Indonesia
NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: KARTU KARTU MULAI TERBUKA

Setelah pertanyaan Bang Tua, suasana rapat berubah drastis, beberapa dosen lain yang selama ini menyimpan keraguan diam diam mulai berani angkat bicara. Salah satu dosen senior, yang selama ini dikenal netral dan jarang berkomentar, ikut menambahkan, "saya juga dengar dengar soal beban bimbingan yang timpang belakangan ini, mungkin ada baiknya dijelaskan juga apakah ini terkait strategi tertentu."

Dr. Yosia yang mulai terlihat kewalahan, mencoba mempertahankan ketenangannya, meski keringat mulai terlihat di dahinya. "Saya rasa ini bukan forum yang tepat untuk membahas isu isu semacam itu satu per satu, mari kita fokus ke visi misi kepemimpinan."

Nada suaranya yang biasanya begitu halus dan terkontrol, kini terdengar sedikit lebih tegas dari biasanya, hampir seperti orang yang mulai kehilangan kesabaran, sebuah perubahan kecil yang tidak luput dari perhatian Bang Tua yang sejak tadi mengamatinya dengan seksama.

"Justru menurut saya ini forum yang paling tepat, Pak. Kita lagi milih pemimpin, wajar kalau kita mau tau rekam jejaknya secara jujur," sahut Pak Ferdinand, yang akhirnya ikut angkat bicara, mengejutkan Bang Tua sendiri karena tidak menyangka sahabatnya itu akan berani tampil seterbuka itu di forum resmi.

Bang Tua menoleh ke arah Pak Ferdinand dengan tatapan penuh kekaguman, tidak menyangka temannya yang selama ini lebih suka bermain aman itu akhirnya ikut berani angkat bicara di forum seformal ini, sebuah perkembangan yang membuatnya diam diam merasa bangga sekaligus terharu, "wah, si bapak pendiam ini akhirnya keluar juga taringnya, ternyata efek pergaulan sama bapak nular juga rupanya".

Perwakilan Dekanat yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara juga, suaranya berat dan formal. "Baik, kami akan catat semua masukan ini sebagai bahan evaluasi. Proses pemilihan tetap akan dilanjutkan hari ini, tapi kami akan tindak lanjuti laporan laporan yang muncul secara terpisah."

Kalimat itu, meski terdengar formal dan berhati hati, cukup untuk membuat Dr. Yosia terlihat sedikit gugup, sesuatu yang jarang sekali terlihat dari sosok yang biasanya begitu percaya diri dan terkontrol di depan umum.

Bang Tua diam diam memperhatikan reaksi kecil itu, tangan Dr. Yosia yang sempat meraih gelas minumnya dengan gerakan yang tidak seluwes biasanya, tanda ketenangannya mulai retak meski dia berusaha keras menutupinya dengan senyum yang sudah terlatih bertahun tahun.

Bang Tua duduk kembali, jantungnya masih berdegup kencang, tapi ada rasa lega yang mulai menjalar, setidaknya sekarang bukan cuma dia sendirian yang tahu kejanggalan ini, sudah ada suara suara lain yang mulai berani bergabung. Dalam hati dia bergumam, "kayaknya bola salju udah mulai menggelinding, tinggal liat aja seberapa besar dia jadi nanti, snowball effect, kata orang bule, meski di Medan kita nggak pernah liat salju beneran, paling banter es serut doang".

Proses pemungutan suara akhirnya tetap dilaksanakan, dan hasilnya, meski Dr. Yosia masih menang, selisihnya jauh lebih tipis dari yang diperkirakan banyak orang sebelumnya, sebuah hasil yang menurut beberapa dosen senior yang sudah lama malang melintang di kampus, "belum pernah terjadi sebelumnya, biasanya calon incumbent atau yang didukung penuh atasan menang telak, kali ini beda".

Dr. Wilson, meski kalah, terlihat tenang menerima hasilnya, bahkan sempat menghampiri Bang Tua sebelum meninggalkan aula, berbisik pelan, "terima kasih, Pak Sahat, setidaknya sekarang lebih banyak yang tau kebenarannya, itu udah cukup buat saya, menang atau kalah itu urusan belakangan". Bang Tua mengangguk, merasa lega mendengar dosen yang kalah itu ternyata bukan tipe yang haus jabatan, melainkan benar benar mengutamakan kejujuran di atas ambisi pribadi.

Usai rapat, Dr. Yosia menghampiri Bang Tua dengan senyum yang jauh lebih tipis dari biasanya, nada suaranya tetap terkontrol tapi ada nada dingin yang tersembunyi di baliknya. "Pertanyaan yang menarik tadi, Pak Sahat. Saya harap ke depannya kita bisa kerja sama dengan baik."

"Tentu, Pak. Saya selalu terbuka buat kerja sama, asal semuanya transparan dan adil," jawab Bang Tua, tetap tersenyum sopan meski di dalam hati dia sudah bersiap untuk kemungkinan konsekuensi apa pun yang akan datang setelah ini. Dalam hati dia menambahkan, "asal jangan kerja sama modelnya kayak kau minta bapak diem, itu mah bukan kerja sama namanya, itu namanya kompromi sama ketidakadilan, no thanks Pak, not interested".

Dr. Yosia berlalu setelah berjabat tangan singkat, dan Pak Ferdinand langsung menghampiri Bang Tua begitu Dr. Yosia menjauh. "Sahat, kau berani kali tadi. Aku salut, tapi juga was was, jangan jangan dia nggak akan terima gitu aja."

Bang Tua mengangguk pelan, menyadari betul risiko yang mungkin akan dia hadapi setelah ini, tapi tetap mempertahankan senyum tenangnya di depan sahabatnya itu.

"Biar aja, Pak. Yang penting kebenarannya udah mulai kelihatan. Lagian kalau semua orang cuma diem karena takut, sampai kapan sistem yang salah ini bakal terus berjalan?" jawab Bang Tua, matanya menatap lurus ke arah Dr. Yosia yang sedang berbincang dengan beberapa orang di kejauhan, wajahnya masih tersenyum tapi terlihat jelas ada sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Pak Ferdinand menepuk punggung Bang Tua pelan, sebuah gestur sederhana yang menyampaikan lebih banyak dukungan dibanding kata kata apa pun yang bisa dia ucapkan saat itu.

"Lagian, Pak, hidup ini kan kayak ujian, kadang kita nggak bisa nyontek jawaban orang lain, harus jujur ngerjain sendiri, walau hasilnya nggak selalu sempurna," tambah Bang Tua sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana tegang yang masih menggantung di antara mereka berdua.

Pak Ferdinand menepuk pundak Bang Tua sekali lagi sebelum mereka berjalan keluar aula bersama, langkah mereka berdua terasa lebih ringan dari saat mereka datang, meski tantangan yang menanti di depan mereka jelas belum sepenuhnya usai. "Kau tau, Sahat, seumur umur aku kerja di kampus ini, baru kali ini aku liat rapat pemilihan sepanas dan seterbuka tadi. Biasanya semua orang cuma manggut manggut, angkat tangan pas voting, udah, selesai."

"Nah itulah, Pak, kadang orang cuma butuh satu orang yang berani mulai duluan, baru yang lain ikut berani. Kayak antrian di bank, kalau nggak ada yang berani protes duluan pas ada yang nyerobot, semua orang bakal diam aja sampai hari kiamat," jawab Bang Tua sambil terkekeh, mengingat kembali pengalamannya sendiri di SPBU dulu yang menjadi awal dari semua kejadian aneh dalam hidupnya.

Mereka berdua berjalan menuju parkiran sambil terus mengobrol ringan, melepas ketegangan yang sempat memuncak selama rapat tadi, seolah kembali ke rutinitas obrolan santai mereka yang biasa, meski kali ini dengan bobot pengalaman yang jauh lebih berat dari sekadar keluhan soal birokrasi kampus semata.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!