Frisia Ellina seorang wanita pekerja keras yang berhasil menjadi seorang pegawai tetap di sebuah perusahaan.
Ia sangat mengidolakan penyanyi asal luar negeri yang bernama Devano Alexander. Kisah cintanya di mulai saat ia bertemu dengan idolanya tersebut.
Apa yang terjadi antara Sisy dengan Devano?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DFDream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untung sayang
Seperti biasa, Sisy memposting foto makanan dan minuman miliknya. Tania menjadi orang pertama yang menyukai postingan tersebut. Begitu juga dengan Amanda yang sudah lebih dulu membuat status di media sosialnya. Ia merekam kebersamaannya dengan Sisy.
"Manda, soal semalam terimakasih ya." Ucap Sisy.
"Tenang saja, gak perlu sungkan, Ann." Balas Amanda.
"Aku malu, Manda. Aku sudah terbiasa merayakan kerja keras kita setiap habis event." Kata Sisy.
Ia bercerita kebiasaannya yang selalu party setiap selesai acara. Ia juga suka mabuk berat setiap ia merasa tidak baik. Semalam, ia tidak menyangka akan di jebak oleh Rena. Tapi ia tetap merasa berhutang Budi pada Devano dan Gerry. Mungkin jika tidak ada mereka, dirinya sudah sangat kacau.
"Memang kamu belum bisa mencintai Devan? Dia sudah banyak sekali perubahan sejak bersama kamu." Kata Amanda.
"Manda, setiap fans itu pasti ada perasaan suka. Sama seperti aku ke kamu." Jawab Sisy.
"Aku memang suka dengan Vano. Semakin kesini aku semakin mencintai Vano." Lanjutnya.
"Lalu, kenapa kamu tidak," Amanda sulit mengatakannya tapi ia memperagakan dengan tangannya.
"Aku gak bisa, Manda. Pernikahan kita ini ada hanya untuk menghindari berita yang tidak baik pada Vano juga karena ia tidak ingin di jodohkan oleh Rena. Itulah kenapa adanya perjanjian enam bulan." Jawab Sisy.
Sisy menghela napas panjang. Rasanya sakit sekali hatinya untuk mengatakan itu. Ia juga menjelaskan bahwa caranya agar tidak terlalu mencintai Devano dengan cara memberi jarak.
"Kenapa tidak bisa, Ann? Bukankah Devan mencintaimu? Kalian bisa menghapus perjanjian kalian." Tanya Amanda.
"Gak bisa, Manda. Kita ini berbeda, aku hanya orang biasa sedangkan Vano? Dia selebriti, dia CEO, dia anak sultan. Jauh dengan aku yang hanya perantau dari kampung." Jawab Sisy.
Amanda mengerti dan paham dengan sikap Sisy yang benar-benar menjaga perasaannya, membatasi perasaannya. Tapi bagaimanapun Amanda tetap berharap sahabatnya bisa mendapat cinta sejatinya. Setelah mendengarkan curhatan Sisy dari alasan ia mabuk sampai alasan mengapa ia belum bisa menerima Devano. Kini Amanda yang curhat tentang percintaannya dengan Harry.
Berbeda dengan Amanda dan Sisy. Devano dan Edward masih bersantai menonton Film action. Edward dan Devano memiliki banyak kesamaan. Di rasa ada waktu yang tepat, Edward mulai membahas tentang Rena. Lalu, ia bertanya tentang sesuatu yang menurutnya janggal. Jujur, Edward bingung kenapa putranya harus meminta tolong pada Amanda. Padahal Devano bisa melakukan itu sendiri.
"Kami memang menikah. Tapi," Devano menghentikan pembicaraannya.
"Tapi, Anna belum bisa menerimamu?" Tanya Edward.
Devano bingung kenapa Papanya bisa mengetahui hal itu. Akhirnya dia menjawab dengan jujur. Edward bersikap biasa saja karena ia sudah lebih dulu tahu dari Amanda.
"Aku sangat mencintainya Pa. Aku tidak ingin kehilangannya. Karena itu, aku memanfaatkan nya saat ia kecelakaan dan Ano membantunya." Kata Devano.
"Cinta itu tidak harus di paksa, Nak. Masih banyak wanita yang menginginkan dirimu." Kata Edward.
"Tapi tidak ada yang seperti Anna, Pa. Dia mengidolakan Ano, tapi dia tidak mengambil kesempatan untuk memanfaatkan Ano." Kata Devano.
Edward berpikir bahwa apa yang di katakan oleh Amanda memang benar. Sisy tidak seperti Rena dan Shinta. Ia berharap Sisy dapat membalas cinta putranya. Ia sedih mendengar cerita putranya.
"Semangat! Papa yakin suatu saat nanti, Anna bisa menerimamu dan membalas cintamu." Kata Edward.
Hari semakin gelap, Amanda mengajak Sisy ke Club langganannya. Suasana hati mereka yang sedang tidak baik, membuat Amanda memutuskan untuk ke Club bareng. Club milik Maminya yang selalu menjadi tempatnya menenangkan pikirannya.
Di club tersebut, Amanda memiliki ruangan khusus yang tertutup dan tidak ada yang tahu. Ruangan tersebut sangat rahasia. Dari dalam mereka masih dengan jelas melihat keluar. Tapi dari luar sama sekali tidak bisa melihat ruangan tersebut.
"Kamu yakin? Apa tidak berbahaya jika mereka melihat kita?" Tanya Sisy.
"Dari dalam memang bisa terlihat di luar. Tapi yang di luar tidak bisa melihat kita." Kata Amanda.
Amanda memesan minuman Alko dan cocktail. Pelayan yang masuk ke ruangan juga harus melewati pemeriksaan. Mereka dilarang membawa kamera, ponsel atau apapun yang dapat membuka privasi mereka.
Amanda memang sangat kuat dengan minuman Alko. Walau sudah banyak, ia masih bisa tersadar. Berbeda dengan Sisy yang tak seberapa sudah mulai mabuk.
" **Sakit hatiku
Yang tak bisa meraih mu.
Ku kan selalu ada untukmu.
Menunggumu datang mencari ku.
Ku mencintaimu,
Tapi ku tak bisa menggapai mu**."
Begitulah salah satu lirik lagu Devano yang dinyanyikan oleh Sisy saat mabuk. Amanda merekam Sisy saat bernyanyi. Ia hanya membagikannya di status messenger. Karena hanya sahabatnya yang memiliki messenger-nya.
"Kenapa gue harus mencintai orang yang gak bisa gue miliki? Kenapa gue begitu mencintainya?" Tanya Sisy dalam keadaan mabuk.
"Gue ingin menghilang, pergi sejauh mungkin dan menghapus perasaan ini!" Tambahnya.
"Sakit hati gue!" Sisy menangis.
"Sakit hati gue karena mencintai lo! Seharusnya lo gak ada di hadapan gue! Seharusnya lo mencintai orang yang sederajat sama lo! Bukan gue yang miskin!" Lanjutnya dengan menangis.
Merasa Sisy sudah sangat mabuk, Amanda menghubungi Devano untuk menjemput Sisy. Devano sudah berada di jalan. Ia langsung ke Club saat melihat status Amanda.
Sampai di club, Devano masuk ke ruangan tempat Amanda dan Sisy bersenang-senang. Setidaknya Amanda tenang bahwa Sisy mencintai Devano sahabatnya. Walau mereka saling mencintai tapi belum pasti mereka akan bersama.
Devano mengangkat Sisy dan menggendongnya. Berkali-kali Sisy menciumi Devano dan hal itu terlihat oleh Amanda. Sama seperti Devano, Harry sampai di club. Saat Amanda sudah tertidur di sofa club. Amanda menolak ajakan Harry untuk pulang. Ia marah dengan Harry yang sudah mulai sibuk sendiri dan membuatnya merindu.
Sepanjang jalan, Sisy terus memeluk lengan Devano. Sampai rumah, Sisy juga terus menciumi Devano. Ia terpaksa harus menahan hasratnya lagi.
"Astaga, untung sayang. Cobaan banget ini." Kata Devano.
Ia langsung membawa Sisy ke kamarnya dan Devano langsung meninggalkan Sisy. Ia khawatir jika dirinya tidak bisa menahan hasratnya. Devano mengambil segelas air untuk minum.
Ia berharap agar Sisy bisa mencintainya dan akan selamanya bersama dengannya. Ia memandangi Sisy dari balik pintu. Ia bahagia Sisy menciumnya berkali-kali.
Pagi harinya, makanan sudah di siapkan oleh pelayan. Mereka lupa jika sejak kemarin Edward sudah mengirim karyawannya kerja di rumahnya. Devano duduk lebih dulu di ruang makan. Sisy dengan lambat ia berjalan menuju meja makan.
"Pa,, pagi." Sapa Sisy dengan canggung.
Ia langsung mengingat kejadian semalam. Ia malu telah di ketahui oleh Devano. Berkali-kali ia mencium Devano. Sisy malu dan sulit untuk menatap Devano.