Jessica Kyle, gadis yang akrab disapa Cassie, harus tegar menghadapi kenyataan hidup tanpa kehadiran sosok Eksel Kyle, sang Ayah.
Gadis itu menjalin kedekatan dengan seorang perwira pelaut bernama, Clee, yang adalah kakak dari teman dekatnya, Prilla.
Tiba-tiba dia dipinang oleh Ignas Wijaya, pengusaha muda yang tampan dan perhatian, namun lebih mendengarkan Lilian, ibunya.
Bagaimana kelanjutannya? Check it out ➡️
⚓
Cerita ini murni hasil pemikiran author setelah bersemedi di rawa-rawa selama berabad-abad.
Jika ada kesamaan nama, waktu, dan tempat itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam
Pagi ini, kediaman Damar Wijaya sangat sepi dan tenang. Setelah Ignas berangkat ke kantor, Lilian dan Cassie berdiam diri di dalam kamar masing-masing.
Beberapa hari ini, Cassie selalu melewatkan jam makan siang. Dia hanya sarapan dan makan malam bersama saat ada Ignas. Saat suaminya tidak di rumah, maka dia tidak akan makan.
"Selamat siang!" Kata Damar sambil masuk ke dalam rumah.
"Siang, pih. Mau makan dulu atau mandi dulu?" Tanya Lilian saat menyambut suaminya.
"Papi mau tidur dulu." Jawab Damar sambil memegang dadanya.
"Pasti papi kecapean. Hati-hati pih." Lilian memapah suaminya ke kamar.
Setelah itu Lilian bengong di teras depan. Dia merasa sedih dan bingung harus berbuat apa.
"Mami kenapa?" Tanya Ignas yang baru tiba di rumah.
"Papi kamu, Nas." Lilian tampak lesu.
"Papi kenapa?"
"Dadanya sakit lagi."
"Papi udah pulang?" Tanya Ignas lagi.
Lilian mengangguk lemah.
"Kita bawa ke rumah sakit aja, mih." Sambungnya.
"Papi gak mau. Kamu tahu sendiri kan, gimana papimu."
"Papi mana?"
"Lagi tidur di kamar. Tadi waktu pulang belum sempat makan."
Ignas langsung masuk ke dalam kamar utama untuk melihat keadaan papinya.
Pria paruh baya itu sedang tertidur pulas. Mungkin lelah melakukan perjalanan jauh atau mungkin pekerjaan di tempat dinas sangat banyak. Ignas keluar lagi dan menutup pintu dengan hati-hati.
...###...
"Papi belum bangun, mih?" Tanya Ignas saat mereka bersiap untuk makan malam.
"Sudah bangun, tapi masih di kamar."
"Ignas panggil papi dulu." Kata Ignas sambil bangkit dari duduknya.
Tok tok
"Pih, Ignas masuk yah." Ucap Ignas hati-hati. "Gimana perasaan papi, udah jauh lebih baik?"
"Papi tidak baik-baik saja, sama seperti istrimu." Gumam Damar tanpa menatap Ignas.
"Papi masih marah soal yang waktu itu?"
"Kamu bikin malu, papi. Apa kamu pernah lihat papi sejahat itu ke mamimu? Mungkin kami pernah bertengkar tapi papi gak pernah sampai bikin mami sekarat di ruang ICU." Geram Damar.
Rupanya yang membuat Damar kelelahan bukan hal-hal remeh seputar pekerjaan dinas, melainkan masalah keluarganya.
Rumah tangga anaknya sedang tidak baik-baik saja, di tambah lagi istrinya selalu ikut campur bahkan melewati batas.
"Bagaimana nanti papi akan menghadapi Eksel saat bertemu di akhirat." Damar mencengkram erat dadanya.
"Jangan bicara begitu, pih. Kami udah baikan, mami sama Cassie juga udah baikan."
"Kata siapa? Kalau kamu jadi Cassie, apa kamu bisa melupakan semuanya begitu saja? Dasar tidak punya hati." Cecar Damar.
Lilian yang berdiri di pintu, urung untuk masuk. Wanita itu mengusap air matanya. Dia sadar betul, suaminya seperti itu karena masih marah.
Cassie yang baru keluar dari pintu kamarnya, termenung menyaksikan semua itu. Kalimat yang dilontarkan Damar memang benar adanya. Hati Cassie masih sangat sakit. Perasaannya tercabik-cabik.
Kalau Orin sampai tahu tentang kejadian waktu itu, dia pasti akan meraung-raung tidak terima. Selama ini Cassie menutup mulutnya rapat-rapat.
Cassie diam bukan karena takut bicara. Bukan juga karena takut menyakiti perasaan Orin. Tapi untuk melindungi harga dirinya. Baginya, pernikahan itu sekali seumur hidup. Dia tidak menyukai trend modernisasi yang menggampangkan perpisahan.
Dia tidak ingin rumah tangganya gagal karena alasan apapun. Maka dari itu, dia diam saja ketika ditindas dan diintimidasi. Dia menerima mentah-mentah cercaan dari suami dan ibu mertuanya.
Cassie mengusap air matanya, mengingat dia sudah terlalu jauh melangkah bersama Ignas. Dan sejauh ini tidak ada kedamaian di dalamnya, tidak sedetikpun dia bisa bernafas lega sejak tinggal di rumah mertuanya.
Tiba-tiba dia merindukan rumahnya yang sudah rata dengan tanah. Rumah yang sekarang hanya tinggal kenangan.
"Mami..." Ignas membantu Lilian yang sejak terduduk di depan pintu kamarnya untuk bangkit berdiri.
"Sayang..." Gumam Ignas sambil menghampiri istrinya. Wanita yang sudah menjadi istrinya selama beberapa tahun ini, menatap nanar dirinya.
Ignas ingin memeluk wanita itu, tapi Cassie melangkah mundur dan masuk ke dalam kamar. Dia bahkan mengunci pintu, seolah membuat jarak di antara mereka.
"Biarkan dia, Nas." Damar mengangkat suara. Saat ini pria itu sedang berdiri di depan pintu kamarnya. "Kemarilah, kita bertiga harus bicara."
...###...
"Kalau mami memang gak mau mereka pergi dari rumah, mami harus bisa menerima Cassie." Titah Damar.
"Mami harus bagaimana lagi menghadapi anak itu?" Lilian memang tidak pernah diam, itu bukan tabiatnya.
"Mami bicara seolah-olah Cassie adalah menantu yang menyusahkan mami. Apa pernah Cassie bicara kasar pada mami?"
Lilian hanya diam tak memberi tanggapan.
"Apa pernah Cassie mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan mami?"
Hening. Tidak ada yang berani menyahuti Damar, bahkan suara detak jantung mereka dapat terdengar saking heningnya.
Lilian dan Ignas memang memperlakukan Cassie dengan baik saat Damar sedang melakukan perjalanan dinas. Bukan karena mereka menerima keberadaan Cassie, melainkan karena takut pada Damar.
Entah mengapa ibu dan anak itu takut jika Cassie mengadu pada Damar. Padahal mereka tahu betul, Cassie tidak akan melakukan itu bahkan jika ditanya langsung oleh Damar.
Mereka bahkan memuji-muji Cassie di depan keluarga pak Raden, karena tahu mereka di kirim Damar untuk memantau keadaan rumah.
Menurut pengamatan pak Raden, Ignas dan Lilian memuji Cassie mati-matian tapi tampak sangat dipaksakan. Itu sangat tidak natural dan Cassie terlihat risih diperlakukan seperti itu.
Itu membuat Damar semakin murka karena mereka hanya sibuk ber-ackting.
...###...
Keesokan harinya, mereka berkumpul di ruang keluarga setelah sarapan pagi. Suasananya masih sama seperti kemarin, tidak ada yang berani bersuara.
Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Lilian sangat ingin berkoar tapi tertahan karena tatapan mata Damar sangat mengintimidasi dirinya. Diam jelas bukan tabiatnya.
Damar seolah tak mengizinkan Ignas dan Lilian bersuara sebelum Cassie bicara duluan. Jika ada Enza, sudah pasti dia yang akan menjadi juru bicara Cassie.
Menunggu Cassie bicara duluan? Diam saja terus sampai semut-semut siap mendaki gunung Himalaya.
"Cassie, ayo katakan sesuatu."
Wanita itu menatap Ignas dengan tanda tanya besar. Dia tidak paham situasi macam apa ini, dan dia sedang di minta bersuara.
"Pih..." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Ignas. Dia mau bagaimana lagi kalau Damar sudah mengangkat tangannya untuk memberi isyarat agar dia berhenti bicara.
"Nama kamu bukan Cassie." Damar memancarkan tatapan dinginnya, membuat mereka bergidik ngeri.
"Kalau Cassie mau mengatakan sesuatu katakan saja. Ini kesempatan kamu untuk bicara. Jangan takut, selama ada papi kamu aman."
Cassie merasa senang menemukan figur seorang ayah lagi, di dalam Damar. Meski hanya menantu, tapi Damar menyayanginya seperti anak sendiri.
Walau demikian, Cassie tetap mawas diri. Dulunya Lilian juga bersikap seperti itu dan membuatnya terbuai. Jangan sampai Damar juga nanti berubah seperti itu.
Cassie menguatkan dirinya sendiri. Dia tidak ingin mempercayai keluarga Damar Wijaya. Cukup tidak mau termakan bujuk rayu lagi dan harapan palsu.
"Iya, pih." Cassie menarik nafas dalam dalam. Ignas dan Lilian tampak tegang.
"Cassie minta maaf sama semuanya." Wanita itu menghela nafas panjang. "Cassie minta maaf karena sangat jauh dari kata sempurna."
Air mata Cassie menitik. Dia tidak percaya apa yang barusan dikatakannya.
"Cassie belum bisa menjalankan tugas sebagai seorang istri sepenuhnya karena belum mampu menjadi seorang ibu. Tolong pahami, itu di luar kuasa Cassie."
Sudah empat tahun lamanya dia dan Ignas menjalani kehidupan rumah tangga tanpa kehadiran buah hati. Itu bukan perkara mudah, itu perkara luar biasa.
Hanya Tuhan yang tahu seberapa dalam mereka berdua mendambakan kehadiran buah hati. Orang-orang hanya bisa mengomentari, tanpa memahami neraka yang harus mereka lalui.
Melakukan program hamil dengan ramuan herbal sampai ramuan dokter, konsultasi dengan dokter kandungan, dokter saraf, hingga psikolog.
Sebagai manusia biasa, itu terasa sangat berat dan biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit. Tapi itu adalah sebagian dari usaha. Dan mereka percaya, hasil tidak akan mengkhianati usaha.
...
komplik nya ngga kelar"
Bener banget, thor. Keren 👍
Rasanya kyak datang jg ke tempat wisata yg di bahas, author.
Keren bgt pokoknya. Lanjutkan, thor