Indonesia
NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Proposal Kertas Usang Strategi Bisnis Baru dan Semangat dar

Sinar matahari pagi kembali menyapa kawasan perkampungan Sidoarjo, menembus celah-celah genting rumah panggung keluarga Dika Pratama. Udara pagi yang segar dihirup dalam-dalam oleh Vanesha, yang kini sudah terbangun lebih awal untuk membantu Emak Sarni Sari menyapu halaman depan.

Meskipun tangannya mulai terbiasa memegang sapu lidi ketimbang berkas laporan perusahaan bernilai miliaran rupiah, sisa-sisa bayangan kehidupannya di Surabaya sesekali masih melintas di kepalanya. Terutama setelah ponsel pintarnya yang kini sudah jarang disentuh sempat berdenting beberapa kali semalam — pemberitahuan dari beberapa rekan kerja lamanya yang menanyakan keberadaannya, serta status rekening korporatnya yang benar-benar telah dibekukan total oleh sang Papa.

Namun, Vanesha sama sekali tidak gentar. Kehangatan pelukan Emak Sarni Sari malam tadi dan ketulusan tatapan Bapak Joko Pratama telah memberinya benteng perlindungan batin yang jauh lebih kuat daripada benteng beton pencakar langit Vanesha Group.

Di emperan rumah, Dika sudah duduk bersila sambil memegang ponselnya, memeriksa hasil siaran langsung YouTube mereka dari sore kemarin. Angka penonton dan jumlah pengikut melonjak naik secara drastis, menciptakan kehebohan tersendiri di kolom komentar.

"Wah, gila sih ini, Mbak Vanesha!" seru Dika sambil memanggil Vanesha yang masih memegang sapu lidi di halaman. "Coba ke sini deh! Lihat kolom komentar video kita kemarin."

Vanesha meletakkan sapu lidinya, lalu melangkah mendekati Dika dengan kening berkerut penasaran. Ia ikut duduk di samping Dika di atas amben bambu.

"Asli, ngakak banget pas ikannya mendarat di muka Mbah Dika!" tulis salah satu penonton.

"Tolong dong, Mbak Vanesahnya jangan disuruh mangut terus, kasihan mantan CEO disuruh cuci piring pakai sabun colek!" timpal yang lain.

"Kalian berdua cocok banget! Bikin konten mancing sambil makan mangut ikan nila dong!"

Melihat komentar-komentar usil namun positif dari para penonton, bibir Vanesha perlahan mengembang membentuk senyuman lebar. Rasa malunya kemarin kini berganti menjadi kebahagiaan tersendiri. Ternyata, hidup di luar bayang-bayang status sosial elite tidak seburuk yang ia bayangkan; justru terasa jauh lebih hidup dan jujur.

"Tuh kan, apa kubilang!" ucap Dika bangga sambil menyalakan sebatang kretek Gajah Barunya. "Netizen Indonesia itu maha benar sekaligus maha pelawak. Mereka suka konten yang apa adanya, bukan yang jaim-jaim ala direksi korporasi."

"Iya, kamu benar, Dika," jawab Vanesha pelan, melirik sekilas ke arah Dika dengan tatapan penuh arti. "Tapi, kalau kita cuma mengandalkan hasil dari konten mancing amatiran ini, kapan kita bisa mandiri secara finansial? Aku nggak mau terus-terusan numpang hidup di rumah orang tuamu tanpa memberikan kontribusi apa pun."

Mendengar ucapan serius itu, Dika menghentikan isapan rokoknya. Ia menoleh, menatap lekat-lekat mata indah wanita di sampingnya. Sifat kepemimpinan dan rasa tanggung jawab Vanesha ternyata memang tidak pernah hilang, bahkan dalam situasi tersulit sekalipun.

"Tenang saja, Bos... eh, Mbak Vanesha," ralat Dika sambil tersenyum menenangkan. "Pikiranmu terlalu jauh. Kemarin Emak baru saja nawarin ide bagus. Karena gorengan buatan Emak selalu laris manis di desa ini, gimana kalau kita kembangkan usaha kecil-kecilan? Kita bikin lapak jajanan tradisional yang sedikit lebih modern di dekat Alun-Alun, atau bikin paket kuliner mangut ikan nila khas Sidoarjo yang bisa dipesan secara daring lewat ponsel?"

Vanesha tertegun sejenak. Ide yang dilontarkan Dika mendadak memicu insting bisnisnya yang tajam. Meskipun dunianya kini sudah berubah dari korporasi raksasa menjadi warung pedesaan, prinsip dasar bisnis dan pemasaran tetaplah sama.

"Ide yang bagus," sambung Vanesha cepat, aura serius dan karismatik seorang CEO mendadak kembali terpancar dari wajahnya. Kalau kita kemas dengan konsep kuliner tradisional yang bersih, higienis, dan memanfaatkan media sosial untuk promosi, pasar kita bukan cuma warga desa sekitar, tapi juga bisa menjangkau anak-anak muda dari Surabaya yang sering nongkrong di Sidoarjo."

Dika melotot kagum melihat perubahan ekspresi Vanesha yang seketika berubah menjadi sangat bersemangat.

"Wah, kalau mantan CEO sudah turun tangan merancang strategi bisnis, alamat warung gorengan Emak bakal jadi waralaba nasional nih!" canda Dika mencairkan suasana.

Vanesha tertawa kecil, lalu memukul pelan lengan Dika dengan gulungan koran di dekatnya.

"Bisa aja kamu! Tapi, ini ide serius, Dika. Aku mau kita mulai rancang perhitungannya hari ini."sahut Vanesha

Dari arah dapur, Emak Sarni Sari yang membawa nampan berisi dua cangkir kopi hangat tersenyum lebar melihat keakraban kedua anak muda tersebut. Sementara di beranda seberang, Bapak Joko Pratama mengangguk-angguk kecil sambil menyeruput kopinya, menyadari bahwa badai besar yang sempat datang kemarin kini telah berubah menjadi angin sepoi-sepoi yang membawa harapan baru bagi masa depan keluarga mereka.

Suasana di emperan rumah panggung mendadak berubah menjadi ruang rapat darurat kelas pedesaan. Di atas amben bambu yang biasa dipakai Bapak Joko Pratama melinting tembakau, kini terbentang selembar kertas koran bekas dan sebuah bolpoin murah pinjaman dari Dinda Ayu Lestari.

Vanesha duduk bersila dengan penuh konsentrasi, rambutnya dicepol seadanya. Insting bisnisnya yang tajam selama bertahun-tahun memimpin korporasi besar kini berpadu dengan bahan-bahan sederhana khas dapur Emak Sarni Sari: tepung terigu, tahu, cabai, dan ikan nila segar dari sungai.

"Dika, coba hitung lagi," ucap Vanesha serius sambil menulis beberapa angka di atas kertas koran. "Kalau modal awal kita gabung dari tabunganmu, kita bisa produksi tiga kali lipat dari biasanya."

Dika Pratama yang duduk di sampingnya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia memandangi coretan angka-angka itu dengan mata setengah menerawang. "Wah, ampun, Mbak. Kalau urusan takaran tepung sama cari cacing buat umpan mancing, saya jago. Tapi kalau disuruh ngitung proyeksi laba rugi begini, kepala saya langsung pusing tujuh keliling. Kayak lagi ujian akhir SD!" keluh Dika setengah memelas.

Vanesha menoleh, lalu terkekeh pelan melihat ekspresi konyol lelaki di sampingnya itu. "Makanya, jangan cuma bisa tidur dan megang joran bambu terus. Otak itu harus dipakai mikir buat masa depan kita," goda Vanesha lembut, namun ada ketulusan yang mendalam di balik matanya.

Dika terdiam sejenak. Mendengar kata "kita" yang terucap begitu natural dari bibir wanita yang dulunya bos besar yang ditakuti, dadanya mendadak bergemuruh hebat. Rasa hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Siap, Bos... eh, calon partner hidup," ralat Dika cepat dengan cengiran lebar, membuat pipi Vanesha seketika merona merah malu-malu.

Tak lama kemudian, Dinda muncul dari arah dapur sambil membawa nampan kecil berisi pisang goreng hangat buatan Emak. Gadis itu langsung nyosor duduk di dekat mereka sambil ikut mengintip coretan di kertas koran.

"Wah, serius banget nih rapatnya! Mau bikin proposal pengajuan dana ke bank mana, Mbak Vanesha?" tanya Dinda usil sambil mencolek adonan sisa di mangkuk.

"Kita nggak butuh bank, Dinda," jawab Vanesha mantap sambil merangkul pundak adik ipar masa depannya itu. Kita pakai kekuatan media sosial, rasa masakan tangan Emak yang juara, dan kerja keras kita bertiga. Kita bikin 'Gorengan & Mangut Nila Sidoarjo' jadi merek kuliner paling hits yang bikin orang kota rela jauh-jauh datang ke sini."

Dinda bertepuk tangan antusias.

"Setuju banget! Nanti aku yang bagian promosi TikTok dan jadi tukang cicip resmi setiap hari!"sahut Dinda Ayu Lestari

Dari ambang pintu dapur, Emak Sarni Sari dan Bapak Joko Pratama memperhatikan kebersamaan anak-anak mereka dengan senyuman penuh kelegaan. Bapak Joko Pratama mengepulkan asap kreteknya pelan-pelan, lalu bergumam kecil pada istrinya,

"Anakmu itu emang pandai cari jodoh, Sarni. Dulu dapat bos galak, sekarang malah dapat ratu bisnis yang mau hidup susah bareng di kampung."ucap Bapak joko pratama

Emak Sarni Sari tersenyum hangat menepuk lengan suaminya lembut.

"Sudahlah, Pak. Namanya juga takdir. Yang penting anak-anak bahagia dan rukun."jawab Emak sarni sari

Di bawah terik matahari pagi Sidoarjo yang mulai meninggi, lembaran hidup baru yang dirintis dari nol itu bukan lagi impian kosong. Dengan semangat baja Vanesha, keahlian lapangan Dika, dan keceriaan Dinda, rumah panggung sederhana itu kini bersiap menyambut babak kejayaan yang jauh lebih bermakna daripada kemewahan perkotaan.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!