Alya tidak pernah menyangka satu malam di rumah sakit akan mengubah seluruh hidupnya.
Di tengah duka atas kematian ibunya, ia justru terikat pada seorang bayi laki-laki yang lahir tanpa ibu dan tanpa masa depan yang jelas. Tanpa status, tanpa kepastian, bayi itu perlahan menjadi bagian dari hidupnya—hingga Alya memberinya nama: Rafa.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Ketika Dimas, ayah biologis Rafa, muncul dan menuntut haknya, Alya harus menghadapi kenyataan pahit: ia bukan siapa-siapa bagi bayi yang telah ia cintai sepenuh hati.
Di tengah kehilangan, hadir Reza—dokter yang diam-diam menjadi tempat Alya bersandar saat hatinya runtuh.
Kini Alya dihadapkan pada pilihan paling menyakitkan dalam hidupnya:
memiliki, atau merelakan.
Karena tidak semua yang kita cintai bisa kita miliki… dan tidak semua rumah berbentuk tempat tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon permata_silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Rahasia dalam Buku Harian...
Hujan turun menjelang malam.
Rintiknya membasahi kaca-kaca jendela Rumah Sakit Harapan Bunda, menciptakan suara yang lembut namun cukup untuk membuat suasana terasa semakin sendu.
Setelah pertemuan siang tadi, seluruh rumah sakit seolah berada dalam keadaan menunggu.
Menunggu hasil pemeriksaan.
Menunggu isi buku harian itu.
Menunggu rahasia yang tampaknya selama ini terkubur bersama masa lalu Nisa.
Dan bagi Alya, penantian itu terasa sangat panjang.
Malam itu ia kembali duduk di depan ruang bayi.
Sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa ia hentikan.
Di balik kaca, Rafa sedang tertidur pulas setelah seharian aktif.
Wajah kecil itu terlihat damai.
Sangat damai.
Seolah dunia tidak sedang berubah di sekelilingnya.
Alya tersenyum tipis.
"Kalau saja kamu tahu berapa banyak orang yang sedang memikirkanmu sekarang."
bisiknya pelan.
Namun kali ini pikirannya tidak hanya dipenuhi Rafa.
Nama lain juga terus muncul.
Nisa.
Sejak melihat foto-foto itu siang tadi, Alya tidak bisa berhenti membayangkan seperti apa kehidupan wanita tersebut.
Apa yang membuatnya menghilang?
Apa yang membuatnya memilih menjalani kehamilan seorang diri?
Dan yang paling penting...
Apa yang sebenarnya ia sembunyikan?
Sekitar pukul delapan malam, langkah kaki terdengar mendekat.
Alya menoleh.
Reza.
Dokter itu tampak baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Namun dari wajahnya, Alya bisa melihat bahwa pikirannya juga sedang penuh.
"Aku tahu dari ekspresimu."
kata Alya.
"Ekspresi apa?"
"Kamu tahu sesuatu."
Reza menghela napas pelan.
Lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Aku tidak tahu semuanya."
"Tapi?"
"Tadi direktur memintaku ikut melihat beberapa bagian isi buku harian."
Jantung Alya langsung berdetak lebih cepat.
"Apa isinya?"
Reza terdiam beberapa detik.
Seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.
"Lebih menyedihkan daripada yang kita bayangkan."
Kalimat itu membuat dada Alya terasa sesak.
Karena selama ini saja kisah Nisa sudah terdengar menyakitkan.
Jika ternyata lebih buruk dari itu...
Berapa banyak penderitaan yang sebenarnya dialami wanita tersebut?
"Apa dia menulis tentang Rafa?"
tanya Alya pelan.
Reza mengangguk.
"Hampir di setiap halaman."
Mata Alya langsung terasa hangat.
Reza melanjutkan.
"Nisa sangat mencintai anaknya."
Suasana menjadi hening.
"Ada banyak tulisan tentang ketakutannya."
"Tentang harapannya."
"Tentang rasa bersalahnya."
Alya menunduk.
Karena mendengar itu saja sudah cukup membuat hatinya nyeri.
"Rasa bersalah karena apa?"
Reza menatap lorong yang mulai sepi.
"Karena menurutnya, Rafa akan lahir ke dunia yang tidak siap menerimanya."
Alya langsung memejamkan mata.
Kalimat itu terasa begitu menyakitkan.
Karena setiap ibu pasti menginginkan hal terbaik untuk anaknya.
Namun Nisa justru menghabiskan masa kehamilannya dengan ketakutan bahwa dunia tidak akan menerima anaknya.
"Dia pasti sangat sendirian."
bisik Alya.
Reza tidak menjawab.
Karena mereka berdua tahu jawabannya.
Ya.
Nisa sangat sendirian.
Keesokan paginya, suasana rumah sakit kembali sibuk.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Mira masih berada di rumah sakit.
Wanita itu tampak lebih tenang dibanding kemarin.
Meski lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia juga tidak banyak tidur.
Sekitar pukul sepuluh pagi, pihak rumah sakit kembali mengadakan pertemuan kecil.
Tidak semua orang hadir.
Hanya direktur, beberapa petugas, Mira, Dimas, Reza, dan Alya.
Begitu semua duduk, direktur membuka sebuah map.
"Semalam kami sudah memeriksa sebagian isi buku harian."
Semua orang langsung fokus.
Direktur menarik napas panjang.
"Ada beberapa informasi penting di dalamnya."
Jantung Alya kembali berdebar.
Mira menundukkan kepalanya.
Seolah sudah tahu apa yang akan dibahas.
"Nisa menulis cukup rinci tentang kehamilannya."
Direktur membuka salah satu salinan catatan.
"Lalu?"
tanya Dimas.
Suaranya terdengar lebih tegang dari biasanya.
Direktur menatapnya beberapa saat.
"Lalu kami menemukan sesuatu."
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
"Nama Anda."
Dimas langsung membeku.
Sementara Alya refleks menoleh ke arahnya.
Direktur melanjutkan.
"Nama Dimas disebut berkali-kali."
Tidak ada yang berbicara.
Karena semua orang masih mencoba memahami kalimat itu.
"Apa maksudnya?"
tanya Dimas perlahan.
Direktur membuka halaman lain.
"Nisa menulis bahwa ia beberapa kali mencoba menghubungi Anda."
Mata Dimas langsung melebar.
"Apa?"
"Tetapi tidak pernah berhasil."
Suasana menjadi hening.
Sangat hening.
Karena informasi itu mengubah banyak hal.
Selama ini semua orang mengira Nisa menyembunyikan keberadaan Rafa.
Namun isi buku harian justru menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Nisa ternyata pernah mencoba mencari Dimas.
Pernah mencoba menghubunginya.
Dan gagal.
"Itu tidak mungkin."
bisik Dimas.
Tangannya mulai bergetar.
"Aku tidak pernah menerima apa pun."
Direktur mengangguk.
"Itulah yang sedang kami coba pahami."
Mira yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Aku ingat sesuatu."
Semua orang menoleh ke arahnya.
Wanita itu terlihat gugup.
"Saat itu Nisa pernah bilang nomor Dimas sudah tidak aktif."
Dimas mengernyit.
"Nomorku memang sempat berganti."
"Lalu akun media sosialnya juga hilang."
lanjut Mira.
Ruangan kembali sunyi.
Potongan-potongan cerita mulai menyatu.
Dan perlahan sebuah kenyataan pahit mulai terlihat.
Kemungkinan besar...
Nisa tidak pernah benar-benar berniat menjauhkan Rafa dari ayahnya.
Ia hanya tidak berhasil menemukan Dimas.
Sementara Dimas tidak pernah tahu bahwa Nisa sedang mencarinya.
Kesalahpahaman yang sederhana.
Namun dampaknya mengubah hidup banyak orang.
Dimas menunduk.
Kedua tangannya mengepal.
Mata pria itu tampak memerah.
"Aku..."
Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Aku benar-benar tidak tahu."
Tidak ada yang menyalahkannya.
Tidak ada yang menyalahkan Nisa.
Karena terkadang hidup memang kejam.
Terkadang dua orang bisa saling mencari...
Namun tetap tidak menemukan satu sama lain.
Dan akibatnya harus ditanggung oleh banyak orang.
Termasuk seorang bayi yang lahir tanpa ayah di sisinya.
Pertemuan berlanjut.
Direktur menjelaskan beberapa bagian lain dari buku harian.
Tentang ketakutan Nisa.
Tentang perjuangannya mencari pekerjaan selama hamil.
Tentang hari-hari ketika ia harus berpindah tempat tinggal.
Tentang rasa takut menghadapi persalinan seorang diri.
Setiap cerita membuat suasana semakin berat.
Bahkan Alya beberapa kali harus mengusap air matanya.
Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar mengenal sosok ibu Rafa.
Dan semakin mengenalnya...
Semakin ia merasa kagum.
Nisa mungkin tidak sempurna.
Namun ia berjuang sampai akhir.
Demi anak yang bahkan belum sempat ia peluk.
Saat pertemuan hampir selesai, direktur menutup map tersebut.
"Kami masih belum membaca seluruh isi buku harian."
Semua orang kembali memperhatikannya.
"Ada beberapa halaman terakhir yang tampaknya sangat penting."
Jantung Alya kembali berdetak cepat.
"Kenapa?"
Direktur menatap Mira.
Lalu berkata pelan,
"Karena di halaman-halaman itu, Nisa menulis tentang sebuah rahasia."
Ruangan langsung membeku.
Sementara Mira menutup matanya perlahan.
Seolah selama ini ia sudah menunggu momen itu datang.
Dan saat membuka matanya kembali, air mata mulai mengalir di pipinya.
Karena ia tahu...
Rahasia yang tertulis di halaman terakhir buku harian itu adalah alasan sebenarnya mengapa Nisa menghilang.
Alasan yang selama ini tidak diketahui siapa pun.
Dan jika rahasia itu terbongkar...
Maka hidup Rafa tidak akan pernah sama lagi.
semangat thor...semoga secepatnya rame ya thor
aamiin yra