Di dunia tempat kepercayaan bisa menjadi kutukan, Izara terjebak dalam permainan kelam yang tak pernah ia pilih. Gadis biasa yang tak tahu-menahu tentang urusan gelap ayahnya, mendadak menjadi buruan pria paling berbahaya di dunia bawah tanah—Kael.
Kael bukan sekadar mafia. Ia adalah badai dalam wujud manusia, dingin, bengis, dan nyaris tak punya nurani.
Bagi dunia, dia adalah penguasa bayangan. Namun di balik mata tajamnya, tersembunyi luka yang tak pernah sembuh—dan Izara, tanpa sadar, menyentuh bagian itu.
Ia menculiknya. Menyiksanya. Menggenggam tubuh lemah Izara dalam genggaman kekuasaan dan kemarahan. Tapi setiap jerit dan tatapan melawan dari gadis itu, justru memecah sisi dirinya yang sudah lama terkubur. Izara ingin membenci. Kael ingin menghancurkan. Tapi takdir punya caranya sendiri.
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang akan menang.
Melainkan... siapa yang akan bertahan.
Karena terkadang, musuh terbesarmu bukan orang di hadapanmu—melainkan perasaanmu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan sengit
Malam itu Kael datang ke ring tinju seorang diri.
Langkahnya mantap menapaki lantai beton yang dingin. Lampu-lampu neon yang menggantung dari langit-langit tua menerangi ring tua di tengah gudang kosong.
Ini adalah kesepakatan mereka.
Kael dan Moreno.“Lama tak bertemu, Kael.”
Suara itu datang dari seberang ring. Moreno—pria bertubuh tegap dengan senyum licik di wajahnya—berdiri sambil merenggangkan leher. Lengannya melingkari sarung tinju merah, dan sorot matanya tajam seperti hendak menelan lawan hidup-hidup.
“Tidak usah basa-basi. Kita mulai dan akhiri ini.”
Moreno menyeringai. “Tentu. Aku bukan pengecut.”
Mereka berjalan ke tengah ring, saling menatap. Tak ada wasit. Tak ada penonton. Hanya suara dengung lampu dan deru napas yang memanas.
DING!
Sebuah lonceng tua dipukul dari pojok ruangan, tanda dimulainya pertarungan.
Mereka mengambil kuda-kuda.
Kael menundukkan sedikit kepalanya, bahu tegak dan pandangan fokus. Moreno maju duluan, melayangkan pukulan kiri yang cepat—Kael menghindar, balas memukul ke arah rahang, tapi Moreno menangkisnya dengan siku.
Tubuh mereka saling bertabrakan. Napas keras. Tinju saling menghantam.
Pukulan demi pukulan Kael mengenai tubuh Moreno, tapi pria itu tidak goyah. Dia tertawa, seperti menikmati rasa sakit..
Namun Kael tidak datang untuk bermain.
Ia datang untuk mengakhiri.
Moreno sempat mendaratkan hook keras ke arah pipi kiri Kael. Darah mengalir dari sudut bibir. Tapi Kael tidak jatuh. Dia berdiri lagi.
Dan saat Moreno terlalu percaya diri maju menyerang lagi—Kael menunduk, memutar badan, dan melepaskan uppercut ke arah dagu Moreno.
BRUKK!
Tubuh Moreno terlempar ke belakang dan menghantam tali ring. Ia jatuh.
Tak bergerak. Terdiam.
Kael berdiri di tengah ring, bahunya naik-turun. Tangannya berdarah. Matanya menatap lurus ke tubuh Moreno yang masih terkapar.
Dia menang.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Kael turun dari ring. Tak ada sorak-sorai. Hanya keheningan yang menyambutnya, seperti kemenangan yang pahit.
Namun baginya, itu sudah cukup.
Kael hampir mencapai pintu keluar gudang ketika terdengar suara batuk berat di belakangnya.
“Heh... Kael...”
Langkah Kael terhenti. Ia menoleh perlahan, melihat Moreno mencoba bangkit sambil memegangi rahangnya yang memar parah. Pria itu bersandar pada tali ring, darah mengalir dari sudut mulutnya.
“Kau memang... masih bajingan keras kepala seperti dulu...”
Moreno tertawa kecil meski kesakitan. “Tapi sepertinya... aku salah memperkirakan seberapa jauh kau bisa pergi demi sesuatu yang kau jaga.”
“Jadi ini untuk Izara?”
Kael menggeleng, suara parau.
“Ini bukan cuma untuk dia. Ini untuk semua luka yang kau timbulkan. Pada dia. Pada aku. Pada siapa pun yang pernah mempercayaimu.”
Moreno tersenyum getir.
“Janji adalah janji… Kau menang, jadi aku akan pergi. Tapi Kael…” Ia berhenti sejenak, menahan nyeri. “Kau pikir semuanya selesai begitu saja? Kau pikir dengan memukulku sekali, semua akan berakhir?”
“Tidak. Tapi setidaknya, aku tidak diam saja.”
Setelah itu, Kael berbalik dan melangkah keluar dari gudang.
Pintu tua itu tertutup pelan… meninggalkan Moreno sendiri di ring.
**
Begitu Kael masuk ke dalam mobil, ia baru menyadari satu hal—layar ponselnya menyala menampilkan sepuluh panggilan tak terjawab dari Kai.
Tanpa berpikir panjang, Kael langsung menekan tombol panggilan balik.
“Halo, kenapa?” tanyanya cepat.
Suara Kai langsung meledak dari seberang. “Kau ke mana saja, Kael?! Sudah dari tadi aku coba hubungi!”
“Aku sedang mengurus sesuatu… dengan Moreno,” jawab Kael datar.
“Moreno? Kau tidak bilang dia kembali! Tunggu… jangan-jangan semua kejadian ini ada kaitannya dengan dia?!”
Kael menghela napas pelan. “Seperti dugaanmu. Tapi kau tenang saja, aku sudah urus. Dia tidak akan mengganggu Izara lagi.”
“Kau ini kenapa selalu menyembunyikan semuanya sendiri? Apa kau pikir aku tidak mampu menghadapi dia? Apa kau pikir aku—”
“Sudahlah, lupakan,” potong Kael, nadanya dingin. “Aku sudah menyelesaikannya. Jadi kenapa kau meneleponku?”
Kai terdiam sejenak, lalu suaranya melemah. “Ini tentang Izara… Datang saja ke rumah sakit. Aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon.”
Begitu mendengar nama Izara disebut, Kael langsung menginjak pedal gas. Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di rumah sakit.
Kai sudah berdiri di lobi depan, wajahnya tampak tegang.
“Apa yang terjadi? Di mana Izara?” tanya Kael tanpa basa-basi.
Kai menatapnya, sorot matanya berat. “Kael… dia kehilangan ingatannya.”
“Apa?!” Kael hampir tidak percaya. Ia bergerak ingin masuk ke ruangan Izara, namun Kai langsung menahan lengannya.
“Jangan dulu. Dokter masih memeriksanya.”
Kael menatap pintu ruangan dengan napas tertahan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa takut yang begitu nyata di matanya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan. Seorang dokter pria keluar, masih memegang berkas rekam medis di tangannya. Kael dan Kai segera menghampiri.
“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Kai.
“Secara fisik, kondisinya cukup stabil, tapi...."
“Tapi apa?” Kael menatap tajam.
“Pasien mengalami amnesia pasca-trauma. Jenis amnesia retrograde. Ia tidak mengingat kejadian-kejadian sebelum kecelakaan. Kami belum bisa memastikan seberapa jauh ingatannya hilang, tapi… dia tampaknya tidak mengenali nama atau orang-orang terdekatnya.”
Kael mengatup rahangnya. Kai menghela napas panjang di sebelahnya.
“Apakah ini permanen?” tanya Kael lirih.
“Sulit untuk diprediksi. Beberapa pasien bisa memulihkan ingatannya dalam hitungan hari, sebagian lagi butuh waktu lebih lama… bahkan bertahun-tahun. Tapi yang jelas, jangan memaksanya mengingat. Itu hanya akan membuat tekanan emosionalnya bertambah parah.”
Kael mengangguk perlahan. “Bolehkah kami masuk?”
Dokter itu mengangguk. “Silakan. Tapi ingat, jangan terlalu banyak menuntutnya untuk mengingat apa pun. Biarkan dia merasa aman dulu.”
Kael dan Kai saling pandang sejenak sebelum Kael menarik napas dalam-dalam dan melangkah menuju pintu ruangan.
Kael membuka pintu perlahan.
Suasana ruangan sunyi. Lampu redup menerangi tubuh Izara yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, kepala gadis itu dibalut perban tipis, infus menempel di punggung tangannya. Pandangannya kosong, menatap langit-langit tanpa ekspresi.
“Izara…” panggilnya dengan suara nyaris tak terdengar.
Perlahan, Izara menoleh.
Mata mereka bertemu. Tapi tak ada binar pengakuan di sana. Hanya tatapan kosong, seperti melihat orang asing.
Kael menahan napas.
Izara mengerjap pelan, menatap Kael sejenak sebelum akhirnya berkata,
“Maaf… aku tidak mengenalmu.”
Kael mengatup rahangnya. Jemarinya mengepal perlahan.
“Tak apa,” bisiknya akhirnya, mencoba tersenyum meski suaranya gemetar. “Aku di sini… hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”
Izara menatapnya, masih dengan pandangan kosong. Ia tak berkata apa-apa lagi.