Indonesia
NovelToon NovelToon
Happy In Sin - Dosa

Happy In Sin - Dosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Patahhati
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vienbluu

“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”

“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”

•••

Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.

Namun…

Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

•••

Bulan mulai berganti, pun dengan hari-hari Giselle yang berlalu penuh kebahagiaan tentu dengan Jio disisinya.

"Pernah pergi ke theme park?" Tanya Jio pada Giselle saat keduanya tengah bersandar santai di kursi taman kampus mereka.

"Aku bahkan tak pernah terpikir untuk pergi ke sana pada jaman SHS dulu."

"Lalu kemana kau pergi bermain pada jaman itu?"

Giselle menerawang jauh ke masa sekolah menengahnya.

"Aku mulai clubbing di tahun kedua masa SHS ku, ke pantai pun baru pertama kali aku lakukan saat kau mengajakku kala itu."

Jio mengangguk mengerti, "Jadi, mau ke sana?"

Giselle langsung mengangguk, tak peduli kemanapun tujuannya asal bersama Jio ia sanggup melintasi dunia.

"Kalau begitu akhir pekan ini kita ke sana."

Lain halnya Giselle-Jio, lain pula Yoshi-Karina, kedua sejoli itu tengah asik bercanda mesra dengan Yesha menjadi obat nyamuknya.

Mereka sedang berada di kantin kampus untuk makan siang.

Yesha membola, "Astaga, bisakah kalian fokus pada makanan masing-masing?"

Ia muak melihat Karina yang terus menyuapi Yoshi, memperlakukan pria itu layaknya balita yang tidak bisa memegang sendoknya sendiri.

Sedang Yoshi hanya tersenyum menanggapi.

"Aku bahkan sudah kenyang melihat Yoshi-ku makan dengan lahap." Sahut Karina yang membuat Yesha makin jengkel padanya.

"Yesha… mau aku kenalkan pada seseorang?" Tawar Yoshi.

"Maaf, tapi tidak perlu. Aku merasa belum membutuhkannya saat ini."

"Ayolah daripada menunggu Kak Yo\~"

Bibir Karina kembali mengatup ketika melihat Yohan dari arah belakang Yesha datang menghampiri mereka.

"Kak Yohan?!" Lanjutnya dengan pekikan, canggung karena Yohan terjingkat kaget.

"Boleh aku duduk di sini?"

Yesha menoleh ke arahnya seraya menyunggingkan senyum mempersilahkan.

Yoshi memandang Karina seolah bertanya inikah pria yang bernama Yohan itu, seakan memiliki telepati Karina mengangguk membenarkan.

"Hai Karina dan?"

"Yoshi, aku kekasih Karina." Ujar Yoshi menjelaskan.

Yohan mengangguk paham, "Tapi di mana Giselle? Tumben sekali dia tidak bersama kalian."

"Dia sedang sibuk bersama kekasihnya." Celetuk Yesha.

"Kekasih? Jadi Giselle benar-benar menjalin hubungan dengan pria itu?"

"Ya... Pria itu adalah temanku." Sahut Yoshi.

Yohan melirik ke arah Yoshi tertarik untuk melanjutkan pembicaraan, "Sudah berapa lama mereka berhubungan?"

"Mereka dekat cukup lama dan baru-baru ini menjalin hubungannya. Sekitar sebulan yang lalu." Jawab Yoshi singkat.

Karena faktanya hubungan Giselle dan Jio sedikit rumit untuk berada ditahap sekarang ini, ia juga sedikit tak nyaman akan rasa penasaran Yohan terhadap hubungan asmara temannya.

"Apa Giselle-"

"Yohan, bisakah kau berhenti bertanya tentang Giselle?" Sergah Yesha yang tak tahan mendengar nama Giselle terucap lagi dan lagi dari mulut pria yang disukainya itu.

"Maksudku berhentilah menyukainya, dia sama sekali tak pernah melirikmu."

Yesha bangkit kemudian meninggalkan kantin dengan perasaan kesal.

"Aku akan menyusulnya." Ucap Karina.

Yoshi turut berdiri, menepuk dua kali bahu Yohan kemudian berlalu meninggalkannya. Yohan hanya diam, ia tahu Giselle tak pernah menginginkannya namun Yohan pun juga tak menuntut balasan.

Ia tahu posisinya, akan tetapi bukankah perkataan Yesha cukup keterlaluan jika hanya untuk menyadarkannya.

•••

Giselle menatap mobil Jio yang baru saja tiba di basemen, saat mobil itu berhenti barulah ia langsung menghampiri.

Langkahnya terhenti kala menemukan sosok yang telah mengisi kursi penumpang di samping Jio.

Menaikkan sebelah alisnya, menatap tajam pada Jio seolah meminta penjelasan, "Apa maksudnya ini?"

"Hai... Kakak!" Sapa Yasmeen dengan wajah sok imut yang dibuatnya.

Giselle ingin tersenyum namun segera diurungkan dan kembali menatap Jio, "Bukankah kita akan pergi berkencan, kenapa malah mengajaknya?"

Yasmeen berdecak, "Memang kau saja yang mau menghabiskan waktu dengan Kak Jio?"

"Hei! Panggil aku Kakak, aku lebih tua."

Yasmeen membola, "Ya, ya, cepat naik."

"Kalau begitu turun, aku mau duduk di depan."

"Ini tempatku, Kakak di belakang saja sana." Ujar Yasmeen sewot.

Mulut Giselle terbuka, tangannya terlipat ke dada. Ia memperhatikan Jio yang turun lalu membuka pintu penumpang di belakang untuknya.

"Hanya kali ini saja, jangan berdebat." Ucap Jio berbisik.

Giselle meliriknya dengan ekspresi cemberut, menyikut lengan Jio sebelum masuk ke dalam mobil meski tak berefek apapun pada pria itu.

"Aku biarkan kali ini karena kau memanggilku Kakak." Ucap Giselle pada Yasmeen.

"Jangan sering-sering berkencan dengan Kakakku."

"Kenapa?!"

"Menyebalkan."

Jio tersenyum kecil seraya melirik Giselle melalui kaca spion, sedang Giselle menendang kursi Yasmeen dari belakang menghasilkan pekikan gadis yang lebih muda darinya itu.

•••

"Harusnya kau beri tahu aku kalau mau mengajaknya." Ucap Giselle ketika mereka berdiri menunggu Yasmeen yang sedang ke toilet.

"Maaf, dia tiba-tiba ikut saat aku hendak keluar." Jelas Jio.

"Katakan saja kalau kau mau pergi kencan denganku."

"Aku mengatakan demikian dan ini hasilnya."

Giselle berdecak, tangannya meraih lengan Jio kemudian bersandar di bahunya, "Sepertinya Yasmeen benar-benar tak menyukaiku."

"Benar sekali." Sahut Yasmeen yang baru saja keluar dari toilet.

Pegangan Giselle dilepas paksa, digantikan tangan Yasmeen yang kini menggandeng Jio, "Lagipula aku masih suka laki-laki, jadi untuk apa menyukai Kakak?"

Yasmeen menyeret Jio untuk berlalu, tak terima akan hal itu Giselle menarik tangan Jio dari Yasmeen, "Memangnya ada laki-laki yang menyukaimu?!"

Yasmeen pun berganti menarik tangan Jio untuknya, "Enak saja, aku populer tahu."

Giselle kembali menarik lengan Jio dan mendekapnya erat, "Iya, diantara paman-paman penjual bakso dan tahu bulat."

Yasmeen kehabisan kata-kata, ia menatap Jio yang dengan kurang ajarnya menyaksikan itu sebagai tontonan. Terlihat terhibur karenanya.

"Kakak..." Rengeknya, "Pacar Kakak benar-benar menyebalkan!"

"Kau yang menyebalkan!"

"Hei! Kau harusnya bersikap baik padaku jika mau restu dariku."

"Aku tak butuh restu darimu tuh."

"Dasar gila–" Kalimat Yasmeen terhenti oleh Jio yang berdiri menengahi mereka.

"Sudah, aku akan pergi jika kalian masih ingin melanjutkan perdebatan kalian."

"Dia yang mulai!" Ucap Giselle dan Yasmeen berbarengan dengan tangan saling tunjuk.

Jio menurunkan tangan keduanya, dan berlalu dari sana membuat Giselle dan Yasmeen menyusul. Keduanya segera melingkarkan tangan di lengan Jio yang pasrah menerimanya.

Setelah puas menaiki wahana bermain, tentu dengan perdebatan sebelum menaikinya karena Giselle dan Yasmeen selalu bertentangan, mereka berakhir di sebuah restoran.

"Jangan bertengkar selama aku tak di sini." Ujar Jio sebelum meninggalkan keduanya untuk pergi ke toilet.

Yasmeen melirik Giselle jengkel begitupula Giselle.

"Heh! Kenapa kau ikut padahal Jio sudah bilang kalau mau kencan denganku?"

"Kenapa? Tidak boleh?" Yasmeen bertanya balik sembari menyesap minumannya.

"Menurutmu? Mana ada orang berkencan dengan membawa Adiknya turut serta?"

"Tck, sudahlah bukankah itu bagus? Harusnya kau memanfaatkan situasi dan berusaha sebaik mungkin untuk mendapat simpati dariku."

Giselle mendengus, "Sudah aku katakan, panggil aku Kakak."

"Dasar haus penghormatan."

"Selama bisa mendapatkannya kenapa tidak."

Yasmeen memicingkan mata, "Tapi Kak, bagaimana caramu menggoda Kak Jio?"

Giselle terkekeh, "Kenapa? Mau belajar?"

"Belajar apa?" Sahut Jio yang baru datang.

"Belaj–" 

Yasmeen segera membekap mulut Giselle dengan tangannya dan tersenyum aneh pada Jio, "Jangan dengarkan dia."

"Yasmeen." Jio menegur, memberi Yasmeen instruksi untuk melepaskan tangannya dari mulut Giselle.

Giselle tersenyum penuh kemenangan pada Yasmeen yang perlahan menurunkan tangannya, "Bersikap baiklah pada Kakak Iparmu ini."

Ucapan Giselle mengundang umpatan tertahan dari Yasmeen yang segera menutup kembali mulutnya karena Jio memperhatikan.

Yang Jio tahu baik Giselle maupun Yasmeen tak pernah saling membenci, terbukti dengan Giselle yang terkadang menanyakan keadaan Adiknya tersebut saat bersamanya.

Juga Yasmeen yang acuh tak acuh bertanya tentang Giselle hanya saja mereka sama-sama memiliki gengsi setinggi langit untuk mengakuinya.

•••Vienbluu (annavienbluu)

1
lkzxxvy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!