Indonesia
NovelToon NovelToon
Ke Grep Dengan Preman Tengil

Ke Grep Dengan Preman Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jejak kelam juragan Broto

Gumpalan asap hitam tebal membubung tinggi ke udara dari halaman samping Kantor Polsek Kecamatan, membakar tumpukan patok-patok tanah kayu bernomor dan spanduk-spanduk klaim lahan milik kroni Juragan Broto.

Sirine mobil polisi dan kendaraan taktis militer bersahut-sahutan dari kejauhan, menciptakan hiruk-pikuk yang tak biasa di pusat kecamatan yang biasanya tenang.

Pagi itu, gelombang penggeledahan besar-besaran yang dipimpin langsung oleh tim gabungan Satgas Pembasmian Mafia Tanah mengguncang seluruh penjuru Dukuh Parang dan desa-desa tetangga.

Rumah mewah berdinding marmer milik Juragan Broto yang terletak di pinggir jalan utama kecamatan kini telah dipasangi garis kuning polisi. Belasan mobil mewah, sertifikat tanah bodong berstempel palsu, hingga peti berisi uang tunai bernilai miliaran rupiah diangkut keluar oleh petugas berseragam dinas.

Di dalam ruang kerja Kapolsek Kecamatan, suasana terasa amat sangat tegang.

Kapolsek—pria setengah baya berkumis lebat bernama Ajun Komisaris Polisi Darmo, berdiri tegap di samping meja kerjanya.

Wajahnya yang biasa gahar kini tampak pucat pasi, kedua tangannya terkatup rapi di depan pinggang. Di belakang meja kebesarannya, duduk Devan Pratama.

Devan mengenakan kemeja taktis warna hitam dengan lengan digulung rapi, memperlihatkan tato naga di lengan bawahnya serta jam tangan besi berwarna gelap. Di samping kiri Devan, Hendra berdiri membawa laptop berkecepatan tinggi yang terus menampilkan data-data aset kejahatan Juragan Broto.

"B-Bapak Kolonel ..." Kapolsek Darmo bersuara patah-patah, suaranya bergetar menahan cemas. "Seluruh berkas perkara, barang bukti dokumen pemalsuan akta tanah, dan tersangka Broto beserta lima anak buah intinya sudah berhasil kami amankan di sel tahanan markas."

Devan tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi kulit, memasang tatapan dingin yang tajam bak mata pisau. Tangannya yang berurat memutar-mutar sebuah pulpen besi di atas meja.

"Jelaskan pada saya, Darmo," kata Devan rendah namun berdengung penuh intimidasi. "Bagaimana bisa seorang tuan tanah seperti Broto melakukan intimidasi pada warga desa selama lima tahun, merampas puluhan hektar sawah secara ilegal, dan bertindak seolah-olah dia hukum di kecamatan ini tanpa tersentuh sedikit pun oleh instansimu?"

Kapolsek Darmo menelan ludah dengan tenggorokan yang serasa tersumbat batu. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani beradu pandang dengan mata hitam Devan yang mengerikan.

"S-saya ... saya mengaku salah, Pak Kolonel ..." bisik Darmo pasrah. "Broto menyuap oknum-oknum di tingkat bawah dan menggunakan ancaman preman untuk menakut-nakuti warga agar tidak ada yang berani melapor ke Polres atau Polda."

"Termasuk merancang skenario penggerebekan di gubuk sawah semalam?" tembak Devan langsung ke pokok permasalahan.

Darmo mengangguk cepat-cepat. "Benar, Pak! Dari hasil pemeriksaan awal pada Broto sepuluh menit lalu, Broto sengaja menyuruh anak buahnya memantau gerak-gerik keluarga Pak Suryo. Pak Suryo adalah pimpinan kelompok tani yang paling keras menolak menjual tanah kas desa pada proyek pabrik batu bara milik Broto."

Devan menyipitkan matanya. Urat-urat di pelipisnya menegang keras saat mendengar nama Pak Suryo disebut.

"Lalu?" desak Devan dingin.

"Broto tahu malam itu hujan deras dan Devi terjebak di gubuk," lanjut Darmo dengan suara gemetar. "Rencana awal mereka adalah menjebak Devi bersama salah satu preman bayaran Broto, lalu merekamnya untuk menghancurkan harga diri dan nama baik Pak Suryo di mata warga desa. Harapannya, Pak Suryo akan stres, malu, dan akhirnya menyerahkan surat tanahnya secara cuma-cuma."

"Tapi rencana mereka berantakan," potong Hendra seraya melirik Devan dengan senyum tipis, "karena orang yang ada di dalam gubuk malam itu bukan preman bayaran Broto, melainkan Komandan Satgas kami sendiri."

Kapolsek Darmo mengangguk kaku seraya mengusap keringat dingin di dahinya. "I-iya, Pak ... Broto tidak menyangka sama sekali kalau orang asing yang dihajar dan dipaksa nikah siri oleh warga semalam adalah perwira tinggi penanggung jawab operasi ini."

Devan menegakkan tubuhnya. Pria itu menghentakkan pulpen besinya ke atas meja.

TAK!

Suara itu membuat Kapolsek Darmo tersentak kaget.

"Proses hukum Broto dan seluruh jaringannya tanpa ampun," perintah Devan tegas. "Tindak tegas juga setiap oknum di instansimu yang terbukti menerima suap dari mafia tanah ini. Jangan sampai ada satu pun dari mereka yang lolos dari hukuman maksimal."

"Siap, Pak Kolonel! Siap dilaksanakan!" seru Kapolsek Darmo seraya memberi hormat militer dengan tubuh membungkuk panik.

Devan berbalik menatap Hendra. "Hendra, siapkan dokumen pengembalian hak tanah untuk Pak Suryo dan seluruh warga Dukuh Parang yang pernah ditipu oleh Broto. Pastikan semua sertifikat asli diserahkan secara terhormat di depan balai desa sore ini."

"Laksanakan, Komandan!" jawab Hendra sigap.

Devan berdiri dari kursinya, merapikan kerah kemeja taktis hitamnya. Bencana fitnah yang semula dirancang untuk meremukkan hidup Devi dan keluarganya kini justru menjadi bumerang yang menghancurkan kerajaan kejahatan Broto hingga ke akar-akarnya.

Sementara itu, di halaman rumah Pak Suryo di Dukuh Parang, suasana damai menyelimuti udara siang.

Beberapa warga desa, yang kemarin sempat memandang sebelah mata pada Devi, kini berdatangan secara bergantian membawa bakul buah, pisang raja, dan kue-kue tradisional. Mereka berkumpul di pekarangan, mengantre untuk menyalami Pak Suryo dan meminta maaf atas sikap terburu-buru mereka saat penggerebekan malam itu.

Pak Suryo menerima kedatangan tetangga-tetangganya dengan lapang dada. Pria tua yang bijaksana itu tidak menyimpan sedikit pun dendam di hatinya, menyambut permohonan maaf warga dengan senyuman hangat dan pelukan hangat.

Di teras samping, Devi sedang duduk di bangku kayu bersama Rani. Teman dekatnya yang kemarin sempat menangis panik itu kini menggenggam erat telapak tangan Devi dengan wajah dipenuhi rasa haru dan penyesalan.

"Devi ..." panggil Rani pelan, matanya berkaca-kaca. "Aku benar-benar minta maaf ya ... Kemarin waktu Mas Dodi mengamuk di teras rumahmu, aku sempat mikir yang tidak-tidak tentang kamu dan suamimu."

Devi mengulas senyum lembut, mengusap punggung tangan Rani. "Tidak apa-apa, Ran. Aku paham kok. Kalau aku jadi kamu, aku juga pasti bingung melihat situasi semalam itu."

Rani menghela napas panjang, menatap ke arah jalan gang desa yang sepi. "Mas Dodi ... sampai sekarang masih mengurung diri di kamar, Dev. Dia merasa sangat bersalah dan malu. Dia bilang, dia kalah jauh dari suamimu ... bukan cuma soal pangkat atau harta, tapi soal keberanian pasang badan buat kamu di saat paling kritis."

Mendengar nama Dodi, tatapan mata Devi sempat melembut oleh rasa iba. Namun, di dalam dadanya, arah perasaannya kini sudah benar-benar berlabuh. Dodi memang pernah menjadi bagian dari warna masa mudanya yang manis, namun Devan... adalah takdir kokoh yang telah menyelamatkan dan menjaga kehormatannya di tengah badai terkelam.

"Sampaikan salamku buat Mas Dodi ya, Ran," bisik Devi tulus. "Katakan padanya, dia orang baik. Aku berdoa semoga dia mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku, yang bisa mendampingi hidupnya dengan sempurna."

Rani mengangguk pelan, mengusap sudut matanya yang basah. "Iya, Dev ... Nanti aku sampaikan ke Mas Dodi."

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah yang halus terdengar mendekati halaman rumah. Mobil SUV hitam yang dikendarai oleh staf Devan berhenti anggun di depan pagar. Pintu terbuka, dan Devan melangkah keluar dengan gaya tegapnya yang sangat berwibawa.

Melihat kedatangan Devan, warga desa yang berada di halaman seketika berdiri menepi dengan penuh rasa hormat.

Beberapa tetua desa membungkukkan badan seraya menyapa sopan, "Selamat siang, Pak Kolonel ..."

Devan membalas sapaan warga dengan anggukan kepala yang ramah dan senyuman yang sangat santun. Ia melangkah membelah kerumunan warga menuju teras tempat Devi berdiri.

Devi menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman manis. "Sudah selesai urusannya di Polsek, Devan?"

"Sudah, Istriku," sahut Devan lembut. Pria bertato itu menyerahkan sebuah map kulit tebal berwarna cokelat tua ke tangan Pak Suryo yang melangkah keluar dari dalam rumah.

Pak Suryo menerima map itu dengan dahi berkerut heran. "Ini dokumen apa, Nak Devan?"

"Ini sertifikat asli seluruh lahan sawah milik Bapak dan warga kelompok tani yang dulu disita paksa oleh Juragan Broto, Pak,"

terang Devan dengan nada suara penuh penghormatan. "Seluruh hak tanah Bapak sudah bersih seratus persen di mata hukum. Tidak ada lagi yang bisa mengganggu atau mengancam lahan milik keluarga kita."

Pak Suryo membuka map tebal tersebut. Saat matanya melihat lembaran sertifikat tanah berstempel Garuda Emas atas namanya yang telah kembali utuh, air mata haru tak bendung menetes membasahi pipi tua pria tersebut. Pak Suryo memeluk Devan dengan erat, menepuk-nepuk punggung menantunya dengan ketulusan seorang ayah.

"Terima kasih, Ya Allah ... Terima kasih, Nak Devan ..." bisik Pak Suryo dengan suara bergetar parau.

Raka yang berdiri di dekat pintu mengusap matanya yang basah, sementara Bu Sumi menangis bahagia merangkul bahu Devi di teras. Seluruh beban berat yang menghimpit keluarga miskin itu selama bertahun-tahun kini telah diangkat sepenuhnya oleh kehadiran pahlawan yang dikirimkan Takdir dalam wujud seorang menantu bertato.

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke ufuk barat memancarkan cahaya jingga keemasan yang menawan, Devan dan Devi berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak di pinggir pematang sawah Dukuh Parang.

Angin sore berembus lembut, membelai ujung jilbab hijau muda yang dikenakan Devi dan mengibarkan kelim kemeja hitam Devan. Padi-padi di hamparan sawah bergoyang pelan, memancarkan aroma hijau tanah yang menenangkan jiwa.

Di kejauhan, gubuk kayu tua tempat mereka pertama kali bertemu akibat hujan deras semalam berdiri bisu di tengah pematang.

Devi menghentikan langkah kakinya, menatap bangunan gubuk tua itu dengan pandangan yang dalam. Siapa yang akan mengira, bangunan kayu kusam yang paling dihindari orang saat malam gelap itu justru menjadi tempat di mana takdir indah hidupnya dirajut oleh Tuhan.

Devan berdiri di samping Devi, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya ikut menatap gubuk tersebut. Senyum renyah khasnya kembali terukir di sudut bibirnya.

"Kenapa menatap gubuk itu melulu, Nyonya?" goda Devan pelan. "Kangen masa-masa digerebek warga ya?"

Devi menoleh, mencubit lengan Devan agak kencang dengan gemas. "Mas Devan! Jangan mulai deh!"

Devan tertawa lepas, suara tawa bahagianya menggema riang menembus keheningan pematang sawah. Pria bertato itu kemudian meraih jemari tangan Devi, menyatukan jemarinya dengan jemari kurus gadis itu dalam sebuah genggaman yang sangat erat dan hangat.

Devi menatap genggaman tangan mereka. Rasa dingin dan ketakutan yang dulu menyiksanya kini sirna sepenuhnya, berganti dengan kehangatan luar biasa yang merayap hingga ke ulu hatinya.

"Mas Devan ..." panggil Devi pelan, menatap mata hitam suaminya yang tajam namun penuh cinta.

"Ya, Devi?"

"Terima kasih ya ..." bisik Devi dengan mata berbinar indah. "Terima kasih sudah mau menjadi tamu yang terlambat di gubuk itu ... dan terima kasih sudah memilih untuk tinggal dan melindungiku."

Devan menatap dalam-dalam manik mata jernih istrinya. Pria perwira tinggi yang tak pernah gentar di hadapan peluru dan musuh itu merendahkan tubuhnya sedikit, memajukan wajahnya lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahi Devi, sebuah kecupan penuh janji, keagungan, dan cinta sejati yang tak akan pernah goyah oleh badai apa pun.

"Saya tidak terlambat, Devi," bisik Devan lembut tepat di depan wajah istrinya saat ia melepaskan kecupannya. "Saya datang tepat pada waktu yang sudah dituliskan Tuhan untuk menjadi takdir hidupmu."

Di bawah langit sore Dukuh Parang yang bersinar jingga indah, dua insan yang disatukan oleh pusaran takdir yang tak terduga itu melangkah bersama menyusuri pematang sawah, menyongsong masa depan baru yang penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, dan cinta yang abadi.

1
tinie
nah benerkan
semoga aja Devi mencerna baik baik
ingat loh, anak gadis di arak telanjang
kek manaa coba
rasanya mau bunuh diri saja
MayAyunda: iya kak😄
total 1 replies
tinie
mau mengelak seperti apa
devan sudah menyelamatkan anak gadismu
dari pada keliling desa
Myz Pena
karya kamu bagus thor 🥹
Myz Pena
pak joko.. oh pak joko 🤧
Myz Pena
devi ini buruh ??🥹
tinie
anak kota kenapa selalu dikenal anak nakal,,
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
MayAyunda: tato identik nakal kak ..terutama kalau di desa 😄😄🙏
total 1 replies
tinie
wah tua juga baru lulus SMA 21 THN
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
MayAyunda: mf kak 😄🙏
total 1 replies
tinie
miris banget
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan

milih nikah aja
MayAyunda: masih kolot kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!