Rindu adalah seorang perempuan yang bekerja di sebuah pabrik kayu. Hidupnya selama ini nyaman dan tentram. Sampai suatu kejadian membuat hidupnya berantakan. Mereka, sekelompok orang tak di kenal merenggut kesuciannya yang telah lama ia jaga. Rindu kehilangan semangat hidupnya. Sampai ada sesosok lelaki tampan yang bersedia menjadi suaminya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya?
Sebaiknya baca sampai selesai novel pertama karya saya ya. Dijamin menguras emosi serta air mata. Siapkan tissu yang banyak.
Follow aku dan tambahkan ke favorit biar gak ketinggalan setiap episodenya.
Jangan lupa like dan komet serta share yang banyak novelku ya.
Tapi ingat, jangan ada plagiat di antara kita..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khaliqa iyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Reno yang baru saja tiba di kota tujuan, terhenyak. Ketika seorang tetangganya mengabari keadaan Rindu yang terjatuh dari lantai dua rumahnya.
Tak menunggu waktu yang lama. Setelah dia menghubungi rekan kerjanya, untuk membatalkan jadwal meeting hari ini. Dia kembali pulang ke rumahnya. Reno memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh. Reno khawatir dengan keadaan Rindu. Ia ingin segera melihat kondisi istrinya dengan mata kepalanya sendiri.
Tiba di rumah sakit tempat Rindu di rawat, Reno segera memasuki ruangan tempat Rindu. Tampak, kepala Rindu di perban. Untung tidak ada patah tulang. Hanya sedikit trauma di tulang belakang. Kesadaran Rindu sudah pulih. Dia sudah bisa di ajak bicara. Dia menceritakan kronologi kejadiannya pada Reno.
“Tadinya aku mau mengambil air minum mas, ke dapur. Ketika sampai di tangga, aku tak melihat ada ceceran minyak di lantai. Aku kehilangan keseimbanganku Mas.” Kata Rindu.
“Gak mungkin Rin, ada minyak yang tumpah di lantai. Padahal kan seharusnya, minyak berada di dapur. Apa jangan-jangan ada yang sengaja ingin melihat kamu celaka ya?” tanya Reno.
Rindu terdiam. Rindu mencoba meresapi obrolan Reno. Ia pun heran, kok bisa-bisanya ada minyak di tangga. Ia tak habis pikir.
Tetapi ketika dia asyik dengan pikirannya, dan belum sempat menceritakan tentang kecurigaannya, pintu kamar Rindu di ketuk dari luar.
“Ya masuk,” Reno membukakan pintu.
Terlihat wajah pak Hadi yang tadi mengantar Rindu ke rumah sakit.
“Eh, mas Reno sudah sampai?” kata Pak Hadi berbasa-basi.
“iya sudah pak, makasih ya, sudah mengantar istri saya ke sini.” Kata Reno.
“Iya sama-sama mas, bagaimana keadaan mbak Rindu sekarang? Sudah mendingan?” Tanya pak Reno pada Rindu.
“Alhamdulillah pak, maaf, saya merepotkan bapak dan yang lainnya ya!” ujar Rindu.
“Tak apa mbak.” Jawab Pak Hadi.
“Oiya mas, Anggun sekarang berada di UGD. Tadi sewaktu mbak Rindu di tangani oleh dokter, tiba-tiba Anggun mimisan, dan pingsan Mas!” kata Pak Hadi.
Deg ...
Reno baru sadar, dari tadi tak di lihatnya Anggun di antara mereka. Ia pikir, Anggun berada di rumah, bersama Yanti dan Ibunya.
Rindu pun tak kalah kagetnya. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya. Tapi di halangi oleh Reno. Reno mengisyaratkan Rindu untuk tetal berbaring di tempat tidurnya. Rindu akhirnya menuruti keinginan suaminya.
“Apa yang terjadi dengan Rindu pak? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Reno masih dengan nada kaget.
“Barusan masih di tangani oleh suster Mas, saya ke sini karena di suruh oleh dokternya, untuk menemui orang tuanya.” Kata Pak Hadi.
“Ayo pak, kita ke sana sekarang. Tolong antarkan saya ke sana pak!” perintah Reno.
“Baik Mas, mari saya tunjukkan jalannya.”
Reno menoleh pada Rindu.
“Mas menemui Anggun dulu ya sayang. Kamu baik-baik ya di sini. Nanti mas ke sini lagi.” Kata Reno pada Rindu.
Rindu mengangguk.
“Tolong bilang ke Anggun ya mas, mamah kangen gitu, cepat sembuh!” kata Rindu sambil matanya mengeluarkan air mata.
“Iya!” jawab Reno.
Reno berlalu bersama Pak Hadi menuju ke ruang UGD. Di sana di melihat Anggun yang masih tak sadarkan diri. Dia begitu lemas, dan tak berdaya.
Selang infus terpasang di pembuluh vena tangan Anggun. Selang oksigen juga tak ketinggalan terpasang di kedua lubang hidungnya.
Reno mengusap wajah dan rambut Anggun. Tak menyangka sedikit pun, ini semua terjadi secara bersamaan. Anak dan istrinya masuk rumah sakit di hari yang sama.
Untung kondisi Rindu tidak terlalu mengkhawatirkan. Hanya kondisi Anggun masih belum stabil.
Reno melihat situasi di sekitarnya. Tak di temuinya perawat satu pun di ruangan itu. Reno melangkah keluar ruangan UGD untuk mencari suster atau dokter yang menangani anaknya.
"Pak, saya minta tolong ya, tolong jaga duku Anggun. Saya ingin menanyakan kondisi Anggun pada perawat di luar." Ujar Reno pada Pak Hadi.
"Baik pak, silahkan! Biar Anggun saya yang jaga." Pak Hadi tak merasa keberatan di suruh menjaga Anggun.
Reno menyusuri koridor rumah sakit yang tidak terlalu lebar. Di ruang jaga, Reno berhenti, dan melihat beberapa perawat berada di sana.
"Permisi mbak," ucap Reno pada perawat muda, yang sepertinya masih magang di rumah sakit itu.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya perawat itu ramah.
"Saya ingin menanyakan, siapa yang menangani pasien anak yang bernama Anggun, Sus?" Tanya Reno.
"Sebentar ya pak, saya cek dulu. Mohon tunggu sebentar!"
"Baik sus!" kata Reno.
Perawat muda itu terlihat mengutak atik komputer di hadapannya. Tak butuh waktu yang lama, dia memberi informasi pada Reno.
"Maaf pak, pasien anak bernama Anggun tadi di tangani oleh dokter Saras, pak. Dia kebetulan dokter jaga tadi siang. Tapi berhubung sekarang sudah ganti shift, mungkin bapak bisa menemuinya besok pagi saja pak, sekitar pukul 8 pagi."
"Oh begitu ya Sus, kalau boleh saya tahu, Anggun sakit apa ya, maaf sus, tadi saya berada di luar kota pas di beri tahu anak saya jatuh pingsan. Dan ibunya juga di rawat di sini." Reno menjelaskan ketidakhadirannya tadi siang.
Perawat itu, membaca riwayat pasien di komputer.
"Menurut laporan data pasien di sini, anak bapak hanya mengalami shock saja. Tapi untuk lebih jelasnya, bisa bapak tanyakan langsung ke dokter yang menanganinya ya pak." Kata perawat.
"Baik sus, apa Anggun di biarkan di ruang UGD terus, atau bisa langsung pulang sus?" Reno masih mint penjelasan pada perawat.
"Untuk saat ini, anak bapak belum bisa di bawa pulang. Mungkin sebentar lagi anak bapak akan di pindahkan ke ruangan khusus anak, pak. Hanya untuk observasi saja pak. Kalau besok anak bapak sudah pulih, bisa langsung pulang"
"Baik, terima kasih sus, atas semua penjelasannya. Maaf sudah mengganggu waktunya." kata Reno.
"Sama-sama pak, kalau butuh sesuatu, panggil saja pak, ada tombol merah di samping tempat tidur pasien tinggal pencet. Bel akan berbunyi ke ruangan kita."
Reno mengangguk, dan pergi meninggalkan tempat suster jaga. Reno menuju ke ruangan tempat Anggun.
Ketika memasuki ruangan UGD, Anggun sudah sadar. Dia menangis, dan memeluk Reno. Reno merasa trenyuh dengan keadaan anaknya. Anggun sangat lemah, dan pucat pasi.
Anggun menceritakan semuanya pada Reno. Dia menangis, mengkhawatirkan mamanya. Anggun ketakutan mamahnya tidak dapat di selamatkan.
"Tenang sayang, mamah baik-baik saja. Mama akan cepat sehat lagi. Tadi papa sudah menemui mamah." Reno mencium dan memeluk Anggun, berusaha menenangkan gadis kecil itu.
"Benarkah pah? Tadi Anggun lihat mamah jatuh dari tangga. Dan Anggun melihat lantainya sangat licin. Anggun takut tergelincir seperti mamah, makanya Anggun tak berani menolong mamah, pah. Maafkan Anggun pah!" Anggun menangis, di pelukan papanya.
"Tak ada yang harus di maafkan sayang. Kamu tidak bersalah. Justru kamu yang menyelamatkan mamah. Sudah ya, jangan menangis lagi."