Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 32 Ketika Monster Itu Terbangun
Pintu rumah lama keluarga Wilson terbuka perlahan, Adrian masuk lebih dulu, diikuti Raka dan dua orang anggota tim yang dibawanya. Langkah mereka berhenti begitu memasuki ruang utama.
Rumah itu gelap, sunyi, Tidak ada suara apa pun bahkan suara angin dari luar pun seolah tertahan di balik dinding-dinding tua bangunan besar tersebut.
Raka mengangkat alat komunikasinya.
"Tim Alpha, laporkan kondisi."
Tidak ada jawaban Ia mencoba sekali lagi.
"Alpha, dengar?"
Tetap hening Adrian berjalan beberapa langkah ke tengah ruangan, Tatapannya menyapu seluruh sudut rumah.
"Jangan berpencar."
"Baik, Tuan."
Raka menyalakan senter pada tabletnya.
"Seharusnya enam anggota tim berada di sini."
Adrian mengamati lantai.
Ada bekas langkah Namun anehnya, jejak itu hanya mengarah masuk. Tidak ada satu pun jejak yang terlihat menuju pintu keluar Raka berjongkok.
"Ini baru."
Adrian mendekat.
"Apa?"
"Debu di lantai ini tergeser. Seseorang baru saja melewatinya."
Adrian tidak menjawab Ia justru menatap tangga yang menuju lantai dua.
"Berapa jumlah kamera yang mati?"
"Empat."
"Dan semuanya berada di sekitar rumah?"
"Benar."
Adrian mengangguk pelan.
"Mereka ingin kita datang ke sini."
Raka menatapnya.
"Jadi ini memang jebakan?"
"Sejak awal."
Adrian berjalan menuju ruang keluarga Di sana terdapat sebuah meja tua yang masih tertutup debu, Di atasnya ada sebuah benda yang membuat langkah Adrian berhenti.
Sebuah foto.
Adrian mengambilnya Foto keluarga Wilson.
Richard, istrinya, dan seorang anak perempuan kecil.
Arunika.
Adrian menatap foto itu beberapa detik Kemudian ia membaliknya, Ada tulisan di bagian belakang.
"Kebenaran selalu kembali ke tempat semuanya dimulai."
Raka mendekat.
"Tuan..."
Adrian menyerahkan foto itu kepadanya.
"Jangan sentuh apa pun."
Raka membaca tulisan tersebut.
"Sepertinya mereka sengaja meninggalkannya."
"Memang."
Adrian menatap sekeliling.
"Mereka ingin Richard melihat ini."
"Tapi Richard tidak ada di sini."
Adrian terdiam Kemudian ekspresinya berubah.
"Belum."
Raka mengangkat wajah.
"Maksud Tuan?"
Adrian mengambil ponselnya dan segera menghubungi Richard Panggilan tersambung.
"Adrian?"
"Jangan meninggalkan rumah."
Richard terdiam.
"Apa yang terjadi?"
"Rumah ini bukan target utama mereka."
"Kalau begitu?"
Adrian menatap foto di tangannya.
"Mereka ingin menarikmu ke sini."
Richard langsung memahami maksudnya.
"Arunika?"
"Jangan biarkan dia pergi ke mana pun."
Richard menoleh ke arah Arunika yang berdiri tidak jauh darinya.
"Dia bersamaku."
"Pastikan begitu."
Sambungan terputus Raka memandang Adrian.
"Tuan, ada sesuatu yang harus Anda lihat."
Adrian mengikuti Raka menuju lorong belakang Salah satu pintu terbuka sedikit, Raka mendorongnya perlahan Ruangan itu kosong.
Namun di dinding terdapat puluhan foto.
Foto keluarga Wilson.
Foto Richard.
Foto istrinya.
Dan beberapa foto Arunika sejak kecil.
Adrian berdiri diam.
Raka menelan ludah.
"Mereka mengawasi keluarga Wilson selama bertahun-tahun."
Adrian mengambil salah satu foto, Foto Arunika yang masih kecil Di bawah foto itu terdapat sebuah tanggal.
Tanggal tujuh belas tahun lalu Tatapan Adrian berubah.
"Tujuh belas tahun..."
Raka mengangguk.
"Sepertinya semua ini berkaitan dengan hari nona Arunika menghilang."
Matanya berpindah dari satu foto ke foto lainnya, Kemudian ia melihat sebuah foto terakhir.
Foto Arunika saat ini Foto yang bahkan diambil belum lama, Di belakang foto itu tertulis:
"Kami tahu kau sudah menemukannya."
Raka terdiam Adrian meremas foto tersebut.
"Jadi mereka memang sudah mengetahui semuanya."
"Tuan..."
Adrian mengangkat tangan Menyuruh Raka diam, Dari lantai atas terdengar suara benda jatuh.
Brak!
Semua orang langsung menoleh Raka mengangkat tangannya memberi isyarat kepada anggota tim untuk bersiap, Adrian berjalan menuju tangga.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin dekat ke lantai dua, semakin jelas suara langkah kaki terdengar Namun ketika Adrian sampai di ujung tangga...Tidak ada siapa pun.
Hanya sebuah pintu kamar yang terbuka Adrian mendorongnya, Ruangan itu kosong Tetapi di tengah lantai terdapat sebuah kotak hitam Raka hendak mendekat.
"Jangan."
Adrian menahannya Ia mengamati kotak tersebut dari kejauhan.
"Periksa dari jarak aman."
Raka menggunakan alat pemindai Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
"Tuan..."
"Apa?"
"Ada sinyal."
"Jenisnya?"
Raka menatap layar.
"Sinyal komunikasi."
Adrian menyipitkan mata.
"Berapa jaraknya?"
Raka mengangkat kepala.
"Sangat dekat."
Adrian perlahan menoleh ke arah jendela Di luar, di balik pepohonan yang gelap sebuah cahaya kecil tampak bergerak Kemudian menghilang.
Adrian langsung berjalan ke jendela Raka menyusul.
"Tuan?"
Adrian menatap halaman belakang.
"Hubungi tim luar."
Raka segera melakukannya.
"Sudah."
"Suruh mereka mengitari rumah."
"Baik."
"Siapapun kalian, jika berani menyentuh milikku, maka bersiaplah menerima kehancuran yang bahkan tidak pernah kalian bayangkan."
Adrian terdiam sejenak. Tatapannya berubah dingin, tanpa sedikit pun menyisakan belas kasihan.
"Tidak peduli seberapa kuat, seberapa berkuasa, atau berapa banyak orang yang berdiri di belakang kalian."
Ia melangkah maju.
"Satu kesalahan saja."
Suaranya rendah, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa mengancam.
"Dan aku akan memastikan seluruh dunia kalian runtuh sedikit demi sedikit."
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jangan salah mengira diamku sebagai kelemahan."
"Karena ketika sisi terburukku muncul..."
Adrian menatap lurus ke depan.
"...kalian akan berharap tidak pernah mengenal namaku."
Raka mundur dengan ekspresi tegang dan takut Dalam hati ia hanya bisa mengumpat.
"Tuan ini memang monster berdarah dingin yang kebetulan dibungkus dengan jas seorang CEO."
Raka menelan ludah Selama bertahun-tahun bekerja di sisi Adrian, ia sudah melihat banyak sisi dari atasannya itu—tenang, rasional, kejam dalam mengambil keputusan.
Namun kali ini berbeda Ini bukan lagi Adrian sang CEO, Ini adalah sisi Adrian yang bahkan membuat orang-orang terdekatnya memilih untuk tidak berada terlalu dekat.
Raka menatap sosok Adrian yang berdiri di hadapannya.
"Kalau seperti ini..." gumamnya pelan,
"siapa pun yang menyentuh orang yang dia lindungi benar-benar sedang mencari jalan menuju kehancuran."
"Aku masih memberi mereka kesempatan untuk pergi."
Raka terdiam.
Adrian akhirnya menoleh. Tatapannya begitu dingin hingga Raka merasa bulu kuduknya meremang.
"Kalau mereka memilih untuk terlihat..."
Ia berhenti sejenak.
"...maka jangan harap aku masih punya alasan untuk menunjukkan belas kasihan."