Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 033: Dua penyihir sakti
Seraphina terus melangkah masuk ke jantung hutan terlarang. Kabut hilang, diganti udara panas berbau belerang. Di depan terbuka gua raksasa yang gelap pekat. Belum melangkah masuk, dua raksasa turun melompat, mendarat dengan dentuman kuat. Penjaga gua ini adalah dua penyihir sakti, jauh lebih perkasa dari yang pernah ia temui.
Di kiri berdiri BALZAR: tubuh kekar, kulit bersisik gelap, mata merah menyala. Jubah ungu tua bertabur simbol api berkilau penguasa sihir api neraka. Di sebelahnya MORWENA: tinggi kurus, rambut hitam bergerak sendiri seperti ular, jubah biru es bermotif badai penguasa sihir badai abadi. Keduanya pengawal setia Elara, sampai nyawa terakhir.
"Berhenti di situ, gadis kecil," suara Balzar berat bagai guntur, penuh ancaman. "Tak ada yang boleh lewat tanpa izin Tuanku."
Morwena menyeringai; angin kencang berputar di sekelilingnya, rambutnya membawa serpihan es. “Kau lewati penjaga pertama dan kedua, tapi kami beda. Mundur, atau binasa di sini sebelum sempat melihat Tuan kami.”
Seraphina tak mundur, menggenggam erat liontin perak yang bersinar terang. “Aku bukan untuk berperang, tapi menghentikan kejahatan Tuanmu yang membuat Rakyat Bulan Perak menderita.!”
"Jika ingin bertemu Tuanku, Hadapi aku dulu!" Balzar mengaum, bola api hitam menyala di telapak tangannya. "Dia memberi kami kekuatan dan tempat tinggal. Tanpanya, kami tiada!"
"Kekuatan itu dibayar darah ribuan orang!" Seraphina tegas, suaranya tenang. "Kalian terjebak pengabdian yang keliru. Mundur, sebelum aku yang membungkam kalian!"
Morwena diam, lalu melambaikan tangan. Angin kencang membentuk dinding tajam menghalangi jalan. Di saat sama, Balzar melemparkan bola api raksasa melesat cepat ke arahnya.
Seraphina melompat ke samping; api meledak di belakangnya, menghancurkan batu besar berkeping-keping. Ia segera berdiri tegak, mengangkat tangan, liontin di dadanya bersinar terang, memancarkan cahaya perak menjadi perisai pelindung. Api dan angin menghantam namun tak menembus; cahaya itu justru makin kuat, mendorong balik serangan Borwena dan Balzar.
"Mustahil… sihir pelindung kuno…" Morwena mundur terkejut, tak percaya perisai itu tak bergeming.
Balzar menggeram teguh. "Kami tak mundur! Lebih baik mati daripada mengkhianati Tuanku!" Ia bersiap menyerang lagi lebih ganas, namun suara berat tenang bergema dari dalam goa, seketika membekukan gerakannya.
"Biarkan dia masuk."
Suara itu milik Elara. Dingin, penuh kebanggaan, dan penuh ancaman yang tak terucapkan.
Balzar dan Morwena saling berpandangan, lalu menurunkan tangan. Jalan masuk goa terbuka. Seraphina menarik napas dalam, menatap kegelapan di depannya, lalu melangkah masuk dengan teguh, siap menghadapi pertarungan terakhir yang menentukan nasib bangsa Srigala.
Di atas batu besar, Elara berdiri menatap tajam ke arah Seraphina. Wajahnya kini berubah total: kulit pucat bagaikan lilin, mata menyala merah, dan tanduk samar tumbuh di dahinya. Kekuatannya bukan lagi sekadar sihir melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
"Kau datang lebih cepat dari dugaanku, Seraphina," suaranya bergema memenuhi lembah. "Dan kau berhasil mengusir tiga pengikutku. Mengesankan."
Seraphina berhenti beberapa langkah di hadapannya, menggenggam erat liontin perak yang berdenyut lembut di dadanya. "Jadi kau Elara. Hentikanlah kejahatanmu. Tinggalkan jalan gelap dan kembali ke jalan benar sebelum semuanya terlambat."
"Aku jadi begini karenamu, Seraphina!" Elara penuh dendam. "Kenapa kau muncul lalu menjadi putri sejati Raja Argan? Kenapa kamulah pewaris Kerajaan Bulan Perak? Seharusnya akulah yang berhak menjadi Ratunya bukan kau!"