Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTAKU DI PRAMBANAN

CINTAKU DI PRAMBANAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT

Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.

Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.

Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.

Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.

Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?

Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.

SELAMAT MEMBACA... ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 PENOLAKAN MBAH KLIWON

Asap kemenyan Jawa yang mengepul tipis dari balik mangkuk tanah liat menyambut kedatangan Yuda dan Dion saat mereka melangkah melewati ambang pintu.

Suasana di dalam rumah kayu limasan itu terasa sangat hening, hanya dihiasi oleh derik jangkrik malam dari balik dinding bambu dan bisikan halus rintik gerimis yang membasahi atap genting. Cahaya temaram dari dua buah lampu senthir meliuk-liuk tertiup angin malam, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas lantai kayu tua.

Mbah Kliwon berjalan perlahan menggunakan tongkat kayunya, menuntun kedua pemuda yang napasnya masih menyisakan kepanikan itu menuju ruang tengah.

Sang sesepuh mendudukkan dirinya bersila di atas tikar pandan yang mulai lapuk, lalu mengisyaratkan Yuda dan Dion untuk duduk berhadapan dengannya.

Di atas meja kayu yang melintang di antara mereka, dua buah cangkir seng berisi teh poci hangat masih mengepulkan uap tipis. Namun, tak satu pun dari kedua pemuda itu yang berniat menyentuhnya. Pikiran mereka masih tertuju pada teror di jalan raya dan bayangan kengerian di taman kampus tadi siang.

"Minumlah dulu," suara Mbah Kliwon berat dan dalam, memecah keheningan yang mengendap di ruangan tersebut. Tangannya yang keriput meraih wadah kuningan tempat ia menyimpan daun sirih.

"Kalian baru saja melintasi jurang maut. Energi kalian terkuras habis oleh ilusi penyesatan tadi." ucap Mbah Kliwon.

Yuda mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan yang masih gemetar. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Mbah Kliwon dengan mata yang memerah karena kelelahan batin yang amat sangat.

"Kami tidak punya waktu untuk minum, Mbah," potong Yuda dengan suara parau. Ia memegang lehernya, menarik sedikit kerah jaketnya ke bawah untuk memperlihatkan memar kebiruan yang membengkak di kulit lehernya. "Mbah Kliwon harus lihat ini. Ini bukan bekas sabetan senjata atau benturan fisik biasa."

Mbah Kliwon menghentikan jemarinya yang sedang memilah daun sirih. Mata cekungnya yang tajam tertuju pada leher Yuda. Pria tua itu menyipitkan mata, mengamati jejak memar berbentuk cengkeraman lima jari manusia yang memancarkan tipis aura kehitaman.

"Cengkeraman itu..." Mbah Kliwon bergumam pelan, raut wajahnya mengeras. "...bukan berasal dari kekuatan fisik manusia biasa."

"Bukan cuma bukan manusia biasa, Mbah!" Dion menyela dengan nada suara yang tak mampu menahan luapan emosi. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan kedua telapak tangannya di atas tikar pandan. "Yang melakukan ini pada Yuda... adalah Harumi! Harumi sendiri yang mencekik Yuda di taman belakang kampus tadi siang!"

Mbah Kliwon menatap Dion lambat-lambat, lalu kembali beralih menatap Yuda. "Ceritakan padaku. Ceritakan setiap detailnya dari awal, jangan ada yang kalian tutupi sedikit pun."

Yuda menarik napas panjang, meresapi rasa nyeri di tenggorokannya sebelum mulai bersuara.

"Tadi siang, Harumi mendadak diizinkan keluar rumah karena status bebas bersyaratnya sudah dicabut oleh polisi," cerita Yuda, suaranya terdengar gemetar mengingat momen mengerikan itu. "Dia menelepon saya, Mbah. Dia minta bertemu di taman belakang kampus. Saya pikir... saya pikir dia benar-benar Harumi yang merindukan saya. Saya datang, saya memeluknya, dan dia membalas pelukan saya dengan sangat lembut."

Mbah Kliwon mendengarkan tanpa memotong, wajahnya yang penuh keriput tampak sangat muram di bawah temaram cahaya lampu minyak.

"Tapi saat saya melepaskan pelukan dan menatap wajahnya..." Yuda menelan ludah dengan susah payah, "...sepasang matanya berubah total, Mbah. Cokelat matanya tersedot, berganti jadi warna hitam legam tanpa ada bagian putih sama sekali. Dan dari mulutnya... keluar suara yang sangat berat dan parau. Suara yang sama persis dengan iblis yang menyerang kami di ruang sekretariat dulu."

"Apa yang dikatakan entitas itu padamu, Nak Yuda?" tanya Mbah Kliwon dengan intonasi yang begitu rendah.

"Dia tertawa, Mbah," lanjut Yuda, matanya menatap kosong ke arah lantai kayu. "Dia mengejek saya. Dia bilang saya bodoh karena percaya pada pura-puranya. Dan tanpa sempat saya menghindar, tangan kanannya langsung mencengkeram leher saya. Dia mengangkat tubuh saya... tubuh saya yang jauh lebih berat dari dia, Mbah! Kaki saya mengambang di udara, tidak menyentuh tanah sama sekali."

"Gadis itu menggunakan tenaga gaib Panglima Jin," gumam Mbah Kliwon seraya menggelengkan kepala perlahan. "Tenaga yang sanggup meremukkan tulang belulang manusia dalam hitungan detik."

"Benar, Mbah!" timpal Dion dengan wujud emosi yang bergejolak. "Kalau saja saya tidak datang tepat waktu, Yuda sudah mati tercekik di sana! Saya merogoh botol air doa ruqyah pemberian Pak Rusdi yang ada di saku saya, lalu saya siramkan tepat ke wajah Harumi."

Mbah Kliwon menaikkan pandangannya ke arah Dion. "Air doa dari kakeknya?"

"Iya, Mbah!" jawab Dion mantap. "Begitu air doa itu kena kulit wajahnya, terdengar suara mendesis keras seperti air menyiram besi panas. Asap putih mengepul dari lehernya, dan dia meraung kesakitan. Suaranya melengking tinggi beradu sama suara berat iblis itu. Berkat air doa itu, cengkeramannya terlepas dan kesadaran Harumi sempat kembali sebentar sebelum akhirnya dia pingsan total."

Yuda memajukan tubuhnya, menatap Mbah Kliwon dengan sorot mata penuh keputusasaan dan permohonan yang teramat sangat. Kepalan tangannya menekan paha, meremas kain celananya hingga kusut.

"Mbah Kliwon... kami memohon dengan sangat pada Mbah," bisik Yuda, suaranya pecah oleh gumpalan air mata yang tertahan di pelupuk matanya. "Iblis itu sudah tidak lagi bersembunyi di dalam bayangan. Dia menggunakan raga Harumi untuk mencabut nyawa orang-orang di sekitarnya. Hari ini saya yang diserang, besok bisa jadi orang tuanya, atau Kakaknya sendiri, Haruma, di rumah sakit."

"Mbah Kliwon kan orang pintar di kawasan Klaten ini," Dion ikut memelas, matanya memancarkan ketakutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Tolong ikut kami ke Yogyakarta malam ini juga, Mbah. Tolong pakai ilmu batin Mbah untuk mengusir dan mencabut makhluk laknat itu dari dalam tubuh Harumi! Bebaskan Harumi sebelum dia dipaksa membunuh orang lagi!"

Keheningan seketika menyelimuti ruangan tersebut. Asap kemenyan meliuk pelan di udara, seolah ikut membeku bersama permohonan kedua pemuda itu.

Mbah Kliwon tidak langsung menjawab. Ia mengambil segenggam pinang dan daun sirih dari wadah kuningannya, mengunyahnya perlahan dengan riak wajah yang sama sekali tidak memperlihatkan simpati yang diharapkan. Pria tua renta itu hanya menatap Yuda dan Dion dengan sorot mata yang dingin, kelam, dan tak tersentuh.

Setelah waktu berlalu dalam kesunyian yang menyiksa, Mbah Kliwon akhirnya menghembuskan napas panjang. Ia meludah tipis ke wadah penampungan di sampingnya, lalu meletakkan tongkat kayunya di atas tikar dengan hentakan pelan yang menimbulkan suara keras.

TAK!

"Tidak," jawab Mbah Kliwon dengan suara yang sangat tegas dan datar.

Yuda dan Dion tersentak. Jawaban itu menghantam dada mereka bagaikan pukulan benda tumpul.

"M-maksud Mbah... tidak apa?" tanya Dion dengan nada gagap, tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.

"Aku tidak akan pergi ke Yogyakarta," tegas Mbah Kliwon, matanya menatap Dion lurus-lurus tanpa ada keraguan sedikit pun. "Dan aku tidak akan pernah melakukan tindakan bodoh seperti mengusir paksa entitas itu dari tubuh gadis tersebut."

Yuda membelalakkan matanya. Amarah dan rasa tidak terima seketika membakar dadanya, mengalahkan rasa hormatnya pada sang sesepuh.

"Kenapa, Mbah?!" seru Yuda seraya berdiri setengah berlutut di atas tikar. "Mbah tahu caranya! Mbah tahu sejarah tempat itu! Mbah tahu penderitaan Harumi! Kenapa Mbah menolak menolong kami di saat nyawa Harumi dan saya sedang diujung tanduk?!"

"Duduk kembali, Anak Muda!" bentak Mbah Kliwon dengan suara yang mendadak menggelegar, memancarkan daya batin yang membuat pundak Yuda dan Dion serasa ditekan oleh beban berat secara tak kasatmata.

Yuda terpaksa terduduk kembali, matanya menatap Mbah Kliwon dengan nyala kekecewaan yang sangat besar.

Mbah Kliwon memajukan tubuhnya, menatap Yuda dengan raut wajah sangat serius dan penuh peringatan mengerikan.

"Kau pikir meruwat atau mengusir jin yang merasuki manusia itu seperti mengusir lalat dari atas makanan, Nak Yuda?" desis Mbah Kliwon dengan intonasi dingin. "Buka mata batinmu! Makhluk yang ada di dalam raga kekasihmu itu bukan jin jahil desa! Dia adalah Panglima Jin dari Kerajaan Baka yang terikat oleh sumpah darah Roro Jonggrang!"

"Tapi kemarin air doa Pak Rusdi bisa membakar energinya, Mbah!" bantah Dion bersikeras. "Harumi bisa pingsan dan sadar kembali!"

"Air doa itu cuma kejutan sementara!" potong Mbah Kliwon dengan suara menaik. "Air doa itu cuma menyiram bagian luar kulitnya! Tapi akarnya... akar sihir hitam itu sudah merambat dan mencengkeram pembuluh darah, jantung, dan sukma gadis itu secara utuh!"

Mbah Kliwon mengetukkan jarinya di atas meja kayu dengan penekanan pada setiap kalimatnya.

"Entitas itu sudah menjadikan raga Harumi sebagai singgasananya," lanjut sang sesepuh dengan mata menyala. "Jiwa Harumi dan jiwa iblis itu sekarang saling bertautan bagaikan dua helai benang yang dipintal menjadi satu. Kalau kau paksa ilmu ruqyah atau ilmu pengusiran gaib tingkat tinggi untuk mencabut makhluk itu secara paksa dari dalam raganya... kalian tahu apa yang akan terjadi?"

Yuda menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. "Apa... apa yang akan terjadi, Mbah?"

"Sukma Harumi akan ikut terobek dan hancur lebur!" tegas Mbah Kliwon tanpa ragu sedikit pun. "Gadis itu tidak akan selamat. Pembuluh darah di otaknya akan pecah, jantungnya akan berhenti berdetak, dan dia akan mati di tempat sebagai jasad kosong sebelum iblis itu sempat keluar!"

Napas Yuda terasa tertahan di dada. Kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya tanpa ampun.

"Bukan cuma itu," Mbah Kliwon melanjutkan penjelasannya dengan nada yang kian mengintimidasi. "Entitas itu adalah entitas yang menuntut nyawa dan darah. Dia membalas dendam atas kekalahannya di masa lalu. Barang siapa yang berani mencampuri urusannya secara langsung dengan mencoba mengusirnya tanpa melalui ritual penawar yang sah... maka iblis itu akan mencabut nyawa sang perawat itu juga."

Mbah Kliwon menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jarinya yang kurus.

"Aku sudah tua, Anak Muda," ucap Mbah Kliwon pelan namun kelam. "Tapi aku tidak sekerdil itu untuk menyerahkan nyawaku secara konyol dalam pertempuran yang pasti kalah. Pengusiran langsung adalah tindakan bunuh diri ganda untukku dan untuk gadis yang kau cintai itu."

Dion merosot, bersandar lemas pada dinding kayu di belakangnya. "Jadi... tidak ada harapan, Mbah? Harumi harus dibiarkan terus seperti ini sampai dia membunuh kita semua?"

"Aku tidak pernah bilang tidak ada harapan," sela Mbah Kliwon seraya memutar cangkir teh pocinya. "Aku hanya menolak cara dangkal yang kalian minta. Pengusiran paksa adalah jalan buntu yang berujung kematian. Satu-satunya cara yang tersisa... adalah cara yang sudah kukatakan pada kalian kemarin."

Yuda menatap Mbah Kliwon dengan sisa-sisa harapannya yang nyaris padam. "Ritual di pelataran Prambanan pada malam bulan mati?"

"Benar," tegas Mbah Kliwon. "Hanya dengan mengembalikan pusaka yang ternoda darah itu ke pusat segel di pelataran candi, dan membiarkan darah keturunan asli menetes di atas bilahnya, jalinan sihir hitam yang mengikat sukma Harumi bisa terurai secara alami tanpa membunuh sukmanya."

Mbah Kliwon berdiri dari tempat duduknya. Pria tua renta itu melangkah mendekati jendela kayu yang mengarah ke luar rumah, menatap kegelapan malam yang kian pekat diiringi rintik gerimis yang membasahi pepohonan.

"Waktu kalian sudah tidak banyak karena sebentar lagi akan tiba malam bulan mati," suara Mbah Kliwon mengalun pelan, namun getarannya membawa bobot takdir yang sangat berat. "Pagar gaib kakeknya di rumah sakit akan runtuh sepenuhnya pada tengah malam esok. Iblis itu akan keluar dari sarangnya untuk mengakhiri segalanya."

Mbah Kliwon berbalik, menatap Yuda dan Dion yang masih tertegun di atas tikar pandan. Sepasang mata tua itu memancarkan aura keputusan mutlak yang tak bisa ditawar lagi.

"Jika kalian benar-benar ingin menyelamatkan gadis itu dan kakaknya, berhenti meminta keajaiban murahan padaku," titah Mbah Kliwon dengan nada menggelegar. "Kalian harus bersiap untuk pertempuran sesungguhnya di Candi Prambanan."

Kedua pemuda itu terdiam dalam cengkeraman takdir yang kian menghimpit. Keheningan malam di rumah Mbah Kliwon terasa kian pekat, menyembunyikan badai besar yang siap meletus saat matahari terbit esok hari dan hari-hari selanjutnya.

Penolakan tegas dari Mbah Kliwon tak hanya meruntuhkan harapan singkat Yuda dan Dion untuk mengakhiri teror secara instan, namun juga secara paksa menyeret mereka menuju satu-satunya persimpangan takdir yang tersisa.

Di tengah keputusasaan yang melingkupi ruang remang beraroma kemenyan tersebut, sang sesepuh tua akhirnya menegaskan batas akhir pertempuran mereka.

Untuk dapat melangkah ke pelataran Candi Prambanan pada malam bulan mati beberapa hari lagi dan mengurai sihir hitam yang mengikat sukma Harumi tanpa mengorbankan nyawanya...

Mbah Kliwon mengajukan dua syarat mutlak dan tak tertawar yang wajib dipenuhi oleh Yuda, Dion, serta seluruh keluarga Zaki sebelum garis tengah malam tersebut terlewati.

1
SecretS
sungguh membuat terkejut kak 🫨aku baru baca lengkap sinopsisnya 😔 aku pikir kutukan nya itu nyata looh, tapi alurnya bagus sih udah serem sih hampir mirip tirakat 3 pas pertemuan Nisa sama gendis. lanjut lagi kak 😄😄
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Satu langkah lagi puncaknya brarti ya... mangats bwt kalian, semoga bisa menyelamatkan rumi dari panglima jin kerajaan baka
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ini kek doa naik kendaraan apa bepergian yaa, tawaf ruwat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
ya zaky nya juga knpa kudu di kunci gitu kamarnya trs percaya aja sama Rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sabar ya Rumi, orang orang terdekat mu sedang berusaha untuk menyelamatkan mu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku kira bakalan ketauan Zaky atw membangunkan panglima jin yg ada di dalam tubuh Harumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo yudha nggak ada keturunan garis darah Bandung Bondowoso, bisa dipastikan dia udah nggak selamat
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
jangan jangan bener yuda masih ada turunan darah bandung
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Klo semisal rumah nggak nyelametin Rumi, masa iya Rumi mo di kurung trs, nunggu apa? nunggu sii yudha itu kah?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
kata panglima jin yg di tubuh Rumi
akhirnya aku nggak perlu jauh jauh mendatangi sang perisai
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mangsa yang nyamperin umpan... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
berat yaa perjuangan sblom berperang berpacu dengan waktu juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nahh bener tuh kata mbah kliwonn jangan nunggu keajaiban murahan tapi... berperang langsung. tapi dengan segala persiapan saya dan upaya ya yud wkwkwk nggak asal perang.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semoga mbah klien tidak dibelakang kan iblis prambanan itu juga, klo iya ntar nggak ada yg nolongin
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
tebakan aku dari awal ya yudha ini
Ilham
lanjut bg
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kak Ilham... 💪💪💪
total 1 replies
My.mitsubishi.triton Adventure X
Kenapa nama tokoh pemerannya sama dengan tirakat tp cerita nya berbeza bahkan tidak ada perewangan milik nisa dn haruma
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Karena novel "CINTAKU DI PRAMBANAN" ini adalah versi Alternate Universe (AU) dari Universe novel "TIRAKAT", Kak...

Jadi cerita utamanya berbeda, namun sebagian besar tokohnya sama.

Semoga Kakak juga suka ya... Dan, terima kasih banyak Kak, sudah komentar... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
di babb 20 keatas baru menangkap alur nya wkwkwk
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iyakah??? Hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Bagus, rekomendasi juga buat yang suka bacaan horror.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TERIMA KASIH, KAK ASMARA... 😍😍😍
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyalah nisa sebagai ibu nggak bakalan diam sama iblis itu, jadi percaya saja harumi biar sulit pasti bisa dilawan
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Hehehe...

"SAYA AKAN LAWAN!!!"
#KataSalahSatuLelakiDariSolo
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang ini serem ya apalagi baca nya malem
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ : iyaa serem
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!