Seorang gadis 14th merelakan masa remajanya demi bisa masuk ke organisasi Phantom agar bisa membalas dendam kematian kakaknya. Misi pertama mendekati empat cucu Alexander Starling Gruop.
Demi keberhasilan misi Irish menggunakan apa saja termasuk mempermainkan perasaan targetnya.
Dendam nomer satu, perasaan nomer sekian!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas yang tak terduga.
Aku terbelalak, aku tak menyangka ternyata yang datang adalah mantan menteri pertahanan. Robet William Stole. Yang membuatku tambah terkejut adalah perkataannya barusan.
"ini ... apa identitas baruku adalah cucu pak menteri? Yang benar saja?"
"Apa ... Irish.. kau cucu mantan menteri pertahanan?" Ujar Markus gemetar.
"Y .. ya .. aa... " Aku tergagap cengengesan.
Aku tak tahu harus menjawab apa, karena aku juga tak menyangka, ternyata identitas yang diberikan Phantoms padaku, sangatlah tinggi.
Pak menthan lalu duduk di sampingku dan mengusap kepalaku. Aku menunduk malu, dan canggung. Aku tergamam melihatnya, karena bahkan beliau pun rela menurunkan ego dan memberikanku kedudukan yang tinggi untuk membasmi keluarga Starling.
"Apa kepercayaan mereka padaku sangat tinggi? Identitas yang ku terima bukan sembarangan. Sebenarnya bisnis seperti apa yang dimiliki keluarga Starling sampai asosiasi rela mempertaruhkan apa saja demi misi ini."
Pak Wiliam menyipitkan matanya, dia memandang memar di leherku.
"Apa yang telah di lakukan keluarga Starling terhadap cucuku?" Bentaknya.
Aku tahu, itu hanya pura-pura. Tapi tatapan itu membuat hatiku sedikit terenyuh. Jika saja aku memiliki seorang kakek, mungkin dia juga akan khawatir kepadaku. Tapi aku sadar diri, aku hanya mata-mata biasa yang memiliki sedikit kelebihan hingga organisasi menaruh harapan besar padaku. Aku hanya pion untuk membasmi bisnis kotor Starling Group.
Markus terhuyung, dia bergetar dan tersungkur duduk di kursi penunggu pasien. Wajahnya pusat pasi. Ia teringat akan ujian gilanya padaku sesaat yang lalu. Aldrik buru-buru mematikan laptopnya, begitupun Zane yang tersandar ke dinding.
"maaf ... maaf ... Pak Mentan. Aku tidak tahu kalau dia adalah cucu anda,"
Belum sempat mantan menteri menjawab, serbuan para dokter dari rumah sakit ST Markus langsung mendatangi ruangan itu. Ruangan yang tak begitu besar itu kini sesak oleh puluhan orang-orang berjubah putih yang berkerumun.
Bahkan ayah Markus yang seorang kepala rumah sakit ST Markus itu turut menghampiri.
Aku melirik ke arah pemilik rumah sakit itu. Wajahnya mirip sekali dengan Markus, tampak dokter berambut pirang itu menunduk saat melihat kedatangan pria paruh baya itu di sana.
" Maaf sir ... apa yang membuat anda datang kemari?" Ujarnya lembut.
"Berani-beraninya kau menempatkan cucuku di kamar kelas 3 seperti ini? apa kau sungguh tidak tahu, pasien yang kalian perlakuan dengan tidak hormat ini adalah cucuku??!!"
Aku menepuk jidat mendengarnya. Sungguh kebohongan yang sangat garing di telingaku.
Suara pak Wiliam melengking. Aku sangat takjub dengan sandiwara yang di mainkannya. Ayah Markus yang belum aku ketahui namanya itu buru-buru meminta maaf kepada kakek palsuku itu.
"Sir ... maaf, kami benar-benar tidak tahu, suatu kehormatan untuk rumah sakit kami merawat cucu anda."
"Tapi apa yang kalian lakukan??" Teriak pak menteri memotong perkataan ayah Markus. "Jika tidak terjadi hal yang sangat mendesak, tidak mungkin alarm keselamatannya akan terkirim ke satelit."
Dokter Richard Starling yang tak lain adalah kepala rumah sakit st Marcus juga ayah kandungnya itu berbalik dan menarik kerah kemeja Marcus di depan semua orang.
"Markus, apa yang terjadi di sini?" Teriak ayahnya. Dia lalu berbisik kepada dokter pirnag itu.
"Apa kau tidak tahu, bisnis keluarga Starling hanya bisa bertahan sampai selama ini karena tidak pernah terlibat dengan orang-orang pemerintahan. Itu semua berkat pamanmu (Roy Starling/ ayah Aldrik) yang menjadi firma hukum ternama. Kau malah mengusik cucu pak Menteri, apa kau ingin rumah sakit ini di tutup? Apa kau ingin penelitianmu itu terhenti! Kau bodoh sekali!"
"Paman, kami ... "
"Cukup!!" Lagi-lagi Ricard berteriak menghentikan Aldrik dan Zane yang hendak membela diri.
Aku jadi semakin bingung, kenapa seseorang seperti pak mentan yang memiliki kekuasaan, kekuatan, dan kekayaan malah menyerahkan kasus Starling kepadaku, dan memberikan identitas sebagai cucunya. Kenapa orang-orang ini sangat takut padanya.
"Siapa sebenarnya mantan menteri ini?"
Aku hanya tahu sedikit tentang latar belakang Pak mantan menteri pertahanan. Dia memiliki beberapa bisnis besar yang mendominasi dunia global, bahkan keluarga Starling berada di bawah lingkup bisnisnya, namun aku tak menyangka orang besar sepertinya malah turun tangan sendiri dalam menghadapi hal seperti di rumah sakit ini.
"Mike, apa kau tau siapa Pak mentan?" bisikku.
"Irish ... Pak Wiliam itu selain menjadi menteri, dia punya kekuasan besar. Dia adalah don negara ini, yang bersaing dengan tiga pengusaha besar. Dia adalah pemilik tiga puluh persen saham bisinis global di Los Angeles. Namanya saja di takuti, tapi belakangan tahun yang lalu, dia tidak begitu peduli akan bisnisnya. Dia memilih menjabat sebagai menteri pertahanan dan meninggalkan semua bisnisnya. Alasanya itu masih jadi misteri sampai sekarang."
Mendengar penjelasan Mike aku menyadari sesuatu, Pak Wiliam yang semula seorang don dunia bawah, tiba-tiba menjabat sebagai anggota pemerintahan, pasti sesuatu yang besar terjadi dalam hidupnya yang membuat gelombang kehidupannya berubah drastis. Dan aku akan menyelidiki hal itu.
Aku melirik ke arah Markus yang tampak tertekan dengan kehadiran orang tuanya.
"Markus, bukankah kau sangat penasaran dengan identitasku? sekarang kau sudah mengetahuinya, kau bisa melepaskan aku sekarang juga?"
"ya ya ya ya .... kau bisa pergi, sekarang juga," jawab pak Ricard buru-buru.
"Kenapa? tiba-tiba saja kau mengusir kami?"
Pak Ricard menghampiri kakek palsuku itu, dia tampak merayu, raut wajahnya yang menyimpan rahasia kini berubah lembut.
"Aku mohon Pak Wiliam, ini hanyalah pertengkaran antara pemuda dan pemudi. Anggap saja ini sebagai lelucon mereka, aku mohon Pak William jangan diperpanjang lagi urusan ini."
Tampak mantan menteri itu mengedipkan mata kepadaku, aku pun tertawa kecil, aku sungguh tidak menyangka, ternyata asosiasi Phantoms benar-benar serius menanggapi permintaanku. Padahal bisa saja kan, jika identitasku itu adalah seorang pengusaha kaya, tidak perlu juga harus menjadi cucu seorang menteri. Tapi ya benar, dengan identitas baru ini bahkan keluarga Starling pun tidak sanggup untuk menyangkalnya.
"Katakan, apa yang kalian lakukan di rumah sakit ini terhadap cucuku, sampai dia menekan tombol darurat?" tekan Pak Wiliam.
"Maafkan kami pak menteri, kami tidak tahu kalau dia adalah cucu anda."
"cukup Zane! bukankah tadi kau ikut memojokkanku? kau .. kau ... kau ...dan kau (aku menunjuk ke arah Markus dan Aldrik) Bukankah kalian sama sekali tidak mempercayaiku? aku sudah mengatakan kalau aku bukan mata-mata, tapi kau tetap saja menuduhku, kau bahkan menyuntikkan serum aneh ini kepadaku, Markus!" Teriakku menyulut emosi.
Aku memang sengaja memancing kata-kata serum itu, aku tahu, reaksi dari Ricard Starling.
"apa, serum? Apa yang kau berikan pada cucuku, aku akan melaporkan kejadian ini dalam rapat kabinet, kalian menyalahi aturan dengan menyuntikan obat terlarang. Aku pastikan, hari ini juga rumah sakit kalian akan di tutup!"
Padahal kami berdua hanya bersandiwara untuk mencari kebenaran, tapi ternyata aku tak menyangka kalau Pak Medan sangat mudah diajak untuk berakting.
Dalam hatiku terus tertawa, tapi wajahku tetap serius.
'rasakan itu keluarga Starling, dengan begini identitasku akan mantap dan aku akan semakin mudah memasuki keluarga Starling dengan mudah. Menggunakan identitas ini, aku bebas untuk mengakses apapun yang aku inginkan.'
Mendengar kata-kata serum itu dokter Richard yang tak lain adalah Ayah Markus tampak berkeringat dingin. Seperti ada sesuatu yang sangat besar di balik kata serum itu, dia lalu mendekat ke arah Pak Mentan dan memohon dengan sangat agar masalah ini tidak diperpanjang.
"Sir ... anda dan ayah kami (Alexander Starling) bersahabat baik, aku mohon anggap saja ini pengobatan biasa. Mengenai serum itu, itu serum yang di ciptakan Markus untuk kekebalan tubuh, dia hanya melakukan uji coba asal-asalan, sebagai ganti rugi kami siap menerima syarat apapun dari anda, Sir."
Dia rela memberikan apa saja agar Pak mentan tak menuntutnya atas apa yang terjadi kepadaku.
" Aku mohon Pak William untuk mengenang persahabatan dua keluarga kita, maafkan putraku, dan juga Nona Irish, aku mewakili putraku memohon maaf atas apa yang telah dilakukan oleh Markus. Kami keluarga Starling akan bertanggung jawab, aku mohon jangan diperpanjang lagi masalah ini."
Markus tampak sedih dengan kata-kata ayahnya, entah kesedihannya itu palsu atau tulus, aku melihat tatapan matanya tampak seperti tatapan orang yang sudah muak untuk tunduk terhadap keluarga. Namun dihadapan sang ayah dia tidak berani melawan.
Markus berlutut dan memohon maaf kepadaku.
" Maaf ... aku telah melakukan uji coba yang ekstrem dan gila terhadapmu. Maafkan aku jika kau ingin menghukumku silahkan hukum saja aku, tapi Irish... serum yang ku berikan itu hasil penelitianku seumur hidup. Rumah sakit ini sangat berharga bagiku, hanya darahmu satu-satunya yang mampu menahan serum itu, aku mohon, biarkan aku melanjutkan penelitian terhadap darahmu."
"Anak bodoh! Apa yang kau katakan?!" Teriak Ricard menghampiri Markus.
Aku penasaran dengan serum yang dia sebutkan. Aku mencari akal agar bisa lebih dalam masuk ke keluarga Starling.
"Kakek, Apa aku boleh meminta sesuatu?"
Pak menteri menatapku dengan penuh kasih sayang layaknya cucu dan kakek kandung.
"Katakan!"
"Aku ingin Markus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya kepadaku. Aku ingin dirawat secara intensif oleh dokter Markus secara pribadi, dan Ya, tentu saja aku ingin dia merawatku di rumah utama Starling. Aku juga ingin tahu, serum apa yang dia maksud. Jika darahku berguna untuknya, aku akan mencobanya."
"Benarkah, kau mau membantuku?" Tanya Markus senang.
Aku mengangguk pelan. Pak Wiliam menatapku dengan senyum lebar. Sementara dr Richard terbelalak mendengarnya. Dia tampak gelisah, aku langsung ke tujuan utamaku, agar aku bisa masuk ke dalam keluarga mereka.
Tampak wajah dokter Ricard yang cemas tak mampu ia sembunyikan. Dia tak menyangka aku malah setuju untuk jadi mintra uji coba Markus.
"Jika itu yang kau inginkan, kau boleh saja pindah ke Mansion Starling," ujar santai Pak menteri.
Perkataannya seolah memberikan isyarat, kalau aku memang harus pindah ke Mansion Starling agar bisa lebih dekat dalam penyelidikan.