Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Kemunafikan Xuan Meng
Kesadaran Chongyue yang mulai kabur perlahan kembali karena mendengar suara panik Yu Liu.
“Jangan... jangan panik, aku baik-baik saja,” bisiknya dengan napas berat.
Namun tubuhnya terasa semakin lemas. Dia yakin mata panah itu telah dilumuri racun.
Murong yang baru saja menangkis serangan Tetua Agung dengan satu tebasan segera melompat mundur dan langsung berlari menghampiri mereka.
“Berikan dia padaku!” serunya sambil berlutut di samping Yu Liu.
Murong melemparkan pedangnya ke tanah, kemudian menekan area di sekitar luka Chongyue untuk menghentikan aliran darahnya.
Setelah memastikan posisinya, dia langsung mencabut anak panah tersebut.
SRET
Begitu anak panah terlepas, darah segera mengalir keluar.
Namun saat melihat cairan yang melapisi mata panah itu, Murong mengerutkan kening.
Darah yang keluar dari luka Chongyue perlahan berubah menjadi hitam pekat.
“Racun...” gumamnya dengan suara rendah.
Murong mengangkat kepalanya, menatap Xuan Zheng dan yang lainnya dengan niat membunuh.
“Keluarga Xuan benar-benar hebat! Tidak hanya mengandalkan jumlah untuk mengeroyok kami, kalian bahkan menggunakan anak panah beracun untuk menyerang dari belakang!”
Perubahan yang terjadi di halaman itu berada di luar dugaan semua orang.
Di antara mereka semua, hanya Du Ru yang menyunggingkan senyum puas.
Xuan Zheng menoleh ke sudut halaman. Tatapannya langsung jatuh kepada Xuan Meng yang berdiri di sana sambil memegang busur panah.
Ekspresinya berubah semakin dingin.
Xuan Meng sendiri tidak menyangka Xuan Chongyue akan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi seorang pengawal.
Dia buru-buru menyembunyikan busurnya di belakang punggungnya, lalu berjalan mendekati mereka dengan langkah tergesa-gesa.
Sebelum Xuan Zheng menegurnya, dia sudah lebih dulu memasang ekspresi menyesal. Air mata mulai mengalir di pipinya. Dia menundukkan kepala sambil menggenggam ujung bajunya erat-erat.
“Kakek... Aku hanya ingin membantu karena melihat para tetua kesulitan menghadapi mereka!”
Xuan Xi yang melihat sandiwaranya hanya mencibir dalam hati.
Wanita ini benar-benar semakin pandai berpura-pura menjadi korban!
Jika dia tidak tumbuh besar bersamanya dan mengetahui sifat aslinya, mungkin dia benar-benar akan mempercayai tangisan Xuan Meng yang terlihat begitu tulus.
Meskipun Xuan Zheng masih merasa kesal, melihat raut wajah cucunya yang dipenuhi kesedihan dan penyesalan membuat amarahnya perlahan mereda.
Dia hanya mengibaskan tangannya dan berkata, “Sudahlah.”
“Terima kasih, Kakek, karena tidak menyalahkanku,” jawab Xuan Meng dengan patuh.
Melihat kemunafikannya, Yu Liu sangat marah. Namun dia tidak bertindak gegabah.
Bagaimanapun, saat ini yang paling penting adalah membawa Chongyue keluar dari tempat ini dan menyembuhkan racun di tubuhnya.
“Bunuh mereka semua,” perintah Xuan Yang dengan dingin.
Mendengar perintah itu, para tetua kembali mendekati Yu Liu dan Murong.
“Jenderal Xuan, apakah kau benar-benar ingin bermusuhan secara terbuka dengan Istana Shiyue kami?” Murong menatap Xuan Yang dengan dingin.
Xuan Yang terdiam.
Istana Shiyue merupakan organisasi pembunuh bayaran yang sangat berkuasa di Benua Timur. Jika tidak ada alasan yang benar-benar penting, tidak akan ada orang yang mau mencari masalah dengan mereka.
Namun bagi Xuan Yang, membunuh Xuan Chongyue—gadis yang selama ini dianggapnya sebagai pembawa malapetaka—adalah hal yang jauh lebih penting.
Dia tidak akan melupakan ancaman yang diucapkan gadis itu sebelumnya.
Jika Chongyue tidak mati, suatu hari nanti dia pasti akan kembali dan menghancurkan seluruh keluarga Xuan.
Bagaimana mungkin dia membiarkan benih bahaya seperti itu hidup?
Lagipula, Xuan Yang yakin Istana Shiyue tidak akan benar-benar bertindak terlalu jauh hanya demi seorang anak rendahan.
Setelah membunuh mereka semua, jika Istana Shiyue datang menuntut penjelasan, dia cukup mengatakan bahwa kedua pengawal itu pergi ke pegunungan dan tidak pernah kembali.
Kediaman Jenderal tidak mengetahui apa pun mengenai keberadaan mereka.
Setelah mempertimbangkan semuanya, Xuan Yang akhirnya berkata, “Bukan aku yang ingin menjadi musuh Istana Shiyue kalian. Salahkan diri kalian sendiri karena bersikeras melindungi orang yang tidak seharusnya dilindungi!”
Makna di balik perkataannya sudah sangat jelas.
Murong tidak mengatakan apa-apa lagi kepada mereka.
Dia menyerahkan anak panah beracun kepada Yu Liu sambil berkata, “Chongyue terkena racun. Tubuhnya sudah lemas dan dia tidak dapat menggunakan kekuatannya. Lindungi dia dengan baik. Aku yang akan menghadapi mereka.”
“Tapi...” Yu Liu ingin menolak, tetapi setelah melihat kondisi Chongyue, dia akhirnya mengangguk tegas. “Jangan khawatir. Aku akan melindungi Chongyue.”
Murong menambahkan, “Dan pastikan kau juga berhasil keluar dari sini.”
Mata Yu Liu memerah mendengar pesan itu, tetapi dia tidak menjawab.
Dia segera membantu Chongyue berdiri, kemudian menopang tubuhnya sambil membawanya menuju pintu keluar halaman.
Sementara itu, Murong berdiri di belakang mereka, menghadang para tetua yang berjalan ke arah mereka.
Menghadapi satu tetua saja sudah cukup sulit baginya. Sekarang dia harus menahan tiga orang sekaligus. Beban pertarungan yang harus ditanggungnya jelas jauh lebih berat.
Melihat Yu Liu berusaha membawa Chongyue pergi, Xuan Meng kembali memasang anak panah pada busurnya. Dia menarik tali busurnya hingga penuh, lalu melepaskan anak panahnya ke arah Yu Liu.
Namun, kali ini Yu Liu langsung bereaksi.
Begitu merasakan bahaya dari belakang, dia segera berbalik dan melemparkan anak panah yang berada di tangannya.
Dua anak panah melesat di udara dari arah berlawanan.
KLANG
Keduanya bertabrakan sebelum jatuh bersamaan ke lantai.
Melihat serangannya kembali gagal, Xuan Meng langsung melemparkan busurnya ke samping. Dia menghunus pedangnya dan menyerang Yu Liu.
Yu Liu yang masih harus menopang Chongyue memiliki ruang gerak yang sangat terbatas.
Menyadari hal itu akan menyulitkannya dalam pertarungan, dia segera membawa Chongyue ke tempat yang lebih aman dan mendudukkannya di sana.
Setelah memastikan Chongyue tidak akan terkena dampak serangan, dia berbalik dan menyambut serangan Xuan Meng.
Pedang keduanya beradu, menghasilkan suara dentingan tajam.
Xuan Meng dan Yu Liu sama-sama seniman bela diri tingkat enam dan keduanya merupakan master dua-elemen. Namun, kemampuan bertarung mereka tidak berada pada tingkatan yang sama.
Yu Liu telah melewati banyak pertarungan hidup dan mati. Setiap gerakannya terbentuk dari pengalaman nyata di medan pertempuran.
Sebaliknya, Xuan Meng selama ini hanya tekun berlatih di bawah bimbingan gurunya. Meskipun bakat dan kultivasinya luar biasa, pengalamannya menghadapi pertarungan yang sesungguhnya jauh lebih sedikit.
Karena itulah, setelah beberapa jurus saja, Xuan Meng mulai kewalahan.
Pedang Yu Liu bergerak cepat dan tepat, meninggalkan sebuah luka panjang di lengan Xuan Meng.
“Ah!”
Xuan Meng mendesis kesakitan dan mundur beberapa langkah.
Melihat putri kesayangannya terluka tepat di depan matanya, Xuan Yang sangat marah.
Tubuhnya bergerak secepat kilat dan dalam sekejap, dia sudah tiba di hadapan Yu Liu lalu melayangkan serangan telapak tangan yang dipenuhi tenaga dalam.
Yu Liu tidak menyangka Xuan Yang akan menyerangnya secara tiba-tiba.
Dia baru saja menghadapi Xuan Meng dan belum sempat menyesuaikan posisinya ketika telapak tangan Xuan Yang menghantam tubuhnya.
BANG
Tubuh Yu Liu terlempar beberapa meter.
“Uhuk!” Dia jatuh tersungkur di tanah dan memuntahkan beberapa teguk darah.
Yu Liu baru berada di tingkat enam, sedangkan Xuan Yang telah mencapai tingkat tujuh. Perbedaan satu tingkatan saja sudah cukup untuk menciptakan perbedaan kekuatan yang besar, terlebih lagi Xuan Yang menyerang dengan seluruh tenaganya.
Melihat Yu Liu tersungkur, Xuan Meng menyunggingkan senyum kejam dan berjalan ke arah Chongyue.
Meskipun Chongyue tidak bisa menggerakkan tubuhnya, kesadarannya masih sangat jernih.
Ketika melihat Xuan Meng mendekatinya selangkah demi selangkah, dia tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menatap wanita itu dengan tatapan dingin yang menusuk.
Tatapannya membuat langkah Xuan Meng tanpa sadar melambat. Hawa dingin tiba-tiba menjalar di sepanjang punggungnya.
Entah hanya perasaannya atau bukan, dia seperti melihat semburat biru yang sangat dingin berkelebat di dalam mata hitam Chongyue.
“Xuan Chongyue, seandainya kau tetap menjadi sampah yang tidak berguna, mungkin aku tidak akan membunuhmu.”
Xuan Meng mengangkat pedangnya dan mengarahkannya tepat ke jantung Chongyue.
“Namun sekarang kau bukan hanya tidak bodoh lagi. Kau bahkan sudah bisa berkultivasi!”
saya ingin sekali mencabik Xuan meng😡