Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 : Hal yang tidak diinginkan bisa terjadi
Pria itu runtuh.
Bahunya ambruk, tubuhnya membungkuk seolah tak lagi sanggup menahan beban yang menekan dadanya. Isakannya pecah di tengah ruang sidang yang hening.
“Aku… aku memang mabuk,” katanya tersendat, suaranya serak.
Tangannya yang terborgol gemetar. “Aku pulang dalam keadaan nggak sadar sepenuhnya.”
Ia mengangkat wajahnya sedikit, mata merah dan basah.
“Istriku… dia merendahkanku. Kata-katanya menusuk. Aku...”
Napasnya terhenti sejenak. Rahangnya mengeras, seolah berusaha menahan amarah yang kembali teringat.
“Anakku ikut membantah. Mereka semua melawanku. Kepalaku panas… aku kehilangan kendali.”
Ia menggeleng keras.
“Demi Tuhan, aku tidak berniat melakukan itu. Aku mencintai istriku.”
Suaranya pecah. “Tapi malam itu…”
Kalimatnya menggantung.
Ia memejamkan mata, kepalanya bergerak pelan ke kanan dan kiri, penuh penyesalan atas sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Tatapan Blair menyempit.
Ia tak segera menanggapi. Jemarinya meraih kembali map laporan, membukanya perlahan, matanya menelusuri detail yang sudah ia hafal di luar kepala.
Lalu suaranya terdengar tenang.
“Kalau semua terjadi di rumahmu,” ucap Blair, “lalu bagaimana penjelasanmu soal korban yang ditemukan di rumah lain?”
Pria itu tersentak. Kepalanya terangkat cepat, seolah baru tersadar akan sesuatu yang selama ini dihindarinya.
“A-aku… aku nggak tahu,” jawabnya terbata.
Ia menggeleng berkali-kali. “Aku tidak ingat bagaimana bisa sampai ke sana. Aku tidak tahu kenapa aku berada di rumah itu.”
Napasnya kembali kacau. Ia menunduk, bahunya bergetar hebat, tangisnya pecah lebih keras dari sebelumnya.
Ekspresi Blair berubah tipis. Ia memalingkan wajah ke arah jaksa.
“Tidak ada saksi mata?”
Jaksa membuka kembali berkasnya, jemarinya membalik beberapa halaman dengan cepat.
“Hampir semua saksi di lokasi kejadian meninggal dunia,” jawabnya pelan.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Namun… ada satu saksi yang sempat terlihat.”
Alis Blair terangkat tipis. Ia melirik sekilas ke arah terdakwa, lalu kembali pada jaksa.
“Di mana saksi itu sekarang?”
Jaksa menunduk, nadanya menurun.
“Masih dalam pencarian. Setelah kejadian, saksi melarikan diri demi keselamatan dirinya. Kesaksiannya terjadi tanpa sengaja… dan sejak itu dia menghilang.”
Blair mengangguk pelan.
Wajahnya tetap dingin, tapi sorot matanya memendam sesuatu yang lebih tajam dari sekadar profesionalisme.
“Baik, sidang akan ditunda,” katanya tegas. “Sampai saksi ditemukan.”
Ia berdiri dari kursinya. Kayu kursi berderit pelan saat tubuhnya terangkat. Sebelum beranjak pergi, Blair menoleh ke arah terdakwa.
“Dalam kondisi mabuk,” ucapnya datar, “hal-hal yang tak diinginkan memang bisa terjadi.”
Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan ambigu entah sebagai pengingat, entah sebagai sindiran.
Blair melangkah meninggalkan ruang sidang tanpa menoleh lagi.
Di sudut ruangan, Theodore berdiri diam. Tatapannya mengikuti langkah Blair hingga sosok itu menghilang di balik pintu.
Beberapa detik kemudian, Theodore berbalik.
...
Lorong pengadilan memanjang seperti terowongan kosong.
Lampu-lampu di langit-langit memantulkan cahaya pucat ke lantai marmer, menciptakan gema langkah kaki Blair yang teratur dan dingin.
Di belakangnya, Lucas berjalan cepat, nyaris berlari kecil agar jaraknya tak terlalu jauh.
“Blair,” panggilnya, suaranya tertahan tapi penuh desakan.
“Kenapa sidangnya kau tunda?”
Blair tidak menoleh. Langkahnya tetap stabil, jasnya berkibar ringan setiap kali ia berbelok.
“Kasusnya jelas,” lanjut Lucas, napasnya sedikit tersengal.
“Dia mengaku membunuh keluarganya sendiri. Mabuk bukan alasan. Itu tetap pembunuhan.”
Tak ada jawaban. Hanya bunyi sepatu Blair yang beradu dengan lantai, memantul di lorong yang sepi.
Lucas mengeraskan suara.
“Kalau kau membebaskan seseorang lagi dalam kasus seperti ini…”
Ia ragu sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah,
“Tuan pengawas benar-benar akan menargetkan Anda. Meski semua pelaku selama ini mati di luar sidang oleh tangan orang lain… tetap saja, karier Anda yang dipertaruhkan.”
Ucapan itu meluncur seperti pisau.
Langkah Blair terhenti mendadak. Suara sepatunya mencicit pelan di lantai marmer. Ia berbalik. Tatapannya menancap ke Lucas dengan tajam, dingin, penuh tekanan.
Lorong yang sunyi terasa makin sempit di antara mereka berdua.
“Kau pikir aku menunda sidang karena ingin membebaskannya?” tanya Blair datar.
Lucas menelan ludah.
“Aku hanya—”
“Dalam hukum,” potong Blair, suaranya rendah tapi mengandung peringatan, “ada aturan yang tidak bisa kau potong seenaknya.”
Ia melangkah satu langkah mendekat.
“Pembunuhan yang dilakukan dalam ketidaksadaran… dapat dipertimbangkan sebagai tidak bersalah.”