Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31.D Krisis Minyak Tanah, Parfum Isi Ulang dan Kabut Indramayu
Malam semakin larut ketika rombongan ugal-ugalan Gavin Dewantara menembus wilayah perbatasan Cirebon menuju Indramayu. Jalur Pantura Indramayu terkenal dengan trek lurusnya yang panjang, sepi, dan dikelilingi oleh hamparan sawah serta pohon-pohon jati yang tampak angker di bawah temaram sinar bulan. Angin malam yang bertiup dari Laut Jawa terasa semakin dingin dan lembap, menusuk hingga ke tulang belulang melalui celah-celah jins robek yang dikenakan Gavin.
Namun, masalah terbesar malam itu bukanlah hawa dingin yang menusuk atau mistisnya jalur Indramayu, melainkan indikator bahan bakar Astrea Grand tahun 1995 milik Gavin. Jarum penunjuk bensin yang posisinya sudah patah dan tenggelam di dasar spidometer itu tentu tidak bisa diandalkan. Gavin hanya menggunakan instingnya yang sudah terlatih selama tiga tahun menjadi mahasiswa miskin: ia menggoyang-goyangkan tangki motornya ke kanan dan ke kiri sambil mendengarkan suara kecipak cairan di dalamnya.
Kecipak... kopyok...
Suaranya sangat tipis, mirip suara sisa air di dalam botol sampo yang sudah diisi air berkali-kali oleh anak kos.
"Waduh, Ndut. Napas lu udah tinggal satu-satu ini," gumam Gavin sambil menatap jalanan di depannya yang sepi. Tidak ada lampu pom bensin Pertamina sama sekali dalam radius beberapa kilometer. Yang ada hanyalah kegelapan dan warung-warung tutup di pinggir jalan.
BREEEM... POP... KRETEK... DET...
Tepat di tengah-tengah jalur tengkorak Indramayu yang dikelilingi pohon besar, mesin Astrea Grand itu melakukan mogok masal kedua kalinya. Motor tersebut terbatuk kecil, memuntahkan sisa uap bensin terakhirnya, lalu meluncur lambat sebelum akhirnya berhenti total di bahu jalan yang gelap gulita.
Limosin Mercedes-Maybach di belakangnya langsung menyalakan lampu hazard dan berhenti dengan anggun. Pintu depan terbuka, dan Pak Handoko langsung melompat keluar dengan wajah yang kini sudah tidak ada sisa-sisa ketakutan korporatnya lagi. Perutnya yang buncit karena tempe orek Pemalang tadi membuatnya harus melonggarkan ikat pinggangnya satu lubang.
"Tuan Muda Gavin! Ada apa lagi? Apakah aliansi kawat jemurannya putus?!" teriak Pak Handoko sambil berlari membawa senter taktis LED yang cahayanya sanggup menerangi satu stadion sepak bola.
Bambang dan Joko ikut keluar, kali ini mereka tidak memegang senjata di balik jas, melainkan membawa sebotol minyak kayu putih dan sebungkus tolak angin, bersiap kalau-kalau Tuan Muda mereka masuk angin akibat angin malam Pantura.
"Bukan kawatnya, Pak Han. Kawat jemuran polantas Batang terbukti punya ketahanan militer," kata Gavin sambil membuka tutup tangki bensin motornya, lalu mengintip ke dalam menggunakan korek api gas—sebuah tindakan yang langsung membuat Bambang reflek menepis tangan Gavin karena takut tangki itu meledak.
"Jangan pake api, Tuan Muda! Bahaya!" seru Bambang panik.
"Tenang, Bam. Bensinnya udah kering kerontang begini, gak bakal ada yang bisa meledak. Jangankan api, setrikaan aja gak bakal panas di dalam sini," sahut Gavin santai. "Intinya, kita kehabisan bensin. Kering total."
Pak Handoko langsung tersenyum lega. Ini adalah masalah yang paling mudah diselesaikan dengan kekuatan uang. "Ah, kalau hanya masalah bensin, tenang saja Tuan Muda. Mulyono! Ambil jerigen bensin cadangan di bagasi limosin!"
Pak Mulyono si sopir berlari ke belakang, membuka bagasi mewah Maybach, lalu berteriak dengan suara panik, "Mohon maaf, Komandan Handoko! Jerigen bensin cadangannya kosong! Kemarin sore lupa diisi karena buru-buru menjemput Tuan Muda ke kosan!"
Wajah Pak Handoko langsung berubah menjadi sedatar kertas HVS. "Mulyono... besok pagi surat pemecatan kamu saya tandatangani. Maksud saya, bagaimana bisa mobil operasional VIP tingkat kepresidenan kehabisan bensin cadangan?!"
"Maaf, Pak Han, jangan salahin Pak Mul. Ini namanya takdir jalanan," potong Gavin sambil terkekeh. "Lagian, limosin lu kan pake bensin Pertamax Turbo atau sekelasnya. Kalau dimasukin ke tangki Astrea gue, mesinnya bisa syok kultural dan malah minta naik jabatan jadi motor sport. Astrea gue cuma kenal sama bensin eceran yang warnanya agak keruh."
Gavin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Di seberang jalan, agak masuk ke dalam gang kecil, terlihat sebuah rumah panggung kayu tua yang di depannya terdapat sebuah meja kayu kecil dengan lampu minyak tanah kecil yang menyala. Di atas meja itu, ada sebuah papan tulis kapur bertuliskan: "SEDIA MINYAK TANAH & PARFUM ISI ULANG LAUNDRY".
"Nah! Ada bahan bakar alternatif!" seru Gavin dengan mata berbinar-binar gila.
"Tuan Muda... jangan bilang Anda mau..." Pak Handoko menatap Gavin dengan firasat yang sangat buruk.
Tanpa mendengarkan ucapan Pak Handoko, Gavin langsung menuntun motor bebek tuanya menyeberang jalan menuju rumah panggung tersebut. Pak Handoko, Bambang, dan Joko terpaksa mengekor dari belakang, berjalan menembus rumput teki yang basah oleh embun malam.
Pemilik rumah, seorang kakek tua bernama Mbah Darmo yang sedang duduk merokok tembakau lintingan di teras rumahnya, langsung terkejut melihat rombongan aneh yang mendatangi rumahnya tengah malam begini.
"Mbah, numpang tanya. Minyak tanahnya masih ada?" tanya Gavin ramah dengan bahasa Jawa halus.
Mbah Darmo mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke arah Bambang dan Joko yang badannya hampir menyentuh atap teras rumah panggungnya. "Masih ada, Le. Tapi tinggal dua liter di dalam jerigen bekas jerigen minyak goreng. Memangnya buat apa? Jam segini kok nyari minyak tanah? Mau bakar kompor?"
"Bukan, Mbah. Buat minum ini motor bebek," jawab Gavin sambil menunjuk Astrea Grand-nya.
Mbah Darmo langsung terbatuk-batuk akibat asap rokoknya sendiri. "Hah?! Motor dikasih minyak tanah? Ya gak bakal jalan, Le! Yang ada mesinnya malah demo!"
"Bisa, Mbah. Asalkan dicampur sama agen pengaktif kimiawi," kata Gavin dengan wajah penuh keyakinan mistis otomotif kos-kosan. Ia kemudian menunjuk ke arah deretan botol kaca kecil berisi cairan wangi di atas meja. "Nah, Mbah, saya beli minyak tanahnya dua liter. Sama saya borong itu parfum isi ulang laundry yang aroma 'Ocean Fresh' sama 'Lavender Storm' masing-masing lima botol."
Pak Handoko yang berdiri di samping Gavin langsung memegang dadanya, merasa jantungnya berdegup tidak beraturan. "Tuan Muda Gavin... demi kehormatan seluruh insinyur mekanik di pabrik Honda Jepang, saya mohon jangan lakukan ini! Motor ini akan meledak dan memuntahkan polusi udara yang bisa memicu protokol pemanasan global!"
"Pak Han, lu belum tahu rahasia anak kos kalau tanggal tua," kata Gavin sambil tersenyum misterius. "Minyak tanah itu punya nilai oktan yang rendah tapi kompresinya tinggi kalau dapet pemantik yang tepat. Nah, parfum laundry isi ulang itu basis utamanya adalah metanol murni alias alkohol kadar tinggi! Kalau alkohol murni dicampur minyak tanah, rumus kimianya bakal berubah jadi bahan bakar roket KW super! Suara mesinnya emang bakal aneh, tapi dia bakal jalan!"
Dengan cekatan, Gavin membayar Mbah Darmo menggunakan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang ia ambil dari kantong jinsnya. Gavin kemudian membuka jerigen minyak tanah, lalu menuangkannya dengan hati-hati ke dalam tangki bensin Astrea Grand. Setelah itu, ia membuka satu per satu botol parfum laundry aroma Ocean Fresh dan Lavender Storm, lalu mencampurkannya ke dalam tangki seperti seorang barista sedang meracik kopi susu kekinian.
GLUG... GLUG... GLUG...
Aroma bensin mentah di sekitar tempat itu langsung lenyap, digantikan oleh wangi semerbak bunga lavender dan kesegaran samudra yang sangat menyengat hidung. Tangki motor Gavin sekarang penuh dengan cairan berwarna keunguan yang baunya mirip ruang setrika baju artis.
"Selesai! Formula bahan bakar ramah lingkungan bin ugal-ugalan siap diuji!" seru Gavin bangga. Ia menutup tangki bensinnya, menggoyang-goyangkan motornya dengan kuat agar minyak tanah dan parfum laundry-nya homogen di dalam tangki.
Gavin melompat naik ke atas jok, menarik tuas cuk karburatornya dalam-dalam, lalu melakukan sentakan kaki paling kuat pada engkol selahan motornya. EENGKEEEL!
ORRR... ORRR... Mesin hanya berputar tanpa ada tanda kehidupan.
"Ayo Ndut, jangan malu-maluin di depan direktur utama!" bisik Gavin. Ia kembali mengengkol dengan kekuatan penuh. EENGKEEEL!
BRRRUMMM! POP!
DUB... DUB... DUB...
Mesin Astrea Grand tiba-beda hidup! Namun, suaranya kini benar-benar berubah total. Suaranya tidak lagi cempreng rusak atau mirip helikopter, melainkan berubah menjadi suara yang sangat aneh: mirip suara mesin perahu ketinting di sungai, berat, lambat, namun memiliki tenaga dorong yang konstan.
DUB... DUB... DUB... DUB...
Dan yang paling luar biasa adalah efek visual dari lubang knalpot kawat jemurannya. Knalpot motor Gavin mendadak memuntahkan asap putih yang sangat tebal dan masif, mirip dengan mesin fogging pembasmi nyamuk demam berdarah milik dinas kesehatan. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, halaman rumah Mbah Darmo dan sebagian jalan raya Pantura Indramayu langsung tertutup oleh kabut asap putih pekat yang luar biasa tebal.
Namun, kabut asap ini tidak berbau solar atau gosong. Kabut asap ini memiliki wangi Lavender Storm kombinasi Ocean Fresh yang sangat pekat.
WOSSHHH…
Bambang dan Joko yang berada di dalam jangkauan kabut asap langsung terbatuk-batuk, namun mata mereka tidak perih. "Lho... Komandan, ini asapnya kok wangi banget? Seperti bau selimut hotel bintang lima yang baru selesai dicuci?" tanya Joko bingung sambil mengendus-endus udara malam.
Pak Handoko yang berada di dalam kabut asap putih hanya bisa berdiri terpaku. Pria paruh baya itu kini terlihat seperti sesepuh mistis yang muncul dari balik kabut gaib, dengan pakaian yang kini sewangi cucian premium Jakarta Barat. "Tuan Muda... Anda tidak hanya menghidupkan motor, Anda baru saja melakukan proses disinfektan wangi berskala regional di sepanjang jalur Indramayu!"
Gavin tertawa terbahak-bahak di atas motornya, wajahnya yang hitam penuh jelaga terlihat sangat kontras di balik putihnya kabut asap wangi. "Hahaha! Mantap kan, Pak Han! Ini namanya inovasi berkendara abad dua satu! Bebas polusi bau, yang ada orang-orang Pantura bakal dapet relaksasi aromaterapi gratis dari knalpot gue!"
Gavin menarik gasnya. Motor bebek tua bermesin minyak tanah campur parfum laundry itu melesat maju dengan tenaga yang ternyata cukup responsif, meninggalkan rumah Mbah Darmo yang kini terbungkus kabut wangi lavender.
Sepanjang perjalanan sisa malam itu dari Indramayu menuju Subang, rombongan Gavin menciptakan fenomena paling aneh sepanjang sejarah Jalur Pantura. Setiap kali Astrea Grand Gavin melewati perkampungan warga, motor itu meninggalkan jejak kabut putih tebal sejauh ratusan meter di belakangnya. Supir-supir truk gandeng yang disalip oleh Gavin langsung membuka kaca jendela mereka dengan wajah bingung, menghirup udara malam yang mendadak berubah menjadi sewangi butik pakaian mewah.
"Eh, Jon! Lu ngerasa gak, ini jalanan kok mendadak wangi bunga melati sama lavender ya? Jangan-jangan ada kuntilanak lewat?" bisik seorang kernet truk gandeng kepada supirnya dengan wajah ketakutan.
"Kuntilanak mbahmu! Itu di depan ada motor butut berasap tebal yang jalannya kencang banget! Kuntilanaknya naik Astrea Grand itu!" balas sang sopir sambil membelalakkan matanya melihat siluet Gavin yang melesat di balik kabut asap wangi.
Pak Handoko yang duduk di dalam limosin Maybach di belakang Gavin terpaksa menyalakan sistem filtrasi udara mobil ke mode maksimal agar aroma lavender dari knalpot Tuan Mudanya tidak membuat mereka semua tertidur pulas karena efek relaksasi aromaterapi yang terlalu kuat.
Fajar akhirnya mulai menyingsing kembali ketika rombongan ugal-ugalan ini berhasil melewati wilayah Karawang dan mulai memasuki jalur arteri menuju perbatasan ibu kota Jakarta. Bahan bakar alternatif minyak tanah racikan Gavin sukses membawa mereka bertahan melewati malam maut Pantura tanpa ada kerusakan mesin yang berarti, meskipun kepala silinder motor Astrea-nya kini sudah dipenuhi oleh kerak wangi berwarna ungu.
Gavin Dewantara telah berhasil membuktikan bahwa dengan kawat jemuran, tali rafia, minyak tanah, dan parfum laundry, jiwa merdeka seorang anak kosan tidak akan pernah bisa dihentikan oleh jarak ratusan kilometer. Di depan sana, pintu gerbang kota Jakarta dan gedung pencakar langit Dewantara Group sudah menanti untuk menyaksikan kedatangan sang pangeran mahkota paling ugal-ugalan abad ini.