Satu rumah dengan orang yang paling kita cintai, memang impian semua orang, tapi bagiku itu seperti neraka.
Bagaimana jadinya jika pernikahan yang seharusnya tumbuh karena cinta dan malah terjadi karena ketidaksengajaan.
Dan di satu rumah kan bersama orang yang kita sayangi namun berakhir tragis.
bagaimana kelanjutan kisahnya, jangan lupa untuk menambahkan ke favorit biar dapat informasi updatenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti Fauziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PULANG
"GAK USAH KEMBALI LAGI!!!, Lo bawa sial buat gue, karena Lo kedua orang tua gue ninggalin gue" bentaknya membuat ku kaget dengan sikapnya yang seperti ini.
Air mata tak bisa dibendung lagi, semuanya sudah menetes.
Bagaimana bisa Danial membentakku seperti itu, aku keluar dari kamarnya dengan menangis terisak-isak.
Aku berlari ke arah taman belakang tanpa memikirkan apapun bahkan aku tidak menghiraukan Noku yang memanggilku.
*di taman belakang*
"aku tau ini berat bagi Danial, tapi apa pantas dia berkata seperti itu" aku terus menggerutu sambil terisak-isak.
"Zi kamu kenapa?" tanya seseorang dari arah belakang.
Ternyata itu Noku, mungkin dari tadi dia memperhatikanku dan aku tidak sadar akan kehadirannya.
"enggak cuma kelilipan kok" aku membuat alasan.
"sini biar aku liat" ucapnya mempojokanku, yang entah mungkin dia tahu yang sebenarnya.
"eh ngapain?" aku mencoba menghindar saat Noku mencoba mendekat.
"katanya kelilipan, aku mau bantu niupin" ucapnya dengan enteng.
"gak usah" aku mendorong sedikit wajahnya yang sudah sedikit mendekat ke arahku.
Brughhhh
Tiba-tiba suara pintu di pukul entah di tendang terdengar dari belakang kami.
"OH BAGUS YA KELAKUAN KAMU SEKARANG!!, belum kelar duka kamu udah tambah luka baru"
"mulai besok kamu gak perlu Dateng kesini lagi" ucapnya dengan emosi.
"dan kamu salah paham, ini gak seperti yang kamu bayangin" aku mencoba menjelaskan.
"kamu gak usah nyangkal, aku udah liat dengan mata kepala aku sendiri kalo kalian bermesraan dari tadi, yang aku gak habis pikir kenapa kalian gak bisa pilih timing yang lebih santai gitu, kenapa harus sekarang?"
"oh, kalian senang dan mau liat aku hancur sehancur - hancurnya?" Ucapannya tidak bisa kami bantah dan kami hanya mendengarkan Danial yang terus mengoceh.
setelah lama Danial bicara dia berhenti juga dan meninggalkan kami berdua di belakang.
"Zi, apa gak sebaiknya kamu jelasin sama Danial" ucap Noku merasa bersalah.
"enggak ngaruh juga, karena Danial udah sebenci itu sama aku" ucapku pasrah.
"agak lain yah kalian, kemarin-kemarin Danial ngejar-ngejar kamu, sekarang udah saling gak peduli satu sama lain, pusing liatnya" ucap Noku sambil berlalu pergi ke dalam rumah.
setelah beberapa saat aku merenungi semua masalah ini dan aku sadar memang mungkin benar apa kata Danial kedatangan aku di hidupnya membuat hidup Danial perlahan hancur dan aku juga manusia punya hati dan nurani, melihat Danial seperti ini juga sama membuatku hancur.
"mungkin sekarang lebih baik aku keluar dari keluarga ini"
"sebaiknya aku jangan datang lagi kesini"
"tapi gimana aku bilangnya sama Oma, apalagi sekarang Oma butuh seseorang untuk bersandar"
"aku juga gak tega ninggalin Oma dalam keadaan begini"
Aku terus bergumam dalam hati memikirkan keadaan ini.
*
Perlahan aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah, dan semua orang sudah sibuk mempersiapkan pengajian untuk Bu Yuri sekaligus pengajian Om Arham.
Aku berjalan menuju kamar Oma, untuk mengecek kondisi Oma.
"Oma" aku mengetuk pintu kamarnya perlahan seraya memanggilnya perlahan.
"masuk" terdengar jawaban dari dalam mempersilahkan.
Aku membuka pintu kamar dan ternyata Oma sedang berdiri di pinggiran jendela kamar menatap kearah langit.
"Oma sedang apa? Oma jangan banyak pikiran" tanyaku.
"enggak, oma cuma ingin bicara dengan anak Oma, kenapa dia gak pulang dan malah menyusul istrinya. Secinta itukah dia sama istrinya di banding Oma" ucap Oma.
"udah, Oma jangan banyak pikiran macem-macem. Nanti malam kan kita mau pengajian ya masa Oma nya sedih kan gak enak sama tamu dan Bu Yuri juga pasti sedih kalo liat Oma begini, apa Oma tega melihat Bu Yuri sedih" aku berusaha menenangkan sebisanya.
*
Sehabis pengajian Oma langsung masuk ke kamarnya di susul dengan beberapa pelayan yang menuntunnya, aku hanya diam memaku melihat sekeliling dan sesekali menatap kamar Danial yang masih tertutup rapat.
Aku tau ini menyakitkan bagi dia, ditinggalkan kedua orangtuanya dalam waktu bersamaan jika aku di posisi dia mungkin aku juga akan bersikap seperti itu.
"Kamu ngapain ?" Tanya seseorang membuyarkan lamunanku.
"Eh, om Noku"
"Enggak, aku cuma mikir aja apa mungkin karena kehadiranku di keluarga ini membawa bencana bagi semuanya?" Ucapku sambil berkaca-kaca.
"Kok kamu ngomong gitu sih?" Tanyanya balik.
"Benar kata Danial, jika aku gak hadir ditengah keluarga ini, mungkin kalian gak akan seperti ini." Aku terus melantur.
"Disini gak ada yang nyalahin kamu, kamu gak boleh mikir gitu. Kita semua sayang sama kamu"
"Aku juga sayang sama kamu" ucapnya sambil menatapku.
Ternyata saat adegan itu Danial keluar dari kamarnya dan membuat kesalah pahaman yang sangat salah.
"Oh jadi ini tujuan kamu?" Ucapnya seraya berjalan menghampiri kami.
"Dan, ini gak seperti yang kamu denger. Kamu salah paham" aku mencoba menjelaskan semuanya.
"Apalagi?"
"SEMUA UDAH JELAS, KAMU DATANG KESINI CUMA BUAT NGAMBIL HATI SEMUA ORANG LALU KAMU BUNUH MEREKA SECARA PERLAHAN!!!" Bentaknya.
"Lo gak pantes ngomong begitu sama Zia"
"Kalo Lo mau lampiasin amarah Lo, jangan bawa-bawa Zia, dia gak tau apa-apa" Tiba-tiba Noku membelaku.
"Terserah kalian, lanjutkan sesuka kalian" tempasnya sambil menatap kami bergantian.
"Untuk Lo ambil bekas gue" ucapnya pada Noku sambil menunjuk ke arahku.
Mendengar itu air mata yang susah payah aku tahan tidak bisa terbendung lagi, semuanya mengalir dengan deras.
"Mau dia bekas Lo atau orang lain, gue gak peduli. Karena gue gak akan Mandang perempuan dari satu sisi" ucap Noku terus membela.
"TERSERAH!" Ucapnya sambil masuk ke kamar lagi.
BRAKKK (Suara pintu yang di tutup dengan keras terdengar menggema di seluruh ruangan)
*
Setelah kejadian itu Noku mengantarku pulang karena dia yakin jika aku diam disana mungkin Danial akan terus menghinaku dengan kata-katanya yang ngawur entah dia dengar dari mana.
"Makasih, mau masuk dulu?" tawarku pada Noku.
"Enggak makasih, udah malem sebaiknya kamu istirahat aku mau langsung pulang juga gak enak ninggalin Oma sendirian" jawabnya.
Setelah mobil Noku pergi aku masuk kedalam rumah dan langsung beristirahat.
Keesokan harinya aku berniat mengunjungi rumah Danial untuk meminta maaf.
"Bi Danial ada?" tanyaku pada beberapa pelayan yang sedang beres-beres.
"Sepertinya ada deh, soalnya dari semalam gak keluar keluar dari kamarnya" ucap salah satu dari mereka.
"Oh gitu, aku mau samperin dulu siapa tahu belum bangun" aku bergegas menuju ke arah kamar Danial.
Tok tok tok
"Dan..?" ucapku sambil mengetuk pintu kamar.
Tidak ada sahutan dari dalam aku mencoba membuka pintunya dan untungnya tidak terkunci.
"Dan" Aku melihat Danial masih tidur di kasurnya.
"Dan bangun udah siang, makan dulu yuk" aku berusaha membangunkannya dengan lembut karena takut amarahnya belum reda.
"Apa-apaan sih, ganggu aja" ucapnya ketus.
"Makan dulu yuk, nanti sakit" ajakku mengalihkan suasana berusaha membuat Danial luluh.
"Gak mau!" Ucapnya dengan ketus.
"Dan, makan dulu sedikit aja ya. Aku buatin dulu nanti aku balik lagi dan kamu harus udah bangun beres-beres" tawarku padanya.
"Ya" ucapnya sambil menatapku tajam.
"Ya udah aku buatin dulu sarapan, ada request mau apa?" Tanyaku.
"Bebas aja" jawabnya asal.
Tanpa menunggu lagi aku langsung menuju dapur untuk memasak sarapan untuknya.
"Sepertinya makanan berkuah jauh lebih baik untuk sarapan" ucapku pada diri sendiri.
Aku mengambil beberapa bahan dari kulkas karena aku berniat akan membuat soto.
"Mau masak apa non?" Tanya salah satu pelayan.
"Enggak ini cuma mau masak soto buat sarapan Danial" jawabku.
"Oh, mau bibi bantuin?" Tanyanya.
"Enggak usah bi, biar aku aja bibi juga masih banyak kerjaan kan" jawabku.
Setelah selesai masak aku kembali ke kamar Danial dengan membawa makanan.
"Dan, udah selesai?" Tanyaku padanya basa-basi karena kau lihat dia juga udah selesai mandi dan udah rapi.
"Mau makan sendiri atau disuapin?" Tawarku padanya dengan sedikit ragu karena baru kali ini juga aku menyuapinya.
"Boleh" jawabnya tanpa berpikir.
Aku menyuapi Danial di atau tempat tidur karena Danial masih duduk di ranjangnya.
Selesai makan Danial meraih tanganku dan menatap tajam ke arahku.
"Ada apa Dan?" Tanyaku heran.
"Aku mau kita pisah secara baik-baik ya" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maksud kamu?" Aku heran kenapa dia bersikap seperti ini.
"Aku gak bisa lanjutin hubungan ini sama kamu, maaf aku gak bisa menjadi calon suami yang baik buat kamu" ucapnya dengan nada sedih.
"Ada sih Dan? Gak mungkin kamu tiba-tiba begini" aku heran apa alasannya berkata seperti itu.
"Sebenarnya, beberapa bulan lalu aku sempat bertemu mantan pacarku di sebuah club malam dan tanpa aku sadari aku menidurinya dan membuat dia hamil, itu sebabnya ibu sakit, mungkin karena memikirkan hal itu" ucapnya menyesal.
"APA? KAMU GAK BECANDA KAN ?" Tanyaku kaget dengan nada sedikit tinggi.
"Iya aku jujur, dan semua orang gak ada yang tahu masalah ini hanya aku, ibu dan entah Noku juga tahu darimana" jawabnya lagi.
"Siapa perempuan itu" tanyaku penasaran.
"Kamu gak perlu tahu siapa dia karena dia sangat jauh berbeda darimu" ucapnya.
"Kalo dia jauh berbeda dariku kenapa kamu lebih memilih dia?" Aku tidak terima Danial berlaku seperti itu.
"Aku gak sadar Zi, maaf" ucapnya lagi.
Bagai disambar petir siang hari aku berlalu dari kamar Danial tanpa mendengarkan penjelasannya lagi dan langsung pulang dengan berurai air mata, sepanjang jalan aku hanya menangis.
"Kalo Lo seperti ini dulu seharusnya kamu gak usah datang di kehidupanku" Aku bergumam sendiri di jalanan.
Tanpa aku sadar aku sudah berjalan jauh dari rumah Danial, dan aku segera memesan taxi online untuk pulang.
semangat terus up nya,, ceritanya bagus 😍💪
-cinta jangan datang terlambat
-ternyata itu cinta