Juan dan Elen adalah sepasang kekasih.
Mereka menjalin cinta sejak duduk dibangku SMA.
Kisah mereka ini tidak lah berjalan mulus, ada sesuatu dan lain hal. Apakah itu???
Penasaran??? Yuk merapat baca kisah mereka disini....
Selamat membaca, semoga suka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ENMom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan kembali
Usai makan, Felix mengantar Elen pulang ke kost.
Sesampai dikost seperti biasa, Felix membukakan pintu mobil Elen, namun tanpa Elen sadari, ia sudah ditunggu oleh mama, papa serta bang Evan.
"mama, papa, bang Evan" Elen berlari memeluk mereka. Ia sangat merindukan keluarga nya.
"ehem..." bang Evan berdehem sembari mengangkat alis nya
Sementara Felix masih berdiri disamping mobil nya. Berharap ia diperkenalkan oleh keluarga Elen.
" oh, kenalin ini manager Elen, nama Felix" Elen memperkenalkan Felix pada keluarga nya.
" Felix? Ngga sopan kamu cuma panggil nama!" ucap papa nya.
" ngga apa apa om, saya yang suruh, karena ini diluar jam kerja" Felix menjelaskan.
" ngga punya maksud terselubung kan?" Evan to the point.
" Abang!" pekik Elen.
Felix tersenyum dan menjawab
" sedikit "
" banyak juga ngga apa-apa kok, dia sudah lama jomblo "
" Evan, berhenti meledek adik mu!" mama nya menghentikan Evan yang meledek nya
Felix kembali tersenyum hati nya pun senang mendengar ucapan Abang nya Elen.
"saya pamit pulang dulu"
" oiya hati-hati, terimakasih sudah anter Elen pulang " mama nya berterimakasih pada Felix
" sama-sama Tante"
Felix pun pergi meninggalkan mereka. Sementara itu Elen membawa keluarga untuk masuk ke dalam kamar kos nya.
" mama papa kenapa ngga bilang kalau mau kesini?"
" kami sebenar nya rencananya baru Minggu kedepan mau kesini jenguk kamu, tapi ternyata Evan ada panggilan interview disini, jadi mama pikir sekalian aja deh ikut dia"
"yang aku ceritakan waktu itu"
Elen mencoba mengingat nya,
"oh yang itu, semoga lancar dan keterima ya"
" terus mama papa malam ini nginap dimana? "
" di apartemen, papa beli apartemen untuk kamu dan Evan, jadi kalau kami mau jenguk kalian. kami punya tempat tinggal"
Papa nya membelikan Elen apartemen karena sedikit khawatir pada putri nya tersebut. Evan mencari pekerjaan di kota yang sama dengan Elen pun juga karena kekhawatiran Evan pada adik nya tersebut.
" kamu sakit?" tanya mama nya ketika melihat obat milik nya berada diatas karpet.
Elen nyengir memperlihatkan gigi nya yang rapih.
" trus gimana sekarang?"
"Elen sudah sembuh kok ma"
mereka pun bersiap untuk pergi ke apartemen baru yang telah dibeli oleh papa nya.
***********
Beberapa hari kemudian, Elen sudah pindah ke apartemen bersama Evan, kepindahan Elen tentu saja dibantu oleh Felix. Felix sudah bisa mengambil hati keluarga Elen walau pun bukan hati nya Elen namun ia bahagia, bisa lebih mengenal Elen lebih dalam dari keluarga nya.
" oiya besok. Kita akan ketemu klien dari perusahaan asing. Aku sudah cek kerjaan mu, tolong presentasi kan besok kepada mereka" ucap Felix sebelum ia pamit pulang.
Elen pun mengangguk.
" terimakasih untuk hari ini" Felix sudah membantu Elen untuk berbelanja kebutuhan apartemen baru nya.
" your welcome" Felix tersenyum
Senyuman Felix membuat hati nya berdebar. Sampai saat ini, Elen masih takut untuk menerima Felix.
"aku ngga percaya kalau kamu ngga suka sama dia" ucap Abang nya tiba-tiba ketika ia sampai di dalam apartement.
" sejak kapan Kaka sibuk sama urusan hati ku "
Evan menghela nafas.
"ini sudah setahun lebih, apa Juan masih merajai hatimu?"
Elen melirik tajam pada Evan. Ia tidak suka jika Evan membicarakan perasaan nya. Karena ia sendiri masih belum paham dengan hati nya saat ini.
" apa kamu baru akan mengejar Felix ketika dia sudah cape menunggu mu?" Evan pergi ke kamar nya melewati adiknya.
Seketika hati Elen takut kehilangan Felix. Ia sudah mulai merasa nyaman ada di dekat Felix.
***********
Pagi ini Elen berpapasan dengan Felix di lift dan Mereka saling membalas senyuman. Lift mulai dipadati karyawan yang ingin menggunakan nya. Sehingga posisi Elen semakin lama, semakin dekat dengan Felix. Felix mencoba melindungi Elen agar tidak bersentuhan dengan karyawan lain nya. Kini lengan Elen dan Felix bersentuhan, Felix melihat Elen, ini kesekian kali nya ia melihat wajah Elen dari jarak dekat. aliran darah mereka pun sekita memanas, jantung ikut berdebar. Dorongan untuk mencium bibir Elen terus terngiang dihatinya.
Felix menggenggam tangan nya untuk menahan dorongan tersebut, ia pun mengalihkan pandangan nya dari wajah Elen. Wajah mereka berdua kini terlihat memerah.
Akhir nya mereka keluar dari lift. Felix dengan segera berjalan menuju ruangan nya. Sedangkan Elen menuju kursinya.
" kamu sakit Len? Wajahmu kok merah gitu?"
Elen menggelengkan kepala nya lalu memegangi wajah nya.
Sebentar lagi ia akan presentasi dengan klien perusahaan asing, seperti yang dikatakan Felix.
Elen menuju ruang meeting, yang di dalam nya sudah menunggu Felix dan beberapa karyawan yang berkepentingan atas tender tersebut.
Felix menunjuk kursi yang ada di sebelah nya, ia mengisyaratkan pada Elen untuk duduk di samping nya. Elen menelan saliva nya. Debaran hatinya saja belum stabil kini sudah harus duduk berdampingan dengan Felix.
Elen berjalan menuju kursi tersebut, ia berulang kali menghela nafas. Rasa nya campur aduk dirasakan oleh Elen. Berulang kali ia memain kan kuku nya karena gugup. Felix yang memperhatikan kegelisahan Elen, memberanikan diri untuk menggenggam tangan Elen secara sembunyi-sembunyi, agar Elen berhenti memain kan kuku nya.
Elen menoleh ke arah Felix, Felix tersenyum sembari menggelengkan kepala nya sedikit. Melarang Elen menghentikan kegiatan bermain kuku.
"maaf kami terlambat karena ternyata jalanan macet" ucap salah satu dari pihak klien.
Felix dan Elen pun berdiri menyambut mereka. Namun mata Elen tertuju pada satu orang dari mereka. Ia terdiam mencoba menelan saliva nya yang sudah untuk ditelan. "Juan" hatinya menyebut satu nama yang membelenggu hati nya selama ini. Juan kini berada dihadapan nya.
Tatapan mata Juan pun tidak lepas dari Elen. Wanita yang selama ini ia rindukan. Wanita yang tidak pernah membuat nya berpaling pada wanita lain. Wanita yang membuat nya menyesal pernah menyakiti nya.
Tangan mereka kini saling berjabat tangan, kini Elen mengalihkan tatapan nya ke objek lain. Ia ingin melepas tangan nya dari genggaman Juan namun Juan masih enggan melepasnya. Felix melihat adegan tersebut menjadi sedikit tidak rela, karena Juan menatap Elen dan menyentuh Elen sedikit lebih lama.
" maaf Pak silahkan duduk " ucap Felix membuyarkan Juan.
Mereka pun memulai rapat, Elen berulang kali mengatur nafas untuk bisa mengontrol diri nya. Tatapan Juan terus mengarah Elen, tanpa menyadari ada yang mengawasi nya. Felix tampak geram melihat Juan menatap Elen.
Elen mulai berdiri dan mempresentasikan gagasan nya. Mata Juan tidak berkedip sekalipun menatap Elen, seolah di ruangan tersebut hanya ada Elen seorang.