Di dunia bernama Proelium ini tidak ada yang namanya uang, kedamaian, ataupun cinta. Yang terdapat disini hanyalah pertarungan, kematian, dan juga kesengsaraan. Orang orang di dunia ini hidup dengan cara membunuh orang yang lemah kemudian mencuri apa saja yang mereka punya. Tidak ada yang namanya penjara atau penjaga keamanan di dunia ini.
Di dunia ini, yang haus akan darah menjadi semakin kuat layaknya seorang dewa, sementara yang lemah hanya akan menjadi batu pijakan bagi mereka yang haus akan pertarungan.
Keres Sanguis adalah seorang petarung wanita yang telah mencapai puncak tertinggi dengan cara membunuh semua orang yang dia temui. Namun pada akhirnya, dia tidak memiliki tujuan apapun selain terus bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Apa yang diinginkannya sekarang adalah berubah menjadi orang yang lebih baik dengan cara meninggalkan dosa masa lalunya, sekaligus menjatuhkan kekuasaan yang telah menciptakan sistem keji di dunia ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lowdod, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pursuit
“Hei, kalian tidak apa-apa ?” tanya Hemera.
Masih ada di rumah yang sama, yaitu punyanya si fanatik Grandbeltz itu, aku dan yang lainnya berkumpul di ruang tengah bersama dengan mereka-mereka yang dipenjara di basement bawah tanah tersebut. Aku dan si setan hanya mengamati di pojokan saja, sementara Hemera dan Puella saat ini sedang memastikan kalau mental para perempuan yang di kurung entah sudah berapa lama itu masih baik-baik saja. Dengan meja bundar dari kayu yang ada di pusat ruang tengah ini, Puella memberi mereka minum air hangat, terlihat dari asap kecilnya yang mengepul ke atas. Sementara untuk Constantes, aku baru saja menyuruhnya pergi berkeliling bersama dengan Poppy untuk mencari suatu bahan yang sekiranya bisa aku pakai untuk memperbaiki seluruh kerusakan yang dialami oleh Poppy saat ini. Kemarin adalah hari yang sangatlah melelahkan, jadi aku lebih memilih untuk beristirahat saat ini. Entah apa yang akan terjadi dengan dua orang itu di luar sana. Yang pasti, aku tidak terlalu memperdulikan mereka sampai aku bisa tertidur nyenyak sesaat setelah ini. Omong-omong, si setan itu juga sedang mengamati ku yang memegang Tonitrui yang tertancap di lantai, berpegangan padanya selagi menahan rasa kantuk berkali-kali.
“Oi, kursi bukan tempat buat tidur, tau. Apalagi pake pedang juga.......”
“Diam lah, setan. Kasur di sini pasti gak enak.”
“Dasar pilih-pilih.” gumam si setan.
Pembicaraan Hemera dengan para perempuan yang terpenjara itu masih berlangsung cukup lama, dan setidaknya aku dapat sedikit inti dari pembicaraan mereka. Kebanyakan dari mereka yang dipenjara itu bukanlah asli orang sini, melainkan orang-orang yang pindah ke kota dari luar. Sama seperti halnya aku yang tidak tahu kalau kota ini sudah hancur sebenarnya, mereka pun juga begitu reaksinya. Tidak tahu apa-apa, mereka langsung menghampiri orang yang sepertinya adalah satu-satunya yang masih tinggal di kota ini, dan begitulah nasib mereka selanjutnya, dikurung di dalam penjara bawah tanah. Menyedihkan. Kalau saja mereka tidak senaif dan sebodoh itu.
Aku tiba-tiba berdiri, kemudian berjalan menghampiri meja tempat mereka berbincang tersebut sambil menyeret Tonitrui di lantai. Semua perempuan itu kecuali Hemera dan Puella sangatlah terkejut bukan main saat aku seketika sudah berada di tengah-tengah mereka, bagaikan baru saja melihat seorang malaikat pencabut nyawa dengan mata kepala sendiri. Bukankah mereka terlalu penakut untuk menjadi seorang manusia ?
“Oi, kamu. Aku butuh lebih banyak info tentang orang brengsek yang mengurung kalian itu. Keberatan kalau aku membuatmu sibuk sedikit ?” tanyaku kepada seorang wanita muda yang saat ini duduk saling berhadap-hadapan dengan Hemera.
Wajahnya itu, benar-benar terlihat seperti seorang yang tidak berdaya. Akan sulit kalau orang-orang macam mereka ini ikut bersama rombonganku di perjalanan yang akan mendatang selanjutnya. Tolonglah, ini sangat menyebalkan.
“A-aku ??”
“Tentu saja. Memangnya siapa lagi, bodoh ?”
Perempuan itu sangat kebingungan, seperti baru saja dipanggil karena kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya. Makhluk-makhluk seperti dia ini, bagaimana caranya mereka bisa bertahan di padang gurun yang gersang selama itu ?
“Oh, sekalian cari udara segar juga di luar sana.” ucapku kepada perempuan itu.
Aku dan perempuan itu saling menatap satu sama lain selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia berdiri setelah Hemera membisikkan sesuatu kepadanya. Entah apa yang dia bisikkan itu, tapi sepertinya kata-kata tersebut cukup bijak hingga dapat membuat perempuan itu menjadi jauh lebih tenang daripada yang sebelumnya.
Aku menepuk pundak Hemera sebagai ucapan terima kasih kepadanya, dan kemudian berjalan menuju pintu keluar disusul oleh perempuan yang belum aku kenal sama sekali itu di belakang. Begitu aku membuka pintu, yang pertama kali datang menyambutku adalah hembusan angin kencang dan sebuah siluet hitam di ujung depan sana, di dalam sebuah rumah bertingkat yang sudah rubuh di bagian depan sepenuhnya. Siluet hitam itu kemudian berlari ke arah kanan dan menghilang dengan cepat. Sudah seperti makhluk dari dunia lain saja bayangan itu.
Apa-apaan lagi ini ?
...****************...
Aku sempat berbincang-bincang sebentar dengan perempuan itu di luar inti yang sebenarnya ingin ku tanyakan padanya. Namanya adalah Pavo, dan dia berasal dari kota Aurora. Hanya beberapa hari dia tiba di kota, dan saat ingin keluar dari Grandbeltz bersama dengan 'laki-laki' nya, sosok misterius dengan kekuatan bayangan menyerang mereka berdua, membunuh pelindung satu-satunya yang dia miliki.
Aku dan Pavo berjalan di antara reruntuhan bangunan, karena hanya ada itu saja di kota ini. Beberapa menit telah ku habiskan hanya untuk berjalan sambil berbicara dengannya, dan menurutku ini adalah pertama kalinya aku menjadi se-cerewet ini. Tiba-tiba saja, dia berhenti saat melihat sesuatu di bawahnya, kemudian membungkuk untuk mengambil 'sesuatu' tersebut yang terkubur di dalam reruntuhan bangunan. Aku hanya mengamatinya saja, dan beberapa saat kemudian, Pavo akhirnya bangkit kembali dengan sesuatu seperti sebuah kalung yang dengan rantainya menjuntai keluar dari telapak tangan. Sangat panjang, dan juga sangat bercahaya.
“Ini....... Pendan milikku........” gumamnya.
“Oh, begitukah ? Ikut senang mendengarnya.”
Pendan itu, terlihat seperti sesuatu berharga yang pernah menghilang dari padanya, dan kemudian ia temukan kembali. Pavo, terlihat sangat menghargai pendan yang menghilang dan ditemukan kembali itu.
“Oi, bisa kita bahas si orang gila itu saja ? Kita sudah menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk basa-basi aja, tahu.”
Pavo sedikit tersentak setelah mendengar perkataan ku itu, sepertinya baru saja bangun dari lamunannya saat mengamati pendan miliknya yang pernah hilang itu. Tidak lama kemudian, Pavo mengenakan pendan nya itu di lingkaran lehernya sambil memejamkan kedua mata. Cocok juga ternyata.
“Oi, kamu flashback pada sesuatu ?”
Pavo masih memejamkan matanya, sangat lama sampai-sampai aku bosan melihatnya seperti itu terus sejak dari tadi. Setelah masih seperti itu selama beberapa saat, Pavo kemudian kedua tangannya di depan dada, berdoa entah untuk apa.
“Oi, kamu ngapain-...... Hah ??”
Belum selesai menanyainya, tiba-tiba saja mataku dibutakan oleh cahaya ilahi yang terpancar dari pendan miliknya. Jangan-jangan, pendan itu adalah sebuah senjata ?
Cahaya tersebut bertahan selama beberapa saat, sebelum akhirnya menghilang seolah tidak pernah ada sebelumnya. Mataku akhirnya bisa melihat lagi setelah dibutakan oleh cahaya ilahi brengsek itu sebelumnya, dan saat aku menoleh kembali ke arahnya, Pavo sudah terlihat dengan wajah seriusnya terhadap sesuatu.
Sudah pasti dia melakukan 'sesuatu' sebelumnya, bukan ?
“Orang itu, ada di belakangmu.” katanya.
Butuh selang beberapa detik untuk aku memikirkan arti dari perkataannya itu, sebelum akhirnya aku menyadari kalau 'orang' yang dimaksud Pavo tersebut adalah si orang gila keturunan Sanguis itu. Aku menoleh ke belakang seketika, dan terlihat jelas di kejauhan sana, sebuah bayangan hitam pekat baru saja berbelok ke arah gang yang ada di sebelah kanannya.
“Kena kau......” gumamku sambil menarik Tonitrui dari punggung.
“Pavo, tetap di sini. Aku akan mengejar bajingan brengsek itu.”
Aku berjalan dengan cepat meninggalkan Pavo sendirian di belakang sana. Seharusnya memang begitu, tapi aku tiba-tiba dikejutkan dengan Pavo yang sudah ada di samping kiriku entah sejak kapan. Dia berjalan sambil memegangi pendan miliknya, seolah sangat yakin bahwa dirinya tidak akan menjadi beban setelah ini.
“Aku bisa membantu banyak dengan pendan ini, Keres-san. Percaya lah !!”
“Hmph, terserah kamu bilang apa.”
Aku dan Pavo pun akhirnya tiba di luar gang itu. Aku dan Pavo pun menoleh ke arah gang tersebut, hanya melihat sebuah gang sempit yang kosong dan penuh dengan sampah yang bertebaran dimana-mana. Sepertinya aku pernah melihat hal yang sama seperti ini beberapa jam yang lalu.
“(Sigh) Lupakan saja. Kamu tahu sesuatu yang menarik tentang bajingan seperti hantu itu ?”
“Keres-san, kamu menyerah untuk mengejarnya ? Kalau saja dia belum terlalu jauh, mungkin pendan ku bisa sedikit membantu kita. Liontin ku dapat mengungkap seseorang dalam jarak terbatas.”
“Oh, sudah ku duga. Aku serahkan semuanya padamu kalau begitu.”
Pavo mengangguk kepadaku, kemudian berjalan beberapa langkah ke depan dan mulai berdoa sambil memegangi liontin nya dengan dua tangan. Jadi memang begitu cara pakainya.
“Oi, sudah selesai doa nya ?” tanyaku kepadanya sambil sedikit memiringkan kepala ke samping kiri.
Pavo membuka matanya, kemudian mengarahkan jari telunjuknya ke kanan secara perlahan, seperti sedang mengira-ngira sesuatu. Sepertinya, dia menemukan 'entah apa itu' yang lainnya lagi.
“Dia belum jauh dari sini. Kita masih bisa mengejarnya !!”
“Bagus lah, kita ambil informasi langsung dari si brengseknya !!”
Aku segera bergegas mengikuti arah Pavo dari belakang. Berbagai belokan di gang sempit itu telah ku lewati bersama dengan Pavo, dan tidak butuh waktu lama setelah itu, aku dan Pavo sudah tiba di sisi lain kota, sebuah alun-alun kota surga yang luas ini. di bagian tengah sana ada sebuah menara tinggi yang beberapa dari bagian di atasnya sudah berlubang entah karena apa. Jangan bilang, makhluk apapun itu yang menyerang kota ini bisa terbang juga ??
“Keres-san, kita semakin dekat dengannya. Dia hanya berdiam saja di sekitar sini.
“Oh, begitukah ? Agak aneh juga.......”
Seharusnya orang gila itu sudah tahu kalau ada orang yang akan mengejarnya setelah dia sempat terlihat waktu itu. Tapi kenapa sekarang, dia malah diam saja di sekitar sini ? Mungkin sebutan 'orang gila' memang sangat cocok untuknya.
Aku mengikuti Pavo yang ada di depan, berjalan masuk ke sebuah bangunan semacam bar berlantai satu yang ruangannya bisa dibilang cukup luas, terletak di sebelah kiri menara alun-alun tersebut. Aku dan Pavo sudah melewati pintu masuk bar ini sejak tadi, menyusuri bagian dalamnya yang gelap seperti ditutupi oleh sesuatu semacam bayangan. Sudah pasti ini ulah orang gila itu.
Sulit untuk menemukan sesuatu yang paling tidak sedikit agak berguna, aku dan Pavo pun memutuskan untuk berpencar. Aku ke arah kiri, sementara Pavo lurus ke depan. Kalau aku perhatikan lebih lama lagi, dia terlihat seperti tidak mempunyai clue atau apa mengenai keberadaan orang gila tersebut. Aku menyipitkan kedua mataku sambil menatapnya dengan curiga, dan setelah selang beberapa saat kemudian, aku pun akhirnya lebih memutuskan untuk menanyakan secara langsung niatannya yang sebenarnya itu.
“Kamu keliatan kebingungan mencarinya, padahal katamu pendan itu bisa mengungkap keberadaan seseorang waktu itu. Apa itu hanya perasaanku saja, Pavo ??”
“Uh, tiba-tiba saja dia menghilang dari penglihatan ku........ Aku tidak bisa menemukannya lagi.”
“Oh, itu agak aneh kedengarannya. Seandainya aku bisa membaca pikiranmu saat ini......”
Pavo seketika berhenti dan menoleh ke arahku, menatapku dengan wajah yang muram dan sedikit memancarkan ekspresi minta maaf dari kedua matanya yang dibasahi oleh air mata. Itu adalah ekspresi ketidakmampuan, aku sudah sering sekali melihat yang seperti itu selama ini. Yah, kalau memang begitu, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain tidak mempedulikannya selama waktu yang tidak ku tentukan. Siapa tahu dengan begitu, aku bisa terhindar dari ancaman yang tidak diketahui, bukan ?
Aku memalingkan wajahku dari Pavo, kini menoleh ke arah sebuah gelas kecil yang terletak di atas sebuah meja kayu bundar tepat di samping kiriku. Sebuah gelas dengan rum yang hanya tersisa sedikit saja di dasar gelasnya, akan segera habis hanya dalam sekali teguk saja. Itu sebenarnya hanyalah sebuah gelas kaca dengan rum yang sekarat di dalamnya, namun entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengannya. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak mengangkat gelas itu dan mengamati rum nya dari bawah, dan di saat itulah, aku akhirnya segera menyadari sesuatu yang 'aneh' tersebut.
“Rum ini...... Baru diminum.”
“Keres-san, dari kanan mu !!” seru Pavo secara tiba-tiba, membuatku seketika menoleh ke arah kanan dan merasakan hempasan udara yang semakin lama semakin mendekat dengan kecepatan tinggi.
Sontak, aku langsung menggunakan gelas rum tersebut untuk menghalau serangan kejutan sialan itu. Dan seperti yang sudah aku duga, hanya menggunakan gelas saja untuk menghalau sebuah serangan yang kuat bukanlah ide yang baik, sudah dari dulu selalu seperti itu. Aku mendapatkan sebuah luka di pundak kiri, walaupun sebenarnya itu bukanlah masalah yang terlalu besar menurutku.
Si bajingan gila itu akhirnya menyerang juga, huh !?
Serangan kedua datang menyusul serangan yang pertama, dan kali ini aku berhasil menghempaskannya dengan tebasan menggunakan Tonitrui. Kali ini juga, aku akhirnya tahu kalau itu bukanlah sebuah tebasan pedang, melainkan sebuah tusukan !!
Orang ini..... Dia pakai sesuatu yang berbeda ??
“Pavo, ke belakangku !!”
Pavo pun mengangguk, dan kemudian segera berlari dan bersembunyi di belakangku, seperti yang aku suruh sebelumnya. Orang tersebut tidak melanjutkan serangannya, dan justru mulai berjalan mendekat ke arahku dan Pavo, bisa terdengar dari suara langkah kakinya, yang semakin lama terdengar semakin jelas di telingaku. Dengan sebuah ayunan kecil di udara, aku menyalakan Tonitrui dengan listrik ungunya seketika, dan kemudian mengangkatnya ke atas sambil memasang kuda-kuda ku. Kali ini, aku sudah tahu posisinya ada di mana sekarang.
“Oi, kamu dari Sanguis !!?” seruku suara yang nyaring.
Orang itu tidak menjawab ku. Yah, kalau begitu, ini sepertinya akan menjadi face off yang hanya akan berlangsung dengan singkat sebelum aku akan mengungkap kebenarannya.
Baru saja aku mencondongkan tubuhku ke depan untuk bersiap melesat ke arahnya, orang gila brengsek tersebut sudah maju menyerang lebih dulu daripada aku. Serangannya sangatlah cepat, sampai-sampai aku tidak sempat untuk menangkis serangannya ke arah yang lain. Tonitrui dan senjata orang itu saling bertemu dengan satu sama lain, dan seperti yang aku duga, senjata orang itu adalah sebuah tombak. Padahal waktu pertama kali aku melihat orang gila itu di kota ini, dia sudah jelas memegang sebuah pedang, bukan tombak. Itu sangat membuatku penasaran, dan aku pun akhirnya memutuskan untuk segera mengungkap siapa orang sialan baru yang lainnya ini.
“Aku....... Entah kenapa aku seperti mengenalmu.” ucap orang tersebut sambil masih mempertahankan adu senjatanya dengan Tonitrui.
Suaranya itu....... Terdengar seperti suara yang dimiliki oleh seorang perempuan ? Aku tidak ingat kalau yang aku lihat pertama kali itu adalah seorang perempuan. Sepertinya, hanya ada satu kesimpulan untuk masalah semacam ini.
“Jadi begitu....... Sepertinya kota ini punya orang gila sebagai penghuninya yang tersisa, huh !?”
“Kamu menyebutku...... Orang gila ??”
“Memangnya apa lagi, bodoh !? Kalau yang kamu setiap saat hanya mengikuti dan mengikuti orang lain secara terus-menerus !!?”
Tiba-tiba saja, orang itu sudah menahan tangan kananku yang memegang pegangan Tonitrui entah sejak kapan, dan dengan begitu, seluruh kendali Tonitrui sama saja sudah jatuh kepadanya. Tidak bisa melakukan apa-apa, aku langsung dikejutkan saat orang itu kemudian mengunci pergelangan tangan kananku dengan punggung tombaknya, dan setelah itu ia menggunakannya untuk melemparkan ku ke belakangnya hingga keluar ke sisi bar yang lain dengan begitu saja. Yang seperti itu, adalah sebuah kekuatan yang tidak pernah aku lihat seumur hidupku.
“Dan bajingan ini...... Mengenalku....... Sialan.” ucapku sambil berusaha untuk bangkit berdiri kembali.
Dari kejauhan, aku dapat mendengar suara Pavo yang meneriakkan namaku dengan panik. Tentu saja, itu adalah hal yang selalu dilakukan oleh orang yang tidak dapat melakukan apa-apa selain bersembunyi dibalik orang yang lainnya. Terdengar sangat bodoh bagiku.
Tidak lama kemudian, orang yang sempat aku sebut sebagai orang gila itu akhirnya berjalan keluar, tanpa mengenakan tudung kepalanya. Kali ini aku bisa melihat wajahnya itu dengan sangat jelas. Tidak mungkin kalau yang sedang aku lihat saat ini adalah sebuah kesalahan.
Wanita berambut merah itu menatapku dengan tajam, kemudian menyimpan tombaknya yang penuh dengan cahaya aneh di belakang punggungnya.
“Keres.” ucapnya dengan sangat singkat kepadaku.
Dan tentu saja. Wanita berambut merah yang ada di hadapanku saat ini adalah orang yang selalu ku panggil dengan sebutan kakak waktu aku masih kecil dulu. Dia adalah........
“Kak Ferre......”