Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: RAPAT PEMILIHAN
Hari yang ditunggu tunggu akhirnya tiba, rapat pemilihan Ketua Program Studi periode berikutnya, digelar di aula fakultas yang dipenuhi hampir seluruh dosen tetap jurusan, lengkap dengan perwakilan dari Dekanat yang datang khusus untuk mengawasi jalannya proses, seolah pemilihan sederhana ini adalah pemilihan presiden sungguhan.
Bang Tua duduk di barisan tengah bersama Pak Ferdinand, mengamati suasana yang terasa lebih tegang dari rapat rapat biasa. Dr. Yosia duduk di barisan depan, mengenakan kemeja rapi dengan senyum yang sudah dia siapkan sejak pagi, berbincang santai dengan beberapa dosen senior yang duduk di sekitarnya, sesekali tertawa lepas seolah kemenangan sudah ada di genggaman tangannya.
Di sudut ruangan, Bang Tua sempat melihat Prof. Bonar juga hadir, duduk agak jauh dari kerumunan utama, wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya, mungkin karena dia tahu perhatian orang orang kali ini bukan tertuju padanya. Bang Tua sempat berkomentar dalam hati, "untung juga Prof. Bonar nggak duduk deket deket bapak, kalau deket, bisa bisa acara tanya jawab nanti berubah jadi reuni dendam kesumat".
"Pede kali dia keliatannya, Pak," bisik Bang Tua ke Pak Ferdinand, dalam hati menambahkan, "kayak orang yang udah tau bocoran soal jawaban ujian, padahal ini kan pemilihan, bukan ujian yang bisa dibocorin jawabannya, atau jangan jangan bisa juga ya, who knows".
Pak Ferdinand mengangguk pelan, matanya juga tidak lepas mengamati Dr. Yosia dari kejauhan, "orang itu emang selalu keliatan tenang, Sahat, tapi entah kenapa hari ini kelihatannya beda, lebih pede dari biasanya, kayak udah pegang kartu truf".
Sebelum sesi pemungutan suara dimulai, ada sesi tanya jawab singkat untuk kedua kandidat, Dr. Yosia dan satu kandidat lain, seorang dosen senior bernama Dr. Wilson, yang selama ini dikenal lebih pendiam tapi punya rekam jejak akademik yang solid. Bang Tua, yang sejak beberapa minggu terakhir sudah menyiapkan diri untuk momen ini, mengangkat tangan meminta kesempatan bertanya, membuat beberapa kepala menoleh heran, karena biasanya dia bukan tipe dosen yang aktif di forum forum resmi semacam ini.
"Eh, itu Pak Sahat yang biasanya duduk diem di pojokan, mau ngomong?" bisik salah satu dosen muda ke temannya di barisan belakang, cukup keras hingga terdengar oleh beberapa orang di sekitarnya, membuat suasana semakin penasaran menanti apa yang akan dia katakan.
"Pak Sahat, silakan," kata moderator rapat, sedikit terkejut dengan permintaan yang tidak biasa itu.
Bang Tua berdiri, menyiapkan diri sebaik mungkin, jantungnya berdegup kencang tapi suaranya tetap dia jaga stabil. "Terima kasih. Pertanyaan saya untuk Pak Yosia. Beberapa waktu lalu, ada mahasiswa bimbingan yang diminta ganti topik penelitian dengan alasan overlap dengan penelitian Bapak. Setelah saya cek ke bagian penelitian, tidak ditemukan catatan resmi penelitian tersebut. Bisa Bapak jelaskan?"
Suaranya terdengar jelas ke seluruh penjuru aula berkat mikrofon yang dia pegang, membuat setiap kata yang dia ucapkan tidak bisa lagi dihindari atau dianggap sekadar bisik bisik kecil di sudut ruangan seperti selama ini.
Ruangan seketika hening, beberapa dosen saling melirik, jelas tidak menyangka pertanyaan sekonkret dan setajam itu akan muncul di forum formal semacam ini. Dr. Yosia yang tadinya santai, wajahnya sempat berubah kaku sepersekian detik sebelum kembali menguasai diri dengan senyum khasnya, senyum yang menurut Bang Tua kali ini terlihat sedikit lebih dipaksakan dari biasanya, seperti orang yang sedang menahan kaget besar tapi berusaha tetap terlihat tenang di depan kamera.
"Itu mungkin kesalahan komunikasi administratif, Pak Sahat. Penelitian saya memang belum tercatat resmi karena masih tahap perencanaan," jawab Dr. Yosia, mencoba terdengar tenang meski jawabannya terasa dipaksakan.
"Tahap perencanaan tapi udah cukup jadi alasan buat suruh mahasiswa ganti topik yang udah dikerjakannya berbulan bulan? Itu agak aneh menurut saya, Pak," balas Bang Tua, masih dengan nada sopan tapi tegas, tidak memberi ruang bagi Dr. Yosia untuk mengelak dengan mudah.
Dr. Wilson, kandidat lain yang sejak tadi diam, sempat melirik ke arah Bang Tua dengan tatapan penuh rasa terima kasih tersembunyi, seolah pertanyaan itu juga mewakili keraguan yang selama ini dia simpan sendiri tapi tidak berani suarakan.
Sesekali Dr. Wilson mengangguk pelan mendengar setiap kalimat yang dilontarkan Bang Tua, gestur kecil yang tidak luput dari perhatian beberapa dosen di sekitarnya, seolah dia diam diam berterima kasih karena ada orang lain yang berani menyuarakan apa yang selama ini hanya berani dia pikirkan sendirian.
Beberapa dosen lain mulai berbisik bisik, suasana yang tadinya tenang berubah jadi riuh kecil, dan perwakilan Dekanat yang duduk di kursi pengawas terlihat mencatat sesuatu dengan raut wajah serius, jelas mempertimbangkan hal ini sebagai catatan penting untuk laporan mereka.
Dalam hati Bang Tua bergumam penuh kepuasan tersembunyi, "nah, sekarang biar semua orang tau, jangan cuma bapak sendiri yang mikirin ini di kamar kos sambil ngunyah mi instan, saatnya buka kartu di depan umum, this is what we call, checkmate, kalau kata orang bule, meski permainan caturnya masih panjang".
Beberapa dosen di barisan belakang mulai berbisik bisik satu sama lain, ada yang mengangguk setuju dengan pertanyaan Bang Tua, ada pula yang terlihat gelisah, mungkin mereka yang selama ini menerima keuntungan tidak langsung dari kedekatan dengan Dr. Yosia, khawatir posisi mereka ikut terancam kalau kebenaran ini terus dikorek lebih dalam.
Sesi tanya jawab dilanjutkan dengan beberapa pertanyaan lain dari dosen dosen lain, jauh lebih berani dari biasanya, seolah keberanian Bang Tua bertanya lebih dulu membuka jalan bagi yang lain untuk ikut angkat suara. Dalam hati Bang Tua tersenyum puas, membayangkan dirinya seperti pemain domino yang baru saja menjatuhkan kepingan pertama, "satu domino jatuh, yang lain ikut jatuh, kalau kata orang, the ball is rolling now".
Salah satu dosen muda, yang selama ini dikenal pendiam dan jarang bicara di forum resmi, bahkan sempat mengangkat tangan untuk bertanya soal transparansi pengelolaan dana kegiatan jurusan, pertanyaan yang membuat beberapa dosen senior saling berpandangan, jelas tidak menyangka forum yang biasanya berjalan tenang dan formal ini tiba tiba berubah jadi ajang keterbukaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bang Tua duduk kembali sambil sesekali melirik ke arah Pak Ferdinand, yang membalas liriknya dengan anggukan kecil penuh arti, seolah keduanya sedang berbagi kepuasan yang sama tanpa perlu diucapkan sepatah kata pun. Dalam hati dia bergumam, "kayaknya bapak baru aja buka pintu Pandora versi kampus, tapi bedanya, yang keluar dari kotak ini bukan malapetaka, tapi keberanian orang orang yang selama ini cuma bisa diem".