Nayla Kei seorang gadis cantik dan manis memiliki sifat periang terpaksa dia menerima perjodohan dengan salah satu sahabatnya yang merupakan anak dari teman dekat ibunya.
Atas dasar balas budi Nayla menerima pernikahannya dengan terpaksa. Namun siapa sangka dalam perjalanan pernikahan itu Nayla mulai merasa hal lain pada suaminya.
Akankah suami Nayla menerimanya sebagai seorang istri?
Akankah Nayla mendapat perlakuan semestinya sebagai seorang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
“Terima kasih Nayla Kei Istriku”, gumam Rayden kemudian mengecup pipi mulus wanitanya. Nayla tetap bergeming, ia kelelahan setelah aktifitas penyatuan dengan suaminya hingga menjelang pagi. Tunai sudah hak dan kewajiban pasangan itu.
Rayden yang terjaga lebih dulu segera bangkit dari ranjang dan membersihkan diri dari sisa-sisa keringat percintaan mereka. Selesai mandi, melihat posisi istrinya yang belum juga berubah. Segera memesan makanan untuk diantar ke kamar mereka, pasti bangun tidur nanti Nayla akan kelaparan pikir Rayden.
Pria tampan bertubuh tinggi tengah asyik bersama MacBook duduk di sofa, ada beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. “Eungg”, Nayla melenguh, Rayden menoleh istrinya mulai bergerak tetapi kedua matanya masih terpejam rapat. Ia pun menghampiri Nayla,”Bangunlah, sudah siang, kamu belum sarapan”.
“Heeem, jam berapa ini?, ya ampun badanku terasa remuk semua”, gumam Nayla.
“Ini sudah jam 10.30”, sahut Rayden
“APA????”, pekik Nayla membelalakkan kedua matanya. Menurunkan kakinya karena ingin buang air kecil, “Awww ssshhh”, namun Nayla merasa sakit dan perih di bagian bawah tubuhnya. “Oh ya ampun sakit”, lirihnya.
Rayden yang tidak tega melihat kondisi istrinya, langsung meraih tubuh polos tanpa sehelai benang itu dalam pangkuannya, membawa ke kamar mandi. Nayla benar-benar malu dan hanya bisa menundukkan wajahnya saja jika ingat kegiatan panas mereka semalam.
“Perlu bantuan untuk mandi?”, tanya sang suami.
“Oh ti tidak aku bisa sendiri, makasih Rayden”, jawabnya. “Bisa-bisa aku tidak akan mandi dan bukan mandi tapi malah kembali bermain dengan dia, huh. Tapi semalam itu nyata, aah kenapa semua sentuhannya begitu bikin ketagihan sih?, malu dong malu Nayla,huh”, batin Nayla.
Pria itu pun segera keluar setelah mengisi air hangat hingga hampir penuh dan menuang beberapa tetes aroma terapi, lantas membantu sang istri masuk ke dalam bathtub.
Langkah kakinya terhenti ketika akan menutup pintu “Panggil aku jika kamu sudah selesai mandi, oke”, Rayden tahu pasti istrinya itu kesulitan berjalan karena bagian bawah tubuhnya terasa perih akibat semalam ia terobos masuk.
Kegiatan penyatuan itu merupakan yang pertama tentu saja bagi Nayla dan Rayden, sebelumnya ketika bersama mantan kekasihnya Rayden hanya saling bercumbu saja. Beberapa kali Susan mengajaknya masuk kamar hotel namun selalu berakhir dengan penolakan Rayden, ia tak ingin menodai wanita yang sangat dicintainya.
Berbeda dengan sahabatnya Leo yang sudah beberapa kali berpacaran dan menyatu dengan kekasihnya itu namun kisah cintanya berakhir tragis. Memang wanita yang dikencani Leo bukanlah wanita yang masih menjaga kehormatannya. Banyak para wanita datang padanya silih berganti karena sosok Leo yang ramah dan mudah berteman dengan siapa saja, tentu didukung wajah tampannya yang blasteran Amerika – Asia.
Oke kita kembali ke Nayla dan Rayden
“Eh kenapa ini leher merah? Hah apa ini di bahu warna ungu?, apa ini yang dinamakan kissmark?”, gumam Nayla. Tentu saja itu semua ulah Rayden dan Nayla pun tidak kalah memberikan tanda pada suaminya tepat di leher bagian atas.
Dua puluh menit ia habiskan waktu untuk berendam air hangat sehingga tubuhnya kembali rileks. “Rayden, Ray, Rayden”, panggil Nayla dari dalam kamar mandi.
Pria yang masih menyelesaikan pekerjaannya itu segera menuju sumber suara. “Kamu butuh bantuan?”.
“Aku sudah selesai, maaf bisa tolong gendong aku lagi, aku benar-benar tidak bisa berjalan”, pinta Nayla dengan malu-malu.
“Sini, pegang erat ya”. Tubuh Nayla pun langsung melayang di udara bersandar pada dada bidang dan mengalungkan lengan dileher suaminya. Dengan telaten Rayden membantu sang istri untuk berpakaian. Hingga mengeringkan helaian demi helaian rambut panjang Nayla.
Setelah semuanya beres, Rayden kembali mengangkat tubuh yang telah memuaskannya semalaman itu dan mendudukkannya di atas ranjang, ketika hendak membantu Nayla makan dengan menyuapinya, sang istri menolak. “Biar aku saja, tangan ini masih bisa berkerja kok, makasih Rayden”.
“Hem, makan yang banyak agar tenaga yang hilang bisa cepet terganti”, ujar Rayden kemudian mengecup puncak kepala Nayla, dan kembali duduk di sofa.
“Kamu ada pekerjaan?, kelihatan sibuk banget”, tanya Nayla setelah meneguk segelas jus jambu merah.
“Iya, dan ini sangat penting” sahut Rayden.
“Oh, kita hari ini engga jalan-jalan dong”, Nayla menghembuskan napas karena merasa kecewa.
“Besok, lihat saja berjalan juga engga bisa apa mau di gendong sepanjang jalan?”, ujar Rayden mengerlingkan matanya.
“Ish, yasudah besok, tapi janji ya”, pinta Nayla manja.
“Oke”, suaminya lanjut fokus menatap MacBook, sesekali terlihat memijit pangkal hidungnya dan nampak berpikir. Rayden memang tipikal pria pekerja keras, terbukti hasilnya terpampang nyata setelah delapan tahun merelakan waktu istirahatnya.
Dua jam sudah berkutat dengan pekerjaan yang menyita waktu dan pikirannya. Rayden meregangkan tubuh, melirik kepada sang istri yang ternyata kembali tidur, “Memang belum berubah, dasar tukang tidur, apa sebegitu melelahkan tadi malam, hem?”, gumam Rayden. Ia pun segera membaringkan tubuh menemani wanitanya, membenamkan tubuh mungil dalam pelukannya.
Cup
Mengecup bibir Nayla yang selalu membuatnya tergoda. Nayla semakin melesakan diri dalam pelukan pria yang sudah mengambil kesuciannya.
.
.
Kruk
Kruk
Bunyi nyaring pertanda cacing di perut meminta jatah, “Aduh laper”, lirih Nayla. Membuka kelopak matanya, ia tersenyum karena berada dalam pelukan Rayden, mengelus lembut tanda kemerahan tepat di leher suaminya. Menghirup aroma khas tubuh pria itu dalam-dalam, ia lakukan berulang kali hingga hembusan napasnya terasa menggelitik pada dada sang suami yang sedikit terbuka.
“Emmm, kamu sudah bangun Nayla?”, bukannya melonggarkan tetapi malah mempererat pelukannya.
“Baru saja bangun, pekerjaanmu sudah selesai?”, tanya Nayla ingin tahu.
“Sudah, aku janji besok kita jalan-jalan ke tempat yang kamu mau”
“Aish makasih suamiku”, Nayla pun sangat girang dan memberi ciuman mesra di bibir kenyal Rayden.
“Hemm”, Rayden menarik napas dan menghembuskan dengan kasar. “Sudah tidak sakit kah?”.
“Apa yang sakit?”, tanya Nayla.
“Ini disini”, tangan nakal itu meraba sesuatu di bawah sana.
“Eh, kenapa engga bilang aja sih. Sudah engga sakit seperti pagi, kenapa?”, tanya Nayla kesal karena ketidaksopanan suaminya.
Tidak ada jawaban dari pria itu, karena sudah merasa hasratnya bangkit, ia pun segera memagut bibir yang begitu menggoda dihadapannya, ******* dengan penuh gairah. Tentu Nayla tidak menolak jika suaminya itu menginginkan kembali dirinya, ia pun memberi belaian pada dada bidang Rayden.
Tangan keduanya saling meloloskan pakaian pasangannya, mereka pun semakin terbakar gairah. Ya namanya juga pengantin baru meskipun tidak bisa dibilang baru juga. Sentuhan menggoda diberikan untuk Nayla, begitu candu melihat wanitanya men-de-sah. Tidak ingin berlama-lama keduanya pun mengulang penyatuan seperti malam sebelumnya. Walaupun kata cinta belum saling terucap, tapi curahan kasih sayang begitu dalam terlihat dari tatapan dan sentuhan-sentuhan yang diberikan.