Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Bercerai Dari Suami Brengsek Jatuh Ke Pelukan Vilain

Transmigrasi: Bercerai Dari Suami Brengsek Jatuh Ke Pelukan Vilain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeje Jennifer

Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya


Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membujuk istri

Celeste diam. Bibirnya mengatup rapat.

Jari-jari Caspian di pinggang Celeste bergerak pelan, mengusap naik-turun di atas kain gaun hitam, merasakan lekuk tubuh istrinya di bawah sana. Tangan yang di punggung ikut bergerak, menelusuri tulang belikat yang terbuka, lalu turun ke pinggang lagi, menarik tubuh Celeste semakin rapat ke dadanya. Ia mengecup pelan pelipis Celeste, lalu turun ke kelopak mata yang terpejam, lalu ke pipi yang masih sedikit basah.

“Aku salah,” gumamnya di antara kecupan itu. “Tapi aku tidak pernah menganggapmu bodoh. Tidak pernah, Sayang”

Tangannya yang di pinggang semakin berani, jari-jari panjangnya menyelinap ke bawah kain gaun, menyentuh kulit hangat di atas paha Celeste. Ia mengusap pelan, naik sedikit, lalu turun lagi, seolah menenangkan.

Caspian mengangkat wajahnya, menatap mata abu istrinya dari jarak sangat dekat.

“Bilang saja kalau masih marah,” bisiknya. “Tapi jangan mengunci diri seperti ini. Aku tidak suka.”

Jari-jarinya di paha Celeste mengerat pelan, sementara tangan lainnya naik ke belakang kepala istrinya, menariknya sedikit lebih dekat hingga napas mereka bercampur.

Celeste menatap Caspian dari jarak dekat, wajahnya masih rumit. Ia mencoba mendorong dada bidang pria itu pelan, suaranya serak.

“Tidur di luar saja. Aku ingin disini”

Caspian tidak bergeser. Tangannya di paha Celeste justru mengerat, jari-jari panjangnya mengusap naik pelan di bawah kain gaun, merasakan kulit hangat yang bergetar di bawah sentuhannya.

“Aku tidak sanggup,” jawabnya rendah. Suaranya serak, dalam, dan penuh ketegangan yang tertahan. “Aku tidak bisa tenang kalau tidur dalam keadaan begini, sayang.”

Caspian menunduk. Bibirnya kembali menempel di bibir Celeste—mengulum bibir bawah istrinya, menggigit pelan hingga Celeste tersentak, lalu menyusupkan lidahnya tanpa ragu. Tangan yang di paha naik lebih tinggi, menyingkap gaun hitam itu semakin jauh, jari-jarinya mengusap kulit bagian dalam paha Celeste dengan gerakan lambat yang disengaja. Celeste menggeliat di pangkuannya.

“Caspian… lemmph—”

Pria itu tidak memberi kesempatan. Ia memiringkan kepala, memperdalam ciuman, menghisap napas Celeste hingga wanita itu terpaksa berpegangan di bahu kokohnya. Tangan Caspian yang lain naik ke punggung terbuka, menelusuri tulang belikat, lalu turun ke pinggang, menarik tubuh Celeste semakin rapat hingga dada mereka saling menempel sempurna. Gaun belahan tinggi itu sudah tersingkap hampir ke pinggul, dan jari-jari Caspian tidak berhenti bergerak—mengusap, menekan, merasakan setiap getaran di tubuh istrinya.

Ia melepaskan ciuman itu hanya untuk berpindah ke rahang Celeste, lalu ke bawah telinga, menggigit cupingnya pelan sambil berbisik serak,

“Jangan marah, Sayang”

Jari-jarinya di paha naik lagi, semakin berani, menyentuh tepi dalam pakaian dalam Celeste. Ia mengusap pelan di atas kain itu, merasakan kehangatan yang sudah mulai basah, lalu menekan sedikit dengan ibu jari.

Celeste menarik napas tajam, tubuhnya menegang di pangkuan Caspian. Tangannya yang semula mendorong kini mencengkeram kerah kemeja pria itu, tidak jelas apakah ingin mendorong atau menarik lebih dekat.

Caspian mengangkat wajahnya, menatap mata abu yang sudah berkabut. Bibirnya merah, napas memburu, dan seringai tipis yang berbahaya muncul di sudut bibirnya.

“Coba lagi suruh aku tidur di luar. Atau aku akan menghukum kamu” bisiknya, sambil jari-jarinya terus bergerak lambat di bawah gaun. “Coba.”

“Caspian…” suara Celeste serak, nyaris seperti peringatan.

Pria itu menunduk lagi, bibirnya menempel di sudut mulut Celeste, mengecup pelan, lalu turun ke rahang, ke leher. Ia menggigit kulit lembut di sana, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk meninggalkan rasa perih yang manis. Lidahnya menyusul, mengusap bekas gigitan itu seolah meminta maaf sambil menikmati.

“Aku minta maaf,” bisiknya di sela kecupan itu, suara baritonnya bergetar di kulit Celeste. “Aku salah diam. Aku salah membuatmu merasa seperti orang luar. Tapi jangan suruh aku pergi malam ini. Aku tidak bisa.”

Tangannya yang di paha naik lebih tinggi. Jari tengahnya menyelinap masuk ke balik kain dalam, menyentuh langsung kehangatan basah yang sudah menunggunya. Celeste tersentak keras, tubuhnya melengkung di pangkuan Caspian, jari-jarinya mencengkeram bahu pria itu hingga kuku-kukunya memutih.

“Ah—!”

Caspian mengerang rendah mendengar suara itu. Ia mengusap pelan, hanya di luar, belum masuk, membiarkan Celeste merasakan setiap gerakan jari-jarinya yang kasar tapi sengaja dibuat lambat. Ibu jarinya menekan titik sensitif di atas, memutar pelan dalam lingkaran kecil yang membuat napas Celeste tersengal.

“Kamu basah,” gumamnya serak, bibirnya masih menempel di leher Celeste. “Padahal orangnya masih marah. Tapi tubuhmu jujur sekali, sayang.”

Celeste menggeleng lemah. “Aku… masih kesal…”

“Aku tahu.” Caspian mengecup pelan di bawah telinganya. “Kesal saja. Tapi biarkan aku menenangkanmu.”

Ia menarik jarinya keluar, membuat Celeste hampir mengeluh karena kehilangan sentuhan itu. Tapi segera setelahnya, Caspian menggeser tubuh Celeste hingga wanita itu duduk mengangkang di pangkuannya, wajah mereka saling berhadapan. Gaun hitam itu tersingkap di pinggang, memperlihatkan paha putih yang bergetar.

Caspian memegang pinggang Celeste dengan kedua tangan, mengangkatnya sedikit, lalu menurunkan pelan hingga kehangatan basah itu menekan langsung di atas gundukan keras di celananya. Keduanya menarik napas tajam bersamaan.

“Lihat,” bisik Caspian, matanya kelam menatap lekat. “Aku juga tidak tenang. Dari tadi. Dari mobil. Apalagi waktu mendengar kamu bilang membenciku.”

Ia menggerakkan pinggulnya pelan ke atas, menggosokkan kerasnya di celana pada celah basah Celeste. Kain basah itu bergesekan dengan kain celana Caspian, menimbulkan sensasi basah dan panas yang membuat Celeste menggigit bibirnya kuat-kuat.

“Caspian… tunggu…”

“Tidak.” Suaranya rendah, tegas, tapi ada kelembutan di dalamnya. “Aku sudah menunggu malam ini.Sekarang… biarkan aku.”

Ia menunduk, mencium Celeste lagi—lebih dalam, lebih lapar. Lidahnya menyusup, menghisap, bermain dengan lidah Celeste hingga wanita itu terpaksa membalas meski masih ada sisa perlawanan di tubuhnya. Tangan Caspian naik ke punggung terbuka, membuka resleting gaun hitam itu perlahan. Suara resleting terdengar jelas di keheningan kamar.

Gaun itu longgar. Caspian menariknya turun dari bahu Celeste, membiarkan kain hitam itu tersingkap hingga ke pinggang, memperlihatkan dada yang hanya tertutup bra hitam tipis. Ia menatap lama, seolah lapar, lalu menunduk dan mengecup lekuk dada Celeste, turun ke celah dada itu, menggigit pelan kulit lembut di sana.

Celeste mendongak, lehernya melengkung, jari-jarinya masuk ke rambut hitam Caspian, mencengkeram. “Ahh…”

Caspian menggeser bra itu ke samping, membebaskan satu dadanya. Mulutnya langsung menyusu, menghisap puting yang sudah mengeras, lidahnya memutar pelan sambil tangan satunya memegang dada yang lain, memijat, ibu jarinya mengusap puting yang masih tertutup.

Celeste menggeliat di pangkuannya, pinggulnya bergerak tanpa sadar, menggosokkan diri pada kerasnya Caspian yang semakin terasa di bawah. Sensasi basah semakin jelas. Kain dalam Celeste sudah basah kuyup, dan Caspian merasakannya.

Ia melepaskan mulutnya dari dada Celeste, napasnya memburu. “Aku mau masuk,” bisiknya serak. “Kita harus kembali ke kamar kita, Sayang”

Celeste menatapnya, mata abunya berkabut, bibir merah dan bengkak. Masih ada sisa amarah di sana, tapi sudah tertutup oleh hasrat yang sama-sama sulit dibendung.

Caspian tersenyum tipis melihat itu. Ia mengecup bibir Celeste sekali lagi, pelan kali ini, romantis, seolah ingin menenangkan sisa-sisa luka di hati istrinya.

“Aku akan minta maaf berkali-kali malam ini. Dengan mulutku. Dengan tanganku. Dengan seluruh tubuhku. Sampai kamu memaafkanku.”

Ia berdiri, mengangkat tubuh Celeste dengan mudah seolah tidak ada bobot sama sekali. Celeste reflek mengalungkan kaki di pinggang Caspian, tangan melingkar di lehernya. Gaun hitam itu sudah longgar, bra tersingkap, dan Caspian membawa istrinya keluar dari kamar tamu tanpa peduli siapa yang mungkin melihat. Untung saja Xanderion sudah mensterilkan area itu dan sekitar kamar utama.

Koridor lantai bawah sunyi. Hanya suara langkah Caspian yang terdengar, ditambah napas Celeste yang masih tersengal di ceruk lehernya.

Di lantai atas, pintu kamar utama terbuka. Caspian menendang pintu itu hingga tertutup, lalu mengunci dari dalam. Ia meletakkan Celeste di atas ranjang king-size yang luas, menindih tubuh mungil itu dengan tubuhnya sendiri, dan menciumnya lagi—lebih dalam, lebih lama, seolah ingin menghapus seluruh jarak yang sempat ada di antara mereka malam itu.

Tangan Caspian bergerak cepat membuka sisa pakaian Celeste. Gaun hitam, bra, kain dalam—semuanya dilucuti hingga tubuh putih itu terpapar penuh di bawah cahaya lampu tidur yang redup. Caspian menatap lama, mata kelamnya gelap oleh hasrat, lalu menunduk dan mengecup setiap inci kulit yang bisa ia jangkau.

Dada. Perut. Pinggang. Paha dalam.

Ia turun semakin rendah, menyingkap paha Celeste lebar-lebar, lalu mengecup tepat di atas celah basah yang sudah berdenyut menunggu.

“Aku minta maaf,” bisiknya lagi, napasnya menghangatkan kulit sensitif Celeste. “Dan aku akan bayar maafku sekarang.” Lidahnya menyentuh.

Celeste melengkungkan punggung, tangan mencengkeram seprai, suara desahan yang tertahan lolos dari bibirnya. Caspian tidak buru-buru. Ia menjilat pelan, menikmati, menghisap titik sensitif itu dengan gerakan yang disengaja lambat, membiarkan Celeste gemetar di bawahnya.

1
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makiiin seruuuu
Muft Smoker
memasang wajah polos aj cele ,, dr pd di marahin🤣🤣🤣🤣🤣🤣
khemjira
kak lnjt pliss, demi aku😔🤣
aku
suara batinmu merubah bayangan melowku cel 😌😌 wasemm tenan 🤣🤣
aku
adik lacknat 🤣🤣
Muft Smoker
waaaah caelan ,, garcep juga niih ,,
Muft Smoker
aduuuh di lempar kmn cele ,,
aq bantu cari yx ,, trus bakal aq rawat baik2 seperti aq merawat ank2 ku,, 🤭🤭🤭🤭🤭
aku
btw kau lempar ke jalan mana td? kucari gk ktemu 😁 sp tau bisa buat byr utang gt 😃🤣🤣
khemjira
cie Caelan udh berani kokop Serena🤣🤣
khemjira
aku kan, kak?☺🤭🤭🤭🤭🤭
khemjira
Mau kasian tp ini Caspian, spa suruh mulut ada tpi tdk di pke🤭
khemjira
HUHUUUUUUU HAMILLL
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
Muft Smoker
kenapa cuma 1x sih di bogem ny ,,
khemjira
puas bngt guwehhh Caspian di bogem🤣
khemjira
CANTIK DAN HAMIL, KAN? ☺
aku
waduhh
khemjira
makin seruuuuuuu
Muft Smoker
kasih hadiah Selamat dtg dlu caelan ,, biar si Caspian gx bakal lgi ,,
khemjira
kak, req Caelan bogem Caspian☺🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!