Indonesia
NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:27.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngelantur karna teler

"Gila aja tuh si Fano, bisa-bisanya dia halusinasi, bilang dicekek setan," ujar Rian yang masih tak percaya dengan ucapan Fano. Langkah kakinya bergaung di sepanjang koridor rumah sakit yang bernuansa serba putih dan dingin.

"Maklumin aja, namanya juga teler berat dia," kata Adrian santai seraya menyisipkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya.

"Pengaruh Alkohol emang keras banget, ya wajar otaknya makin geser." Sambungnya lagi.

"Kayaknya, gue harus kurangin minum, biar nggak gila, stir mobil malah halu di cekek setan." Kata Rian.

Julian yang berjalan paling depan di antara mereka bertiga. Hanya diam, malas dengan ocehan kedua sahabatnya itu, dia menatap lurus ke arah pintu keluar utama rumah sakit.

"Tapi jujur ya, ekspresi mukanya pas ngomong tadi serem juga, Bro," timpal Rian lagi, terkekeh pelan meski ada sedikit nada ragu dalam suaranya.

"Mata melotot, keringat dingin segede jagung. Gue pikir dia beneran dibegal preman, tahu-tahunya nuduh setan."

"Palingan itu cuma mekanisme otaknya aja buat membela diri," sahut Adrian menanggapi.

"Daripada dia ngaku salah gara-gara menyetir sambil mabuk berat sampai bikin mobil sport kesayangannya ringsek, mending nyalahin setan. Tipikal Fano banget."

Mereka bertiga akhirnya menerobos pintu kaca otomatis rumah sakit. Udara siang kota yang hangat langsung menyergap wajah mereka.

"Lian, lu diam-diam bae dari tadi? Kenapa lu? Ketularan stres juga mikirin setan yang cekek Fano?" goda Adrian seraya menepuk bahu Julian.

Julian terhenti di dekat mobil mewahnya yang terparkir di area VIP. Ia berbalik, menatap Adrian dan Rian bergantian dengan sorot mata yang dingin dan tajam.

"Gue capek," Kata Julian.

Dia langsung membuka pintu mobilnya tanpa selera untuk menjelaskan apa pun lagi.

Dia menghenyakkan tubuhnya ke jok kulit yang empuk, meluruskan lehernya yang terasa kaku. Rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerang seluruh tubuhnya, kombinasi dari efek sisa alkohol pesta semalam, rasa panik saat mendengar kabar kecelakaan Fano dan juga karena kurang tidur.

Ia menatap kedua sahabatnya sekali lagi dari balik kaca jendela yang perlahan diturunkan setengah.

"Gue balik duluan. Otak gue mau pecah gara-gara kurang tidur. Lu pada mending balik juga," ucap Julian datar, suara seraknya mengaitkan rasa lelah yang amat sangat.

Tanpa menunggu balasan dari Adrian maupun Rian, Julian menaikkan kembali kaca mobil mewahnya.

Mesin mobil menderum halus, lalu ia memacu kendaraannya meninggalkan area parkir rumah sakit yang lengang.

Sementara itu, Adrian dan Rian masih berdiri mematung di samping mobil mereka masing-masing, menatap kepergian mobil Julian dengan tatapan heran.

"Yeeuuh... Si Julian malah ngambek gara-gara capek," gerutu Rian seraya menggelengkan kepala, mencoba mengusir kecanggokan yang sempat tersisa.

"Maklumin aja, sekarangkan dia yang megang perusahaan bokapnya," sahut Adrian seraya merogoh kunci mobil dari saku celananya.

Namun, di tengah teriknya sinar matahari siang yang membakar area parkir terbuka itu, hembusan angin dingin yang asing mendadak berhembus kencang melintasi mereka berdua.

"Entar malam gimana? Mau pesta lagi nggak?" tanya Rian santai, memecah hening di area parkir seraya menyulut sebatang rokok dan mengepulkan asapnya ke udara siang.

"Pala lu pesta, gue udah capek banget! Lu baru juga tadi ngomong mau kurangin minum karna takut kayak Fano, malah ngajak pesta lagi!" Ucap Adrian. Ia menatap Rian dengan tatapan tak percaya, tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya yang seolah tidak punya tombol berhenti.

"Yaa... kan gue cuma nanya. Lagian sayang banget malam minggu di rumah aja," gerutu Rian seraya menyipitkan mata menahan terik matahari.

"Biar makin rileks aja gitu. Biar gak ketularan stres kayak Fano sama Julian."

Adrian menghela napas berat, memijat pelipisnya yang mendadak terasa makin berdenyut pening.

"Gue mau balik ke apartemen, tidur. Badan gue pegel-pegel semua," tegas Adrian seraya membuka pintu mobilnya.

"Lu kalau mau teler sendiri aja sana, jangan ajak-ajak gue. Gue gak mau bernasib sama kayak Fano, nabrak tembok gara-gara otak gak fokus."

Rian terkekeh pelan, menepuk kap mobil Adrian dua kali.

"Santai kali. Ya udah kalau lu mau hibernasi. Gue juga balik deh, mau lanjut tidur di rumah."

Keduanya akhirnya berpisah, memasuki kendaraan masing-masing dan memacu mobil mereka meninggalkan halaman rumah sakit.

Di dalam kabin mobilnya yang kedap udara, Julian menyandarkan kepalanya pada sandaran jok yang empuk.

Pendingin udara berhembus pelan, berusaha mengusir rasa penat dan pening yang menghantam kepalanya sejak keluar dari rumah sakit.

Tiba-tiba, nada dering memecah keheningan kabin. Sistem Bluetooth mobil langsung menginterupsi pemutar musik, dan nama Natasya terpampang jelas di layar navigasi dasbor.

Julian melirik layar di dasbor itu lalu menekan tombol gagang telepon di lingkar kemudinya.

"Halo?"

"Sayang, kamu di mana...?" tanya suara itu.

Suara Natasya terdengar manja, lembut, dan penuh perhatian. Mendengar nada familiar dari perempuan yang dicintainya itu, bahu Julian yang tadinya tegang perlahan merileks. Rasa lelah yang menumpuk seolah sedikit terangkat.

"Aku lagi di jalan, Sayang. Baru aja keluar dari rumah sakit habis jenguk Fano," jawab Julian seraya tetap fokus menatap jalanan di depannya.

Ia mengusap lehernya yang kaku dengan sebelah tangan, berusaha menetralkan suaranya yang serak.

"Oh ya? Gimana keadaan Fano sekarang? Katanya dia kecelakaan parah ya?" sahut Natasya, nada suaranya kini dipenuhi rasa ingin tahu sekaligus simpati.

"Dia udah sadar kok, cuma ya. kepalanya agak terbentur, jadi masih banyak ngelindur yang aneh-aneh. Efek alkohol sama obat bius dokter juga paling," jelas Julian seraya menyalakan lampu sein untuk berpindah jalur.

"Kasihan banget... Tapi kamu gak apa-apa kan, Sayang? Kamu gak ikut teler juga kan semalem?" tanyanya penuh kecemasan.

Julian terkekeh tipis, senyumnya akhirnya mengembang setelah seharian diliputi ketegangan.

"Gak kok, aku aman. Cuma capek banget aja kurang tidur dari semalam. Ini aku mau langsung pulang ke rumah, mau istirahat."

"Ya udah kalau gitu. Nanti kalau kamu udah sampai rumah, langsung mandi terus istirahat ya, jangan sampai sakit," pesan Natasya hangat.

"Nanti malam aku ke rumah kamu ya , aku masakin makan malam."

"Makasih ya, Sayang. Kamu memang yang paling tahu cara bikin aku tenang," balas Julian tulus.

"Aku fokus nyetir dulu ya, sebentar lagi sampai."

"Iya Sayang, hati-hati di jalan. I love you."

"Love you too," jawab Julian sebelum memutus sambungan telepon lewat tombol di setir.

Kabin mobil kembali hening. Perhatian kecil Natasya selalu berhasil menjadi penawar di tengah rumitnya pikiran Julian.

Pria itu membetulkan posisi duduknya, menancap pedal gas lebih dalam, dan memacu mobilnya membelah kemacetan kota menuju rumah.

1
Siti Yatmi
tunggu giliran kamu julian...sabar yah..nunggu antrian....pasti kamu kebagian, dan kamu yg spesial hukuman nya....
Nurr Tika
lanjut
Siti Yatmi
thorrrr lanjuttt
Siti Yatmi
tumben ga up....bolak balik buka??
Siti Yatmi
jgn bunuh dulu sab...trus teror..biar ilang tuh kewarasan nya
Siti Yatmi
syukurin luh...biarin..siapa suruh jahat
Siti Yatmi
setannya pengen nonton tv kali ....kan dikuburan ga ada tv
Siti Yatmi
sama ortu nya mah pada takut..taoi kelakuan kaya setan...
Siti Yatmi
sebentar lagi lo game over ..bye2 juliannnnnn
Siti Yatmi
mampus lu adrian...
Siti Yatmi
jiahhhh..katanya berkuasa...ayo dong lawan tuh setan,,,laporin ke polisi tuh setan
Siti Yatmi
nah..kan..adrian..nikmatilah...rasakanlah....
Siti Yatmi
lu pada sinting
Siti Yatmi
jadi menitikan air mata....
Siti Yatmi
hidup itu 2 pilihan, bodoh atau pintar,,sayang sabrina pilih bodoh....akhir nya, udh pasti tdk berdaya...
Siti Yatmi
pasti..itu video yg sabrina diperkosa sm 2 preman ..hadehhh
Siti Yatmi
owlah...pantes temen2 nya di teror and dimatiin....wajar sih...mending dihukum setan ketibang polisi ..💪sabrina
Siti Yatmi
ya Allah sabbb...melas banget sm nasib mu...
Siti Yatmi
astaga itu si dendi jahat amat..perasaan baca dr awal nama dendi ga ada..knp ternyatadia punya peran penting dlm kematian sabrina
Siti Yatmi
walah....kejamnya...dikau julian gila..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!