Mas. Jangan dekat-dekat dengan Pak Sapta."
"Baik, Mas."
Galang mengelus lembut pipi Rian. "Ayo kita pulang!"
Galang bangkit berdiri, menggandeng tangan kecil Gilang di sebelah kiri dan merangkul pundak Rian di sebelah kanan. Ia menoleh sekali lagi ke arah tiga kijing kayu yang berbaris kaku di bawah pohon kamboja.
Di atas pahatan nama silsilah kayu jati di Desa Kedung Lembah, nama Bayu, Pertiwi, dan Mia telah dicoret dengan tinta darah kering. Namun nama Rian dan Gilang masih bersih, seolah menanti giliran untuk dieksekusi.
Sambil melangkah keluar dari areal pemakaman, pikiran Galang sudah dipenuhi oleh dendam dan tekad bulat. Penyelidikannya mengenai identitas Pak Sapta memang menemui jalan buntu di mata hukum manusia, namun ia tidak bisa lagi berdiam diri dan berperan sebagai penonton yang pasrah.
wajar para kerabat pada nolak bantuin kalo taruhan nya nyawa dan keluarga mrk.
Serius Galang akan menantang datangnya malam Jumat kliwon?
Serius Galang pasrah saja....
Kenapa pakk kyai tidak membantu Galang, yang belum dewasa untuk menyelesaikan ini sendiri.
Galang harus menyaksikan sisa saudaranya diambil gilirannya menjadi tumbal.
come on, Galang !
jangan diam saja .
Do something to save your little brother "Gilang".
masih kecil tapi diliputi ketakutan karena gangguan ghaib.
mau kamu menangis darah,
Buu Broto ga akan sadar dengan ucapan dan tindakannya, Galang .....
Dia dalam pengaruh ghaib Mbah Mangu.
Apakah pesugihan yang diambil bapakmu tidak bisa diputuskan ???
Dan tetapp harus dituntaskan dengan mengambil 2 nyawa yang tersisa , yaitu Rian dan Gilang ????
Mereka masih kecil
Tapi nyawa mereka sudah digadai oleh pesugihan yang dianut bapaknya sendiri.
Tinggal giliran Rian ..... Dan selanjutnya Gilang.
🥺🥺