Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32.Rasa kecewa.

Suasana ruang tamu terasa begitu tenang, seolah waktu ikut berhenti berputar menyertai kesunyian yang melingkupi dua sosok yang kini duduk berdekatan. Raisa melangkah pelan, lalu menarik kursi kosong di samping Alif yang masih menunduk dalam, kedua tangannya yang saling meremas di pangkuan menunjukkan betapa beratnya beban yang sedang ia pikul sendirian.

“Alif,” panggil Raisa lembut, suaranya memecah keheningan namun tak terasa mengagetkan. “Kau tak perlu merasa terpukul sendirian. Katakanlah apa yang kau tahu tentang organisasi itu. Mengapa mereka begitu menginginkan Inti Sakti itu sampai rela mengorbankan siapa saja? Dan kenapa... kenapa mereka harus menyerangku?”

Alif menghela napas panjang, dadanya terasa sesak menahan segala rahasia yang selama ini ia jaga mati-matian. Ia mengangkat wajah perlahan, matanya yang sempat berbinar penuh harap kini tampak redup dan lelah.

“Aku tak tahu alasan pasti mengapa mereka menginginkannya, Raisa. Ketua kami tak pernah menceritakan alasan sesungguhnya kepada kami yang bukan bagian dari lingkaran dalam. Yang kami tahu hanyalah perintah: Inti Sakti itu milik kami, dan apa pun yang menghalangi harus dimusnahkan. Termasuk kau.”

“Apakah kau juga mendapat perintah untuk melakukannya?” tanya Raisa hati-hati, menatap tajam ke dalam manik mata pemuda itu.

“Tidak,” jawab Alif tegas namun pelan. “Aku bukan anggota inti. Tugasku hanya mengintai, mengumpulkan informasi, melaporkan apa yang terjadi di sekitar sini. Aku tak pernah diberi tahu rencana besar mereka, hanya disuruh menjalankan tugas kecil yang diberikan. Itulah sebabnya aku bisa kabur begitu aku menyadari betapa keliru dan kejamnya jalan yang mereka tempuh.”

Raisa terdiam sejenak, membiarkan informasi itu meresap ke dalam benaknya. Perlahan sebuah pertanyaan lain muncul di benaknya, sesuatu yang sempat ia pikirkan sejak pertama kali melihat Alif.

“Kau... kau warga Desa Suka makmur, bukan?”

Alif mengangguk pelan, namun ada senyum getir yang terukir di bibirnya. “Benar. Tapi itu dulu.”

“Dulu?” Raisa mencondongkan tubuh sedikit, rasa penasaran kini mengalahkan rasa takutnya. “Maksudmu apa? Apa yang terjadi sampai kau bergabung dengan kelompok itu?”

Jari-jari Alif meremas ujung celananya dengan kuat, seakan ingin meremas kembali kenangan pahit yang ingin ia lupakan.

“Dua belas tahun yang lalu... saat aku berusia sepuluh tahun, aku dan keluargaku masih tinggal di sana dengan tenang. Ayahku adalah salah satu orang yang berani menentang keberadaan Ba nas pati di desa ini. Ia percaya kehadiran Arya dan makhluk sejenisnya adalah ancaman bagi manusia. Namun ketika warga desa lain mulai menyadari bahwa Arya justru melindungi mereka dari bahaya yang lebih besar, mereka berbalik arah. Mereka mengusir kami. Menganggap kami pembawa masalah, menganggap kami melawan perlindungan yang diberikan.”

Suara Alif mulai bergetar. “Kami diusir tanpa belas kasihan, dibiarkan hidup terlantar di pinggir hutan. Saat itulah Ketua organisasi itu datang. Ia memberikan tempat berteduh, makanan, dan perlindungan yang tak lagi kami dapatkan dari sesama warga desa. Kami merasa berhutang nyawa. Maka kami mengabdi. Anak-anak muda seperti aku dilatih mengintai dan bergerak senyap, sedangkan mereka yang lebih tua dan setia diangkat menjadi anggota inti yang memegang kekuasaan penuh.”

Raisa menatap tak berkedip saat Alif tanpa sadar menyingkap lengan bajunya yang sedikit naik. Terdapat bekas luka lama yang mengeras dan berwarna gelap melingkar di pergelangan tangannya, bekas cambuk, bekas luka bakar, dan bekas luka sayat yang tak pernah benar-benar hilang. Hatinya terasa perih. Pasti sangat berat harus menanggung semua latihan yang menyakitkan itu, batinnya. Bahkan Arya pun tak sempat merasakan keberadaan mereka, begitu hebatnya kemampuan yang mereka latih selama ini.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, hingga Alif tiba-tiba mengangkat wajah dan menatap lurus ke mata Raisa.

“Raisa... apakah kau benar-benar memiliki perasaan pada Tuan Ba nas pati?”

Pertanyaan itu begitu tiba-tiba sehingga Raisa tertegun sejenak, sebelum akhirnya tawa kecil meledak dari bibirnya. Tawa yang terdengar renyah namun penuh kejujuran.

“Jangan bercanda, Alif. Di dunia ini masih banyak pria tampan, baik hati, dan manusia biasa. Kenapa harus memilih makhluk dari dunia lain? Itu terdengar mustahil, bukan?”

Tawa itu perlahan lenyap saat melihat tatapan Alif yang tak berubah.

“Lalu kenapa kau menolakku?” tanyanya lirih namun mantap. “Apakah aku tak cukup tampan, atau tak cukup baik jika dibandingkan dengannya?”

Raisa menghentikan tawanya seketika, wajahnya kini serius dan tulus.

“Aku menolakmu bukan karena kau kurang baik atau kurang tampan, Alif. Aku menolakmu karena hatiku memang tak tertarik padamu. Bukan berarti aku memiliki perasaan romantis khusus pada Arya. Tapi bagiku... Arya menempati tempat yang paling istimewa. Dia adalah keluargaku. Dia adalah pelindungku, satu-satunya tempat aku pulang saat tak ada satu pun yang mau menerima keberadaanku. Aku hanyalah manusia biasa yang tak tahu apa-apa. Aku tahu diri, Alif. Aku sadar betul seberapa jauh kedudukan dan kemampuanku dibandingkan dengan dia.”

Raisa menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis yang menenangkan.

“Tapi... bukankah persahabatan dan saling melindungi itu jauh lebih indah dan lebih mungkin terjadi? Kita bisa saling menjaga, saling percaya, tanpa harus memaksakan perasaan yang tak ada. Bagaimana menurutmu?”

Raisa mengulurkan tangannya terbuka di hadapan Alif.

Alif menatap telapak tangan itu lama, lalu perlahan tangannya yang masih bergetar menyambutnya. Genggaman itu hangat, tulus, dan penuh harapan baru.

“Baiklah... kita berteman,” ucapnya pelan, namun di dalam hatinya ia bergumam: Mungkin saat ini kau hanya menganggapnya sebagai saudara. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Mungkin aku belum ada di hatimu sekarang... tapi aku punya waktu untuk mencoba masuk ke sana.

Di lantai dua, di balik jendela kamar yang tertutup rapat namun tak menghalangi pendengaran tajamnya, Arya berdiri mematung. Setiap kata yang terucap dari bibir Raisa seakan berubah menjadi ribuan jarum halus yang menusuk tepat ke jantungnya. Wajahnya yang biasanya dingin dan berwibawa kini tampak pucat, matanya memancarkan kesedihan yang tak pernah ia rasakan selama ratusan tahun hidupnya.

“Jatmika,” suaranya terdengar berat dan serak. “Buatlah seolah-olah Alif sudah tewas ditemukan di dekat sungai. Pastikan jejaknya mengarah ke kita. Buat mereka percaya bahwa kita telah menghabisinya.”

“Baik, Tuan,” jawab Jatmika singkat, meski hatinya turut sedih melihat tuannya yang begitu terluka.

Arya menatap ke arah kegelapan hutan di luar sana, bergumam pada diri sendiri dengan suara yang hampir tak terdengar. “Kenapa... kenapa aku merasa sesak seperti ini? Bukankah seharusnya aku sudah tahu bahwa kita tak mungkin bersatu? Kenapa rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang saat mendengarnya?”

Keesokan paginya, kabar itu menyebar cepat di kalangan anggota organisasi yang sedang mengintai dari kejauhan. Di tepi sungai yang beralih bebatuan, terbaring sebuah tubuh yang mengenakan pakaian persis seperti milik Alif, wajahnya tertutup lumpur namun ciri-ciri fisiknya tak bisa disangkal. Bapaknya yang ikut dalam kelompok itu jatuh berlutut memeluk tubuh anaknya, air mata kesedihan mengalir deras di pipinya yang keriput. Meski hatinya hancur, di sudut sanubarinya ia sadar bahwa kematian mungkin adalah jalan yang lebih baik daripada dipaksa kembali dan dihukum mati oleh Ketua mereka sendiri.

Ketua organisasi berdiri tegak di hadapan para anggotanya, wajahnya penuh kemarahan yang dipalsukan.

“Lihatlah ini!” bentaknya lantang, suaranya menggema di antara pepohonan. “Inilah bukti kekejaman Ba nas pati itu! Mereka tak segan-segan membunuh siapa pun yang berani mendekat! Kita tidak boleh membiarkan korban terus berjatuhan! Kita harus bersatu untuk melenyapkan kekuatan jahat itu sebelum mereka menghancurkan kita semua!”

Tak ada yang tahu, bahwa jauh di atas dahan pohon besar yang rindang, seekor ular besar berwarna putih dengan mata yang menyala samar sedang mengamati semuanya dengan tenang. Itu adalah Jatmika. Dengan kekuatan ilmunya, ia telah mengganti mayat tak dikenal yang ditemukan di hutan agar persis menyerupai Alif, memastikan bahwa jejak yang tertinggal mengarah pada kekuatan api Arya, sekaligus menyelamatkan nyawa Alif dan menghentikan sementara pengejaran yang semakin memanas.

Di dalam rumah tua itu, Raisa tak tahu tentang rencana besar yang baru saja dieksekusi. Ia hanya tersenyum melihat Alif yang kini tampak lebih tenang, tanpa tahu bahwa senyum itu memiliki harapan untuk bisa lebih mengenal Raisa.

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!