Luna, putri bungsu dari Pemimpin klan vampir. Dianugerahi dengan fisik berbeda dari vampir lain, dimana dia tidak dapat terbakar sinar matahari, dan tidak mati meski ditusuk dengan pisau perak.
Tapi, meski menjadi yang paling istimewa di klan vampir. Luna tetap tidak puas, dia diam-diam kabur dari kediamannya dan bersembunyi di kerajaan manusia.
Luna yang berencana menjalani kehidupan yang damai justru terusik oleh pangeran ke4 yang memiliki darah istimewa yang dapat memancing hasrat vampir.
Bagaimana nasib Luna selanjutnya? Apa dia bisa menahan hasratnya untuk tidak mengigit sang pangeran? Ataukah Luna akan mengubah pangeran itu menjadi vampir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
“Terima kasih banyak atas pertolongan Anda sebulan yang lalu, Yang Mulia permaisuri.”
Rambut perak dari gadis yang dipanggil permaisuri itu tampak terbang terbawa angin, senyumannya yang lembut membawa ketenangan bagi siapapun yang melihatnya. “Kau tidak perlu sesopan itu, Bibi Zahira. Kebetulan aku melewati desa Xafrana dan melihat kalian.”
“Tidak, tidak. Kami pasti sudah mati jika bukan karena bantuan Yang Mulia Permaisuri. Kami sungguh berterima kasih, bahkan jika Yang Mulia Permaisuri mau. Kami bisa mengorbankan darah kami.”
“Eh, kalian tidak perlu sampai sebegitunya. Meski aku Vampir, tapi aku tidak serakus itu sampai memakan banyak darah, daripada memikirkanku. Bagaimana keadaan kalian? Pasti tidak nyaman ya berada di sekitar vampir.”
Wanita berkepala 4 itu menundukkan kepalanya. “Kami sangat nyaman di sini, Yang Mulia. Meskipun rakyat adalah Vampir, tapi mereka masih memperlakukan kami dengan baik, kami sungguh beruntung bisa bertemu dengan Anda.”
“Syukurlah, aku senang mendengarnya.” Sang permaisuri menoleh ke arah pelayan pribadi yang telah dia anggap sebagai sahabatnya sendiri. “Elmira, tolong antar mereka kembali. Meskipun sudah menggunakan pil penyembuhan, tapi virus dari wabah tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Jadi, kuharap kalian bisa beristirahat lebih banyak agar pilnya bekerja dengan baik.”
“Anda terlalu baik, Yang Mulia Permaisuri. Jika kami hanya istirahat, kami takut, kami hanya akan menjadi beban bagi Anda.”
Sang permaisuri tertawa kecil, terkesan anggun dan elegan. “Kalian tidak pernah menjadi beban bagiku, lagipula. Kalian mengingatkanku pada teman seakademiku dulu.”
...✯✯✧✯✯...
‘Satu bulan berlalu tanpa terasa. Setelah kepergian Dewi Iriana, aku tiba-tiba saja mendapat permata suci klan vampir.’ Sang Permaisuri yang tak lain adalah Luna kini tengah tersenyum tipis, pandangannya terus mengarah ke luar jendela. ‘Sekarang tanggal 14, sebentar lagi musim semi akan berakhir..’
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Luna, dia menoleh ke arah pintu.
“Maaf menganggu, Yang Mulia permaisuri.”
Luna tersenyum lembut. “Masuk saja, Ilian.”
“Ih, Ilias duluan!”
Ekspresi Luna berubah bingung, namun hanya sesaat sebelum dia kembali tersenyum. “Ilian, Ilias. Masuk saja.”
Pintu Perlahan-lahan terbuka dan memperlihatkan dua bocah laki-laki yang baru berumur 5 tahun, keduanya tampak tengah bertengkar karena sesuatu.
“Ih, Ilias duluan!”
“Tidak boleh, harus mengalah dengan anak kecil!”
Luna berkacak pinggang dengan eskpresi datar. “Ilias, Ilian.”
Keduanya sontak merinding, Ilias. Yang baru berumur 5 tahun dengan rambut berwarna keemasan itu tampak menatap Luna, sama halnya dengan Ilian. Yang baru berumur 4 tahun dengan rambut berwarna hitam legam.
Keduanya sontak menunduk hormat dengan tangan kiri disekapkan ke dada dan tangan kanan di belakang punggung. “Yang Mulia Permaisuri,” kata keduanya layaknya seorang kesatria.
Luna tertawa kecil, dia berlutut dan merentangkan kedua tangannya dengan senyuman lembut. “Kemarilah.”
Ilias dan Ilian saling menatap sesaat sebelum keduanya berlari ke dalam pelukan Luna.
“Ibu, Ilias sangat merindukan ibu.”
“Ilian juga sama, Ilian tidak bisa tidur tanpa ibu.”
Luna mengeratkan pelukannya. “Ibu juga sangat merindukan kalian berdua.”
“Ibu, apa ibu tau. Ayah melatih kami dengan sangat keras, bahkan ketika kami kelelahan. Ayah tetap memaksa kami untuk menyerangnya!” adu Ilian.
“Benar Ibu, Ayah sangat jahat! Ayah tidak memberi kami istirahat sedetikpun!” lanjut Ilias tidak mau kalah.
Luna terdiam sesaat, dia melepas pelukannya dari kedua bocah laki-laki itu. “Kalau yang kalian katakan, maka ibu harus memarahi Ayah.”
“Benar, benar. Ibu harus marahi Ayah!”
“Iya, ibu jangan tidur sekamar dengan Ayah dan jangan buat adik lagi!”
Ucapan absurd yang keluar dari mulut manis Ilian sontak membuat Luna membatu. “B-buat adik? Siapa yang memberitahumu itu, Ilian?”
“Ayah, ayah bilang. Kami akan punya adik kalau Ibu dan Ayah tidur sekamar,” jawab Ilian dengan polosnya.
Luna menghela napas, dia memegang bahu Ilias dan Ilian. Luna kemudian menatap keduanya bergantian. “Ilias, Ilian. Ibu harap kalian tidak mengatakan itu lagi.”
“Kenapa, apa Ibu juga tidak mau kami punya adik?” Kini giliran Ilias yang bertanya.
“Bukan seperti itu, tapi kan..” Luna mengigit bibir dalamnya, dia sungguh bingung bagaimana agar menjelaskan maksudnya tanpa mengotori pikiran dari Putra-putranya. “Maksud Ibu--”
“Ternyata dua bocah bodoh ini mengadu??”
Ilias, Ilian, dan Luna sontak menoleh ke asal suara.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria yang tak lain adalah Adrian. Yang kini tengah bersandar sambil bersedekap dada.
“A-ayah?”
Luna menatap Adrian dengan kening berkerut.
“Bagaimana ini, Ayah disini,” bisik Ilian.
“Kau benar, jika Ayah tau kita mengadu pada Ibu. Latihan kita pasti akan makin berat,” bisik Ilias setuju.
“Permaisuri, biar saya--”
“Berhenti disitu!” Luna berdiri, dia kemudian menatap Ilias dan Ilian dengan lembut. “Kalian berdua keluarlah untuk bermain ya, ibu ingin bicara dengan.. Ayah.”
“Iya, kami akan keluar.” Ilias buru-buru menarik Ilian agar keluar bersama.
“Tunggu, Ibu dan Ayah! Aku tidak mau punya adik lagi!!” teriak Ilian ketika dirinya ditarik begitu saja oleh sang kakak.
Luna hanya bisa tersenyum, setelah memastikan keduanya pergi. Ekspresi wajahnya berubah datar, dia melangkah ke arah Adrian.
“Permaisuri, apa saya--” Ucapan Adrian seketika terpotong saat Luna memotong lehernya begitu saja dengan pisau buah.
“Yaampun, apa Anda sangat suka memotong leher saya? Ini sudah yang ke tujuh kalinya dalam sebulan ini loh.”
“Kau kan yang mengajarkan Anak-anakku untuk memanggilmu Ayah!” tuduh Luna dengan ekspresi menahan jengkel.
“Astaga, kenapa Anda berpikir begitu? Anda juga semakin sensi setelah menjadi Permaisuri Klan Vampir, apa ada yang membebani pikiran Anda?”
“Adrian, kuperingatkan untuk yang terakhir kalinya. Jangan mengajari Anakku untuk memanggilmu Ayah!”
“Apa Luna sebenci itu pada saya?” tanya Adrian dengan kepala yang tumbuh dalam sekejap mata.
Luna menahan rasa dongkolnya, dia berbalik dan membelakangi Adrian. “Pokoknya jika kau masih mengajari Putraku hal aneh, maka aku tidak akan tinggal diam lagi! Aku mungkin akan memotong-motong tubuhmu dan menjadikannya sup, atau, menghabisimu dengan sihir suci.”
“Yaampun, Anda jadi semakin kejam saja. Mau bagaimana lagi, saya hanya bisa menuruti permintaan dari Yang Mulia permaisuri. Oleh sebab itu, saya permisi.”
Tepat setelah kepergian Adrian, Luna menghela napas panjang. Dia kembali berjalan ke depan jendela dan terus menatap ke luar. ‘Ugh, gaun ini sangat panas dan menyesakkan!’
“Kakak..”
Luna sontak menoleh ke asal suara, dia menatap bingung Vivian. “Ada apa?”
“I-itu..” Vivian tampak ragu-ragu. “A-aku ingin keluar dan melihat bunga, apa.. boleh?”
“Tentu saja, kau bisa keluar dan bermain.”
Vivian tersenyum. “Terima kasih, Kak.” Dia buru-buru berlari pergi.
Luna hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia kembali menatap ke luar jendela dengan senyum tipis. ‘Dasar anak itu.. hm?’
...(✯✯✧✯✯)...