Gadis cantik dengan surai rambut panjang dengan postur tubuh yang terbilang ideal yang masih berumur 18 tahun, dia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang bernama Calista Ratu Ayudiya dan dia mempunyai teman yang bernama Panji Prayudya dan Kiara Putri.
Ada beberapa yang harus di revisi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Say sorry?
"Jiwa mager ku seketika hilang," ucap Calista dengan senyum lebar seraya mengambil beberapa barang lalu dimasukkan kedalam keranjang belanjaannya.
Kini Calista sedang berada di dalam supermarket dekat dengan rumahnya. Dia sedang membeli sesuatu untuk kebutuhan bulannya. Kenapa ngak para maid yang membelinya? Karena ini kebutuhan pribadi Calista jadi dia memilih untuk belanja sendiri. Dia tak suka jika menyuruh maid nya untuk membeli barang pribadinya.
Selesai dengan barang belanjaannya, Calista menuju ke kasir untuk membayar.
"Totalnya Rp 1.550.000 ka," ucap kasir tersebut ke arah Calista.
Calista mengambil kartu debit di dalam dompetnya untuk membayar.
"Tidak sekalian minuman pereda setresnya ka lagi promo," ucap kasir tersebut mempromosikan jualannya.
Calista hanya tersenyum singkat. "Ngak mba makasih."
"Snack gangguan jiwanya ka beli lima gratis sepuluh."
Calista menghela nafasnya kasar. "Enggak mba makasih saya masih waras udah cukup ini aja."
Calista melenggang pergi keluar dari supermarket tersebut menenteng barang belanjaan di kedua tangannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil miliknya. Ia tidak sadar bahwa sedari tadi ada seseorang yang tengah memperhatikan gerak geriknya.
Calista hendak membuka pintu mobilnya namun seseorang menahan pergerakan tangannya.
"Ta saya ingin berbicara sama kamu sebentar," ucap seseorang tersebut dengan nada memohonya yang ternyata Liam.
Ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Liam. "Lepas Om," semakin mencoba melepaskan, semakin erat pula genggaman Liam.
"Enggak sebelum kamu mau bicara sama saya, saya ngak akan lepasin kamu."
"Om ngak liat saya bawa belanjaan banyak ribet ini jadi lepas dulu," Setelah mengatakan hal tersebut kemudian Liam melepaskan genggaman dan membantu Calista memasukkan barang belanjaannya ke dalam mobil.
"Udah kan selesai sekarang saya mau bicara sama kamu."
"Ke rumah aku aja," ucap Calista yang di setujui oleh Liam.
"Ok aku ikuti kamu dari belakang, jangan mencoba menghindari aku terus. Ngerti Tata," ucapnya seraya mengusap pucuk kepala Calista.
Calista mengangguk patuh namun raut wajahnya masih datar. Kemudian mereka memasuki mobilnya masing-masing. Liam yang tengah mengikuti Calista dari belakang.
"Apa yang mau Om bicarain?," celetuk Calista dengan wajah datarnya.
"Ta, udah dong jangan panggil saya Om terus ini lagi berdua loh."
Sekarang mereka sedang berada di ruang tamu kediaman rumah Calista. Calista sedang menjaga jarak dengan Liam, terlihat dari posisi duduk mereka yang berhadapan.
Calista menghembuskan napasnya sabar menahan perasaan yang tengah dilanda kegusaran sekaligus rasa kesal di dalam hatinya.
"Ok jadi Mas mau bicarain apa sama aku."
"Ta maaf untuk yang kemarin," ucap Liam menatap lekat ke arah Calista.
Calista mengerutkan dahinya heran. "Maaf untuk?."
"Maaf karena El udah ngatain kamu," ujar Liam mengingat kejadian kemarin.
"El?," ulang Calista.
"Iya El, alias Laurel teman kecil saya Ta," jelas Liam.
Calista mengangguk paham namun di dalam hati kecilnya merasakan ada rasa tak suka dengan panggilan tersebut. "Udah itu aja?."
"Maaf juga karena akhir-akhir ini saya jarang sama kamu, bukan saya mengabaikan kamu cuma saya menemani el yang sudah beberapa hari tinggal di sini dia cuma liburan di sini jadi saya menemani dia untuk sementara waktu karena dia belum terbiasa tinggal di sini Ta," jelasnya yang membuat hati Calista tak suka mendengarnya.
"Terserah Mas, aku ngak melarang," jawabnya dengan datar.
"Saya tahu kamu beberapa hari ini ngak membalas pesan dari saya karena kamu marah sama saya kan? Udah dua kali ini kamu lihat saya sama El," jelas Liam.
Calista tampak pasrah. "Aku ngak ada hak buat marah sama Mas, mau Mas jalan sama siapa pun itu terserah Mas."
"Kamu berhak marah sama saya ta, saya sudah mengabaikan kamu beberapa hari ini."
"Aku tahu Mas, dunia Mas itu bukan tentang aku aja, tapi kalau boleh jujur kenapa akhir-akhir ini aku ngak balas pesan dari Mas karena aku merasa cemburu, aku takut perasaan ini buat aku benci sama Mas jadi lebih baik aku menghindar dari Mas beberapa hari ini," jedanya seraya menghirup udara dan menghembuskannya perlahan menjernihkan fikiran yang tengah bergemuruh. "Aku ngak tahu aku berhak cemburu apa ngak. Aku orang baru di kehidupan Mas sedangkan dia orang lama dihidup Mas. Terbukti juga waktu dia ngatain aku centil di depan orang banyak Mas ngak belain aku sama Kiara kan? Jadi lebih baik aku menghindar dari Mas dulu supaya aku ngak terlalu benci sama Mas dan sama diri aku sendiri, aku ngak mau menimbulkan rasa benci yang ngak berdasar," jelas Calista dengan wajah tenangnya namun tidak dengan hatinya.
Liam menatap ke arah Calista yang membuat dirinya merasa bersalah. "Ta maaf ya el ngak tahu pertemanan kalian jadi dia asal bicara aja seperti itu."
"Mas jangan mencoba menjelaskan yang nantinya bikin aku sakit."
"Dan satu lagi jangan sekali-kali bentak Panji, Panji itu anak Mas ngak seharusnya Mas bentak apa lagi di depan orang lain. Maaf banget Mas kalau misalnya aku ikut campur, aku ngak tega liat Panji kemarin nangis sambil cerita ke aku. Maaf banget kalau aku di luar batasan aku buat ikut campur urusan Mas sama Panji". jelas Calista yang mengingat Panji menceritakan kejadian kemarin setelah dibentak oleh ayahnya.
Liam menghampiri ke arah Calista dan langsung memeluk tubuh Calista. Calista merasa ragu namun pada akhirnya dia membalas pelukan dari Liam.
"Ngak kamu ngak perlu minta maaf seharusnya disini aku yang disalahkan. Gara-gara saya Panji masih marah sama saya ta, saya harus gimana? Saya ngak tahu cara bujuk Panji itu gimana, saya disini ngak becus jadi ayahnya Panji ta. Harusnya tempat Panji mengeluh itu ke saya bukan sama orang lain. Saya udah gagal menjadi ayah yangbaik buat dia," Jelas Liam dengan raut wajah sedihnya di dalam pelukan Calista.
"Mas jangan nyalahin diri kamu sendiri. Ngak ada yang gagal cuma cara kamu aja yang salah, Panji kemarin bilang katanya dia ngak pernah di bentak sama Mas. Tapi sekalinya dia dibentak malah di depan orang lain, jadi ngak seharusnya Mas Panji di depan orang karena itu imbasnya ke hati Panji dan harga diri Panji yang merasa dipermalukan," jelas Calista seraya mengusap pelan punggung Liam.
Liam melepas pelukannya. "Ta, tolongin saya ya, bujuk Panji supaya Panji berhenti marah ke saya," ujar Liam dengan wajah memohon.
Calista menggeleng, dia menolak untuk membujuk Panji. "Harusnya Mas yang membujuk Panji bukan orang lain. Supaya Panji tahu bahwa ayahnya meminta maaf dengan sungguh-sungguh," jelas Calista seraya memandang wajah Liam yang terlihat ditekuk.
hahhaha selain prianya bodoh, wanita ya juga lemah.
untung gw bacanya lompat" karena terlalu berbelit" lama masalahnya selesai ..malah tambah dibuat bodoh prianya.
skip..bye, 😪
bodoh!
njirr. bodoh! kek gak ada alasan lain aja yang masuk akal
jadi maksudnya Thor, jika kiam tau perbuatan jahat Laurel dia tetap mau berteman dengannya?
jerkkk! pembodohan
pengusaha kok tolol